Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Tujuan Semua Manusia

Tujuan semua manusia.. agar bahagia.
=======

“Sebagian ulama mengatakan: aku telah merenungkan sesuatu yang diusahakan oleh orang-orang yang berakal; kulihat mereka semua mengusahakan SATU TUJUAN, meskipun cara mereka berbeda-beda dalam meraihnya, aku melihat mereka semua hanya mengusahakan untuk menghilangkan kekhawatiran dan kesedihan dari jiwa mereka.

Orang ini (mengusahakannya) dengan makan dan minum, ada yang dengan bisnis dan mata pencaharian, ada yang dengan nikah, ada yang dengan mendengarkan nyanyian dan suara yang merdu, dan ada yang dengan hiburan dan permainan.

Maka kukatakan: memang ini yang diinginkan orang-orang yang berakal, namun semua jalan ini tidak akan menyampaikan mereka kepada tujuannya, bahkan mungkin sebagian besarnya malah menyampaikan mereka kepada kebalikannya.

Aku tidak melihat semua jalan itu bisa menyampaikan seseorang kepada tujuannya tersebut, kecuali menghadapkan diri HANYA kepada Allah semata, bermuamalah hanya dengan-Nya, dan mendahulukan keridhoan-Nya daripada segala sesuatu.

Karena orang yang berada di atas jalan ini, meskipun ada bagian dari dunianya yang terlewatkan; dia telah mendapatkan bagian paling berharga yang tidak berarti lagi apapun yang terlewatkan, dan apabila dia terlewatkan (seakan) dia tidak mendapatkan apa-apa.

Apabila orang yang berada di atas jalan ini mendapatkan bagian dunianya, dia akan mendapatkan dalam keadaan yang paling enak.

Maka tidak ada cara yang paling bermanfaat bagi seorang hamba melebihi jalan ini, dan tidak cara yang paling dapat menyampaikan seorang hamba kepada kenikmatan, kemapanan, dan kebahagiaan hidup melebihi jalan ini.

Dan hanya dengan Allah semua taufiq datang..”

[Oleh: Ibnul Qoyyim, dalam kitabnya: Adda’ wad Dawa’, hal: 193].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Tujuan Berdo’a

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan,

“Sungguh MENGHERANKAN, ketika manusia dilarang untuk sholat di sisi kuburan, tapi banyak dari mereka menjadikan kuburan sebagai tempat tujuan untuk berdo’a di sisinya, dan mereka mengatakan bahwa do’a di sana mustajab.

Apakah seorang muslim atau seorang yang berakal pantas mengatakan bahwa tempat yang kita dilarang untuk beribadah sholat di dalamnya adalah tempat yang mustajab untuk berdo’a, bahkan menjadi tempat tujuan untuk berdo’a..?!

Ini sama saja dengan orang yang mengatakan: “Aku tidak mau sholat saat terbit dan terbenamnya matahari, tapi aku akan sujud kepada matahari ketika itu..”, padahal dia dilarang sholat ketika itu adalah agar tidak menyerupai orang yang sujud kepada matahari..”

[Kitab: Qoidah Azhimah … , hal: 55].

———-

Memang setiap yang menyelisihi syariat, akan selalu tidak selaras dengan akal yang jernih dan kritis.

Cobalah kita perhatikan.. bagaimana mereka lebih semangat dan lebih khusyu’ ketika berdo’a di kuburan (rumah MAKHLUK yang sudah meninggal dan tak berdaya), daripada ketika mereka berdo’a di masjid (rumah ALLAH yang maha hidup dan maha kuasa).

Semoga Allah membuka hati hamba-hambaNya… amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Agar Hati Anda Lembut

Syeikh Binbaz -rohimahulloh- mengatakan:

“Barangsiapa memanfaatkan waktunya untuk :
– berdzikir kepada Allah,
– membaca AlQur’an,
– berteman dengan orang-orang saleh, dan,
– menjauh dari berteman dengan orang-orang yang lalai dan buruk,

niscaya hatinya akan menjadi baik dan lembut..”

[Kitab: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 5/244]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kaidah Yang Sangat Ampuh

Lau kaana khoiron lasabaquuna ilaih… (Seandainya itu baik, tentu mereka para salaf telah mendahului kita).

=======

Ya… Inilah kaidah yang sangat AMPUH untuk menjawab semua amalan bid’ah dalam agama.

