Category Archives: BBG Kajian

Berpegang Kepada Jamaah Kaum Muslimin dan Pemimpinnya – Bag 1

Ust. Badrusalam. Lc

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan, karena khawatir akan menimpaku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam jahiliyah dan
keburukan, maka Allah
memberikan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?
Beliau menjawab, “Iya, ada.”
Aku berkata, “Apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?”
Beliau menjawab, “Ada, namun padanya ada kotoran.”
Aku berkata, “Apa kotorannya?”
Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum mengambil petunjuk selain petunjukku, engkau kenali diantara mereka dan engkau mengingkarinya.”
Aku berkata, “Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?”

Beliau menjawab, “Iya, yaitu akan
ada para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam,

Sabar Dan Sholat

Ust. Badrussalam Hafidzhahullahu ta’ala

Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata:
.. Dan dari ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa diberitakan kepada Rasulullah kematian saudaranya yaitu Qutsam, sementara beliau berada dalam perjalanan.

Beliaupun mengucapkan istirja’ lalu menyepi dari jalan dan sholat dua raka’at yang beliau panjangkan duduknya.
Kemudian beliau berdiri sambil membaca ayat:

واستعينوا بالصبر والصلاة
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam tafsirnya dengan sanad yang hasan.

Dan dari Hudzaifah radliyallahu ‘anhu ia berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ada perkara yang menyusahkan, beliau segera shalat.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan juga.

(Al Fawa-id al muntaqoh min fathil baari hal 115).

Cahaya Diantara Dua Batu

Suatu ketika, Hudzaifah bin Al Yaman mengambil dua batu dan meletekkan salah satunya di atas yang lain, lalu ia berkata kepada sahabat-sahabatnya,

“Apakah kalian melihat ada cahaya diantara sela-sela dua batu itu?”
Mereka berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak melihatnya kecuali sedikit saja.”

Hudzaifah berkata, “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, bid’ah benar-benar akan muncul sampai kebenaran tidak terlihat kecuali seperti cahaya antara dua batu tersebut.

Demi Allah, bid’ah akan benar-benar tersebar sehingga apabila ada sebuah bid’ah ditinggalkan,

mereka berkata, “Telah ditinggalkan sunnah.”

(Al Bida’ wan Nahyu ‘anha hal. 58).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

ROJA’ / BERHARAP

Roja’ artinya berharap nya hati untuk menanti apa yang dicintai disisinya.
Jikalau harapan tersebut tanpa sebab musabab, maka berarti ia sedang tertipu dan kepandiran lebih tepat untuk nya. Sebagaimana dalam ungkapan sya’ir, “Engkau berharap tercapainya keberhasilan sedang dirimu tidak menjalani sebab -sebabnya. Sesungguhnya suatu bahtera tidak akan berlayar di pasir yg kering”.

Demikian juga, jikalau sesuatu yang diharapkan tersebut dipastikan terjadi, maka ini bukanlah harapan, sebagaimana ucapan seseorang, “Aku berharap terbitnya matahari”. Akan tetapi ucapan yang tepat, “Aku berharap hujan turun”.
Ia katakan disaat ia melihat mendung di langit.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah, merekalah orang-orang yang sesungguhnya berharap kepada rahmat Allah سبحانه وتعالى dan Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS Al Baqoroh 218)
Ayat diatas menunjukkan sesungguhnya mereka-merekalah yang berharap rahmat Allah. Dan barang siapa yang harapannya membawa ketaatan dan menjauh dari maksiat, maka harapan tersebut adalah benar dan sebaliknya jika mengiring kearah maksiat, menjauh dari ketaatan maka harapan tersebut adalah tipuan belaka.

Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Adab Menyebut Nama Bila Tuan Rumah Menanyakannya

Diantara adab seorang tamu menyebutkan namanya apabila tuan rumah menanyakan “siapa?” Dan tidak cukup bagi tamu menjawab “aku”.

Ikhwan dan akhwat sekalian yang kami hormati diantara perkara atau adab seorang muslim dan muslimah yang perlu diketahui ialah ketika mereka meminta izin untuk bertamu atau seseorang yang menelpon seseorang yang dia tuju, maka apabila tuan rumahnya atau orang yang dituju menanyakan “siapa?” maka dia harus menyebutkan namanya dengan jelas….
dan tidak cukup baginya menjawab “aku” atau “ana ikhwan” atau “ana akhwat” tanpa menyebutkan namanya. Yang demikian, dengan menyebutkan namanya berarti mereka telah mengikuti sunnah Rasulullah dan sunnahnya para sahabat.

Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ مَنْ ذَا فَقُلْتُ أَنَا فَقَالَ أَنَا أَنَا كَأَنَّهُ كَرِهَهَا

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau
bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku
menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.” (HR Muslim 2155)

Hadits ini menunjukkan seorang tamu menyebutkan namanya dengan jelas apabila tuan rumahnya menanyakan siapa yang datang. Dan tidak boleh bagi tamu menjawabnya dengan kalimat “aku” atau “saya”, “ikhwan” atau “akhwat”. Tanpa menyebutkan namanya dengan jelas.

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Ilmu Sebelum Berbicara dan Beramal

Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:

بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ
 
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
 
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku  mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغفِرْ لِذَنبِكَ
 
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)
 
Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:
 
Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan.       
Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang men-sahkan amal.
(Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476).

http://m.klikuk.com/ilmu-sebelum-berbicara-dan-beramal/

Mengharap Ampunan Tapi Tanpa Usaha

Apalah guna…!?

Ust. Abu Riyadl Lc

Yahya bin Mu’adz menuturkan,

“Sesungguhnya penipuan yang paling besar bagiku adalah terus menerus berbuat dosa dengan disertai pengharapan ampunan tanpa adanya penyesalan, dan berharap dekat dengan Allah tanpa melakukan ketaatan.

Engkau menunggu berseminya benih di surga dengan menyebar benih di neraka, dan meminta rumah orang-orang yang ta’at dengan kemaksiatan, menunggu balasan tanpa amal perbuatan, dan mengharapkan ampunan dosa dari Allah Ta’ala dengan berbuat melampui batas.

Engkau Mengharapkan keselamatan akan tetapi tidak berjalan di jalan keselamatan tersebut, sesungguhnya perahu itu tidak akan pernah bisa berjalan di tempat yang kering

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Raudhathul ‘Uqalaa` (hal. 248), perkataan di sandarkan kepada Abi Al ‘Atahiyah.

Saudaraku..
Jika niat diri melakukan pertaubatan maka semailah benih ketaatan.. Dan siramilah dg airmata rindu kpd ampunan..
Maka benih benih tsb akan bersemi dg subur dan berbunga kemudian membuahkan surga Allah ta’ala…
Tentunya itu semua lantaran Rahmat Allah ta’ala..

Www.abu-riyadl.blogspot.com

BANGUNLAH DARI MIMPIMU WAHAI SI PEMALAS !!

Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah
berkata :

Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…
Barang siapa yang ingin meraih
puncak maka dia akan begadang

Barang siapa yang mengharap
ketinggian/ kemuliaan tanpa rasa letih… Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

Engkau mengharapkan kejayaan
lantas di malam hari hanya tidur aja??

Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…

Diantara kita ada yang berangan-angan dan berkata :

“Saya ingin bisa menjadi dermawan seperti si fulan…”,

“Saya ingin bisa menghafalkan al-Qur’an seperti si fulan…”,

“Saya ingin berilmu seperti syaikh/ustadz fulan…”,

“Saya ingin berhasil seperti si fulan…”

Akan tetapi jika hanya berkata dan berangan-angan tanpa usaha maka anak kecil berusia 3 atau 4 tahun pun bisa…, kalau hanya mimpi siapapun bisa.

Tapi yang tidak semuanya bisa adalah mewujudkan angan-angan dengan usaha maksimal serta semangat tinggi !!!

tentunya setelah disertai doa kepadaNya dan taufiq dariNya…

By: UST. FIRANDA ANDIRJA حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Mereka Yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Ust. Badrusalam, Lc

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim). 

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

 


[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 304.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308.

Jangan Tamak Sementara Tetangga Kelaparan

“Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!! Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian. Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, ‘Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh – Demi Allah – Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu!

Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!!

Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!!

Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!!

Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!

Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.’”
(Dari pernyataan Hasan al-Bashri).

Mari kita lihat diri kita semoga bisa memotivasi kita menjadi lebih baik!

 Ditulis oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc حفظه الله تعالى