Category Archives: Mutiara Salaf

MUTIARA SALAF : Sibuk Memikirkan Aib Sendiri

Imam Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Wajib bagi orang yang berakal untuk senantiasa menetapi (mencari) keselamatan dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus (mencari-cari aib orang lain), hendaklah ia senantiasa sibuk memperbaiki aibnya sendiri..

Karena sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan aibnya sendiri dan melupakan aib orang lain, maka hatinya akan menjadi tenteram dan tidak akan merasa lelah..

Maka setiap kali dia melihat aib yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa ringan tatkala melihat aib yang serupa ada pada saudaranya..

Sementara orang yang senantiasa sibuk dengan mencari aib orang lain dan melupakan aibnya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya..”

[ Roudhotul ‘Uqola – 131 ]

Balasan Bagi Orang Yang Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan

Allah Ta’ala berfirman dalam Qs Huud (yang artinya),

15. Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.

16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.

● Terkait ke 2 ayat diatas, Qotadah rohimahullah berkata,

Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya.

adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.

( Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhiim – Tafsir Qs Huud ayat 15-16 )

Dunia Adalah Tempat Puasanya Orang Yang Bertakwa

Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahullah berkata,

قال بعض السّلف:
“صم الدُّنْيا، واجعل فطرك المَوْت”

الدُّنيا كُلّها شهر صيام المُتقين، يصومون فيها
عن الشهوات المُحرمات،

فإذا جاءهُمُ المَوت، فقد انقضى شهر صيامهم،
واستهلوا عيد فطرهم.

Sebagian salaf berkata,

“Berpuasalah di dunia dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbuka..”

Seluruh waktu di dunia adalah bulan puasa bagi orang yang bertakwa. Mereka berpuasa di dunia dari syahwat yang diharamkan..

Jika kematian telah datang, selesailah puasa mereka, lalu tiba waktunya mereka berhari raya (dengan mendapatkan kenikmatan di akhirat)..”

[ Latho’iful Ma’arif – 183 ]

Indahnya Taghoful

TAGHOFUL artinya : melupakan kesalahan saudara kita dan tidak mengingat ingatnya.

Ia adalah akhlak yang mulia..

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata, “Taghoful adalah akhlak orang-orang yang mulia..”

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata:

ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ
ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ
ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.

“Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia. Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.

Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.

Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung-hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya.

Oleh karena itu Imam Ahmad berkata, “Sembilan per-sepuluh akhlak yang baik ada pada taghoful..”

(Tahdzibul Kamal 19/230).

Bila kita cinta mungkin amat mudah kita melupakan kesalahannya..

Tetapi ketika kita benci..
Kesalahan kecil padanya tampak jelas di mata kita..

Allahul Musta’an..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mukmin Yang Paling Utama

Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani rohimahullah berkata,

الحق ثقيل.. فلا تثقلوه أكثر بسوء أخلاقكم، كنت أعتقد أن المشكلة في الأمة مشكلة عقيدة وتبين لي أنها عقيدة وأخلاق.

“Kebenaran itu berat.. maka jangan kamu lebih beratkan lagi dengan akhlak yang buruk.. Tadinya aku meyakini bahwa problematika ummat ini hanya pada akidahnya saja. Tapi ternyata problematika akidah dan akhlak..”

(Silsilah Huda wan Nuur no 900)

Mudah mencibir dan membully..
Berkomentar dengan kata-kata yang pedas dan tak baik..
Senang berdebat dan menertawakan lawan..
Dan akhlak buruk lainnya..

Padahal..
Akhlak menunjukkan kadar keimanan seseorang..
Karena mukmin yang paling utama adalah yang paling baik akhlaknya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ada Apa Dengan Bulan Dzulqo’dah..?

Allah Subhaana waTa’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka JANGANLAH KAMU MENGANIAYA DIRI KAMU DALAM BULAN YANG EMPAT ITU.” (QS. At Taubah: 36)

Al Hafizh Ibnu Katsir rohimahullah berkata dalam tafsirnya:

“Allah Ta’ala berfirman, “MAKA JANGANLAH KAMU MENGANIAYA DIRI KAMU DALAM BULAN YANG EMPAT ITU,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al harom juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zholim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih..” (QS. Al Hajj: 25)

Maka demikian pula dalam bulan-bulan haram, DOSA-DOSA DI DALAMNYA DI LIPATGANDAKAN.”

Empat bulan tersebut adalah :
1⃣ Dzulqo’dah,
2⃣ Dzulhijjah,
3⃣ Al Muharrom,
4⃣ Rojab.

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Allah menjadikan dosa di dalam bulan-bulan haram itu lebih besar serta menjadikan amalan saleh dan pahala juga lebih besar..”

(Latho-if Al Ma’arif – 207)

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di rohimahullah berkata,

“Bahwa sesungguhnya ini merupakan larangan terhadap mereka dari berbuat kezholiman dalam empat bulan tersebut, apalagi disertai adanya larangan berbuat zholim pada setiap waktu, tujuannya untuk menegaskan bertambahnya tingkat keharamannya dan karena perbuatan zholim di dalamnya lebih parah dibandingkan bila dikerjakan di bulan-bulan lain..”

(Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.383)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tanda Kebeningan Iman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: “وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟” قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: “ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Ada beberapa orang datang kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam dan bertanya: “Kami mendapati pada diri kami sesuatu yang terasa besar (berat) untuk diucapkan (berupa keburukan)..”

Beliau bersabda, “Kalian merasakan itu..?”

“Iya..” jawab mereka.

Beliau bersabda, “itu (tanda) kebeningan iman..”

(HR. Muslim)

Imam Nawawi rohimahullah menjelaskan:

“Maksudnya : perasaan kalian yang membesarkan dan menganggap berat untuk mengucapkan (pikiran yang buruk itu) adalah kebeningan iman..

Karena menganggapnya besar dan merasa takut dari mengucapkannya apalagi meyakininya adalah hanya terjadi pada orang yang telah sempurna keimanannya dan hilang keraguan dari hatinya..”

(Syarah Shohih Muslim)

Setan selalu membisikan pikiran buruk di hati insan..
Agar ia ragu kepada Allah, kepada al qur’an, rosul-Nya dan sebagainya..

Namun ketika hati menolaknya dan menganggapnya besar..
Itu adalah tanda kebeningan iman..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Getirnya Ujian Sebelum Datangnya Kenikmatan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Diantara ihsan Allah yang sempurna kepada hamba-hambaNya adalah memberikan getirnya ujian sebelum diberi kenikmatan..

Ketika Allah hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam, Allah berikan kepadanya pedihnya dikeluarkan dari surga dan merasakan derita kehidupan dunia yang kesenangannya diwarnai oleh kepayahan..

Tidaklah Allah menguji hamba-Nya kecuali karena Dia ingin memberinya kenikmatan..

Tidaklah Allah menimpakan bala kepadanya kecuali karena Dia ingin memberinya keselamatan…

Tidaklah Allah mematikannya kecuali karena Dia ingin menghidupkannya kembali..

Tidaklah Dia menjadikan dunia penuh kepayahan kecuali agar si hamba berharap kehidupan akherat..

Dan tidaklah Allah mengujinya dengan sikap manusia yang tidak baik kepadanya, kecuali karena agar si hamba kembali kepada-Nya..”

(Mukhtashor Showa’iq Mursalah hal. 844)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : EMPAT Jalan Menuju Istiqomah

Berkata Imam Syaqiq bin Ibrohim Al-Balkhi rohimahumallah,

قال شقيق البلخي رحمه الله: أربعة أشياء من طريق الاستقامة: لا يترك أمر الله لشدةٍ تنزلُ به، ولا يتركه لشيء يقع في يده من الدنيا، فلا يعمل بهوى أحد ولا يعمل بهوى نفسه.
(حلية الأولياء)

Empat jalan menuju istiqomah :

● jangan tinggalkan perintah Allah karena sesuatu yang berat yang dia alami,
● jangan pernah tinggalkan perintah Allah karena sesuatu yang dia peroleh dari dunia,
● jangan pernah beramal karena hawa nafsu seseorang,
● jangan pernah mengerjakan sesuatu karena hawa nafsunya sendiri.

[ Hilyatul Auliya’ ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Sombong Dan Dengki

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

والكبر والحسد هما داءان أهلكا الأولين والآخرين وهما أعظم الذنوب التي بها عصى الله أولا فإن إبليس استكبر وحسد آدم وكذلك ابن آدم الذي قتل أخاه حسد أخاه

“Sombong dan dengki adalah dua penyakit yang membinasakan generasi pertama sampai terakhir. Keduanya dosa terbesar yang Allah dimaksiati dengannya. Karena Iblis sombong dan dengki kepada Adam, demikian juga anak Adam membunuh saudaranya akibat dengki..” (Jami’ur Rosail hal. 233)

Akibat kesombongan, ia menolak kebenaran..
Lebih memilih kesesatan dibanding kebenaran..

Akibat kedengkian, ia berusaha mencelakakan orang lain..
Tak peduli apakah Allah akan murka atau tidak..

Na’udzu billah min dzalik..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL