Category Archives: Mutiara Salaf

Waspadai Niatmu Dalam Beramal…

Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata:

كل عمل يُعمل لغير الله لا ينفع صاحبه، بل قد يضره.

“Semua amal yang diamalkan untuk selain Allah tidak akan bermanfaat bagi pelakunya, bahkan bisa jadi justru membahayakannya.”

[Dar’ut Ta’arudh Bainal Aqli wan Naql, jilid 9 hlm. 373]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Jika Engkau Ingin Memiliki Hati Yang Lembut Dan Sikap Waro’…

Sufyan ats Tsaury rohimahullah berkata :

١. عليك بقلة الكلام يلين قلبك
٢. وعليك بطول الصمت تملك الورع
٣. ولا تكونن حريصاً على الدنيا.

1️⃣ Hendaknya engkau tidak banyak berbicara (yang tidak bermanfaat) niscaya hatimu akan lembut.
2⃣ Dan sudah semestinya engkau banyak diam, niscaya engkau akan memiliki sifat waro’.
3⃣ Dan janganlah engkau sekali-kali menjadi orang yang ambisi terhadap dunia.

[Al-Hilyah, 8/82]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Amal Hati…

Amal hati lebih agung dari amalan badan..

Tawakal..
Takut..
Berharap..
Cinta..
Dan amal hati lainnya..

Abu Hurairah berkata: “Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ditanya:

‘Amal apa yang paling utama ..?’
Beliau menjawab: “Iman kepada Allah..’
‘Kemudian apa..?’
Beliau menjawab, ‘Jihad fi sabilillah.’
[HR Bukhari dan Muslim]

Padahal jihad jauh lebih melelahkan..

Namun iman kepada Allah jauh lebih utama..

Lihat saja..
Infak kita dengan emas sebesar gunung…

Tidak dapat mengalahkan infak shahabat dengan satu genggam emas..

Karena berbeda iman kita dengan mereka..

Mereka lebih ikhlas..
Lebih takut kepada Allah..
Lebih cinta kepadaNya..

Orang yang lebih sedikit amalnya dari kita..
Mungkin utama karena ketaqwaan hatinya..

Oleh karena itu..
Jangan tertipu oleh banyaknya amal..

Karena ilmu bukan dengan banyaknya riwayat yang kita hafal..

Tapi ilmu itu hakikatnya adalah yang melahirkan rasa takut..
Bukan melahirkan rasa ujub..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da2110132149

Tiada Yang Tetap…

Di dunia ini tiada yang tetap, segalanya kan berubah. Jikalah ada yang tetap maka dialah “perubahan”.

“Berubah itu yang menjadi ketetapan..”

Jika musim hujan telah berakhir, datanglah musim kemarau,
jika terang siang berakhir datanglah gelapnya malam,
tiada banjir yang abadi kecuali akan mengering,
tiada lautan yang surut kecuali akan datang pasang,
tiada tangisan yang mengalir kecuali berganti tawa,
tiada derita kecuali berganti bahagia,
tiada pertemuan yang kekal kecuali kan datang perpisahan..

“Segala yang didunia ini fana dan berubah..”

Jika hari ini dialah kekasih anda, maka tidak mustahil esok menjadi musuh bebuyutan.
Jika hari ini ialah teman setia, besok lusa dia berkhianat..

“Jika pagi ini ia beriman, boleh jadi esok petang dia menjadi kafir..”

Ada mantan preman yang tobat,
ada juga mantan santri yang murtad,
ada mantan pendeta dan ada pula mantan ustadz,
ada mantan istri dan ada pula mantan suami..

Seorang mukmin hendaklah senantiasa berubah kepada yang lebih baik dalam segala sisi kehidupannya. Berubah untuk lebih sholeh, lebih santun, lebih gairah menimba ilmu, lebih giat dalam berinfaq, lebih gigih dalam berdakwah, lebih semangat berkorban untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin…

Bukan lagi masanya berleha-leha,
bukan waktunya untuk tidur lelap,
bukan lagi zamannya bersantai-santai..

“Siapa yang ingin menyingsing fajar, harus mau berjalan malam..”

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.

Demikianlah Kebanyakan Manusia…

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

قال ابن القيم رحمه الله :
” *وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَسْمَعُ مِنْكَ وَيَرَى مِنَ الْمَحَاسِنِ أَضْعَافَ أَضْعَافِ الْمَسَاوِئِ فَلَا يَحْفَظُهَا وَلَا يَنْقُلُهَا وَلَا تُنَاسِبُهُ، فَإِذَا رَأَى سَقْطَةً أَوْ كَلِمَةً عَوْرَاءَ وَجَدَ بُغْيَتَهُ وَمَا يُنَاسِبُهَا فَجَعَلَهَا فَاكِهَتَهُ وَنُقْلَهُ* “

مدارج السالكين ١ / ٤٠٦

“Demikianlah kebanyakan manusia, ia mendengar dan melihat darimu kebaikan-kebaikan yang lebih banyak dari keburukan namun ia tidak mengingatnya, tidak menyebarkannya dan tidak sesuai dengannya.

Tapi apabila ia melihat satu kekeliruan, atau kata-kata yang salah seolah ia mendapatkan apa yang ia cari-cari dan ia jadikan bahan obrolanya dan ia sebarkan.”

[Madarij as Saalikin 1/406]

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

Apa Yang Engkau Tanam, Itulah Yang Akan Engkau Panen…

Ibnu Rajab al-Hanbali rohimahullah berkata:

“Esok hari (kiamat) jiwa-jiwa akan disempurnakan
balasan atas perbuatan mereka, orang-orang yang
menanam akan memanen apa yang mereka tanam,
jika mereka berbuat baik maka mereka telah berbuat
baik untuk diri mereka sendiri, namun jika mereka
berbuat buruk maka alangkah buruknya apa yang
telah mereka perbuat.”

[Lathaiful Ma’arif, jilid 1, hlm 232]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

Diantara Penyebab Seseorang Terlilit Hutang…

Muhammad bin Sirin rohimahullah
(Beliau seorang Tabi’in wafat di Bashrah
tahun 110 H) berkata :

إِنِّيْ لَأَعْرِفُ الذَّنْبَ الَّذِيْ حَمَلَ بِهِ عَلَيَّ الدَّيْنَ

“Sesungguhnya aku mengetahui (dampak)
dosaku (dahulu), yang menyebabkanku
(sekarang)
terlilit hutang.”

[Shifatush Shafwah, 3/246]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

 

MUTIARA SALAF : Hendaklah Seorang Mukmin Berada Dalam Salah Satu Dari Dua Keadaan

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Dunia bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal.. Hendaklah seorang mukmin berada dalam salah satu keadaan :

(1) menjadi seorang ghorib (orang asing), tinggal di negeri asing, ia semangat mempersiapkan bekal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya..

(2) menjadi seorang musafir, tidak tinggal sama sekali, bahkan malam dan siangnya ia terus berjalan ke negeri tempat tinggalnya.

Maka dari itu Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mewasiatkan kepada Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa agar hidup di dunia dengan salah satu dari dua keadaan ini..”

[ Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:378 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Jika Bicara Tidak Membimbingmu, Maka…

Abu adz-Dzayyal rohimahullah berkata:

تعلم الصمت كما تتعلم الكلام، فإن يكن الكلام يهديك، فإن الصمت يقيك، ولك في الصمت خصلتان : تأخذ به علم من هو أعلم منك، وتدفع به عنك من هو أجدل منك.

“Belajarlah diam seperti engkau belajar bicara, karena jika bicara tidak membimbingmu, maka sesungguhnya diam akan menjaga dirimu, dan dengan diam engkau akan mendapatkan dua hal:
dengannya engkau bisa mengambil ‘ilmu dari orang yang lebih berilmu darimu, dan
⚉ dengannya engkau bisa menolak keburukan orang yang lebih pintar debat dari dirimu.”

[Jami’ Bayanil-‘Ilmi wa Fadhlih, jilid 1 hlm. 550]