Category Archives: BBG Kajian

Kaidah-Kaidah Metode Beragama Aswaja

(1/8)

Kita akan mempelajari secara berkala kaidah2 yg berkaitan dg metode beragama ahlussunnah waljama’ah yg disarikn dr kitab Al Ishbah fi Bayan Manhajis Salaf fitTarbiyati wal Ishlah yg ditulis olh Syeikh Abdullah bin Sholih Al Ubailan&dikoreksi serta diberikan kta pengantar oleh Syeikh Sholih Fauzan.

Kaidah I :
“Agama islam dibangun diatas 2 pondasi, yaitu ikhlas&mutaba’atur rasul.”

——-Pondasi pertama:

Mengikhlaskan niat kita hanya u/ Allah dlm setiap amal ibadah, brdsrkn firman Allah dlm AlBayyinah- 5:

‫‫وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ‬‬

“Padahal merka tdk disuruh kec. spy menyembah Allah dg mengikhlaskn/memurnikn ketaatan kpd-Nya dlm (menjlnkan) agama dg lurus&spy mreka mendirikan salat&menunaikan zakat; &yg demikian itulah agama yg lurus.”

——-Pondasi ke-2:

Mutaba’ah, yaitu akidah serta amal ibadah kita sesuai dg apa yg disyari’atkan Rasulullah  صلى الله عليه وسلم .Hal ini bdsrkn ayat dlm Ali Imran-31:

‫‫قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ‬‬

Katakanlh:”Jika kamu (benar2) mencintai Allah,ikutilah aku,niscaya Allah mengasihi&mengampuni dosa2mu”,& Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Dan dua pondasi ini dihimpun Allah ta’ala dlm Al Mulk-2:

‫‫الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ‬‬

“yg menjadikan mati&hidup, spy Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg paling baik amalnya.& Dia Maha Perkasa lgi Maha Pengampun.”

Fudhail bin ‘Iyadh berkta:“Makna ahsanu ‘amala adlh yg paling ikhlas&yg paling benar.”Lalu beliau ditanya:“Apa yg paling ikhlas&yg paling benar?”Beliau mnjwb:“Ikhlas:apa2 yg dikerjakn u/ Allah,& hal yg benar adlh apa yg sesuai dg assunnah

(Ibnu Abi Dunya dlm kitabnya Al Ikhlas wanNiyyah)

Kaidah ke-2:
“Sumber syari’at,dakwah&ibadah adlh AlQur’an&AsSunnah”

Allah taala brfrman:

‫‫وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ‬‬

“&taatilah Allah&Rasul,spy kmu diberi rahmat.”(QS.Ali Imran:132)
‫‫يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ‬‬

“Hai org2 yg beriman,jngnlh kamu mendahului Allah&Rasul-Nya&bertakwalah kpd Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lgi Maha Mengetahui.”(QS. Al Hujurat:1)Rasulullah   صلى الله عليه وسلم bersabda:
‫‫تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْن لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ الله وَ سُنَّتِي‬‬

“Aku tingglkan u/ kalian 2 hal yg kalian tdk akan tersesat setelahnya, Kitabullah & Sunnahku.”(HR. Hakim)

Ini adlh penyempurnaan dr kaidah seblmx bhw ssngghnya sebuah amal tdk akan diterima di sisi Allah kecuali dg 2 syarat:

a.  dikerjakan dg penuh keikhlasan
b.  & mengikuti syari’at atau tuntunan Rasulullah
Dan u/ mengtahui syariat Rasulullah kita hrs kembali ke sumberx yg otentik yaitu AlQur’an&AsSunnah(hadits2 Nabi yg shahih/valid).

Berangkat dari hal ini,kita memetik sebuah pelajaran berharga bhw keta’atan mutlak hanyalah u/ Allah & u/ Rasul-Nya krn beliau tdk mensyariatkan kecuali dg apa2 yg Allah perintahkan, sebgmn firmanNya:
‫‫وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى‬‬

“&tiadlh yg diucapkannya (Rasulullah) itu menurut kemauan hawa nafsunya (3)Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan(kpdnya).”(AnNajm;3-4)

Sedangkan selain Rasulullah,jika kita ta’at kpd mereka mk ketaatan kita kpd mrka jk mrka mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم,bukan ketaatan scr mutlak.

Adapun jk mrka salah&menyelisihi Al Qur’an&As Sunnah mk mrka tdk dita’ati,hal ini berdsrkn sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم:

‫‫لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخالِق‬‬

“tdk ada ketaatan kpd makhluk dlm kemaksiatan kpd Allah.”(HR. Ahmad)

Oleh : Ust. Muhammad Nuzul, Lc حفظه الله تعالى

Bersyukur Kepada Allah Atas Anugerah Ketaatan Kepada-Nya

Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Sesungguhnya seorang manusia apabila diberikan anugerah taufik oleh Allah Ta’ala untuk melakukan ketataatan kapada-Nya hendaklah ia memuji Allah atas karunia tersebut dan mensyukurinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam hadits qudsi:

فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ.

“Barangsiapa Чαπƍ
mendapatkan kebaikan maka
hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa Чαπƍ mendapatkan selain itu (keburukan) maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri. (HR. Muslim no: 2577).

Apabila sesorang dimudahkan dalam melakukan ketaatan, maka ketauhilah itu merupakan taufik dan anugerah Allah Ta’ala kepadanya.

Apabila ia memuji Allah عَزَّ وَجَلَّ terhadap apa Чαπƍ telah Dia anugerahkan kepadanya berupa ketaatan, berarti ia telah mensyukuri nikmat tersebut. Dan barangsiapa Чαπƍ mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, maka Dia akan menambahkan nikmat-Nya. Allah عَزَّ وَجَلَّ berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih”. (Q.S Ibrahim:7).

Dan hendaknya ia tidak merasa ujub dengan ketaatan Чαπƍ ‎​δ¡lakukannya, tidak menisbahkannya semata-mata dikarenakan daya dan upaya serta kekuatan Чαπƍ ada pada dirinya. Karena hal itu merupakan sebab kehinaan dan akan menyebabkan dicabutnya anugerah tersebut darinya. وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ

Mudah-mudahan Allah عَزَّ وَجَلَّ memberikan kita iatiqomah ‎​δ¡ atas jalan keridhoan dan ketaatan-Nya. ‎
آمين يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْنَ

Sisihkan Waktumu Untuk Mempelajari Agama

Wahai saudaraku, sisihkanlah dari waktu-waktumu untuk mempelajari alqur’an & as-sunnah، hadirilah majeli2x ilmu yang merupakan salah satu taman dari taman-taman syurga, yg akan mengantarkan bagimu keselamatan dunia, akhirat dan ditempat situ juga engkau akan mendapatkan sebaik-baik perkataan yaitu alqur’an dan sebaik-baik petunjuk ( ya’ni petunjuk dlm memahami alqur’an) adalah as-sunnah menurut pemahaman para sahabat ridhwaanullahi ‘alaihim yg dgn demikian akan menambah keimanan dan ketakwaan kita kpd ALLAH سبحانه وتعالى .

Dgn sebab ALLAH telah memberikan ilmu kepada kita, maka wajib bagi kita bersyukur kepada-Nya, sebagaimana yg ALLAH Ta’ala perintahkan dalam alqur’an:

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul diantara kamu yg membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kami dan mengajarkan kepadamu Al-kitab dan Al-hikmah (as-sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yg belum kamu ketahui” ( Al-Baqarah: 151)

Kemudian ALLAH Ta’ala lanjutkan firman-Nya:

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu” ( Al-Baqarah:152)

Smg ALLAH memberikan taufiq kepada kita semua untuk senantiasa menuntut ilmu syar’i dan menyibukkan diri kita dari hari-kehari, waktu ke waktu utk mempelajarinya, memahaminya, menghafalkannya serta mengamalkannya sampai ALLAH wafatkan kita.

Sebagaimana para ulama terdahulu, apabila mereka ditanya sampai kapan mereka menuntut ilmu??
mereka (para ulama) menjawab:
Sampai mati.

Kemudian imam ahmad juga pernah berkata, bahwa beliau akan menuntut ilmu sampai mati.

Sebagaimana yg dikatakan oleh Abdullah bin Muhammad Al-baghawi beliau berkata:
Saya mendengar Ahmad bin hambal Radhiyallahu anhu berkata, sesungguhnya saya akan senantiasa menuntut ilmu sampai saya masuk ke dalam kubur! ((Al-Ilmu fadhluhu wa Syarafuhu:77).

Semoga memberikan manfaat utk kita semua…

Ust Ahmad ferry nasution.

Pentingnya Menjaga Waktu

Saudaraku yang berbahagia diatas hidayah islam wa sunnah….

Bertaubat kepada ALLAH dan mencegah diri dari suatu perbuatan dosa memang tidak membuat anggota badan kita menjadi lelah dan letih…

Tetapi, inti masalahnya terletak pada usia Anda saat ini!
Yaitu waktu yang terletak diantara masa lalu dan masa mendatang Anda.

Jika Anda menyia-nyiakan waktu tersebut, berarti Anda telah menyia-nyiakan untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki pada diri anda sendiri!

Sebaliknya, jika anda menjaganya dan senantiasa memperbaiki masa-masa lalu dengan taubat serta istiqomah diatas ketaatan kepada-Nya dan masa mendatang, niscaya Anda akan selamat dan memperoleh ketentraman, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki…..

Sesungguhnya, menjaga waktu yang sekarang kita jalani lebih sulit daripada memperbaiki waktu yang telah berlalu maupun yang akan datang.
Disebabkan, menjaga waktu berarti mengaharuskan diri Anda untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih banyak melaksanakan ketaatan agar memberikan kebahagaiaan dunia dan akhirat pada diri Anda, dan yang demikian tidak mudah kita melaksanakannya….

Akhirnya kita memohon kepada ALLAH agar ALLAH memberikan kemudahan pada diri kita untuk mengisi waktu-waktu kita dalam rangka ibadah kepada Allah utk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kita….

Maraji:
Fawaidul fawaid

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – –

Beberapa Cara Agar Dapat Ikhlas

1. Mengikuti Nabi shalallahu’alaihiwasalam dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

Ikhlas adalah amalan hati, namun bukan berarti kita hanya memperhatikan hati tanpa memperhatikan amalan lahiriyah anggota badan kita. Allah tidak hanya memandang hati saja akan tetapi juga melihat amalan lahiriyah anggota badan kita. Sehingga Allah akan memudahkan kita untuk punya hati yg ikhlas.

2. Tidak menampakkan amal shalih yang memang bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena ada beberapa amalan yang harus dikerjakan secara terang-terangan seperti shalat berjama’ah dan amalan lain yang merupakan syi’ar Islam.

3. Mengetahui dan memahami balasan pahala dari Allah bagi orang yang ikhlas.

4. Mengetahui dan faham akan bahaya dan kerugian perbuatan riya’,yaitu beramal karena ingin dilihat manusia.
Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya (karena ingin dilihat orang) maka (di hari kiamat) Allah akan membongkar ketidakikhlasannya itu dan barangsiapa yang menampakkan (amalannya karena ingin diagungkan manusia) maka (di hari kiamat) Allah akan memperlihatkan (rahasianya itu di hadapan para makhluk).” (HR. Bukhari Muslim, riyadhus shalihin no. 1619)
Maka dengan memahaminya, diharapkan hati kita tidak berpaling dg niat-niat kepda selain Allah, krn rasa takut akan siksaan yang didapatkan kelak.

5. Bergaul dengan orang-orang yang ikhlas dan sholeh.

6. Ketika beramal menyertakan rasa takut akan siksaan di akherat. (Al-Insan: 9-10)

7. Membaca kisah orang-orang shalih yang terdahulu dan mengambil pelajaran darinya.
Semoga kita yang lemah ini dimudahkan Allah untuk menyusul rombongan orang-orang ikhlas yang telah jauh mendahului kita berjalan menuju Allah.

Semoga bermanfaat

Info ma’hadul qur’an buka di
Www.abu-riyadl.blogspot.com

Oleh. Abu RiyadL Nurcholis.

14 Amalan Yang Keliru Menyambut Ramadhan Dan Di Bulan Ramadhan

Berikut adalah beberapa kesalahan yang dilakukan di bulan Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin.

1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

3. Menetapkan Awal Ramadhan dengan Hisab

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

“Sesungguhnya kami adalah umat yang buta huruf. Kami tidak memakai kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula memakai hisab (dalam penetapan bulan). Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Bazizah mengatakan,”Madzhab ini (yang menetapkan awal ramadhan dengan hisab) adalah madzhab bathil dan syari’at ini telah melarang mendalami ilmu nujum (hisab) karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) atau persangkaan kuat. Maka seandainya suatu perkara (misalnya penentuan awal ramadhan, pen) hanya dikaitkan dengan ilmu hisab ini maka agama ini akan menjadi sempit karena tidak ada yang menguasai ilmu hisab ini  kecuali sedikit sekali.” (Fathul Baari, 6/156)

4. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

5. Melafazhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin…”

Sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali untuk melafazhkan niat semacam ini karena tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabat. Letak niat sebenarnya adalah dalam hati dan bukan di lisan. An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan,

لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, I/268, Mawqi’ul Waroq-Maktabah Syamilah)

6. Membangunkan “Sahur … Sahur”

Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahu kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan memberitahukan berakhirnya waktu sahur. Sehingga tidak tepat jika membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan “sahur … sahur ….” baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari ummat ini. Jadi, hendaklah yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki nasehat yang indah, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.” (Lihat pembahasan at Tashiir di Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 334-336)

7. Pensyariatan Waktu Imsak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ

“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah yang melintang.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadits ini menjadi dalil bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata, “Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata, “Sekitar 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan adzan? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit)

8. Do’a Ketika Berbuka “Allahumma Laka Shumtu wa Bika Aamantu…”

Ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan amalan ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy).

Adapun do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

9. Dzikir Jama’ah Dengan Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189)

10. “Ash Sholaatul Jaami’ah…” untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih

Ulama-ulama Hambali berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah…” Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9634, Asy Syamilah)

11. Bubar Terlebih Dahulu Sebelum Imam Selesai Shalat Malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

12. Perayaan Nuzulul Qur’an

Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)

13. Membayar Zakat Fithri dengan Uang

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum– akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211)

14. Tidak Mau Mengembalikan Keputusan Penetapan Hari Raya kepada Pemerintah

Al Lajnah Ad Da’imah, komisi Fatwa di Saudi Arabia mengatakan, “Jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat (tentang penetapan 1 Syawal), maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya.” (Fatawa no. 388)

Demikian beberapa kesalahan atau kekeliruan di bulan Ramadhan yang mesti kita tinggalkan dan mesti kita menasehati saudara kita yang lain untuk meninggalkannya. Tentu saja nasehat ini dengan lemah lembut dan penuh hikmah.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjauhkan diri dari hal yang tidak diperbolehkan) dan memberikan kita kecukupan. Semoga Allah memperbaiki keadaan setiap orang yang membaca risalah ini.

Wa shallallahu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

http://muslim.or.id/ramadhan/14-amalan-yang-keliru-di-bulan-ramadhan.html

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Ust. Badrusalam Lc

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Tabaraka wa ta’ala akan melihat kepada makhlukNya pada malam nishfu sya’ban, lalu mengampuni semua makhlukNya (yang beriman) kecuali musyrik dan orang yang sedang bertengkar.”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh banyak shahabat yaitu Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar Ash Shidiq, Auf bin Malik dan Aisyah dan riwayat-riwayat ini saling menguatkan. Lihat silsilah shahihah no 1144).

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya’ban..
Namun tidak ada ritual ibadah tertentu di malam itu..

Adapun sholat nishfu sya’ban, haditsnya palsu..
Ibnul Jauzi berkata, “Hadits itu tidak diragukan lagi kepalsuannya..
Lihat kitab al maudlu’aat 2/127-129..

Imam Nawawi menyatakan bahwa sholat nishfu sya’ban adalah bid’ah..
Demikian dalam kitab fatawanya..
Lalu..
Ibadah apa yang bisa kita lakukan di malam itu..
Tentu ibadah apa saja yang disyari’atkan..
Seperti membaca al qur’an, shalat tahajjud dan sebagainya..
Moga kita termasuk yang mendapat ampunan di malam itu..
Amiin..

Tj Bekerja Di Toko Yang Melakukan Transaksi Riba Dengan Bank…

85. Tj – 383

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Ana ada pertanyaan : toko furnitur menerima transaksi tunai tapi juga bekerja sama dengan bank untuk customer yang ingin pembayaran secara kredit. Artinya bank membayar tunai kepada toko, customer menyicil kepada bank. Apakah diperbolehkan jika kita tetap bekerja ditoko ini ? Terima kasih atas jawabannya

Jawaban:

Kerja disitu boleh. Tapi jangan bagian yang berhubungan dengan bank.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Ust. Kholid Syamhudi. Lc

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

1. Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan.

Kita lihat sekarang banyak sekali diantara kita yang malas sholat lima waktu berjamaah dengan alasan kesibukan dunia. Bahkan ada yang meninggalkan sholat jum’at tanpa udzur syar’i. Padahal Rasululloh n pernah bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

Hendaknya kaum tersebut berhenti meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan keraskan hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai. (HR Muslim).

Juga berapa banyak orang yang enggan berzakat dengan alasan banyak pengeluaran pribadi dan lainnya. Mereka lupa kalau hati mereka telah mengeras dan telah memiliki sifat-sifat munafiqin yang di jelaskan dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur’an dan tidak dapat mengambil pelajaran. Berapa banyak kita membaca al-Qur`aan bahkan mengkhatamkannya sekali atau dua kali namun kalbu kita tidak tersentuh dan bergetar sedikitpun. Berbeda dengan hati yang sehat dan lembut Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

3. Tidak Tersentuh dengan Ayat . Tidak tergerak kalbu kita dengan terjadinya peristiwa dan kejadian alam, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Padahal semua itu menunjukkan kemaha kuasaan Allah atas seluruh makhluknya. Kita memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. Lihatlah firman Allah yang artinya: “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

4. Mendahulukan kelezatan Dunia dari Akhirat. Kalbu yang tidak tersentuh dengan ayat-ayat Allah baik berupa al-Qur`an ataupun ayat-ayat kauniyah akan mendahulukan dunia dari akherat. Bahkan kadang semangat dan keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata . Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

Kita lihat banyak orang yang mendengar kumandang adzan tapi tidak segera bersiap ke masjid karena lezatnya tidur dibalik selimta atau mengakhirkan sholat karena menonton pertandingan sepak bola. Padahal Allah telah berfirman yang artinya:

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS al-A’laa: 16-17).

5. Kurang Mengagungkan. Kalbu yang mengeras akan kehilangan rasa cemburu, kekuatan iman padanya melemah dan tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran.

Setelah itu ia tidak dapat mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa. Hal ini mengakibatkan kalbu tidak lagi mengagungkan Allah dan kekuasaanNya.

6. Kemaksiatan dan kezhaliman Berantai karena kezhaliman muncul dari kegelapan kalbu, sebagaimana disampaikan ibnu al-jauzi dalam ugkapan beliau: kezhaliman muncul dari kegelapan kalbu, karena seandainya kalbu mengambil cahaya petunjuk (Hidayah), tentulah ia akan memandang akibatnya, (lihat Fathu alBaari 5/100). Demikian juga kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan.

Inilah sebagian tanda kerasnya hati akibat perbuatan dosa dan kemaksiatan, agar kita semua dapat introspeksi diri dan merubah diri menjadi insan kamil yang didam-idamkan.

Wabillahi taufiq (bersambung dengan sebab-sebab mengerasnya kalbu –insya Allah-).

Kegersangan kalbu, kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu

 

Jangan Engkau Korek-Korek Kekurangan Saudaramu”

Ibnu ‘umar berkata: “Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم naik ke atas mimbar, lalu menyeru dg suara yg keras :

”Wahai sekalian orang yg mengaku berislam dgn lisannya & iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum  muslimin, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari cari aurat  mereka. Barang siapa yg suka mencari cari aurat saudaranya sesama  muslim, maka ALLAH akan mencari cari auratnya. dan siapa yg dicari cari  auratnya oleh ALLAH, niscaya ALLAH akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.   
(Tirmidzi no. 2032)  
(yg dimaksud dengan aurat disini adalah aib/cacat, kejelekan serta kesalahan orang lain).

Sampai suatu hari Ibnu Umar memandang Ka’bah, ia berkata: ”Alangkah agungnya engkau & besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi ALLAH darimu. (Tirmidzi: 2032)

Ikhwan & akhwat sekalian yg saya hormati…
Dari hadits di atas kita mendapatkan pelajaran yg sgt jelas betapa besarnya kehormatan seorg muslim/muslimah didalam islam.
Harus selalu kita ingat, bahwa kita & saudara kita lainnya adalah manusia biasa yg tidak lepas dari segala bentuk kekurangan baik dosa maupun ma’siyat. Maka apabila engkau melihat kekurangan pada saudaramu maka yg terbaik & merupakan sikap yg menunjukkan tentang baiknya pemahamanmu ttg islam ini ialah engkau menasehatinya dgn ilmu, dgn penuh kelembutan serta doakanlah saudaramu agar ALLAH memberikan hidayah untuknya, yg demikian ini akan memberikan manfaat untukmu dan untuknya. Dan jgn sekali-kali engkau buka aibnya dihadapan manusia lainnya.

Wahai saudara-saudariku apabila engkau menemukan didalam tulisan-tulisanku selama ini ada kekeliruan mohon nasehatilah diriku dgn nasehat yg baik & jgn engkau ceritakan segala kekuranganku kepada org lain.

Semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosa kita semua.

Semoga bermanfaat..
Ditulis oleh Ustaadz Ahmad ferry nasution Lc