Category Archives: BBG Kajian

Serba-Serbi Seputar Ibadah Di Bulan Syawwal

Berikut ini adalah kumpulan artikel audio dan tulisan terkait ibadah di bulan Syawwal. Semoga bermanfaat.

  1. IBADAH Apa Yang Dianjurkan Di Bulan Syawwal..?
  2. Kapan SEBAIKNYA Memulai Puasa Syawal..?
  3. Mengapa Puasa 6 Hari Syawwal Sebaiknya Diakhirkan Setelah Hari-Hari Ied..?
  4. Pendapat PERTAMA : Tidak Boleh Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan
  5. Pendapat KEDUA : BOLEH Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan
  6. Apakah Niat Puasa Syawwal Harus Dilakukan di Malam Hari..?
  7. Bolehkah Menggabungkan Niat MEMBAYAR/QODHO Puasa Ramadhan Dengan Niat Puasa Syawal..?
  8. Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Niat Puasa Senin – Kamis..?
  9. Apakah Puasa Syawwal Dilakukan Selang Seling atau Terus Menerus Tanpa Jeda..?
  10. Hukum Menggabung Niat Puasa Syawal Dengan Puasa Senin-Kamis Atau Ayyaamul Biidh
  11. Janganlah Kita Mulai SYAWAL Dengan Kemaksiatan dan Dosa

In-syaa Allah, daftar artikel akan bertambah. Silahkan cek dari waktu ke waktu.

 

Ibadah Takbir

Diantara ibadah yang disyariatkan di penghujung Ramadhan adalah melafalkan bacaan takbir, dalam rangka mengagungkan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur..” (QS. al-Baqarah: 185).

Takbir merupakan perintah Allah ta’ala, oleh karenanya ketika kita bertakbir, kita hadirkan dalam hati kita bahwa ini merupakan perintah-Nya, Allah maha besar, lebih besar dari apapun.

Diantara bacaan takbir:

الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر و لله الحمد.

Syekh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullah berkata:

“Waktu Takbir dimulai dari terbenamnya matahari pada malam ‘id, atau sejak diumumkan penetapan bulan syawal, jika penetapan bulan syawal telah diumumkan, maka dimulailah takbir sampai imam hadir untuk shalat ‘id, inilah waktunya, melafalkan bacaan takbir di pasar, Masjid dan di rumah, laki-laki dengan suara keras sedangkan perempuan melafalkan takbir dengan suara sir..”

(Durus wa fatawa min al-haramain as-syarifain: 8/ 441).

Semoga kita dapat mengagungkan Allah ta’ala dengan sebenar-benar pengagungan, aamiiin

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Lailatul Qadar Tidak Harus Di Malam Ke Duapuluh Tujuh

Sebagian manusia menyangka bahwa lailatul qadar itu malam ke duapuluh tujuh, ini tidak benar, lailatul qadar berpindah-pindah dari satu malam ke malam yang lainnya di 10 Malam terakhir bulan Ramadhan, bisa jadi 27 atau 29 atau 25 atau 23, bisa jadi juga di sebagiannya 24, atau 26 atau 28 atau bahkan bisa jadi malam ke 30 jika Ramadhannya genap 30 hari.

Syeikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rohimahullah berkata:

“kita lihat bagaimana keyakinan ini dapat memudhorotkan orang yang meyakininya, orang-orang yang meyakini bahwa lailatul qadar adalah malam ke 27 mereka bersungguh-sungguh rajin beramal shaleh padanya, dan di malam-malam yang lainnya tidak rajin beramal, seakan-akan dia melipat lantai ramadhan ketika telah selesai dari malam ke 27, anda pun tidak melihatnya melakukan amalan seperti yang dia lakukan sebelumnya..

tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan kesalahan, merupakan hal yang jauh dari apa-apa yang ditunjuki oleh Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam..”

(Durus wa fatawa min al-haramain as-syarifain: 8/590).

Semoga Allah memberikan taufiknya untuk menggapai lailatul qadar,  aamiin

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Hanya Beberapa Hari Saja

Saat ALLAH mengulas puasa di hari-hari Ramadhan, ALLAH berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 184:

…‏أَيَّامًا مَّعْدُودٰتٍ …

“Beberapa hari yang telah ditentukan”

Ya, hanya beberapa hari saja.
ALLAH memberi isyarat kepada kita bahwa kebersamaan kita dengan Ramadhan sangat singkat.

Lihat saja betapa cepatnya hari-hari terbaik ini berlari meninggalkan kita, tanpa terasa kita akan hanyut sampai di hari-hari terakhir, lalu… ia benar-benar pergi dan kita belum sempat mengerjakan banyak amal shalih.

Ia akan mengucapkan salam perpisahan sedangkan dosa kita belum diampuni.

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Saudaraku,
jadikan setiap hari di bulan suci ini layaknya partai final, jangan biarkan ia mudah berlalu, hanya beberapa hari saja…

* Hikmah yang disampaikan Syaikh Sa’ad Turki Al Khatslan (anggota komite fatwa dan kibar ‘ulama di saudi arabia) dengan pengembangan.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Pertanyaan Yang Pas

●  dalam masalah ibadah, pertanyaan yang pas adalah : BOLEHKAH ITU..?

Karena pada asalnya ibadah itu tidak boleh, sampai ada dalil yang membolehkannya.

● sedang dalam masalah yang bukan ibadah, pertanyaan yang pas adalah : TIDAK BOLEHKAH ITU..?

Karena pada asalnya yang selain ibadah itu boleh, sampai ada dalil yang melarangnya.

Jangan dibalik ya ..

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Antara Maghrib Dan ‘Isya

Diantara waktu yang banyak dilalaikan terutama di bulan Ramadhan ini adalah antara maghrib dan ‘isya.

Anas bin Malik ketika menafsirkan firman Allah:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka menyeru Robbnya dengan rasa takut dan berharap.. dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan..” (Assajdah: 16)

Beliau berkata:

كَانُوا يَتَيَقَّظُونَ [وفي رواية: يَتَنَفَّلُونَ] مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ يُصَلُّونَ .

“Mereka memperbanyak sholat sunnah antara maghrib dan isya..” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Hudzaifah rodhiyallahu ‘anhu berkata :

جِئْتُ النبي صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الْمَغْرِبَ ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَامَ يُصَلِّي ، فَلَمْ يَزَلْ يُصَلِّي حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ)

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sholat maghrib bersamanya. Setelah selesai sholat beliau berdiri sholat dan terus sholat hingga masuk isya..” (Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Gholil. 470)

Imam Asy Syaukani berkata :

والآيات والأحاديث المذكورة في الباب تدل على مشروعية الاستكثار من الصلاة ما بين المغرب والعشاء , والأحاديث وإن كان أكثرها ضعيفا فهي منتهضة بمجموعها ، لا سيما في فضائل الأعمال , قال العراقي : وممن كان يصلي ما بين المغرب والعشاء من الصحابة : عبد الله بن مسعود وعبد الله بن عمرو وسلمان الفارسي وابن عمر وأنس بن مالك في ناس من الأنصار ، ومن التابعين : الأسود بن يزيد وأبو عثمان النهدي وابن أبي مليكة وسعيد بن جبير ومحمد بن المنكدر وأبو حاتم وعبد الله بن سخبرة وعلي بن الحسين وأبو عبد الرحمن الحبلي وشريح القاضي وعبد الله بن مغفل وغيرهم . ومن الأئمة : سفيان الثوري”

“Ayat dan hadits tersebut menunjukkan disyariatkannya memperbanyak sholat sunnah antara maghrib dan isya. Walaupun kebanyakan haditsnya lemah namun ia naik derajatnya jika dikumpulkan. Terutama dalam fadhilah amal..”

Al Iraqi berkata, “Diantara shahabat yang memperbanyak sholat antara maghrib dan isya adalah Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Amru, Salman Al Farisi, ibnu Umar, Anas bin Malik bersama beberapa orang Anshor.

Dari kalangan Tabi’in adalah Al Aswad bin Yazid, Abu Utsman An Nahdi, ibnu Abi Mulaikah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Al Munkadir, Abu Hatim, Abdullah bin Sakhbarah, Ali bin Al Husain, Abu Abdirrahman Al Hubulli, Syuraih Al Qadhi, Abdullah bin Al Mughoffal dan lainnya. Dan diantara imam adalah Sufyan Ats Tsauri.”

(Nailul Author 3/68)

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

 

HADITS : Agar Do’a Kita Diijabah Saat Dalam Kesusahan

Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‏من سره أن يستجيب اللهُ له عند الشَّدائدِ والكُرَبِ ، فلْيُكثِرِ الدعاء في الرخاءِ

“Siapa yang suka do’anya diijabah saat susah maka hendaklah ia memperbanyak do’a saat senang..” (HR Attirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani)

Memperbanyak do’a saat senang dengan banyak mengingat Allah, bersyukur dan beristigfar atas dosa dan kekurangan yang ia lakukan.. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hulaimi. (Faidhul Qadir 6/194)

Dalam hadits lain Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تعرَّف إلى الله في الرخاء يَعْرِفْك في الشدة

“Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Dia akan mengenalimu di saat susah..” (HR Abul Qasim bin Bisyran dalam amalinya)

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

20 RAMADHAN 1442

HARI-HARI YANG SANGAT ISTIMEWA

10 hari terakhir Ramadhan merupakan hari-hari yang sangat istimewa, malam-malamnya lebih baik dari malam apapun di selain Ramadhan, karena ada satu malam yang sangat spesial yaitu LAILATUL QADAR…

Yang dilakukan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam di malam-malam ini adalah:

1️⃣ Mengencangkan sarungnya (memisahkan diri dari istri / lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah).
2️⃣ Menghidupkan malamnya.
3️⃣ Membangunkan keluarganya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره و أحيى ليله و وأيقظ أهله.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha “Apabila Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya..” (HR. Bukhari: 2024 dan Muslim:1174).

Semoga Allah menganugerahkan taufiq-Nya kepada kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya, aamiin..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Selalu Dalam Ibadah

Al Hafidz Ibnu Rojab rohimahullah (semoga Allah merahmatinya) berkata :

‏⁧‫الصائم‬⁩ في ليله ونهاره في عبادة.
‏ويُستجابُ دعاؤه في صيامه وعند فطره.
‏فهو في نهاره ⁧‫صائم‬⁩ صابر.
‏وفي ليله طاعمٌ شاكر.

“Orang yang berpuasa itu selalu dalam ibadah di waktu siang dan malamnya..
Diijabah do’anya saat berpuasa dan saat berbukanya..
Di waktu siang ia bersabar untuk berpuasa..
Dan di waktu malam ia makan dan bersyukur..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 294)

Itulah keindahan hidup..
Selalu dalam pahala..
Berpindah dari satu ibadah kepada ibadah lainnya..

Namun..
Ini hanya untuk orang yang menginginkan Allah dan kehidupan akherat..

Adapun yang menginginkan dunia..
Akan menganggapnya sebagai beban yang memberatkannya..
Dan berharap agar ramadhan segera berlalu..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL