Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Patokan Dalam Meluruskan Shaf Shalat

Pertanyaan: Apakah berbaris dan meluruskan shaf di dalam shalat itu dengan mata kaki ataukah dengan ujung-ujung jari..?

Jawaban: Meluruskan shaf itu (patokannya) dengan mata kaki bukan dengan jari-jari kaki, karena mata kaki itulah tumpuan badan; karena dia di bawah betis, dan betis itu tumpuan paha, lalu paha itu tumpuan badan.

Adapun jari-jemari kaki, bisa jadi kaki seseorang panjang, sehingga jari-jemarinya lebih menjorok ke depan daripada jari-jemari orang yang di depannya. Sebaliknya bisa jadi jari-jemarinya pendek. Dan perbedaan ini tidak menjadi masalah (bila yang menjadi patokan dalam meluruskan shaf adalah mata kaki).

Meluruskan shaf itu bukan dengan jari jemari kaki, tapi dengan mata kaki, saya ulang-ulang hal ini, karena saya melihat banyak orang menjadikan patokan dalam meluruskan shaf adalah ujung jari-jemarinya, dan ini adalah kesalahan.

[Majmu’ Fatawa Syeikh Utsaimin 13/54]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Cara Selamat Dari Dosa Ghibah

Nasihat Emas Imam Sahl bin Abdillah At-Tasturi rohimahullah,

من أراد أن يسلم من الغيبة فليسد على نفسه باب الظنون، فمن سلم من الظن سلم من التجسس، ومن سلم من التجسس سلم من الغيبة، ومن سلم من الغيبة سلم من الزور، ومن سلم من الزور سلم من البهتان.

– barangsiapa ingin selamat dari dosa ghibah maka tutuplah dari dirinya pintu bersangka buruk, dan

– barangsiapa yang selamat dari bersangka buruk maka akan selamat dari mencari-cari kesalahan saudaranya, dan

– barangsiapa yang selamat dari mencari-cari kesalahan saudaranya maka dia akan selamat dari ghibah, dan

– barangsiapa yang selamat dari ghibah maka dia akan selamat dari bersaksi palsu, dan

– barangsiapa yang selamat dari bersaksi palsu maka dia akan selamat dari berkata dusta.

(Syu’abul Iman – Imam Adz Dzahaby)

Penterjemah,
Ustadz Fachruddin Nu’man MA, حفظه الله تعالى

Pesan Ringkas Dan Padat Bagi Pasutri

Abul Aswad Addu’ali (pencetus ilmu nahwu, wafat tahun 69 H, rohimahulloh)… ketika menikahkan putrinya beliau berpesan kepadanya:

“Muliakanlah kedua matanya, hidungnya, dan kedua telinganya.”

[Lihat kitab Mu’jamul Udaba’ 4/1467].

Tidak semua orang mampu memahaminya, karena bahasanya yang tinggi… Namun bila direnungkan, sungguh dalam pesan yang singkat itu terdapat makna yang dalam, beliau menginginkan agar putrinya tersebut, memuliakan suaminya dengan tiga hal:

1. Penampilan yang indah, agar kedua mata suaminya senang dan selalu tertarik memandangnya.
2. Parfum yang wangi, agar hidung suaminya nyaman mencium harumnya.
3. Kata-kata yang baik, agar kedua telinga suaminya terhibur dan bahagia ketika mendengarnya.

Meskipun pesan ini dikatakan Abul Aswad untuk putrinya, bukan berarti seorang suami tidak perlu melakukan hal ini… Bahkan sudah sepantasnya, seorang suami juga berusaha untuk mewujudkan isi pesan ini.

Karena Allah ta’ala telah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para istri itu berhak mendapatkan kebaikan, sebagaimana kebaikan yang dibebankan kepada mereka”. [Al-Baqoroh: 228].

Mari jaga jalinan suci pernikahan, dengan cara saling memuliakan… Muliakanlah dia dengan penampilan yang indah, aroma yang wangi, dan perkataan yang baik dan menghibur.

Semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tata Cara Sholat Gerhana Bila Melihat Gerhana Bulan Atau Matahari

Tata cara sholat gerhana adalah sebagai berikut :

1.    Takbiratul ihrom

2.    Membaca do’a istiftah kemudian berta’awudz, dan membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang.

3.    Kemudian ruku’, dengan memanjangkan ruku’nya.

4.    Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamd..’.

5.    Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

6.    Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama.

7.    Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamd..’, kemudian berhenti dengan lama.

8.    Kemudian melakukan dua kali sujud dengan memanjangkannya, diantara keduanya melakukan duduk antara dua sujud sambil memanjangkannya.

9.    Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan roka’at kedua sebagaimana roka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

10.  Tasyahud.

11.  Salam.

(Lihat : Al Mughni karya Ibnu Qudamah 3/313, dan Al Majmu’ karya Imam Nawawi 5/48)

Courtesy of Muslimah.or.id

image

MUTIARA SALAF : Sesuatu Yang Paling Berat

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya..

dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya, maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah..”

( Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

image

Kaya, Tapi Zuhud – Miskin, Tapi Gila Harta.. Mungkinkah..?

Itu sangat mungkin.. bagaimana bisa demikian..? Mari simak pemaparan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini :

“Ketika harta berada di tanganmu, bukan di hatimu, dia tidak akan membahayakanmu, walaupun jumlahnya banyak.

Sebaliknya, ketika harta itu di hatimu, dia akan membahayakanmu, walaupun harta itu tidak ada sedikitpun di tanganmu.

Imam Ahmad pernah ditanya: ‘Bisakah seseorang menjadi zuhud, padahal dia memiliki seribu dinar..?’

Beliau menjawab: ‘Ya, (bisa saja), asalkan dia tidak senang bila harta itu bertambah, dan dia tidak sedih bila harta itu berkurang..’

Oleh karenanya para sahabat menjadi orang yang paling zuhud terhadap harta yang ada di tangan mereka.

Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya: ‘Bisakah orang yang kaya menjadi zuhud..?’

Beliau menjawab: ‘Ya (bisa saja), yaitu jika saat hartanya bertambah dia bersyukur, dan saat hartanya berkurang dia juga bersyukur, dan bersabar..’

[Sumber: Madarijus Salikin 1/463].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

image

MUTIARA SALAF : Kerugian Yang Besar

Imam Auza’i rohimahullah berkata,

“Tidaklah waktu demi waktu di dunia ini melainkan akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, bahkan detik demi detik.

Dan tidaklah berlalu satu detik saja sedang dia tidak berdzikir mengingat Allah ta’ala, melainkan akan tercabik-cabik
hatinya karena merasa rugi.

Lalu bagaimana dengan orang yang detik demi detik, hari demi hari, dan malam demi malam berlalu sedang dia tidak berdzikir mengingat Robbnya..?!”

[Kitab: Hilyatul Auliya’ 6/142]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tidak Semua Sama Dalam Ibadah

Imam Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata..

“Seorang ahli ibadah yang bernama Abdullah Al Umariy pernah menulis surat kepada Imam Malik.. menganjurkan beliau agar fokus ibadah.. maka Imam Malik menjawab..

‘Sesungguhnya Allah membagi bagikan amal sebagaimana membagi bagikan rezeki..

ada orang yang dibukakan pintu sholat..
yang lain dibuka untuknya pintu puasa..
ada yang dibukakan pintu sedekah..
dan menyebarkan ilmu adalah diantara amalan yang paling utama..

aku ridho dengan pemberian Allah ini kepadaku.. aku merasa yang aku lakukan ini tidak lebih rendah dari apa yang engkau lakukan..
aku berharap kita berdua di atas kebaikan..”

[siyar a’lam nubala 8/115]

demikian..
kemampuan manusia untuk beramal berbeda-beda..
walaupun kita berusaha untuk beramal semaksimal mungkin..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Sebarkan Ilmu Yang Engkau Miliki Agar Tidak Lupa

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Barangsiapa menyimpan ilmunya, tidak menyebarkannya, dan tidak mengajarkannya (kepada orang lain), Allah pasti akan memberikannya musibah dengan lupa dan hilangnya ilmu tersebut darinya, sebagai balasan yang sejenis dengan perbuatannya.

Dan hal ini merupakan perkara yang bisa disaksikan oleh indera dan nyata adanya..”

[Miftahu Daris Sa’adah 1/172]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى