Category Archives: Sufyan Baswedan

Jika Engkau Ingin Memiliki Hati Yang Lembut Dan Sikap Waro’…

Sufyan ats Tsaury rohimahullah berkata :

١. عليك بقلة الكلام يلين قلبك
٢. وعليك بطول الصمت تملك الورع
٣. ولا تكونن حريصاً على الدنيا.

1️⃣ Hendaknya engkau tidak banyak berbicara (yang tidak bermanfaat) niscaya hatimu akan lembut.
2⃣ Dan sudah semestinya engkau banyak diam, niscaya engkau akan memiliki sifat waro’.
3⃣ Dan janganlah engkau sekali-kali menjadi orang yang ambisi terhadap dunia.

[Al-Hilyah, 8/82]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Apa Yang Engkau Tanam, Itulah Yang Akan Engkau Panen…

Ibnu Rajab al-Hanbali rohimahullah berkata:

“Esok hari (kiamat) jiwa-jiwa akan disempurnakan
balasan atas perbuatan mereka, orang-orang yang
menanam akan memanen apa yang mereka tanam,
jika mereka berbuat baik maka mereka telah berbuat
baik untuk diri mereka sendiri, namun jika mereka
berbuat buruk maka alangkah buruknya apa yang
telah mereka perbuat.”

[Lathaiful Ma’arif, jilid 1, hlm 232]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

Diantara Penyebab Seseorang Terlilit Hutang…

Muhammad bin Sirin rohimahullah
(Beliau seorang Tabi’in wafat di Bashrah
tahun 110 H) berkata :

إِنِّيْ لَأَعْرِفُ الذَّنْبَ الَّذِيْ حَمَلَ بِهِ عَلَيَّ الدَّيْنَ

“Sesungguhnya aku mengetahui (dampak)
dosaku (dahulu), yang menyebabkanku
(sekarang)
terlilit hutang.”

[Shifatush Shafwah, 3/246]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

 

Mengucapkan In-syaa Allah Tapi Dianggap Munafik..?

Al-Imam al-Auza’i rohimahullah berkata :

    الوعد بقول : إن شاء الله ، مع إضمار عدم الفعل نفاق.

“Termasuk kemunafikan, seseorang berjanji dengan mengucapkan in-syaa Allah, padahal dibalik ucapan itu ia sendiri tidak mau memenuhinya.

[Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/482]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

Jika Engkau Di Ghibah, Maka Nanti…

Al-Auza’i rohimahullah berkata :

“Telah sampai kepadaku kabar, bahwasanya akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Bangkitlah kamu, ambilah hakmu dari si fulan.”

Maka orang ini berkata:
“Saya tidak memiliki hak dari sisinya.” 

Maka dikatakan kepadanya :
“Bahkan engkau memiliki hak darinya. (Karena) Dia menyebut-nyebut (kejelekanmu) pada hari ini dan ini dengan (ghibah) ini dan ini.”

Diriwayatkan Oleh Al-Baihaqi, Syu’abul Iman 6313

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

Penjelasan Hadits – Minum Sambil Berdiri…

PERTANYAAN :
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh.. Ustadz ana mau tanya mengenai hadits “MINUM DENGAN BERDIRI”

? HADITS YANG MEMPERBOLEHKAN :
1. Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, “Saya pernah memberi minuman kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam dari sumur Zamzam, kemudian beliau meminumnya dengan berdiri.” (HR Bukhori dan Muslim)

2. Dari An Nazzal bin Sabrah ia berkata bahwa ‘Ali bin Abi Tholib masuk ke pintu gerbang masjid, kemudian minum sambil berdiri serta berkata ,”Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah berbuat sebagaimana apa yang kamu sekalian lihat saya perbuat ini (minum dengan berdiri).” (HR Bukhori)
.
? HADITS YANG MELARANG :

1. Dari Anas bin Malik dari Rosululloh bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qotadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana kalau makan ?” Anas menjawab, “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR Muslim)

2. Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rosulullah pernah bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu sekalian minum dengan berdiri. Barangsiapa yang terlupa maka hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim)

pertanyaan ana, apakah kita diperbolehkan minum sambil berdiri? atau disunnahkan minum sambil berdiri khusus untuk air zam-zam saja, selainnya tidak ? jazakalloh khoyr atas jawabanya.. Wassalamu’alaykum warohmatullohi wabarokaatuh

JAWABAN :
‘Alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh..

Jawabannya: Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bolehnya minum sambil berdiri karena Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam melakukannya. bahkan disebutkan dalam Al Muwaththa’ bahwa Umar, Utsman dan Ali radhiyallaahu ‘anhum konon minum sambil berdiri, demikian pula Aisyah dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) menganggap hal tersebut tidak mengapa.

Adapun hadits-hadits yang melarang, maka maksudnya bukan haram namun makruh. Hal ini disimpulkan dengan menjama’ (menggabungkan) haditshadits yang dhahirnya kontradiksi dalam masalah ini. Intinya, minum sambil berdiri hukumnya boleh, tapi lebih baik dilakukan sambil duduk. pendapat ini dinyatakan oleh Al Khattabi, Al Baghawi, Al Qadhi ‘Iyadh, Al Qurthubi, An Nawawi, Ibnu Hajar dll. (lihat: Al Fajrus Saathi’ ‘alash Shahihil Jaami’ 8/22-23).
.
Adapun hadits riwayat Muslim dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa : “Barang siapa lupa melakukannya, maka hendaklah ia memuntahkannya”, maka dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Umar bin Hamzah yang didha’ifkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’ien dan An Nasa’i, dan hadits ini mengandung lafazh yang munkar, yaitu perintah untuk memuntahkannya bagi yang lupa. Singkatnya, bagian awal hadits ini shahih, namun bagian akhirnya tidak demikian (yaitu perintah untuk memuntahkan bagi yang lupa). Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadits no 177, dan Silsilah Adh Dha’ifah hadits no 927)
.
Demikian pula halnya dengan makan sambil berdiri, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menukil dari Al Maaziri yang mengatakan bahwa tidak ada khilaf di kalangan ulama akan bolehnya makan sambil berdiri. Sedangkan yang lebih afdhal ialah makan sambil duduk.

Wallaahu ta’ala a’lam
.
_______________________
.
Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref: https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/posts/880576525474319

George dan Idhul Adha…

Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan seksama…

George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony & Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah, George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah.

George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi. Sedangkan Tony rajin searching di internet.

Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya.

Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya begitu hari raya tiba.

Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di perjalanan…

Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan, “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru, dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari hara” lanjutnya.

Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”.

Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup.

Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah. Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke gereja.

Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang George.

Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”.

Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya salah satu dari Tuhan yg tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya.

Majelispun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya.

Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran, “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal, merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini… dan itu…?”.

“Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”. kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama aku tinggal di Barat, namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata kita merayakan hari raya mereka… falaa haulaa walaa quwwata illa billaahil azhiem.

Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج والعيد).

Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina, dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kpd seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam Ahlidz Dzimmah).

Sufyan Basweidan,  حفظه الله تعالى 

Ref : http://basweidan.com/george-dan-iedul-adha-must-read/