Category Archives: Mutiara Salaf

Mengikuti Teladan Orang-Orang Yang Berada Di Atas Jalan Yang Lurus

Sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

مَن كانَ مُسْتَنًّا ، فَلْيَسْتَنَّ بمن قد ماتَ ، فإنَّ الحيَّ لا تُؤمَنُ عليه الفِتْنَةُ ، أولئك أصحابُ محمد – صلى الله عليه وسلم – ، كانوا أفضلَ هذه الأمة : أبرَّها قلوبًا ، وأعمقَها علمًا ، وأقلَّها تكلُّفًا ، اختارهم الله لصحبة نبيِّه ، ولإقامة دِينه ، فاعرِفوا لهم فضلَهم ، واتبعُوهم على أثرهم ، وتمسَّكوا بما استَطَعْتُم من أخلاقِهم وسيَرِهم ، فإنهم كانوا على الهُدَى المستقيم.

Siapa saja yang mencari teladan, hendaknya mencari teladan dari orang-orang yang sudah mati (karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah) dan mereka itulah para sahabat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka adalah generasi terbaik umat ini, merekalah orang-orang yang :
– paling baik hatinya,
– paling mendalam ilmu agamanya,
– paling sederhana hidupnya.

Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan untuk menegakkan agama-Nya.

Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Dan pegang teguh akhlaq dan perilaku mereka semampu kalian, karena mereka semua berada di atas shirothol mustaqiim (jalan yang lurus).

(Jaami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih – 2/97)

Menilai Diri Sendiri Sebelum Menilai Orang Lain

Fudhail bin Iyyadh (187 H) rohimahullah berkata,

يا مسكين، أنت مسئ وترى أنك محسن، وأنت جاهل وترى أنك عالم، وتبخل وترى أنك كريم، وأحمق وترى أنك عاقل، أجلك قصير، وأملك طويل.

Wahai jiwa yang hina..!

Engkau terus berbuat keburukan, namun menganggap dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan.

Engkau seorang yang bodoh, namun menganggap dirimu sebagai seorang yang berilmu.

Engkau pelit, namun menganggap dirimu sebagai orang yang mulia.

Engkau dungu, namun menganggap dirimu sebagai orang yang berakal.

Ajalmu sudah dekat, namun angan-anganmu sangatlah panjang.

••••

Al-Imam adz-Dzahabi rohimahullah memberikan komentar,

إي والله، صدق، وأنت ظالم وترى أنك مظلوم، وآكل للحرام وترى أنك متورع، وفاسق وتعتقد أنك عدل، وطالب العلم للدنيا وترى أنك تطلبه لله

Demi Allah, benarlah yang beliau sebutkan,

Engkau seorang yang zholim, namun menganggap dirimu yang dizholimi.

Engkau makan dari yang haram, namun menganggap dirimu seorang yang waro’ (bersikap hati-hati).

Engkau seorang yang melampaui batas, namun menganggap dirimu seorang yang adil.

Engkau mempelajari ilmu agama untuk meraih keuntungan dunia, namun menganggapnya untuk mencari ridho Allah.

(Siyaar A’laamin Nubalaa’ – 8/440)

Berhati-Hati Dari Sifat Kemunafikan

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullahu Ta’ala berkata,

إذا أردت أن تسأل نفسك، هل أنت مؤمن أم  منافق ، إسأل نفسك عن الصلاة في وقتها والمحافظة عليها، خصوصا صلاة الفجر  إن كنت من أهلها وبانتظام، فاعلم أنك مؤمن ليس بينك وبين الجنة إلا أن تموت. وإن كنت ضيعتها  فسارع إلى إنقاذ نفسك فإنها وضياعها من علامات النفاق والعياذ بالله. وإذا كان الكفار عدواً مبيناً من الخارج، فإن المنافقين عدواً خفياً من الداخل، وهم أعظم ضرراً و أشد خطراً على المسلمين لأنهم يخالطونهم ويعلمون أحوالهم .

Bila kamu ingin bertanya kepada dirimu apakah kamu termasuk orang yang beriman ataukah seorang yang munafik, maka tanyakanlah kepada dirimu tentang sholat pada waktunya dan bagaimana kamu menjaganya, terlebih lagi pada sholat shubuh.

Jikalau kamu termasuk orang yang melakukannya dengan teratur, maka ketahuilah bahwa kamu adalah seorang mukmin dan tidak ada penghalang antara kamu dengan surga kecuali kematian -insyaa Allah-.

Namun jikalau kamu termasuk orang yang menyia-nyiakannya, maka bersegeralah untuk menyelamatkan dirimu karena itu merupakan tanda kemunafikan, wal ‘iyaadzubillah.

Kalau orang-orang kafir sebagai musuh nyata dari luar kaum muslimin, maka orang-orang munafik adalah musuh yang tersembunyi dari dalam kaum muslimin.

Orang-orang munafik ini lebih besar bahayanya bagi kaum muslimin karena mereka berbaur dan mengetahui kondisi kaum muslimin.

(Syarah al-Mumti’ – 2/27-28)

Diam Untuk Perkara Yang Tidak Bermanfaat Lebih Selamat Bagi Dunia Dan Akhirat Seseorang

Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad at-Tamimi al-Busti -354H- rohimahullahu ta’ala berkata,

الواجب على العاقل أن يلزم الصمت إلى أن يلزمه التكلم، فما أكثر من ندم إذا نطق، وأقل من يندم إذا سكت .

“Wajib bagi orang yang berakal untuk selalu banyak diam sampai tiba saatnya ia harus berbicara. Karena betapa banyak orang-orang yang menyesal ketika bicara, namun sedikit yang menyesal ketika ia diam..”

(Roudhotul ‘Uqola hal. 45)

Diantara Penyebab Belum Dikabulkannya Do’a

Abu Nu‘aim al-Ashfahani rohimahullah menyebutkan dalam kitab al-Hilyah, bahwa Ibrahim bin Adham rohimahullah -salah seorang tabi‘in, 163 H- pernah melewati sebuah pasar di kota Bashrah, maka sebagian manusia bertanya kepadanya,

يا أبا إسحاق، إن الله تعالى يقول: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ﴾

Wahai Abu Ishaq, bukankah Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman,

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ﴾ [غافر ٦٠]

“Dan Robb kalian berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagi kalian..” [Qs. Ghofiir : 60]

Sedangkan kami, kami sudah berdo’a kepada Allah .. namun belum juga dikabulkan.

Maka beliau menjawab, “Hal demikian terjadi karena hati kalian telah mati, (yang dapat diketahui) dengan sepuluh perkara, yaitu :

1. Kalian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun kalian tidak menunaikan hak-Nya.

2. Kalian membaca Alqur’an, namun kalian tidak mengamalkan kandungannya.

3. Kalian mengakui cinta kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, namun kalian tinggalkan sunnahnya.

4. Kalian mengatakan, bahwa syaithon adalah musuh, namun kalian malah mengikutinya.

5. Kalian mengatakan rindu dengan Surga, namun kalian meninggalkan jalan (amal sholeh) untuk menggapainya.

6. Kalian mengatakan takut dengan neraka, namun kalian tidak lari darinya.

7. Kalian mengatakan, bahwa kematian adalah sebuah kepastian, namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

8. Kalian lebih suka disibukkan dengan aib orang lain dan melupakan aib kalian sendiri.

9. Kalian telah merasakan nikmat Allah, namun kalian tidak menunaikan rasa syukur kepada-Nya.

10. Kalian telah menguburkan orang-orang yang telah wafat, namun kalian tidak mengambil pelajaran darinya.

Maka bagaimanakah do’a kalian akan dikabulkan..?!

(Hilyatul Auliyaa – 8/15)

Bahaya Alat Alat Musik

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

والذي شاهدناه نحن وغيرنا وعرفناه بالتجارب: أنه ما ظهرت المعازف وآلات اللهو في قوم وفشت فيهم واشتغلوا بها إلا سلط الله عليهم العدو، وبُلوا بالقحط والجدب وولاة السوء، والعاقل يتأمل أحوال العالم وينظر، والله المستعان

“Yang kita saksikan, dan selain kita dan kami mengetahuinya berdasarkan pengalaman, bahwa tidaklah tersebar alat alat musik dan alat alat yang melalaikan pada suatu kaum dan mereka sibuk dengannya kecuali Allah berikan kepada musuh kekuasaan atas mereka.

Ditimpa kekeringan, kelaparan, dan pemimpin yang buruk. Orang yang berakal selalu memperhatikan keadaan alam dan melihat. Allah lah tempat meminta pertolongan..”

(Madaarijussalikin 1/500)

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hikmah Membaca Ayat Kursi, Surat Al Ikhlas, Al-Falaq Dan An-Naas Setiap Setelah Sholat Fardhu

● AYAT KURSI

Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ، لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الجَنَّةِ إلَّا أَنْ يَمُوتَ. أخرجه النسائي في الكبرى والطبراني

“Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang mencegahnya masuk surga kecuali mati..” (HR. An Nasa’i dan Thabrani)

Faedah : Tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga ketika mati.

● TIGA SURAT TERAKHIR : AL IKHLAS, AL FALAQ DAN AN NAAS

Setial selesai sholat fardhu 5 waktu, dianjurkan membaca surah :
– Al-Ikhlash,
– Al-Falaq dan
– An-Naas
masing-masing 1 kali.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan padaku untuk membaca al mu’awwidzaat di akhir sholat (sesudah salam)..”

