Category Archives: COVID_19

#COVID_19 : Penjelasan Hadits Tentang Berlindung ke Masjid Ketika Wabah

Hadits tersebut adalah hadits dari sahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda:

إِذَا عَاهَةٌ مِنَ السَّمَاءِ أُنْزِلَتْ صُرِفَتْ عَنْ عُمَّارِ الْمَسَاجِدِ

“Jika penyakit dari langit diturunkan maka penyakit tersebut dipalingkan dari para pemakmur masjid-masjid”.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi (di Syúabul Iman no 2686), Ibnu Ádiy (di Al-Kaamil fi Dhuáfaa’ al-Rijaal 4/205 pada biografi no 725 Zafir bin Sulaiman), dan Ibnu Ásaakir (di Tarikh Dimasyq 17/11 no 1999)

Semuanya dari Jalur Zafir bin Sulaiman dari Abdullah bin Abi Shalih dari Anas bin Malik radhiallahu ánhu.

Hadits ini dinilai lemah (dhoíf) oleh banyak ulama, diantaranya Ibnu Ádiy (Al-Kaamil 4/205), As-Suyuthi (Jamúl Jawaami’ 2/139), dan Al-Albani (Ad-Dhoífah 4/332 no 1861).

Adapun sebab lemahnya hadits ini adalah sebagai berikut :

⚉ PERTAMA : Pada sanadnya ada dua perawi yang lemah.

Yang pertama adalah Zafir bin Sulaiman. Ibnu Ádiy menilainya sebagai parawi yang dhoíf karenanya dimasukan dalam bukunya “Al-Kaamil fi Dhuáfaa’ ar-Rijaal” yaitu buku yang menjelaskan para perawi yang dhoíf. Dan hadits Anas ini beliau riwayatkan dalam buku tersebut melalui jalur Zafir bin Sulaiman untuk memberi contoh tentang hdaits-hadits dhoíf yang diriwayatkan oleh Zafir. Beliau berkata secara khusus tentang Zafir :

وَكَانَ أَحَادِيْثُهُ مَقْلُوْبَةَ الإِسْنَادِ مَقْلُوْبَةَ الْمَتْنِ وَعَامَّةُ مَا يَرْوِيْهِ لاَ يُتَابَعُ عَلَيْهِ وَيُكْتَبُ حَدِيْثُهُ مَعَ ضَعْفِهِ

“Dan hadits-haditsnya terbalik sanadnya, terbalik matannya, dan keseluruhan periwayatannya tidak diikuti dan ditulis haditsnya meskipun dia lemah” (Al-Kaamil fi dhuáfaa ar-Rijaal 4/206)

Para ulama lain yang mendoífkannya adalah Al-Bukhari, an-Nasaai, Abu Zuráh, Ibnu Hibaan, dan al-Uqoili (Lihat Tahriir Taqriib at-Tahdziib 1/409)

Adapun Ibnu Hajar beliau berkata صَدُوْقٌ كَثِيْرُ الأَوْهَامِ “Shoduuq tapi banyak kelirunya” (Taqriib at-Tahdziib hal 213)

Yang Kedua : Abdullah bin Abi Shalih as-Sammaan al-Madani. Ibnu Hajar berkata tentangnya لَيِّنُ الْحَدِيْثِ “Lemah haditsnya” (Taqriib at-Tahdziib hal 308 no 3390)

⚉ KEDUA : Sanadnya terputus. Hal ini karena Abdullah bin Abi Shalih tidak meriwayatkan  dari Anas bin Malik, akan tetapi ia meriwayatkan dari Ayahnya yaitu Abu Shalih dan juga dari Saíd bin Jubair (lihat Tahdziib at-Tahdziib, Ibnu Hajar 5/263).

⚉ KETIGA : Dzahir hadits ini menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا، أَصَابَ العَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ

“Jika Allah menurunkan hukuman/adzab kepada suatu kaum maka adzab tersebut menimpa siapa saja yang bersama mereka, kemudian mereka dibangkitkan sesuai dengan amal mereka.” (HR Al-Bukhari no 7108 dan Muslim no 2879)

Yaitu jika turun hukuman/adzab maka menimpa siapa saja termasuk orang-orang shalih, akan tetapi semuanya akan terbedakan tatkala dibangkitkan. Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan berkata:

أَيْ بُعِثَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى حَسَبِ عَمَلِهِ إِنْ كَانَ صَالِحًا فَعُقْبَاهُ صَالِحَةٌ وَإِلَّا فَسَيِّئَةٌ فَيَكُونُ ذَلِكَ الْعَذَابُ طُهْرَةً لِلصَّالِحَيْنِ ونقمة على الْفَاسِقين

