Category Archives: Mutiara Salaf

Ujian Harta

Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

لو شاءَ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لجعلَكُمْ أغنياءَ لا فقيرَ فيكم، ولو شاءَ لجعلَكُمُ فقراءَ ولا غَنِيَّ فيكم، ولكنِ ابْتَلَى بعضَكُمْ ببعضٍ لِيَنْظُرَ كيفَ تَعْمَلُونَ.

“Jika Allah ‘azza wa jalla berkehendak, tentu Dia akan menjadikan kalian semua kaya, tidak ada yang fakir di antara kalian..

Jika Dia berkehendak pula, Dia akan menjadikan kalian semua fakir, tidak ada yang kaya di antara kalian..

Akan tetapi, (Dia menjadikan di antara kalian ada yang kaya dan ada yang fakir) untuk menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat..”

(Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawa’izhuhu – 36)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Kisah Seorang Pencuri

Seorang pencuri memasuki rumah Malik bin Dinar rohimahullah, kemudian dia mencari sesuatu yang bisa dia curi, akan tetapi dia tidak mendapatkan apapun.

Akhirnya dia melihat Malik bin Dinar yang sedang sholat.

Ketika Malik telah selesai dari salam dia berkata kepada pencuri tersebut, “Kamu mencari harta dunia (di tempat ini), namun kamu tidak mendapatkannya..? Apakah kamu sudah memiliki perbekalan akhirat..?”

Akhirnya pencuri tersebut mengikuti nasihat Malik bin Dinar dan duduk sejenak mendengarkan nasihat beliau hingga dia mencucurkan air matanya.

Setelah itu mereka berdua berangkat bersama ke masjid untuk sholat (berjama’ah).

Setiba di masjid, orang-orang merasa heran melihat keduanya sembari berkata, “Seorang alim besar bersama seorang gembong pencuri..? Ini tidak masuk akal..!”

Mereka kemudian bertanya kepada Malik bin Dinar kemudian beliau menjawab, “Dia datang dengan niat mencuri harta kami akan tetapi justru kami berhasil mencuri hatinya..”

[ Thoriiq Islami 2/144 – Karya Imam adz-Dzahabi rohimahullah ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF: Salah Satu Cara Agar Bisa Qona’ah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian (dalam masalah dunia, -pent.) dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Hal ini akan lebih mendorong kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kalian..” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

● Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

فما من فقير إلا وهناك من هو أفقر منه، وما من مريض إلا وهناك من هو أشد مرضا منه، وما من ذي جاه إلا وهناك من هو أقل جاها منه، وهكذا المسائل الأخرى، إذا نظر إلى من دونه عرف قدر نعمة الله عليه، وكان هذا من أسباب شكره لها، وهذا في أمور الدنيا.

Tidak ada seorang fakir pun kecuali pasti ada yang lebih fakir daripada dirinya..

Tidak ada orang yang sakit, kecuali pasti ada orang yang lebih parah sakitnya daripada dirinya..

Tidak ada orang yang memiliki kedudukan, kecuali pasti ada orang yang lebih rendah kedudukannya daripada dirinya.. demikian seterusnya..

Ketika melihat orang yang lebih rendah daripada dirinya, dia akan mengetahui besarnya nikmat Allah yang ada padanya sehingga dia mensyukurinya. Melihat orang yang di bawah ini berlaku dalam urusan duniawi.

[ Syarh Kitaabul Jaami’ min Bulugh al-Maram hal. 32 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berlomba

Al Hafidz Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

‎فمن عجـز عن مـسابقة المـحبين
‎‏فـي مضـمارهم ؛
‎‏فلا يعجز عن مسـابقة
‎‏المذنبيــن في اسـتغفارهــم

“Siapa yang merasa lemah untuk berlomba dengan para pecinta akherat dalam amal sholeh, maka janganlah ia lemah untuk berlomba dengan para pendosa dalam memohon ampunan..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 45)

Karena hidup di dunia ini adalah perlombaan..
Dan perlombaan terbaik adalah berlomba untuk meraih kenikmatan yang abadi..
Bukan untuk meraih kenikmatan yang fana..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

HADITS : Keutamaan Orang Yang Banyak Berdzikir

Imam Ahmad rohimahullah meriwayatkan dari Muadz bin Anas rodhiyallahu ‘anhu,

(( أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا يَا رَسُولُ اللَّه ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى ذِكْرًا ، قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ !! ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَجَلْ )) .

Ada seseorang bertanya, “Siapakah mujahid yang paling besar pahalanya wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Ia berkata, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Lalu ia menyebut sholat, zakat, hajji dan sedekah. Semua itu dijawab oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Abu Bakar berkata kepada Umar, “Orang yang banyak berdzikir telah pergi membawa segala kebaikan..” Maka Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar..”

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

(( أن أفضل أهل كلِّ عملٍ أكثرهم فيه ذكراً لله عز وجل ؛ فأفضلُ الصوَّام أكثرهم ذكراً لله عز وجل في صومهم ، وأفضل المتصدقين أكثرهم ذكراً لله عز وجل ، وأفضل الحجاج أكثرهم ذكراً لله عز وجل، وهكذا سائر الأعمال))

“Sesungguhnya orang yang paling utama dari orang yang beramal adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla padanya.

Orang yang berpuasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla saat puasanya.

Orang yang yang bersedekah yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla.. demikian pula orang yang berhajji dan semua amal sholih..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Dari www.al-badr.net

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Ujub Itu Menghancurkan Amal

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan..!

Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan..!

Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan..!

Bisa jadi orang yang tidur, orang yang tidak berpuasa, dan orang yang tidak berjihad, dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu..

Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan sholat, namun di pagi hari engkau merasa ujub..

Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah)..”

[ Madaarijus Saalikiin – 1/177 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Mengapa Puasa ‘Arofah Dapat Menghapus Dosa Dua Tahun Sedangkan Puasa ‘Asyuro Hanya Menghapus Dosa Satu Tahun..?

Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

● PERTAMA :

“الأوّل: أنّ يَـوم عَـرفة في شهر حرام ، وَقبله شَهر حَـرام ، وبعْـده شهر حرام ،بـِخِـلاف عَـاشُـورَاء

Sesungguhnya hari ‘Arofah itu terletak di bulan harom (dzulhijjah), sebelumnya adalah bulan harom (dzulqo’dah) dan sesudahnya juga bulan harom (al muharrom), berbeda dengan hari ‘Asyuro.

● KEDUA :

الثّـانـي: أن صوم يوم عرفة من خصائص شرعنا ، بخلاف عاشوراء ، فضوعف ببركات المصطفى.”

Sesungguhnya puasa hari ‘Arofah termasuk kekhususan syariat kita, berbeda dengan puasa ‘Asyuro, oleh karena itu, dilipat-gandakan (pahalanya) dengan berkah al-Musthofa (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam).

( al-Fawaid 4/211 )

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Apakah Memotong Rambut Dan Kuku Menyebabkan Kurban Menjadi Tidak Sah..?

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

ﻳﺘﻮﻫﻢ ﺑﻌﺾ اﻟﻌﺎﻣﺔ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺃﺭاﺩ اﻷﺿﺤﻴﺔ ﺛﻢ ﺃﺧﺬ ﻣﻦ ﺷﻌﺮﻩ ﺃﻭ ﻇﻔﺮﻩ ﺃﻭ ﺑﺸﺮﺗﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﻌﺸﺮ؛ ﻟﻢ ﺗﻘﺒﻞ ﺃﺿﺤﻴﺘﻪ

“Sebagian orang (pada umumnya) memahami bahwa barangsiapa yang ingin berkurban kemudian dia mengambil sesuatu dari rambut, kuku, atau kulitnya pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka (berarti menyebabkan) kurbannya tidak diterima..

ﻭﻫﺬا ﺧﻄﺄ ﺑﻴﻦ، ﻓﻼ ﻋﻼﻗﺔ ﺑﻴﻦ ﻗﺒﻮﻝ اﻷﺿﺤﻴﺔ ﻭاﻷﺧﺬ ﻣﻤﺎ ﺫﻛﺮ

Ini adalah kesalahan yang jelas. (Yang benar), tidak ada kaitannya antara diterimanya kurban dan mengambil sesuatu dari yang telah disebutkan (rambut, kuku, atau kulit)..

ﻟﻜﻦ ﻣﻦ ﺃﺧﺬ ﺑﺪﻭﻥ ﻋﺬﺭ ﻓﻘﺪ ﺧﺎﻟﻒ ﺃﻣﺮ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﻹﻣﺴﺎﻙ، ﻭﻭﻗﻊ ﻓﻴﻤﺎ ﻧﻬﻰ ﻋﻨﻪ ﻣﻦ اﻷﺧﺬ, ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮ اﻟﻠﻪ ﻭﻳﺘﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﻮﺩ

Namun, barangsiapa yang melakukannya tanpa udzur, sungguh dia telah menyelisihi perintah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk menahan diri. Demikian pula dia telah terjatuh ke dalam larangan Nabi (dari mengambil sesuatu dari yang telah disebutkan). Dengan demikian, dia wajib beristighfar dan bertaubat kepada Allah serta tidak mengulanginya..

ﻭﺃﻣﺎ ﺃﺿﺤﻴﺘﻪ ﻓﻼ ﻳﻤﻨﻊ ﻗﺒﻮﻟﻬﺎ ﺃﺧﺬﻩ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ

Adapun kurbannya, maka (perbuatannya mengambil sesuatu dari yang telah disebutkan) tidak menghalangi untuk diterima..”

[ Ahkaam al-Udhhiyah Wa adz-Dzakaah / 54-55 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Ketika Terjadi Perselisihan Antara Ustadz

Nasehat Emas Ibnu Taimiyah rohimahullah ketika terjadi perselisihan antara ustadz :

وإذا وقع بين معلم ومعلم أو تلميذ وتلميذ أو معلم وتلميذ خصومة ومشاجرة لم يجز لأحد أن يعين أحدهما حتى يعلم الحق فلا يعاونه بجهل ولا بهوى بل ينظر في الأمر

“Apabila antara guru dengan guru atau murid dengan murid atau guru dengan murid terjadi perseteruan dan pertengkaran maka tidak boleh seorangpun membantu salah satunya sampai mengetahui kebenaran. Tidak boleh ia mendukung salah satunya dengan kebodohan dan hawa nafsu, tetapi hendaklah ia periksa masalahnya..

فإذا تبين له الحق أعان المحق منهما على المبطل سواء كان المحق من أصحابه أو أصحاب غيره ; وسواء كان المبطل من أصحابه أو أصحاب غيره فيكون المقصود عبادة الله وحده وطاعة رسوله ; واتباع الحق والقيام بالقسط

Apabila telah jelas kepadanya kebenaran, maka ia mendukung yang berada di atas kebenaran baik itu temannya atau bukan. Sehingga maksud tujuan tertingginya adalah ibadah kepada Allah dan menaati rosulNya. Mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan..

قال الله تعالى : { يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما فلا تتبعوا الهوى أن تعدلوا

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman jadilah penegakkan keadilan sebagai saksi-saksi untuk Allah walaupun atas diri kalian sendiri atau kedua orangtua atau karib kerabat. Jika ia kaya atau faqir maka Allah lebih layak untuk keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu dari berbuat adil..

ومن مال مع صاحبه – سواء كان الحق له أو عليه – فقد حكم بحكم الجاهلية وخرج عن حكم الله ورسوله

Barangsiapa yang lebih condong kepada sahabatnya walaupun ia di atas kesalahan, maka sesungguhnya ia telah berhukum dengan HUKUM JAHILIYAH dan telah keluar dari hukum Allah dan RosulNya..”

[ Majmu Fatawa 28/16-17 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Keutamaan Ibu Dalam Islam

Dari Abu Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Seseorang datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rosulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali..?’
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu..!’

Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi..?’ Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu..!’

Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi..?’ Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, ‘Ibumu..’

Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi..?’ Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu..’

( HR. Al Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548 )

● Imam Al-Qurthubi rohimahullah menjelaskan,

Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah.. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali.

Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena :
– kesulitan dalam menghadapi masa hamil,
– kesulitan ketika melahirkan, dan
– kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak,
hanya dialami oleh seorang ibu.

Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

( Tafsir Al-Qurthubi – 10 : 239 )