Bukan saatnya lagi keluar rumah “petentengan” ke sana ke sini, meremehkan dahsyatnya penularan covid 19 ini.
Bukan saat yang tepat meyakinkan diri hanya cukup baca do’a, zikir, ruqyah dan semacamnya dengan meninggalkan sebab bercampurnya orang sakit dengan orang sehat di pasar, pusat keramaian, acara-acara pengajian, resepsi pernikahan bahkan di masjid-masjid.
Nabi yang menyatakan “la ‘adwa- tiada penyakit menular(dengan sendirinya)” tetapi Beliau juga yang memerintahkan “berlarilah engkau menghindari orang yang terjangkiti kusta sebagaimana engkau berlari dari singa”
Virus Corona ini memang dampak klinisnya tak langsung, mungkin setelah beberapa hari baru kita kan terperanjat bahwa musibah ini adalah “bola es” yang awalnya jatuh dari puncak kecil untuk kemudian menjadi gunung es menghancurkan semua yang dilewati.
Mungkin dirimu tak sadar engkau pergi kemana-mana membawa virus yang kau sebarkan ke khalayak ramai. Mungkin pula kau tak merasa orang-orang yang kontak berinteraksi denganmu ternyata sedang menularkan virusnya padamu walau semua tentunya dengan izin Allah.
Menyepelekan himbauan untuk tetap di rumah, bisa merubah negeri ini bagaikan Italia yang dua minggu masa inkubasi mereka remehkan dan sepelekan, mereka tetap keluar rumah, berkeliaran, berdarmawisata dan berpesta pora, selepas itu mayat-mayat mereka mati bergelimpangan.
Negeri kita dan sarana prasarana kesehatan kita, berupa rumah sakit, tim medis, tempat inkubator dll tidak akan mampu menghadapi kedatangan puluhan pasien dalam satu waktu, apalagi ratusan pasien.
Tidakkah kau lihat bagaimana tim medis dari para dokter maupun perawat banyak yang sudah terjangkiti bahkan ada yang wafat disebabkan resiko yang tidak dapat dihindari buah dari berinteraksi dengan orang yang sakit..?
Masa ini adalah masa ber-uzlah-menyendiri- di rumah-rumah, banyak berzikir dan beristighfar, mendawamkan qiratul Quran, menangisi dosa-dosa yang telah kita lakukan.
Semoga saja Allah yang maha Pengasih dan Penyayang , mencurahkan rahmatNya pada kita, segera mengangkat musibah ini dari kita.
Degub kerinduan ke masjid, memang sulit dibendung, denyut nadi untuk menghadiri kajian selalu datang menghantui, namun bersabar dengan menahan diri ke masjid lebih selamat dari tertular atau menularkan orang lain.
Virus corona memang berasal dari satu orang, namun tak disangka satu orang sakit itu dapat merusak ratusan bahkan ribuan orang sehat karena interaksi.
Batam, 27 Rajab 1441/22 Maret 2020
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى
ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/
JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19
Jangan sampai kita kalah dengan ketakutan kita sendiri !
=====
Yakinlah bahwa kita semua akan ditolong dan dikuatkan Allah dalam menghadapi musibah ini, selama kita kembali kepadanya, dan mentaatinya .. “La haula wala quwwata illa billah” .. Tentunya dengan tetap melakukan usaha lahir dan batin yang kita mampui.
Ingatlah firman-Nya:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِين
“Mengapa penduduk suatu negeri tidak BERIMAN, sehingga imannya bisa memberikan manfaat kepada mereka. Lihatlah kaumnya Nabi Yunus, ketika mereka BERIMAN, Kami hilangkan dari mereka AZAB dunia yg menghinakan, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yg ditentukan” [QS. Yunus 98]
Ingat juga perkataan Syeikhul Islam -rohimahullah-:
“Banyak orang yang sakit bisa sembuh tanpa pengobatan, mereka sembuh dengan doa yang mustajab, ruqyah yang manjur, kekuatan hati, dan tawakkal yang baik”. [Al-Fatawa 21/563]
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19
Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat”
[ HR. Bukhari, no. 2996 ]
Dari hadits itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani rohimahullah mengatakan,
“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.”
[ Fath Al-Bari, 6: 136 ]
Jika seseorang ada udzur sehingga tidak mampu menghadiri sholat jama’ah padahal sebelumnya ia mampu hadir secara rutin, ingatlah keadaan seperti ini, in-syaa Allah, TETAP akan dicatat seperti ia melakukannya saat sehat dan kuat, yaitu sesuai dengan kebiasaannya ketika itu..


JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19
Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),
‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya, adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: “Aamiin.. dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan..”
[ HR. Muslim ]
ayo kita berdo’a kepada Allah agar Allah senantiasa menjaga diri kita, keluarga kita dan kaum mukminin seluruhnya dalam kebaikan dan kesehatan, dan dalam ridho-Nya.. dan agar Allah menyembuhkan kaum mukminin yang saat ini sakit tertimpa musibah wabah covid-19..
.
Al-Qadhi ‘Iyadh rohimahullah berkata:
.
“Jika generasi Salaf hendak berdo’a untuk dirinya sendiri, mereka juga berdo’a untuk saudaranya sesama muslim dengan do’a tersebut, karena do’a tersebut adalah do’a yang mustajab, dan dia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim.”
.
[ Syarh an-Nawawi – XVII/49 ]

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19