“Yaitu setiap orang dari mereka akan dibangkitkan sesuai amalnya. Jika amalnya shalih maka kesudahannya baik, dan jika tidak maka kesudahannya buruk. Maka adzab tersebut adalah pembersih bagi orang-orang shalih dan hukuman bagi orang-orang fasik” (Fathul Baari 13/60, Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak, sebagiannya disebutkan oleh Ibnu Har di Fathul Baari 13/60. Silahkan lihat juga penjelasan Al-Albani di Ad-Dhoífah 4/332)

Jika telah jelas hadits ini adalah hadits yang lemah maka sepantasnya tidak disebarkan (dan juga tidak ikut menyebarkannya), terutama di saat yang genting seperti ini yang sedang mewabah covid 19. Selain itu perlu dipertimbangkan pula hal-hal berikut:

Pertama: Jika hadits inipun taruhlah shahih maka “penyakit” yang disebutkan dalam hadits Anas ini masih bersifat umum. Adapun penyakit mewabah dan menular maka ada hadits-hadits khusus yang memerintahkan untuk menjauhinya. Seperti :

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ

“Larilah dari orang yang kusta sebagaimana engkau lari dari singa” (HR Ahmad no 9722 dan dishahihkan oleh al-Arnauth dan Al-Albani di As-Shahihah no 783)

لاَ تُورِدُوا المُمْرِضَ عَلَى المُصِحِّ

“Dan janganlah membawa onta yang sakit kepada onta yang sehat” (HR Al-Bukhari no 5774 dan Muslim no 2221)

Dan kita ketahui bahwasanya pemerintah dan para ahli kesehatan telah menyebutkan bahwa tempat-tempat keramaian apalagi saling berdekatan dan bersentuhan maka merupakan potensi tersebarnya covid 19. Apalagi ternyata telah terjadi penyebaran covid 19 di tempat-tempat ibadah.

Baca Berita Antara: Mayoritas dari 190 kasus baru corona Malaysia terkait acara di masjid

Kedua: Hendaknya kita menghormati para ulama dan juga penjelasan pemerintah dan ahli kesehatan dalam hal ini. Jika para ulama di seluruh dunia (di Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Al-Jazair, Maroko, Malaysia dan MUI Indonesia) telah sepakat untuk menutup masjid dan meniadakan jumátan maka tentu mereka tidak sembarang berfatwa. Jika ternyata pendapat kita bertentangan dengan pendapat mereka dan kita merasa kita yang benar dan mereka (para ulama tersebut) yang salah, maka hendaknya kita mengalah dan menghormati keputusan pemerintah dan para ulama tersebut.

Ketiga:  Bisa kita banyangkan jika ternyata semua orang berpendapat bahwa fatwa ulama dan keputusan pemerintah tidak perlu ditaati dan tidak perlu diindahkan maka sudah bisa dipastikan negeri kita bisa cheos seperti yang dialami oleh Italia dan Iran yang di awal muncul covid 19 mereka tidak perduli dan tetap meramaikan tempat ibadah.

Keempat:  Jangan sampai kita nekat sehingga kitapun ikut andil dalam menyebarkan virus, sehingga kita berdosa. Karena kalau seandainya yang mati kita sendiri perkaranya lebih ringan, tapi kalau kita sudah terjangkiti virus, lantas kita sengaja untuk ke tempat keraimaian sehingga orang-orang banyak pada tertular, maka hakikatnya kita telah memberi kemudorotan kepada mereka. Sementara Nabi bersabda :

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan mudorot pada diri sendiri dan juga memudorotkan orang lain.” (HR Ibnu Majah)

Hendaknya kita bersabar dalam dua pekan atau sebulan ini, semoga Allah memudahkan urusan kaum muslimin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Ref: https://bekalislam.com/4109-permasalahan-fikih-terkait-corona.html

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Tenanglah Wahai Saudaraku Seiman

Tenanglah wahai saudaraku seiman .. Apapun keadaannya, bisa menjadi yang terbaik untuk kalian.

=====

Saya termasuk yang pesimis, penyebaran Covid19 bisa dihentikan di negeri tercinta ini, wallahul musta’an .. tapi, itu bukan berarti semuanya berakhir !

Oleh karenanya, tetaplah tenang, jangan panik atau takut secara berlebihan .. Lakukan usaha yang kita mampui, baik usaha lahir, maupun usaha batin.

Jika terpapar virus ini, dan ini kemungkinan terburuknya, maka tetaplah tenang .. ingatlah:

1️⃣ Itu adalah kehendak Allah .. sabarlah menerimanya, karena bisa jadi itulah yg terbaik, dan bisa jadi Allah mendatangkan banyak kebaikan padanya.

Dan berharaplah pahala dari musibah itu, karena setiap musibah yg menimpa seorang mukmin, akan mendatangkan pahala dari Allah ta’ala, karena sabda beliau: “Sesungguhnya besarnya pahala, tergantung besarnya musibah” [HR. Attirmidzi: 2396, hasan]

2️⃣ Ingatlah, banyak sekali orang yang terpapar virus ini akhirnya sembuh, bahkan kemungkinan sembuhnya jauh lebih besar .. sehingga jangan frustasi, tapi tetaplah jaga kesehatan, istirahat yang cukup, dan berusahalah mengkonsumsi sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan imun tubuh untuk bertahan, seperti: madu, jahe, jeruk nipis, dll.

Biasanya virus bisa dijinakkan oleh tubuh yang sehat dalam 2-3 pekan, waktu yang tidak begitu lama.

3️⃣ Ingatlah, bahwa wabah bisa menjadi rahmat bagi kaum mukminin yang tertimpa, selama dia bersabar dan mengharap pahala dari Allah.

Bahkan sebagian ulama mengatakan, orang mukmin yang meninggal karena Covid19 bisa masuk dalam golongan orang yang mati syahid, karena masuk dalam hadits Nabi -shollallahu ‘alahi wa sallam-: “Orang yang mati karena penyakit dalam (al-Mabtuun) itu syahid” [Shahih Bukhari: 5733].

4️⃣ Ingatlah bahwa terpapar Covid19 bukan berarti kehilangan husnul khotimah .. sebaliknya, selamat dari Covid19, bukan berarti akan selamat dari su’ul khotimah .. padahal ada tidaknya Covid19, tidak mengubah kenyataan bahwa kita semua pasti akan mati.

Oleh karenanya, fokuslah untuk husnul khotimah, perbanyak istighfar, taubat, dan amal kebaikan agar Allah memberikan husnul khotimah.

Meninggal sebelum yang lain tapi husnul khatimah, tetap saja sebuah keberhasilan dalam hidup yang luar biasa, ingatlah firman-Nya:

“Siapapun yang diselamatkan dari Neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia benar-benar telah mendapatkan kemenangan. Dan kehidupan dunia, hanyalah kenikmatan sedikit yang banyak menipu” [Alu Imron: 185].

5️⃣ Jangan menganggap rendah atau gagal mereka yang meninggal karena Covid19, karena bisa jadi itu cara Allah memuliakan mereka .. Lihatlah banyak sahabat -rodhiallahu ‘anhum- yang wafat karena penyakit Thoun ‘Amwas yang terjadi di Negeri Syam.

Saudaraku seiman, jangan pahami pesan ini sebagai ajakan untuk meremehkan masalah wabah ini .. tetaplah waspada dan berusaha menjauhkan diri dari bahaya wabah ini, semoga Allah menyelamatkan kita semua dari wabah ini.

Pesan ini bertujuan memberikan rasa tenang dan sabar bagi yang sudah berusaha, namun tetap terpapar Covid19, karena kehendak Allah yang tidak mungkin dihindarkan.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah/posts/2840288239419408

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Hal Ghoib Semakin Dipercaya

Corona tiba, hal ghoib semakin dipercaya.

Banyak yang tidak mengetahui bentuk, rupa, warna corona walau demikian semua percaya dan berusaha keras mencegah dan menghindarinya sekuat tenaga.

Bila anda tanya, “dari mana kita mengetahui keberadaan corona ?”

Jawabannya biasanya, “informasi dari pihak lain”, atau “bukti korbannya, sehingga dianggap itu meyakinkan, sehingga harus waspada dan berupaya sekuat tenaga”

Anehnya, urusan siksa akhirat, murka Allah di dunia dan akhirat, yang jelas-jelas nyata dan fakta, data dan bukti nyata juga sudah banyak, kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam ditenggelamkan, Kaum Saba’, Tsamud dan lainnya juga telah menjadi bukti dahsyatnya murka Allah,

Bencana alam, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, badai, banjir banding juga telah membuktikan keampuhan murka Allah Ta’ala.

Namun demikian, kita masih berleha-leha menyikapinya.. meremehkannya bahkan banyak manusia yang meragukannya.

Mengapa ?

Yah itulah hidayah, bila pintu hidayah di dalam jiwa anda telah tertutup, maka anda tidak akan pernah mempercayainya.

Sobat, yuk kewaspadaan terhadap corona menghantarkan kita untuk semakin mewaspadai murka Allah, dengan meningkatkan ibadah, istighfar, jauhi maksiat, dan mengkaji agama-Nya.

Semoga dengan corona kita bertambah iman, dan kalaupun harus mati dengan corona kita mendapat predikat ‘husnul khotimah.’

Namun bila corona malah menambah anda jauh dari agama, semakin meremehkan murka Allah, maka walaupun anda selamat dari corona, maka bisa jadi kelak anda harus menelan pil pahit ‘su’ul khotimah.’

Sobat !
Sebagai orang yang beriman, anda harus percaya bahwa yang kuasa melindungi anda, dan menyembuhkan anda dari corona hanyalah Allah Ta’ala. Adapun hidup sehat, suplemen, atau obat-obatan sebatas upaya, sedangkan kesembuhan atau kesehatan seutuhnya kuasa Allah Ta’ala. Karena itu, yuk kita jadikan corona sebagai cambuk untuk semakin mendekat kepada Allah Ta’ala, tanpa mengabaikan upaya untuk menanggulangi dan mengobatinya.

Dan jangan lupa, untuk menambah ilmu dan pemahaman anda tentang agama Islam, anda bisa bergabung dengan kami di sini:
http://pmb.stdiis.ac.id/

Semoga menggugah semangat dan mengobarkan keimanan anda.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Apakah Qunut Nazilah Disyari’atkan Dalam Kasus Wabah Penyakit..?

Syaikh ‘Utsaimin memberi kaidah bagus dalam masalah qunut nazilah,

“Jika musibah itu berasal dari Allah maka tidak disyariatkan qunut nazilah..
Adapun jika berasal dari perbuatan zholim manusia maka disyariatkan..
Sedangkan wabah penyakit itu Allah yang menurunkannya sehingga tidak disyariatkan qunut nazilah..
Oleh karena itu di zaman ‘Umar saat terjadi wabah penyakit tho’un tidak ada satupun shahabat yang qunut nazilah. ‘Umarpun tidak memerintahkannya..”

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Apakah Takut Terinfeksi Corona Merusak Tauhid..?

Takut terinfeksi virus Corona itu masuknya ke “Khouf Thobi’i” = takut yang wajar dan alami, karena sebabnya memang zhohir dan masuk akal. Ini bisa disamakan dengan takut kepada singa, ular, hiu, dll.. TIDAK MERUSAK TAUHID.

Berbeda dengan takut ‘kualat’ kepada mayit, masuknya ke “Khouf Sirr” = takut karena sebab yang samar (tidak masuk akal).. ini YANG MENGGANGGU TAUHID.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Tentang Berjabat Tangan

Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhaili,  حفظه الله تعالى berkata :

“Salam secara syariat dengan menggunakan lisan dan berjabat tangan merupakan tambahan kebaikan, dan termasuk perbuatan baik pada hari ini adalah meninggalkan berjabat tangan dikarenakan menolak mafsadah didahulukan atas mendatangkan mashlahat.

maka aku menganjurkan semua kaum muslimin untuk mencukupkan dengan salam menggunakan lisan dan meninggalkan untuk berjabat tangan, mempersedikit keluar dari rumah, mempersedikit perkumpulan-perkumpulan yang tidak harus, serius dalam menjaga kebersihan serta bertawakkal kepada Allah sebelum dan setelahnya..”

📌 المصافحة بالأيدي في هته الأيام
✍ تغريدة لفضيلة الشيخ أ.د #سليمانبنسليماللهالرحيلي حفظه الله

@solyman24

📲 رابط التغريدة:

🔗 https://twitter.com/solyman24/status/1238923365496356864?s=19

 أسهم في النشر فالدال على الخير كفاعله
#كورونا
#فيروس_كورونا
#كورونا_الجديد

#COVIDー19
#Algerie
#coronavirus
#COVID19

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Keutamaan Membaca 2 Ayat Terakhir Dari Qs Al Baqoroh

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Siapa yang membaca 2 ayat terakhir dari surat al-Baqoroh
pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan..”

[ HR. Bukhari no. 5009 ]

==========

yuk rutin baca 2 ayat terakhir dari Qs al Baqoroh setiap malam..
.
(baca hadits di poster).. apa maksud dari kalimat “..maka ia akan diberi kecukupan..” ?
.
sebagian ulama berkata..
“..ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit..”
.
(Syarh Shahih Muslim)
.
ya.. segala penyakit, termasuk dari wabah covid-19 (aka. virus corona), in-syaa Allah..
.
wallahu a’lam

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19
.