Category Archives: Mutiara Salaf

Mulailah Hari Raya Dengan Menundukkan Pandangan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh jika kepala seorang pria ditusuk dengan jarum dari besi, (itu) lebih baik baginya daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya..”

(HR. Ath Thabrani – al-Mujamul Kabîr no.486, 487) Syaikh Al Albani berkata : hadits hasan

📌 Beberapa sahabat Sufyan ats-Tsauri berkata,

Kami keluar bersama ats-Tsauri pada hari raya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya, hal pertama yang akan kita mulai pada hari kita ini adalah menundukkan pandangan..’

Hasan bin Abi Sinan keluar untuk melaksanakan sholat Id, dan ketika ia kembali, istrinya bertanya kepadanya,

“Berapa banyak wanita cantik yang engkau lihat hari ini..?”

Setelah istrinya terus mendesak, ia menjawab, “Aku tidak melihat apa pun kecuali jempol kakiku sejak aku keluar hingga aku kembali kepadamu..”

(Al-Tabshiroh – Ibnul Jauzi – 61/106)

Amalan Amalan Sunnah Terkait Idul Fitri


📌 AMALAN-AMALAN SUNNAH TERKAIT IDUL FITRI

1. BERHIAS DI HARI RAYA

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengenakan jubah merah pada hari raya..” (Silsilah ash-Shohihah no. 1279)

(Catatan: Wanita tidak boleh menampakkan perhiasan mereka di depan laki-laki dan harus mengenakan hijab yang benar).

2. MANDI DI HARI RAYA SEBELUM KELUAR RUMAH

Nafi’ rohimahullah berkata, “Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa biasa mandi pada hari raya sebelum berangkat ke tempat sholat..” (Al-Muwattho’ 384).

3. MEMAKAN KURMA DALAM JUMLAH GANJIL SEBELUM SHOLAT ID

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tidak akan keluar pada hari raya Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya dalam jumlah ganjil..” (Shohih al-Bukhari no. 953).

4. BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT

Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam biasa keluar untuk sholat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki..” (Sunan Ibnu Majah no. 1078).

5. MENGAMBIL JALAN YANG BERBEDA SAAT PERGI DAN PULANG SHOLAT

Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila hari raya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengambil jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang)..” (Shohih al-Bukhari no. 986).

6. MENGUMANDANGKAN TAKBIR SEJAK KELUAR RUMAH HINGGA SHOLAT ID DIMULAI

Al-Zuhri rohimahullah berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar pada hari raya dan terus bertakbir hingga sampai ke tempat sholat. Beliau juga terus bertakbir hingga sholat selesai. Setelah sholat selesai, beliau berhenti bertakbir..” (Silsilah ash-Shohihah 171).

7. MENDENGARKAN KHUTBAH

Abdullah bin al-Sa’ib rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menghadiri sholat Id bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan beliau mengimami kami. Kemudian beliau bersabda, ‘Kami telah menyelesaikan sholat. Barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang ingin pergi maka silakan..’ (Shohiih al-Jaami’ 4376).

8. SALING BERTUKAR UCAPAN SELAMAT

Jubair bin Nufayr rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengucapkan satu sama lain ketika bertemu di hari raya: Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian)..” (Tamaam al-Minnah 354).

Nasihat Imam Asy Syafi’i Rohimahullah Bagi Wanita Yang Hendak Menghadiri Sholat Idul Fitri / Idul Adha

Al Imam Asy-Syafi’i rohimahullah memberikan panduan praktis kepada wanita yang hendak keluar melaksanakan sholat Id. Beliau mengingatkan agar para wanita tidak berlebihan dalam berhias agar tidak menimbulkan fitnah.

1. ANJURAN MENGHADIRI SHOLAT ID. Beliau menyukai (menganjurkan) bagi kaum wanita untuk menghadiri sholat dua hari raya (Idul fitri dan Idul Adha).

2. BERPAKAIAN SEDERHANA. Beliau menganjurkan agar wanita keluar dengan pakaian yang sederhana (tidak mencolok/pakaian sehari-hari yang sopan) dan tidak berlebihan.

3. MENJAGA KEBERSIHAN TANPA PARFUM. Disunnahkan membersihkan diri dengan air (mandi), namun tidak menggunakan wewangian saat keluar rumah.

4. MENGHINDARI PAKAIAN SYUHROH. Jangan mengenakan pakaian yang terlalu mewah atau unik yang tujuannya untuk menarik perhatian orang banyak (syuhroh).

5. TIDAK MENAMPAKKAN PERHIASAN. Beliau menasihati agar tidak memakai perhiasan emas atau perhiasan lainnya secara nampak (terlihat oleh orang yang bukan mahrom).

(Kitab Al Umm – 1/214)

Dua Sisi Hati Seorang Mukmin Di Akhir Ramadhan

Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily حفظه الله تعالى menjelaskan tentang dua sisi hati seorang mukmin dalam menghadapi hari raya Idul Fitri.

1. SISI KESEDIHAN (REFLEKSI DIRI)

– Perpisahan dengan musim kebaikan : Sedih karena kehilangan waktu di mana pahala dilipatgandakan.

– Ketidak-pastian Usia : Menyadari bahwa tidak ada jaminan kita akan bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.

– Penyesalan yang positif : Merasa sedih atas kekurangan dan kelalaian dalam ibadah selama sebulan penuh. Kesedihan ini harus menjadi motivasi untuk memperbaiki diri di masa depan, bukan malah membuat putus asa.

2. SISI KEBAHAGIAAN (SYUKUR)

– Merayakan karunia Allah : Bahagia karena Allah telah memberikan taufik (kemampuan) kepada kita untuk menyelesaikan puasa dan sholat malam.

– Sesuai perintah Alqur’an : Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bergembira atas rahmat dan karunia-Nya (QS. Yunus: 58).

– Dua kebahagiaan puasa : Mengingat janji Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tentang kebahagiaan saat berbuka (termasuk merayakan Idul Fitri) dan kebahagiaan saat bertemu Allah kelak.

📌 Kesimpulan: Seorang mukmin yang bijak akan menyeimbangkan keduanya .. menyesal atas kekurangannya sehingga ia terus memperbaiki diri .. namun tetap bersyukur dan bahagia atas kesempatan ibadah yang Allah telah berikan kepadanya.

🎙
Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى

Masjid An Nabawi

Menutup Ramadhan Dengan Istighfar

Imam Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah menyebutkan hal berikut saat membahas akhir bulan Ramadhan.

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz menulis surat kepada kota-kota besar, memerintahkan mereka untuk menutup Ramadhan dengan memohon ampunan (istighfar) dan sedekah (maksudnya adalah zakat fitrah).

Karena zakat fitrah berfungsi sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan keji atau perbuatan sia-sia yang mungkin ia lakukan, sementara (Istighfar) memohon ampunan berfungsi untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh perkataan dan perbuatan buruk tersebut terhadap puasa.

Karena alasan inilah, sebagian ulama salaf berkata,

“Hubungan antara zakat fitrah dengan orang yang berpuasa adalah seperti hubungan antara sujud sahwi dengan sholat..”

(Lathoo’if al-Ma’aarif hal. 383)

Makna Al Afwu Di Dalam Do’a Laylatul Qodr

Terkait do’a Laylatul Qodr, Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr hafizhohullah memberikan penjelasan sebagai berikut,

“Makna Al-‘Afuww (Maha Pemaaf) adalah Yang menghapuskan dosa dosa dan memaafkan kesalahan kesalahan.

Al-‘Afwu lebih dalam maknanya daripada Al-Maghfiroh.

Karena Al-Maghfiroh berarti menutupi dosa (agar tidak terlihat).

Sedangkan Al-‘Afwu berarti menghapusnya secara total dari catatan amal, sehingga seolah-olah dosa itu tidak pernah ada sama sekali..”

(Fiqhu al-Ad’iyah wal Adzkaar 2/254)

Belum Berakhir Sampai Benar Benar Berakhir

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya malam itu (Laylatul Qodr) malam yang ke 27 atau ke 29. Sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)..“

(HR. Ahmad 2/519 no.10745)
Lihat Shohiih Al Jaami’ no.5473

======================

● Ibnu ‘Abdil Barr rohimahullah berkata,

​Sekelompok ahli ilmu berpendapat bahwa Laylatul Qodr :

– pada setiap bulan Ramadhan jatuh pada malam ke-21,

– yang lain berpendapat pada malam ke-23 di setiap Ramadhan, dan

– yang lain lagi berpendapat pada malam ke-27 di setiap Ramadhan,

sementara yang lainnya berpendapat bahwa malam tersebut berpindah-pindah di setiap malam ganjil pada sepuluh malam terakhir .. dan ini, menurut kami, adalah pandangan yang benar, insyaa Allah.

​(At-Tamhiid – 14/431)

======================

● Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata,

Janganlah kalian menyangka bahwa malam ke-27 adalah akhir dari pencarian Laylatul Qodr.

Sungguh, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda, ‘Carilah ia di malam-malam ganjil..’ dan malam ke-29 termasuk di dalamnya.

Bahkan, malam ke-29 adalah malam ganjil terakhir di bulan ini.

Maka, barangsiapa yang bersungguh sungguh di dalamnya, ia sedang menutup bulannya dengan amalan terbaik.

(Majalis Syahri Ramadhan – 176/178)

======================

📌 Ramadhan masih belum berakhir kawan .. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mencari malam Laylatul Qodr hingga pada malam terakhir .. semoga Allah memberikan kemudahan ..

semangaat..

Jika Tidak Terampuni Di Bulan Ramadhan, Maka Jangan Salahkan Siapapun Kecuali Diri Sendiri

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh terhina seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni..”

(HR. At Tirmidzi & Al Hakim)

📌 Al Imam Ash Shonʿani rohimahullah berkata,

“Sesungguhnya ini (Ramadhan) adalah bulan di mana dosa-dosa diampuni dan amal ketaatan dilipat-gandakan.

Tidaklah bulan ini berlalu kecuali Allah telah mengampuni mereka yang berbalik menuju ketaatan kepada-Nya dan telah memaafkan perbuatan buruk mereka.

Maka, barangsiapa yang tidak diampuni, ia hanyalah mendatangkan (kerugian) itu pada dirinya sendiri, dan tidaklah ada yang berakhir binasa kecuali orang yang membinasakan dirinya sendiri.

Dengan demikian, ia menjadi layak menerima do’a agar Allah menghinakannya karena kelalaiannya terhadap hak Allah dan karena ia justru berpaling kepada hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diridhoi-Nya..”

(At Tanwir Sharh Al Jaami‘ Ash Shoghiir 6/249)

➡️ Catatan : Ungkapan bahasa Arab dalam hadits tersebut secara harfiah berarti “semoga hidungnya tersungkur ke tanah/debu” .. yang bermakna penghinaan dan perendahan (karena kerugian yang sangat besar).

Saat Imam Memimpin Do’a Dalam Sholat

Shaykh al-Islam Ibnu Taymiyyah berkata,

“Seorang imam wajib menggunakan bentuk jamak dalam do’a qunut dan mendo’akan para jamaah, bukan untuk dirinya sendiri saja.

Dan apabila seorang makmum mengamini do’a imam, maka imam hendaknya berdo’a dengan kata ganti bentuk jamak (kita/kami), sebagaimana do’a dalam surah Al-Fatihah pada firman-Nya: (Ihdinash-shiroothol mustaqiim) ‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus..’

Karena sesungguhnya makmum mengamini do’a tersebut semata-mata karena keyakinannya bahwa imam sedang mendo’akan mereka semua.

Jika imam tidak melakukan hal itu (berdo’a untuk bersama), maka sungguh ia telah mengkhianati makmum.

Adapun pada bagian-bagian di mana setiap orang berdo’a untuk dirinya sendiri, seperti :
– do’a pembuka (Istiftah),
– do’a setelah Tasyahud, dan sejenisnya,
maka sebagaimana makmum berdo’a untuk dirinya sendiri, imam pun berdo’a untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana pula makmum bertasbih saat rukuk dan sujud, (imam juga bertasbih untuk dirinya sendiri)..”

(Majmu al-Fatawa 23/118)

Apabila Malam Ini ..

Allah Ta’ala berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Turun para malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Robb mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan sampai terbit fajar.” (Al-Qodr: 4-5)

● Syaikh Al Albani rohimahullah berkata,

“Dan di antara masa/waktu, ada yang telah Allah jadikan seluruh amalan baik padanya lebih utama (dari waktu-waktu selainnya), seperti pada sepuluh Dzulhijjah .. dan pada malam Laylatul Qodr yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu seluruh amalan pada malam itu lebih utama (lebih baik) dari amalan selama seribu bulan (yang) tidak ada Laylatul Qodr di dalamnya..”

(Ats-Tsamrul Mustathab – 2/576)

JUMLAH MALAIKAT YANG TURUN DARI LANGIT

Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Sesungguhnya malaikat di malam tersebut di muka bumi lebih banyak dari jumlah batu-batu kerikil..” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah rodhiyallahu ’anhu, Ash-Shohiihah: 2205)

● Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Banyaknya malaikat yang turun di malam tersebut karena keberkahannya yang melimpah, dan malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/444)

📌 Sebagian ulama menjelaskan bahwa saking banyaknya jumlah malaikat yang turun di malam Laylatul Qodr menyebabkan cahaya matahari di pagi harinya tidaklah menyilaukan, karena banyaknya jumlah malaikat yang kembali ke langit.

Maka bahagialah dan bersyukurlah kepada Allah bagi siapa yang telah diberikan anugerah hidayah untuk memperbanyak ibadah di malam Laylatul Qodr yang pahalanya lebih baik dari 1,000 bulan (83 tahun dan 4 bulan).