Category Archives: Mutiara Salaf

Tempat Peristirahatan Masa Depan

Syaikh Ali Ath Thanthawi rohimahullah berkata,

Setiap hari kita mengantar jenazah ke liang lahat, namun kita pulang seolah-olah kita baru saja mengantar mereka ke stasiun kereta api untuk bepergian dan akan kembali lagi.

Padahal, kita baru saja melihat tempat peristirahatan kita sendiri di masa depan.

(Fushul Fii al-Adab wa al-Ijtima’ – 59)

Tanda Ampunan Yang Nyata

Yahya bin Mu’adz Ar Razi rohimahullah berkata,

Siapa yang beristighfar dengan lisannya namun hatinya masih bertekad untuk kembali bermaksiat setelah Ramadhan, maka puasanya tertolak dan pintu ampunan tertutup baginya.

Namun, siapa yang berazam (bertekad kuat) untuk tidak kembali berdosa, maka itulah tanda ampunan yang nyata.

(Al Mawa’izh wal Majalis – Ibnul Jauzi 188)

Hari Raya Bagi Pemaaf

Syaikh Ali Ath Thanthawi rohimahullah berkata,

Hari Raya (Idul Fitri) bukanlah hari bagi mereka yang hatinya masih menyimpan dendam atau yang jiwanya masih keruh.

Tetapi Idul Fitri adalah hari bagi mereka yang mampu memaafkan kesalahan orang lain sebelum mereka meminta maaf, dan yang melapangkan dadanya bagi seluruh manusia.

(Fushul Fii al ‘Aqidah – 142)

Mulailah Hari Raya Dengan Menundukkan Pandangan

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh jika kepala seorang pria ditusuk dengan jarum dari besi, (itu) lebih baik baginya daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya..”

(HR. Ath Thabrani – al-Mujamul Kabîr no.486, 487) Syaikh Al Albani berkata : hadits hasan

📌 Beberapa sahabat Sufyan ats-Tsauri berkata,

Kami keluar bersama ats-Tsauri pada hari raya, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya, hal pertama yang akan kita mulai pada hari kita ini adalah menundukkan pandangan..’

Hasan bin Abi Sinan keluar untuk melaksanakan sholat Id, dan ketika ia kembali, istrinya bertanya kepadanya,

“Berapa banyak wanita cantik yang engkau lihat hari ini..?”

Setelah istrinya terus mendesak, ia menjawab, “Aku tidak melihat apa pun kecuali jempol kakiku sejak aku keluar hingga aku kembali kepadamu..”

(Al-Tabshiroh – Ibnul Jauzi – 61/106)

Amalan Amalan Sunnah Terkait Idul Fitri


📌 AMALAN-AMALAN SUNNAH TERKAIT IDUL FITRI

1. BERHIAS DI HARI RAYA

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengenakan jubah merah pada hari raya..” (Silsilah ash-Shohihah no. 1279)

(Catatan: Wanita tidak boleh menampakkan perhiasan mereka di depan laki-laki dan harus mengenakan hijab yang benar).

2. MANDI DI HARI RAYA SEBELUM KELUAR RUMAH

Nafi’ rohimahullah berkata, “Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa biasa mandi pada hari raya sebelum berangkat ke tempat sholat..” (Al-Muwattho’ 384).

3. MEMAKAN KURMA DALAM JUMLAH GANJIL SEBELUM SHOLAT ID

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tidak akan keluar pada hari raya Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya dalam jumlah ganjil..” (Shohih al-Bukhari no. 953).

4. BERJALAN KAKI MENUJU TEMPAT SHOLAT

Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam biasa keluar untuk sholat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki..” (Sunan Ibnu Majah no. 1078).

5. MENGAMBIL JALAN YANG BERBEDA SAAT PERGI DAN PULANG SHOLAT

Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila hari raya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengambil jalan yang berbeda (saat pergi dan pulang)..” (Shohih al-Bukhari no. 986).

6. MENGUMANDANGKAN TAKBIR SEJAK KELUAR RUMAH HINGGA SHOLAT ID DIMULAI

Al-Zuhri rohimahullah berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar pada hari raya dan terus bertakbir hingga sampai ke tempat sholat. Beliau juga terus bertakbir hingga sholat selesai. Setelah sholat selesai, beliau berhenti bertakbir..” (Silsilah ash-Shohihah 171).