(HR. An-Nasa’i no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Yang dimaksud al mu’awwidzaat adalah surah:
– Al-Ikhlas,
– Al-Falaq dan
– An-Naas
sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rohimahullah dalam kitab Fath Al-Bari, 9:62.

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Al mu’awwidzaat memiliki peran besar dalam penjagaan dan perlindungan dari kejelekan sebelum terjadinya.

Karena itu, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam berwasiat kepada ‘Uqbah bin ‘Amir untuk membacanya setelah selesai sholat, sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Jaami’.

Di dalamnya terdapat hikmah besar untuk mencegah keburukan dari satu waktu sholat ke sholat berikutnya..”

(Zaadul Ma’ad Fii Hadyi Khoiril Ibad 4/167)

====
PANDUAN DZIKIR SETELAH SHOLAT FARDHU

silahkan download e-book nya :
https://t.me/bbg_alilmu/20053

==========

Tertipu Oleh Banyaknya Harta

Rosulullah ṣhollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

” فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كما بُسِطَتْ على من كان قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كما تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كما أَهْلَكَتْهُمْ

“Maka demi Allah, bukanlah kefaqiran yang aku takutkan akan menimpa kalian, akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah tatkala dunia sudah dibentangkan kepada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada ummat sebelum kalian, sehingga :

– kalian pun berlomba-lomba mengumpulkan dunia sebagaimana mereka berlomba-lomba dalam dunia.
– akhirnya dunia ini membinasakan kalian sebagaimana dunia ini telah membinasakan mereka.

(HR. Al-Bukhary dan Muslim 2961)

● Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

” لما كان الناس إلى الفقر أقرب، كانوا لله أتقى وأخشع وأخشى.

“Ketika manusia lebih dekat kepada kefaqiran, maka mereka akan lebih bertaqwa, lebih khusyuk dan lebih takut kepada Allah.

ولما كَثُر المال؛ كثُر الإعراض عن سبيل الله، وحصل الطغيان، وصار الإنسان الآن يتشوف لزهرة الدنيا وزينتها… سيارة، بيت، فرش، لباس.

Dan ketika harta telah banyak, (mereka) banyak berpaling dari jalan Allah dan terjadilah sikap melampaui batas, sehingga manusia sekarang ini menjadi lebih memandang kepada dunia dan perhiasannya, mobil, rumah, kasur-kasur, pakaian.

يباهي الناس بهذا كله، ويعرض عما ينفعه في الآخرة.

Manusia bermegah-megahan dalam ini semua, dan berpaling dari apa yang bermanfaat buat mereka di akhirat.

وصارت الجرائد والصحف وما أشبهها لا تتكلم إلا بالرفاهية وما يتعلق بالدنيا، وأعرضوا عن الآخرة، وفسد الناس إلا من شاء الله.

Media masa, surat kabar dan yang semisalnya tidaklah membahas kecuali masalah kemewahan dan segala yang berkaitan dengan dunia dan mereka berpaling dari akhirat. Dan menjadi rusaklah manusia, kecuali yang dikehendaki Allah.

فالحاصل أن الدنيا إذا فتحت – نسأل الله أن يقينا وإياكم شرها – أنها تجلب شرًّا وتُطغي الإنسان.

Kesimpulannya, sesungguhnya dunia itu, jika dibuka (-kita memohon kepada Allah semoga Allah menjaga kita dari kejelekkannya), sesungguhnya ia akan mendatangkan kejelekkan dan menjadikan seorang insan melampaui batas..”

(Syarh Riyadh Ash-Sholihin – 3/361)

Bolehnya Berdo’a Dalam Sujud Dengan Do’a Do’a Dari Al Qur’an

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahullah,

PERTANYAAN

Saya ingin bertanya tentang hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang maknanya, “Aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika sujud..”

Apakah larangan ini termasuk membaca do’a yang ada dalam Al-Qur’an. Dalam artian, apakah boleh bagi seorang muslim untuk berdo’a dengan do’a ini ketika ia sujud..?

JAWABAN

Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam,

ألا وإني نهيت أن أقرأ القرآن راكعاً أو ساجداً، فأما الركوع فعظموا فيه الرب، وأما السجود فأكثروا فيه من الدعاء؛ فقمن أن يستجاب لكم

“Ketahuilah sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk atau sujud. Adapun dalam rukuk, maka agungkanlah Robb di dalamnya, dan adapun sujud, maka perbanyaklah padanya do’a, sangat layak engkau dikabulkan do’anya..”

أخبر النبي عليه الصلاة والسلام أنه نهي أن يقرأ القرآن راكعاً أو ساجداً، لا أنه نهي أن يدعو بالقرآن

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, kalau beliau dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk atau sujud. Bukan bermakna beliau dilarang berdo’a dengan Al-Qur’an.

ففرق بين الدعاء بالقرآن وبين قراءة القرآن، فالداعي بالقرآن لم يقصد التلاوة وإنما قصد الدعاء فلو قال الإنسان في سجوده:

Maka bedakan antara :
– berdo’a dengan Al-Qur’an, dan
– membaca Al-Qur’an.

Maka orang yang berdo’a dengan Al-Qur’an itu tidak bermaksud tilawah (membaca), tapi maksudnya adalah berdo’a. Seandainya seorang mengatakan dalam sujudnya:

ربنا آتنا في الدنيا حسنةً وفي الآخرة حسنةً وقنا عذاب النار

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka..” (Al-Baqoroh: 201)

لا يقصد بذلك التلاوة لكان هذا جائزاً، ولو قال في سجوده

Ia tidak meniatkan tilawah (membaca Al-Qur’an), niscaya hal itu boleh saja. Seandainya ia berkata dalam sujudnya,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)..” (Surat Aali ‘Imran Ayat 8)

يريد الدعاء لا التلاوة لم يكن قارئاً للقرآن في السجود، ولهذا كان الجنب لا يقرأ القرآن، لكن لو دعا بدعاءٍ من القرآن كان ذلك جائز، فلو قال الجنب

Ia niatkan berdo’a, bukan membaca (Al-Qur’an), maka ia tidak dikatakan membaca Al-Qur’an dalam sujud.

Oleh karena itu, orang yang junub itu tidak membaca Al-Qur’an, akan tetapi jika ia berdo’a dengan do’a dari Al-Qur’an niscaya hal itu boleh saja. Kalau seandainya orang junub mengatakan,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)..” (Surat Aali ‘Imran Ayat 8)

لا يريد القراءة وإنما يريد الدعاء فلا حرج عليه

Ia tidak meniatkan membaca (Al-Qur’an), tapi ia niatkan berdo’a, maka hal itu tidak mengapa.

فيجب أن نعرف الفرق بين قراءة القرآن التي قصد بها التلاوة، وبين الدعاء بما جاء في القرآن

Maka kita wajib mengetahui perbedaan antara :
1. membaca Al-Qur’an yang diniatkan tilawah, dan
2. berdo’a dengan do’a yang ada dalam Al-Qur’an.

فالأول لا يكون في الركوع والسجود، والثاني يكون في السجود، أما الركوع فالأفضل فيه أن يكرر الإنسان ما فيه تعظيم الرب جل وعلا. نعم

Maka yang pertama itu TIDAK BOLEH dalam rukuk dan sujud, dan yang kedua itu BOLEH dalam sujud.

Adapun rukuk, yang afdhol adalah seorang itu mengulang-ulang pengagungan terhadap Robb Jalla wa ‘ala. Na’am.

(Fatawa Nur Ala Ad-Darbi kaset no 278)

==========
ARTIKEL TERKAIT
Agar Terhindar Dari Ikhtilaf Para Ulama Tentang Membaca Do’a Dari Al Qur’an Dalam Sujud

Cara Bertaubat Dari Dosa Durhaka Kepada Orangtua

PERTANYAAN

ما حكم عقوق الوالدين وما السبيل للتوبة؟

Apa hukum durhaka kepada kedua orangtua, dan bagaimana cara bertaubatnya..?

JAWABAN

عقوق الوالدين كبيرة من كبائر الذنوب يأتي بعد الشرك بالله -عز وجل-لأن حق الوالدين يأتي بعد حق الله

Durhaka kepada kedua orangtua itu termasuk satu dosa besar dari berbagai dosa-dosa besar.

Dosa ini berada pada urutan berikutnya setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Karena hak kedua orangtua itu disebutkan setelah hak Allah.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan apapun. Dan berbaktilah kalian kepada kedua orangtua..” (An-Nisa: 36)

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Robbmu telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya..” (Al-Isra: 23)

فعقوقهما كبيرة من كبائر الذنوب

Maka durhaka kepada keduanya merupakan satu dosa besar dari dosa-dosa besar.

فإن كانا حيين فإنه يستسمحهما ويتوب إلى الله ويبر بهما

Jika keduanya masih hidup, maka hendaknya ia :
– meminta maaf kepada keduanya,
– bertaubat kepada Allah,
– lalu berbakti kepada keduanya.

وإن كانا ميتين وقد عقّهُما فإنه يستغفر الله لهما ويدعوا الله لها ويتصدق عنهما لعل الله أن يخفف عنه ذلك.

Jika keduanya sudah meninggal, padahal ia telah berbuat durhaka kepada keduanya, maka hendaknya ia :
– memintakan ampunan untuk keduanya kepada Allah,
– mendo’akan keduanya,
– bersedekah atas nama keduanya

Semoga Allah akan meringankan darinya hal itu.

Dijawab oleh,
Syaikh Sholih Al-Fauzan حفظه الله تعالى

ref : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/15449