Category Archives: Mutiara Salaf

Orang Yang Menanam Kebaikan

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya kalian sedang melewati siang dan malam dengan usia yang terus berkurang, sementara amal perbuatan kalian tetap dicatat, dan kematian datang secara tiba-tiba.

Barangsiapa yang menanam kebaikan, maka ia akan segera menuai kebahagiaan .. dan barangsiapa yang menanam keburukan, maka ia akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam akan memanen apa yang telah ia tanam.

Orang yang lambat tidak akan kehilangan bagian (rezeki) yang telah ditetapkan untuknya, dan orang yang ambisius tidak akan mendapatkan apa yang tidak ditetapkan baginya.

Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka Allah-lah yang telah memberikannya .. dan barangsiapa yang dilindungi dari keburukan, maka Allah-lah yang telah melindunginya.

Orang-orang yang bertakwa adalah pemimpin, para ulama adalah penunjuk jalan, dan duduk bersama mereka akan mendatangkan tambahan (ilmu dan iman)..”

(Siyar A’laam al-Nubalaa’ – 1/497)

Ridholah Atas Segala Ketetapan Allah Bagimu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Ridholah (terimalah dengan lapang dada) atas segala sesuatu yang Allah tetapkan bagimu.

Karena sesungguhnya :
– tidaklah Dia menahan sesuatu darimu melainkan untuk memberimu,
– tidaklah Dia mengujimu melainkan untuk menjaga dan menyelamatkanmu,
– idaklah Dia memberimu rasa sakit melainkan untuk menyembuhkanmu, dan
– tidaklah Dia mewafatkanmu melainkan untuk memberimu kehidupan (yang sesungguhnya).

Maka waspadalah, jangan sampai engkau tidak ridho kepada-Nya meski hanya sekejap mata, sehingga engkau jatuh (kehilangan kedudukan) di mata-Nya..”

(Madaarijus Saalikiin – 2/208)

Manfaatkanlah Waktu Anda Sebaik Baiknya

Al Muzani rohimahullah berkata,

– Setiap hari yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,

‘Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Boleh jadi engkau tidak akan menemui hari yang lain..’

– Setiap malam yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,

‘Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Boleh jadi engkau tidak akan menemui malam yang lain..’

(Hilyatul Auliyaa’ -7/330)

📌 Nasihat ini merupakan pengingat yang sangat dalam mengenai urgensi waktu dan bagaimana setiap detik dalam kehidupan kita adalah kesempatan yang tidak akan terulang kembali.

Maafkanlah

Al Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah berkata,

“Maafkanlah saudaramu. Apa keuntungan yang engkau dapatkan jika Allah menghukum saudaramu sesama Muslim hanya karena (urusan dengan) dirimu..?”

(Siyar A’laam al-Nubalaa’ – 11/262)

Nasehat Al Imam Ahmad rohimahullah tersebut di atas berakar kuat pada prinsip-prinsip utama dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

📌 Balasan Sesuai Jenis Amal

Alqur’an mengajarkan bahwa jika kita menginginkan ampunan dari Allah, maka kita harus memulai dengan mengampuni hamba-Nya.

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu..? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (Qs. An-Nuur: 22)

📌 Pahala Yang Menjadi Urusan Allah Secara Langsung

Biasanya, pahala amal ibadah sudah disebutkan ukurannya. Namun, untuk orang yang memaafkan dan memperbaiki hubungan, Allah menjanjikan pahala yang langsung menjadi dari Allah.

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zholim .” (Qs. Ash-Shuraa: 40)

📌 Sifat Penghuni Surga

Dalam Alqur’an, Allah menyebutkan ciri-ciri orang bertaqwa yang dipersiapkan untuk masuk surga, salah satunya adalah :

“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan..” (Qs. Aali ‘Imran: 134)

📌 Memaafkan Meningkatkan Kemuliaan, Bukan Kehinaan

Banyak orang merasa bahwa memaafkan adalah tanda kelemahan. Namun Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menegaskan hal yang sebaliknya dalam sebuah hadis :

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan derajatnya..” (HR. Muslim)

Orang Yang Paling Bijaksana

Salman al-Farisī menulis surat kepada Abu Ad Darda’ rodhiyallahu ‘anhumaa,

“Sesungguhnya engkau tidak akan pernah mendapatkan apa yang engkau inginkan kecuali dengan meninggalkan apa yang engkau dambakan (dengan nafsu), dan engkau tidak akan pernah mencapai apa yang engkau harapkan kecuali dengan bersabar terhadap apa yang engkau benci.

Maka, jadikanlah :
– bicaramu sebagai dzikir,
– diammu sebagai tafakur (renungan), dan
– pandanganmu sebagai ibrah (pelajaran).

Ketahuilah, bahwa selemah-lemahnya manusia adalah ia yang memperturutkan hawa nafsunya namun tetap mengharapkan Allah mengabulkan angan-angan kosongnya.

Dan orang yang paling bijaksana di antara mereka adalah ia yang menundukkan nafsunya (dalam ketaatan) dan beramal untuk kehidupan setelah kematian..”

(Bahjat al-Majaalis wa Uns al-Majaalis karya Ibnu ‘Abdil Barr)

Diantara Tanda Kerendahan Hati

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Jika seseorang berbuat salah kepadamu lalu ia datang untuk meminta maaf atas kesalahannya, maka sifat rendah hati (tawadhu) mewajibkanmu untuk menerima permintaan maafnya, terlepas dari apakah ia tulus atau tidak, dan serahkanlah niat batinnya kepada Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam terhadap orang-orang munafik yang tidak ikut serta dalam peperangan.

Ketika mereka mendatangi beliau dengan berbagai alasan, beliau menerima alasan tersebut dan menyerahkan rahasia batin mereka kepada Allah.

Termasuk tanda kemurahan hati dan kerendahan hati adalah ketika engkau melihat adanya cacat (kebohongan) pada alasan yang mereka berikan, engkau tidak mendebat atau menyudutkan mereka.

Sebaliknya, ucapkanlah :
Mungkin saja keadaannya memang seperti yang engkau katakan..

atau

Jika sesuatu telah ditetapkan, maka ia pasti terjadi, dan apa yang telah ditakdirkan tidak dapat dihindari..

atau perkataan serupa lainnya..”

(Madaarijus Saalikiin – 3/81,82)

Jangan Biarkan Dirimu Terhina

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Jika engkau mengetahui nilai dirimu yang sebenarnya, niscaya engkau tidak akan membiarkan dirimu terhina dengan melakukan maksiat.

Ketika Iblis enggan bersujud kepada ayahmu, Adam, ia (pada hakikatnya) enggan bersujud kepadamu .. lalu mengapa engkau justru berteman dengannya dan meninggalkan Kami..?

Jika memang ada cinta di dalam hatimu, niscaya pengaruhnya akan tampak pada anggota tubuhmu..”

(Al Fawa’id – 118)

Sunnah Yang Terlupakan : Sunnah Mengangkat Pandangan Ke Langit Saat Berdo’a Ketika Keluar Rumah

SUNNAH MENGANGKAT PANDANGAN KE LANGIT SAAT BERDO’A KETIKA KELUAR RUMAH

Dari Ummul Mukminin, Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: “Tidaklah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam keluar dari rumahku melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu berdo’a,

اللهم أعوذُبك أن أَضِلَّ أو أُضَلَّ أو أَزِلَّ
أو أُزَلَّ أوأَظْلِمَ أوأُظْلَمَ أو أَجْهَلَ أو يُجْهَلَ عَلَيَّ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
– AN ADHILLA AW UDHOLLA,
– AW AZILLA AW UZALLA,
– AW AZHLIMA AW UZHLAMA,
– AW AJHALA AW YUJHALA ‘ALAYYA

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu :
– dari tersesat atau disesatkan,
– dari tergelincir atau digelincirkan,
– dari menzholimi atau dizholimi,
– atau dari berbuat bodoh atau diperlakukan dengan bodoh..”

(Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Abi Dawud, No. 5094)

📌 Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah berkata,

“Pada awal hadits disebutkan: ‘Melainkan beliau mengangkat pandangannya ke langit..’

maksudnya adalah isyarat akan ketinggian Allah ‘Azza wa Jalla, karena beliau sedang memohon dan berdo’a kepada Allah…”

Ini adalah salah satu do’a Rosulullah yang mulia shollallahu ‘alayhi wasallam saat keluar dari rumahnya.

Beliau membaca do’a yang agung ini sebagai permohonan keselamatan dari:
– Kesesatan
– Ketergelinciran (kesalahan)
– Kezholiman
– Kebodohan

📌 Kesimpulan: Disyariatkan untuk mengangkat pandangan ke langit saat mengucapkan do’a ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.

(Dikutip dari Kitab Syarah Sunan Abi Dawud karya Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah, Juz 578, hal. 8)

Konsisten Beribadah Setelah Ramadhan

📌 Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Salah satu tipu daya setan yang paling besar adalah membuat seseorang beribadah kepada Allah hanya di bulan Ramadhan saja, kemudian meninggalkan ketaatan setelahnya. Ini bukanlah kehambaan yang sejati, karena seorang hamba yang sejati adalah yang istiqomah (konsisten) di setiap waktu..”

(Al-Fawa’id)

📌 Al Imam An Nawawi rohimahullah berkata,

“Amalan yang paling utama adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ramadhan mengajarkan kita disiplin, dan disiplin yang sebenarnya adalah melanjutkan amal ibadah setelah bulan tersebut berlalu..”

(Syarah Shohih Muslim)

📌 Al Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“Perintah untuk beribadah kepada Allah ‘sampai datang kepadamu keyakinan (kematian)’ (Al-Qur’an 15:99) bermakna bahwa seorang mukmin harus tetap konsisten dalam ibadahnya sepanjang hidupnya, bukan hanya di bulan Ramadhan saja..”

(Tafsir Ibnu Katsir)

📌 Al Imam Ath Thobari rohimahullah berkata,

“Perintah untuk ‘sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian)’ (Al-Qur’an 15:99) adalah indikasi yang jelas bahwa ibadah tidak terikat pada bulan tertentu, melainkan merupakan kewajiban seumur hidup..”

(Tafsir Ath-Thobari)

📌 Al Imam Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

“Orang-orang beriman adalah mereka yang bersiap untuk bertemu dengan Allah dan tidak meninggalkan ibadah setelah Ramadhan. Puasa, sholat, dan dzikir mereka terus berlanjut sepanjang hidup mereka..”

(Hilyatul Auliyaa’)

📌 Al Imam Ibnu Rojab Al Hanbali rohimahullah berkata,

“Istiqomah (keteguhan hati) itu lebih utama daripada melakukan banyak amal. Seseorang yang melaksanakan sholat qiyaamul lail (sholat malam) pada satu malam namun meninggalkannya setelah bulan Ramadhan, tidaklah sama dengan orang yang sholat sedikit tetapi dilakukan secara konsisten sepanjang tahun..”

(Jaami’ al-‘Uluum wa al-Hikam)

Jangan Menunda Taubat

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Segera bertaubat adalah kewajiban setelah melakukan dosa. Tidak diperbolehkan untuk menundanya. Kapan pun seseorang menundanya, maka ia telah melakukan dosa (lainnya) karena penundaan tersebut.

Dalam hal ini, ketika ia bertaubat dari dosa (itu sendiri), masih ada kewajiban taubat lainnya yang tersisa baginya .. yaitu ia harus bertaubat karena telah menunda taubatnya..!”

(Madaarijus Saalikin – 1/487-488)

● Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Orang yang suka menunda taubat itu seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon. Ia dapati pohon itu sudah kokoh dan sulit dicabut. Lalu ia berkata, ‘Aku tunda saja, tahun depan baru aku cabut..’

Padahal ia tahu, semakin lama pohon itu tumbuh (maka) akarnya semakin kuat, sedangkan fisiknya (kekuatannya sendiri) justru semakin melemah..”

(Tadzkirah al-Arib fii Tafsir al-Gholrib)

● Qotadah rohimahullah berkata,

“Ketahuilah bahwa setiap penundaan (dalam taubat) adalah satu langkah menjauh dari ampunan Allah. Dan siapa yang menunda taubat hingga nyawanya di kerongkongan, maka tidak ada lagi taubat baginya..”

(Tafsir At-Thobari – 8/95 – Tafsir An-Nisaa’ ayat 18)