7. MENDENGARKAN KHUTBAH

Abdullah bin al-Sa’ib rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menghadiri sholat Id bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan beliau mengimami kami. Kemudian beliau bersabda, ‘Kami telah menyelesaikan sholat. Barangsiapa yang ingin duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang ingin pergi maka silakan..’ (Shohiih al-Jaami’ 4376).

8. SALING BERTUKAR UCAPAN SELAMAT

Jubair bin Nufayr rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam biasa mengucapkan satu sama lain ketika bertemu di hari raya: Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian)..” (Tamaam al-Minnah 354).

Nasihat Imam Asy Syafi’i Rohimahullah Bagi Wanita Yang Hendak Menghadiri Sholat Idul Fitri / Idul Adha

Al Imam Asy-Syafi’i rohimahullah memberikan panduan praktis kepada wanita yang hendak keluar melaksanakan sholat Id. Beliau mengingatkan agar para wanita tidak berlebihan dalam berhias agar tidak menimbulkan fitnah.

1. ANJURAN MENGHADIRI SHOLAT ID. Beliau menyukai (menganjurkan) bagi kaum wanita untuk menghadiri sholat dua hari raya (Idul fitri dan Idul Adha).

2. BERPAKAIAN SEDERHANA. Beliau menganjurkan agar wanita keluar dengan pakaian yang sederhana (tidak mencolok/pakaian sehari-hari yang sopan) dan tidak berlebihan.

3. MENJAGA KEBERSIHAN TANPA PARFUM. Disunnahkan membersihkan diri dengan air (mandi), namun tidak menggunakan wewangian saat keluar rumah.

4. MENGHINDARI PAKAIAN SYUHROH. Jangan mengenakan pakaian yang terlalu mewah atau unik yang tujuannya untuk menarik perhatian orang banyak (syuhroh).

5. TIDAK MENAMPAKKAN PERHIASAN. Beliau menasihati agar tidak memakai perhiasan emas atau perhiasan lainnya secara nampak (terlihat oleh orang yang bukan mahrom).

(Kitab Al Umm – 1/214)

Dua Sisi Hati Seorang Mukmin Di Akhir Ramadhan

Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily حفظه الله تعالى menjelaskan tentang dua sisi hati seorang mukmin dalam menghadapi hari raya Idul Fitri.

1. SISI KESEDIHAN (REFLEKSI DIRI)

– Perpisahan dengan musim kebaikan : Sedih karena kehilangan waktu di mana pahala dilipatgandakan.

– Ketidak-pastian Usia : Menyadari bahwa tidak ada jaminan kita akan bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.

– Penyesalan yang positif : Merasa sedih atas kekurangan dan kelalaian dalam ibadah selama sebulan penuh. Kesedihan ini harus menjadi motivasi untuk memperbaiki diri di masa depan, bukan malah membuat putus asa.

2. SISI KEBAHAGIAAN (SYUKUR)

– Merayakan karunia Allah : Bahagia karena Allah telah memberikan taufik (kemampuan) kepada kita untuk menyelesaikan puasa dan sholat malam.

– Sesuai perintah Alqur’an : Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bergembira atas rahmat dan karunia-Nya (QS. Yunus: 58).

– Dua kebahagiaan puasa : Mengingat janji Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tentang kebahagiaan saat berbuka (termasuk merayakan Idul Fitri) dan kebahagiaan saat bertemu Allah kelak.

📌 Kesimpulan: Seorang mukmin yang bijak akan menyeimbangkan keduanya .. menyesal atas kekurangannya sehingga ia terus memperbaiki diri .. namun tetap bersyukur dan bahagia atas kesempatan ibadah yang Allah telah berikan kepadanya.

🎙
Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى

Masjid An Nabawi

Menutup Ramadhan Dengan Istighfar

Imam Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah menyebutkan hal berikut saat membahas akhir bulan Ramadhan.

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz menulis surat kepada kota-kota besar, memerintahkan mereka untuk menutup Ramadhan dengan memohon ampunan (istighfar) dan sedekah (maksudnya adalah zakat fitrah).

Karena zakat fitrah berfungsi sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan keji atau perbuatan sia-sia yang mungkin ia lakukan, sementara (Istighfar) memohon ampunan berfungsi untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh perkataan dan perbuatan buruk tersebut terhadap puasa.

Karena alasan inilah, sebagian ulama salaf berkata,

“Hubungan antara zakat fitrah dengan orang yang berpuasa adalah seperti hubungan antara sujud sahwi dengan sholat..”

(Lathoo’if al-Ma’aarif hal. 383)