Sekuat apapun dalil mereka untuk melegalkan amalan bid’ah, pasti bisa kita patahkan dengan perkataan di atas: “Seandainya itu baik, tentu mereka para salaf telah mendahului kita..”

Karena tidak mungkin kita lebih ALIM dari mereka dalam masalah agama, dan tidak mungkin kita lebih SEMANGAT dari mereka dalam mengamalkan kebaikan, sehingga tidak mungkin ada amal kebaikan yang tidak pernah diamalkan oleh mereka para generasi salaf.

Kalau ada yang mengatakan, mana dalil kaedah di atas..?!

Kita katakan: Kaedah di atas diambil dari mafhumnya firman Allah ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“Orang-orang kafir itu mengatakan kepada orang-orang yang beriman: seandainya itu baik, tentu mereka TIDAK mendahului kami..” [Al-Ahqof: 11].

Seorang pakar tafsir Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- mengatakan:

“Maksud ayat ini, bahwa mereka (orang kafir Mekah) mengatakan kepada kaum yang mengimani Alqur’an: ‘Seandainya Alqur’an itu baik, tentu MEREKA tidak akan mendahului kita (dalam beriman) kepadanya’, dan perkataan ini mereka tujukan kepada Bilal, Ammar, Shuhaib, Khobab, dan yang semisal dengan mereka yang merupakan orang-orang lemah dan para hamba sahaya.. Sungguh mereka itu telah salah fatal dan jelas-jelas keliru.

Adapun AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH, maka mereka akan mengatakan dalam setiap perbuatan dan perkataan yang TIDAK valid dari para sahabat bahwa itu adalah BID’AH.

Karena ‘seandainya itu kebaikan, tentu mereka (para sahabat) telah mendahului kita dalam melakukannya.’

Karena mereka tidaklah menyisakan SATUPUN amal kebaikan, kecuali mereka telah bersegera melakukannya..”

[Kitab: Tafsir Ibnu Katsir 7/278-279].

————-

Sayangnya di zaman ini, orang yang menggunakan semboyan yang bersumber dari Alqur’an ini, selalu dijuluki sebagai wahabi.

Padahal Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- telah jelas MENEGASKAN bahwa itu adalah perkataan Ahlussunnah wal Jama’ah, wallohul musta’an.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kiat-Kiat Selamat Dari Penyakit ‘Ujub (Bangga Diri)

قال الشافعي رحمه الله: إذا خفت على عملك العجب، فاذكر رضا من تطلب، وفي أي نعيم ترغب، ومن أي عقاب ترهب، فمن فكر في ذلك صغر عنده عمله.

Imam Asy-Syafi’i rohimahullah berkata,

“Jika kamu merasa khawatir terhadap sikap ‘ujub (perasaan bangga diri) atas amal perbuatanmu, maka ingatlah :

– keridhoan siapakah yang menjadi tujuan amalmu,

– di alam kenikmatan siapakah engkau hendak berlabuh, dan

– dari siksaan siapakah engkau berupaya menghindarkan dirimu (darinya)

Barangsiapa merenungkan hal-hal tersebut, niscaya ia akan menganggap sedikit dan remeh amal ibadahnya..”

(Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi X/42).

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada hari ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit ‘ujub, sombong, riya’ dan penyakit hati lainnya. Amiin.

(Klaten, 4 Februari 2015).

Ditulis oleh
Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Koreksi Diri Anda.. Mengapa Malas Membaca Al Qur’an

Syeikh al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu melihat dirimu berpaling dari sebagian (tuntunan) Agama Allah, atau kamu melihat dirimu berpaling dari kitabullah azza wajall, baik berpaling dari membaca hurufnya, atau membaca dengan perenungan, atau membaca dengan pengamalan

Maka harusnya kamu mengobati dirimu, dan ingatlah bahwa sebab ‘berpaling’-mu ini adalah kemaksiatan-kemaksiatan (yang kamu lakukan)”.

[Tafsir Surat Alma’idah 1/348].

Diterjemahkan oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Saat Anda Berlumuran Dosa

Saat Anda berlumuran dosa; memperbanyak ISTIGHFAR lebih afdhol daripada banyak bertasbih.

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Ada seorang ulama ditanya: Manakah yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, bertasbih atau beristighfar?

Dia menjawab: Bila sebuah pakaian bersih, maka parfum dan air mawar lebih bermanfaat baginya.

Tapi apabila pakaian itu kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya”.

[Alwaabilus shoyyib, Ibnul Qoyyim, 92]

———

Mungkin ada yang bertanya, berarti kita akan beristighfar saja, karena kita selalu merasa berlumuran dosa..?!

Kita katakan: “memperbanyak istighfar”, bukan berarti tidak membaca dzikir yang lain sama sekali.

Dan tidak diragukan lagi bahwa perasaan ‘berlumuran dosa’ tidak akan selamanya menghinggapi diri kita, pasti ada saat-saat kita merasa dekat dengan Allah ta’ala, wallohu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Walaupun Tidak Wajib

Al Qurthubi rohimahullah berkata:

“Siapa yang terus menerus meninggalkan sunnah, maka itu kekurangan dalam agamanya..

Jika ia meninggalkannya karena meremehkan dan tidak suka..
Maka itu kefasikan..
Karena adanya ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

من رغب عن سنتي فليس مني

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

Dahulu para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya..
Senantiasa menjaga yang sunnah sebagaimana menjaga yang wajib..

Mereka tidak membedakan keduanya dalam meraih pahala..

(Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari 3/265).

Banyak sunnah yang diremehkan di zaman ini..
Dengan alasan: ah itu kan cuma sunnah..

Padahal sunnah bukanlah untuk ditinggalkan..

Banyak perkara sunnah yang berpahala amat besar..
Seperti shalat qabliyah shubuh yang lebih baik dari dunia dan seisinya..

Bahkan ada amalan sunnah yang menjadi tonggak kebaikan..
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Senantiasa manusia di atas kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagi kita penuntut ilmu..
Mari hiasi hari-hari dengan sunnah..
Meraih cinta Allah..
Dia berfirman dalam hadits qudsi..

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Senantiasa hambaKu bertaqarrub kepadaku dengan ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya.”

Untuk inilah kita berlomba..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Teruslah Menjaga KEIKHLASAN Dalam Menuntut Ilmu Agama

Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) -rohimahulloh- mengatakan:

“Ini adalah masalah yang diperselisihkan, apakah menuntut ilmu lebih afdhol, ataukah sholat sunnah, bertilawah, dan berdzikir..?!

Adapun orang yang IKHLAS karena Allah dalam menuntut ilmu dan kecerdasannya baik, maka menuntut ilmu lebih baik bagi dia, tapi dengan tetap memperhatikan bagian sholat dan ibadahnya.

Jadi, jika kamu melihatnya giat dalam menuntut ilmu, tapi tidak punya bagian dalam amalan ketaatan (sedikit ibadahnya), maka ini adalah orang yang malas dan hina, dan dia bukan orang yang jujur dalam kebaikan niatnya.

Adapun orang yang mencari ilmu hadits dan fikihnya karena hobi dan kesenangan hati, maka ibadah lebih afdhol baginya, bahkan tidak ada perbandingan antara keduanya. Dan ini pembagian (keadaan para penuntut ilmu) secara global.

Sungguh -demi Allah- SEDIKIT orang yang kulihat IKHLAS dalam menuntut ilmu (agama)..”

[Siyaru A’lamin Nubala’ 7/167].

——-

Jika di zaman beliau saja seperti ini, bagaimana keadaannya di zaman ini..?!
Ini menuntut kita untuk terus memperhatikan NIAT kita dalam menuntut ilmu, dan juga memperhatikan IBADAH kita sebagai bentuk penerapan ilmu kita.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Nasehat Bagi Para Penasehat

Asy-Sya’bi rohimahullah berkata :

يُشْرِفُ أَهْلُ الجنة في الجنة على قوم فِي النار فيقولون ماَ لَكُم في النارِ؟ وإِنما كنا نعمل بما تُعَلِّمُوْنَا !، فيقولون : إِنَّا كُنَّا نُعَلِّمُكم ولا نَعْمَلُ بِهِ

“Penghuni surga di surga melihat sebuah kaum di neraka, maka penghuni surga berkata kepada mereka, “Kenapa gerangan kalian di neraka..? padahal kami dahulu beramal sholeh dengan apa yang kalian ajarkan kepada kami..!”

Maka kaum penghuni neraka berkata, “Kami dahulu mengajari kalian akan tetapi kami tidak mengamalkan apa yang kami ajarkan..”

(Kitab Az-Zuhud karya Al-Imam Ahmad hal 369)

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى