Category Archives: Mutiara Salaf

Balasan Yang Serupa

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang memperlakukan makhluk Allah dengan cara tertentu, maka Allah akan memperlakukannya dengan cara yang sama, baik di dunia maupun di akhirat. Allah memperlakukan hamba-Nya sebagaimana hamba tersebut memperlakukan makhluk-Nya.

Sebagaimana engkau bersikap, begitulah engkau akan diperlakukan .. (maka) jadilah seperti yang engkau inginkan, karena Allah akan memperlakukanmu sebagaimana engkau bersikap kepada-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya..”

(Al Waabil Ash Shoyyib – 80)

📌 Beberapa poin penting dari nasehat ini :

PRINSIP BALASAN YANG SERUPA – AL-JAZA’ MIN JINSIL ‘AMAL
Poin utama nasehat ini adalah bahwa balasan yang diterima seseorang akan serupa dengan jenis perbuatannya. Jika kita memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusan kita. Sebaliknya, jika kita bersikap keras, kita pun akan menghadapi konsekuensi yang serupa.

KORELASI ANTARA HUBUNGAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL
Ibnul Qoyyim rohimahullah menekankan bahwa hubungan kita dengan Allah sering kali dicerminkan melalui bagaimana kita memperlakukan sesama makhluk-Nya. Perlakuan kita kepada manusia menjadi tolak ukur bagaimana Allah akan memperlakukan kita.

CAKUPAN WAKTU YANG MUTLAK
Nasehat ini menegaskan bahwa hukum timbal balik ini tidak hanya berlaku di akhirat sebagai pengadilan terakhir, tetapi juga sudah dimulai sejak di dunia.

KONSISTENSI DALAM BERPERILAKU
Nasehat ini mendorong seseorang untuk selalu menjaga adab dan kasih sayang kepada sesama, karena setiap interaksi sosial pada hakikatnya adalah interaksi tidak langsung dengan ketetapan Allah atas diri kita.

Mewaspadai Kebaikan Yang Semu

Ibnu al-Jauzi rohimahullah berkata,

“Tahukah engkau siapa laki-laki sejati itu..?

Laki-laki sejati adalah ia yang mendapati dirinya :
– sendirian bersama kemaksiatan,
– memiliki kemampuan untuk melakukannya, dan
– syahwatnya mendesak untuk memuaskan dahaganya,
namun ia merenungkan bahwa Allah sedang memandangnya, sehingga ia merasa malu jika membuat-Nya murka, dan seketika itu pula keinginannya sirna.

Namun tampaknya, engkau hanyalah meninggalkan hal-hal yang memang tidak engkau sukai, atau hal-hal yang sejak awal memang tidak menarik bagimu, atau bahkan hal-hal yang memang tidak mampu engkau dapatkan..!

Inilah kebiasaanmu..!”

(Shoydul Khoothir – 352)

📌 Nasihat ini merupakan tamparan keras bagi jiwa yang merasa sudah “sholeh” hanya karena tidak melakukan maksiat tertentu, padahal ia memang tidak punya akses atau minat terhadap maksiat tersebut.

Dua poin penting :

IHSAN DI KALA SEPI
Inti dari nasihat ini adalah derajat Ihsan :
– beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya,
– atau yakin bahwa Dia melihatmu.
Ujian iman yang sesungguhnya bukan di keramaian, melainkan saat pintu terkunci dan kesempatan terbuka lebar.

KE-SHOLEHAN YANG SEMU
Ibnul Jauzi rohimahullah memberikan kritikan kepada :
– orang yang merasa suci karena tidak mabuk, padahal ia memang benci rasa alkohol, atau
– orang yang merasa terjaga pandangannya, padahal ia memang tidak punya akses ke tempat maksiat.

📌 Beliau rohimahullah menekankan bahwa meninggalkan maksiat yang sangat diinginkan karena takut kepada Allah jauh lebih bernilai daripada meninggalkan ribuan hal yang memang tidak kita inginkan.

jangan lupa adab sebelum berdo’a :
– puji Allah : yaa Hayyu yaa Qoyyuum
– baca sholawat : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad
– mulai berdo’a

Menyikapi Perlakuan Buruk Orang Terhadap Kita

Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah berkata,

“Janganlah engkau menyiksa dirimu dengan memikirkan apa yang dikatakan orang lain tentangmu. Jika apa yang mereka katakan itu benar, maka itu adalah penebus dosa bagimu.

Dan jika apa yang mereka katakan itu salah, maka itu akan menjadi kebaikan (pahala) yang dihadiahkan kepadamu tanpa engkau harus bersusah payah beramal..”

(Fushul fi al-Adab – 156/157)

📌 Beberapa poin penting dari nasehat di atas :

1. RIDHO SEBAGAI PERISAI. Beliau rohimahullah menjelaskan bahwa ridho terhadap gangguan orang lain adalah tanda kekuatan iman. Jika kita yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, maka hinaan orang lain tidak akan bisa menjatuhkan derajat kita di sisi-Nya.

2. KEUNTUNGAN SPIRITUAL. Beliau rohimahullah mengajak kita melihat “keuntungan” di balik perlakuan buruk. Orang yang menghina sebenarnya sedang mentransfer pahalanya kepada kita. Dengan pandangan ini, rasa marah akan berubah menjadi rasa kasihan atau minimal ketenangan.

3. MENJAGA FOKUS. Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah mengingatkan bahwa waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan membalas keburukan. Beliau rohimahullah sering berkata bahwa “diamnya orang yang mulia adalah jawaban yang paling pedas bagi orang yang bodoh..”

Keutamaan Memperbanyak Sholawat Di Hari Jum’at

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam adalah pemimpin manusia (Sayyidun Naas), dan hari Jum’at adalah pemimpin hari-hari (Sayyidul Ayyaam).

Maka, bersholawat kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam pada hari tersebut memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hari lainnya..”

(Zaadul Ma’aad – 1/376)

Tiga Tujuan Harian Seorang Muslim

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”

[Dishohihkan oleh Al-Albani].
————————————

Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhohullah berkata,

“.. Seolah-olah, dengan memulai harinya dengan menyebutkan ketiga perkara ini dibandingkan perkara lainnya, ia (seorang muslim) sedang menetapkan target dan tujuan-tujuannya untuk hari tersebut..”

Syekh melanjutkan perkataannya,

“..dan dalam memulai dengan ilmu yang bermanfaat, terdapat hikmah nyata yang jelas bagi orang yang merenung; melalui ilmu yang bermanfaat, seseorang mampu membedakan antara amal yang sholeh dan amal yang tidak sholeh, serta mampu membedakan antara rezeki yang halal dan yang haram…”

“..(do’a ini) adalah bentuk (seorang muslim) memohon pertolongan kepada Robb-nya subhaanahu di pagi hari dan di awal harinya, memohon agar Dia :
– memudahkan yang sulit,
– menghilangkan hambatan-hambatan, dan
– membantunya dalam mencapai target-target yang diberkahi serta tujuan-tujuannya yang mulia..”

Khotbah tertanggal: [6/7/1423]
http://al-badr.net

courtesy of : https://t.me/ShaykhAbdurRazaqAlBadr

Saat Menghadapi Orang Yang Bodoh Dan Tidak Beradab

Al Imam Asy Syafi’i rohimahullah mengajarkan bagaimana bersikap saat menghadapi orang yang jahil atau tidak beradab. Beliau berkata,

“Apabila orang bodoh berbicara kepadamu, maka janganlah engkau menjawabnya, karena sebaik-baik jawaban baginya adalah diam.

Jika engkau melayaninya (menjawabnya), maka engkau telah melapangkan hatinya (memberinya kesenangan). Namun jika engkau membiarkannya, maka ia akan mati dalam kesedihan (karena merasa tidak dipedulikan)..”

(Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i – 45)

Hal Yang Menenangkan Hati

Syaikh Ali Ath Thantawi rohimahullah berkata,

“Hidup ini tidak selamanya memberikan apa yang kita cintai, namun jika kita ridho dengan apa yang Allah tetapkan, maka Allah akan menjadikan kita mencintai apa yang Dia berikan.

Ketenangan itu bukan berarti hilangnya masalah, melainkan adanya Allah di dalam hati saat masalah itu datang..”

(Min Syawarid al-Fikr – 215)

Makna Dari Kalimat Laa Hawla Walaa Quwwata Illaa Billah

Sufyan ats-Tsauri rohimahullah menjelaskan bahwa kalimat ini bukan hanya sekedar dzikir lisan, melainkan juga sebuah pengakuan atas ketidak-berdayaan manusia tanpa pertolongan Allah. Beliau berkata,

أتدرون ما تفسير: لا حول ولا قوة إلا بالله؟

يقول: لا يعطي أحد، إلا ما أعطيت؛ ولا يقي أحد، إلا ما وقيت.

“Tahukah kalian apa tafsir (makna) dari Laa hawla walaa quwwata illaa billah..?”

(maknanya adalah), “Tidak ada seorang pun yang bisa memberi, kecuali apa yang telah Engkau (Allah) berikan; dan tidak ada seorang pun yang bisa menjaga (melindungi), kecuali apa yang telah Engkau jaga..”

(Hilyatul Auliyaa’ – 7/140)

LAA ḤAWLA (tidak ada daya) : Maknanya adalah tidak ada kemampuan bagi seorang hamba untuk menghindari kemaksiatan atau berpaling dari keburukan, kecuali dengan perlindungan dan penjagaan dari Allah.

LAA QUWWATA (tidak ada kekuatan) : Maknanya adalah tidak ada kekuatan atau energi bagi seseorang untuk melaksanakan ketaatan atau ibadah, kecuali dengan taufik dan bantuan dari Allah.

📌 Baik itu meninggalkan dosa (daya) maupun mengerjakan pahala (kekuatan), keduanya membutuhkan modal dasar yang sama, yaitu izin dan bantuan Allah, maka perbanyaklah do’a kepada Allah memohon perlindungan dari bermacam keburukan dan memohon bantuan kekuatan dalam beribadah.

Menyikapi Penurunan Intensitas Ibadah Setelah Ramadhan

Syaikh Shalih Al-Ushaimi hafizhohullah berkata,

“Disyariatkan bagi seseorang untuk meningkatkan ketaatan mereka di bulan Ramadhan dan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, karena kedua waktu tersebut adalah saat-saat di mana Syariat menekankan pentingnya amal ibadah. Adapun bulan-bulan lainnya, kedudukannya adalah sama.

Mereka yang berbicara dalam masalah ini sering kali tidak membedakan antara dua aspek :
– pertama, adalah pelaksanaan ibadah itu sendiri, dan
– kedua, adalah kegigihan/kesungguhan (ekstra) dalam melakukannya.

Anda akan mendapati sebagian pendakwah mencela dan menegur orang-orang karena penurunan ibadah mereka setelah Ramadhan.

Teguran semacam itu adalah hal yang kurang tepat, karena Syariat sendirilah yang telah menekankan kegigihan/kesungguhan (ekstra) dalam ibadah (di waktu waktu tertentu). Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam di bulan Ramadhan bersungguh-sungguh dengan cara yang tidak beliau lakukan di waktu-waktu lainnya sepanjang tahun.

Maka celaan itu seharusnya hanya ditujukan bagi mereka yang meninggalkan ibadah sama sekali.

Adapun jika seseorang berkata dalam nasihatnya, ‘Dahulu kalian mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali di bulan Ramadhan, tapi sekarang kalian hanya mengkhatamkannya sebulan sekali..’

Maka kekurangan ini sebenarnya bukanlah sebuah kekurangan (yang tercela). Sebab, kegigihan/kesungguhan (extra) dalam ibadah di bulan Ramadhan memang tidak sama dengan bulan-bulan lainnya.

Siapa pun yang ingin menasihati orang lain, hendaknya ia menegur mereka ketika mereka meninggalkan dan melalaikan ibadah .. mencela mereka karena meninggalkan pelaksanaan ibadah tersebut.

Namun terkait berkurangnya intensitas kegigihan/kesungguhan (dalam beribadah), maka jiwa manusia itu memiliki masa semangat dan masa jenuh .. jiwa akan bersemangat pada waktu waktu yang utama dan menguatkan diri untuk beribadah.

(Ta’liq ‘alaa Hukm Shaum Rojab wa Sya’ban” karya Al-’Allamah Ibnu Al-’Aththar)

Nasihat Setelah Ramadhan

Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahullah memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai fenomena mengendurnya semangat ibadah setelah berlalunya bulan Ramadhan.

Berikut adalah poin-poin inti dari nasihat beliau dalam pertemuan tersebut:

1. ISTIQOMAH ADALAH TANDA DITERIMANYA AMAL
Syaikh menekankan bahwa tanda diterimanya amal sholeh seseorang di bulan Ramadhan adalah adanya perubahan positif dan keistiqomahan setelah bulan tersebut berakhir. Beliau mengingatkan bahwa Allah yang disembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama yang disembah di bulan-bulan lainnya.

2. BAHAYA APABILA HANYA MENJADI ‘HAMBA RAMADHAN’
Beliau memberikan peringatan keras terhadap sikap seseorang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan namun langsung meninggalkan ketaatan begitu Syawwal tiba. Beliau menyebutkan bahwa seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja.

📌 Ibadah bukanlah musiman, melainkan kewajiban sepanjang hayat hingga maut menjemput.

3. KONSISTENSI DALAM AMAL YANG SEDIKIT
Beliau menasihati agar seseorang tidak memaksakan diri melakukan amalan sebanyak di bulan Ramadhan jika memang tidak sanggup, namun yang terpenting adalah kontinuitas (keajegan). Beliau mengutip hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan meskipun sedikit.

4. MENJAGA PUASA SUNNAH DAN SHOLAT MALAM
Sebagai solusi praktis agar iman tidak merosot tajam, beliau menyarankan untuk melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal (Puasa Syawwal).

Tetap menjaga sholat Witir dan sholat malam, meskipun tidak sepanjang sholat Tarawih.

📌 Tetap menjaga interaksi dengan Al-Qur’an walau hanya beberapa lembar sehari.

5. DO’A MEMOHON KETEGUHAN HATI
Syaikh mengingatkan jama’ah untuk senantiasa berdo’a memohon keteguhan hati. Beliau menjelaskan bahwa hati manusia berada di antara jari-jemari Allah, maka memohon perlindungan dari sifat malas setelah semangat adalah hal yang sangat penting.

Nasihat ini beliau tutup dengan mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan singkat, dan perlombaan yang sesungguhnya adalah bagaimana kita mengakhiri hidup dalam keadaan taat.

(Al-Liqo’ asy-Syahri, Pertemuan ke-43)

=====