Category Archives: Mutiara Salaf

Cara Bertaubat Dari Dosa Durhaka Kepada Orangtua

PERTANYAAN

ما حكم عقوق الوالدين وما السبيل للتوبة؟

Apa hukum durhaka kepada kedua orangtua, dan bagaimana cara bertaubatnya..?

JAWABAN

عقوق الوالدين كبيرة من كبائر الذنوب يأتي بعد الشرك بالله -عز وجل-لأن حق الوالدين يأتي بعد حق الله

Durhaka kepada kedua orangtua itu termasuk satu dosa besar dari berbagai dosa-dosa besar.

Dosa ini berada pada urutan berikutnya setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Karena hak kedua orangtua itu disebutkan setelah hak Allah.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan apapun. Dan berbaktilah kalian kepada kedua orangtua..” (An-Nisa: 36)

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Robbmu telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya..” (Al-Isra: 23)

فعقوقهما كبيرة من كبائر الذنوب

Maka durhaka kepada keduanya merupakan satu dosa besar dari dosa-dosa besar.

فإن كانا حيين فإنه يستسمحهما ويتوب إلى الله ويبر بهما

Jika keduanya masih hidup, maka hendaknya ia :
– meminta maaf kepada keduanya,
– bertaubat kepada Allah,
– lalu berbakti kepada keduanya.

وإن كانا ميتين وقد عقّهُما فإنه يستغفر الله لهما ويدعوا الله لها ويتصدق عنهما لعل الله أن يخفف عنه ذلك.

Jika keduanya sudah meninggal, padahal ia telah berbuat durhaka kepada keduanya, maka hendaknya ia :
– memintakan ampunan untuk keduanya kepada Allah,
– mendo’akan keduanya,
– bersedekah atas nama keduanya

Semoga Allah akan meringankan darinya hal itu.

Dijawab oleh,
Syaikh Sholih Al-Fauzan حفظه الله تعالى

ref : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/15449

Sungguh Mengherankan

Ibnu Muflih -rohimahullah- mengatakan,

“Sungguh mengherankan .. banyak orang meratapi :
– rusaknya negeri,
– sedikitnya rezeki,
– masa yang buruk, dan
– mahalnya barang-barang..

Tapi, tidak pernah sekalipun mereka meratapi :
– terasingnya agama ini,
– matinya sunnah Nabi, dan
– tersebarnya bid’ah.
Mereka juga tidak menangisi kurangnya mereka dalam beramal.

Sebabnya, karena lemahnya iman mereka dan agungnya dunia di mata mereka..”

(Adab Syar’iyyah 3/240)

Penterjemah,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hukum Mengambil Mushaf Dengan Tangan Kiri

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut :

PERTANYAAN

فضيلة الشيخ أكثر المصلين في المساجد إذا أراد أن يتلو القرآن تناول المصحف بيده اليسرى، وقد رأيت أحد المشايخ يفعل ذلك مراراً، فهل في ذلك حرج أم لا؟

Syaikh yang mulia, kebanyakan orang yang sholat di masjid-masjid jika hendak membaca Al Qur’an, ia mengambil Mushaf dengan tangan kirinya. Dan saya pernah melihat salah seorang masyayikh melakukan hal itu berkali-kali. Apakah hal itu berdosa ataukah tidak..?

JAWABAN

الذي أرى أن من تمام تعظيم المصحف أن تتناوله بيدك اليمنى، وأن تضعه في مكانه بيدك اليمنى

Yang saya lihat, sesungguhnya diantara bentuk pengagungan terhadap Mushaf adalah hendaknya engkau mengambilnya dengan tangan kananmu, dan meletakkannya di tempatnya dengan tangan kananmu juga.

لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يعجبه التيامن في جميع شئونه؛ ولأنه أمر أن نأخذ بأيماننا وأن نعطي بأيماننا

Karena Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam itu membiasakan dengan tangan kanan dalam segala urusan beliau .. dan karena beliau memerintahkan kita (untuk) :
– mengambil dengan tangan kanan kita, dan
– memberi dengan tangan kanan kita.

Dan para ulama -rohimahumullah- berkata,

اليسرى تقدم للأذى واليمنى لما سواه، فالذي يريد أن يتناول شيئاً خبيثاً أو نجساً فباليسرى

Tangan kiri itu dipersiapkan untuk kotoran dan tangan kanan itu untuk selain itu. Maka yang ingin mengambil sesuatu yang kotor atau najis maka gunakanlah tangan kiri.

وأما المصحف فلا شك أن من تعظيمه أن تتناوله باليمنى أخذاً ورداً وإعطاءً

Adapun mushaf, maka tidak ragu lagi kalau termasuk pengagungan terhadapnya adalah engkau mengambilnya dengan tangan kanan .. mengambil, mengembalikan dan memberikan.

ولو أنك إذا رأيت أحداً يفعل هذا تقول له

Seandainya engkau melihat ada seseorang melakukan hal itu (yaitu mengambil, mengembalikan dan memberikan mushaf dengan tangan kirinya), maka engkau katakan kepadanya,

يا أخي! لو أنك تريد أن تعطي رجلاً من الناس حاجة، أو تتناول منه حاجة، فأي اليدين تقدم؟ سيقول لك: أقدم اليمنى

Wahai akhi..! Seandainya engkau ingin memberi seseorang keperluannya, atau engkau hendak mengambil sesuatu keperluan darinya, maka tangan manakah yang akan engkau pakai..? Ia akan mengatakan kepadamu, “Saya pakai tangan kanan..”

إذن كلام الله أحق أن يعظم.

Kalau demikian Kalamullah (Al-Qur’an) itu lebih berhak untuk diagungkan.

(Silsilah Liqo’aat al-Baab Al-Maftuh)

Adab Setiap Setelah Menjalankan Suatu Amal Ibadah

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rohimahullah berkata,

ينبغي للعبد كلما فرغ من عبادة، أن يستغفر الله عن التقصير، ويشكره على التوفيق، لا كمن يرىٰ أنه قد أكمل العبادة، ومنّ بها على ربه، وجعلت له محلا ومنزلة رفيعة.

“Sepantasnya bagi seorang hamba setiap kali selesai melakukan sebuah ibadah untuk meminta ampunan kepada Allah atas kekurangan yang ada, dan bersyukur kepada-Nya atas taufiq-Nya.

Bukan seperti seseorang yang menganggap bahwa dia telah beribadah dengan sempurna, merasa memiliki keutamaan kepada Robbnya, dan menjadikannya merasa layak mendapatkan tempat dan kedudukan yang tinggi.

فهذا حقيق بالمقت وردّ الفعل، كما أن الأول، حقيق بالقبول والتوفيق لأعمال أخر.

Orang yang seperti ini pantasnya mendapatkan kemurkaan dan tertolak amalnya, sedangkan orang yang pertama tadi berhak untuk diterima dan diberikan taufiq untuk melakukan amal-amal yang lain..”

(Taisirul Karimir Rahman – 1 / 92)

Bahaya Maksiat

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

ما عصي الله بشيء إلا أفسده على صاحبه

“Tidaklah Allah dimaksiati dengan sesuatu pun, kecuali sesuatu tersebut akan membinasakan pemiliknya.

فـمن عـصا الله بــماله أفـسده علـيه

Barang siapa yang memaksiati Allah dengan hartanya, maka harta tersebut akan membinasakannya.

ومـن عــصاه بــجاهـه أفـسده علـيه

Barang siapa yang memaksiati Allah dengan kedudukannya, maka kedudukan tersebut akan membinasakannya.

و من عـصاه بلسانه أو قلبه أو عـضو من أعضائه أفسده عليه و إن لم يشعر بفساده

Barang siapa yang memaksiati Allah dengan lisan, hati, atau dengan salah satu anggota tubuhnya, maka anggota tubuh (yang digunakan untuk bermaksiat) tersebut akan membinasakannya, walaupun ia tidak menyadari kebinasaan tersebut..”

(Ash-Showa’iq al-Mursalah fi ar-Rodd ‘alaa al-Jahmiyyah wa al-Mu’aththilah 3/865)

Perhatikan Dan Perbaiki Hati Dan Amal Kita

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

يا ابن آدم، إن لك قولا وعملا، وسرا وعلانية، وعملك أولى بك من قولك، وسرك أولى بك من علانيتك

“Wahai anak Adam, engkau memiliki ucapan dan amal, lahir dan batin. Amalmu lebih layak untuk engkau (perbaiki) dari ucapanmu. Dan batinmu lebih layak untuk engkau (perbaiki) dari lahirmu..”

(Az Zuhd karya Imam Ahmad)

Banyak kita yang sibuk menperbaiki lahirnya..
Memperbaiki badannya agar terlihat kekar..
Memperbaiki wajahnya agar terlihat menarik..
Memperbaiki ucapannya dengan mengikuti berbagai kursus..

Namun semua itu tak ada gunanya di sisi Allah..
Yang Allah lihat adalah amal perbuatan dan batin kita..

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian..”

(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Rukun Syukur

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rohimahullah berkata,

Syukur adalah pangkal iman, dan dibangun di atas tiga rukun :

1. Pengakuan hati bahwa semua nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya dan kepada orang lain, pada hakekatnya semua dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Menampakkan nikmat tersebut dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat itu.

3. Menggunakan nikmat itu untuk taat kepada Allah dan beribadah dengan benar hanya kepada-Nya.

(al-Qoulus Sadiid Fii Maqooshidit Tauhiid – hal. 140)

ARTIKEL TERKAIT
Cara Beribadah Dengan Nama & Sifat Allah –  Asy Syakuur

Bersabar Dalam Menjalankan Amal Sholeh

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullah ditanya,

“Apakah futur dari amal sholeh setelah Ramadhan menunjukkan bahwa amalku tidak diterima..? Aku merasa futur dan aku khawatir jika amalku tidak diterima..”

Beliau menjawab,

لا، ليس دليلاً على أن الله لم يقبل منك، لكنه دليل على ضعف الهمة وعدم الرغبة، ولذلك ينبغي للإنسان أن يصبر نفسه وأن يحملها على العمل الصالح؛

“Bukan. Itu tidak menunjukkan amalmu tidak diterima. Tapi itu menunjukkan lemahnya semangatmu dan lemah keinginanmu.

Selayaknya seorang insan itu menyabarkan dirinya untuk beramal sholeh..”

(Silsilah Liqo Syahriy)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Perumpamaan Kehidupan Dunia

Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah berkata,

تصبروا وتشددوا، فإنما هى ليال تعد، وإنما أنتم ركب وقوف، يوشك أن يدعى أحدكم فيجيب ولا يلتفت، فانقلبوا بصالح ما يحضركم

“Sabarkanlah dan kuatkanlah dirimu.

Kehidupan dunia hanyalah beberapa malam yang bisa dihitung. Kalian hanyalah kafilah yang sedang singgah. Hampir-hampir salah seorang di antara kalian dipanggil (untuk berangkat) lalu dia memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat menoleh. Kembalilah kalian dengan mengambil bekal yang baik-baik yang ada di sisi kalian.

إن هذا الحق أجهد الناس، وحال بينهم وبين شهواتهم، وإنما يصبر على هذا الحق من عرف فضله وعاقبته

Sesungguhnya kebenaran ini memberatkan manusia dan menghalangi mereka dari syahwat mereka. Orang yang bisa bersabar di atas al-haq (kebenaran) ini hanyalah orang yang mengetahui keutamaan al-haq (kebenaran) dan akibatnya..”

(Al-Bidayah wan Nihayah 9/272)

Orang Yang Dijaga Oleh Allah

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

من حَفِظَ الله في صباه وقوته؛ حفظه اللهُ في حال كبره، وضعف قوته، ومتّعه بسمعه، وبصره، وحولِه، وقوته، وعقله

“Siapa yang menjaga Allah di masa muda dan kuatnya, maka Allah akan menjaganya di masa tua dan lemahnya. Memberinya kenikmatan pendengaran, penglihatan, kekuatan dan akal..”

(Jami’ul Uluum wal Hikam hal. 348)

Menjaga Allah dengan menjaga perintah dan larangan-Nya..
Menjaga batasan batasan syari’at-Nya..
Maka Allah pun akan menjaga dunia dan akheratnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى