Category Archives: Mutiara Salaf

Perumpamaan Orang Yang Bakhil Dan Orang Yang Berinfak

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan orang yang bakhil dan (orang) yang berinfak sama seperti dua laki-laki yang mengenakan baju terbuat dari besi yang menutupi dada hingga ke leher mereka..

Adapun yang berinfak, tidaklah ia berinfak melainkan baju itu meluas dan menutupi kulitnya hingga menutupi jari-jari tangannya dan menghapus jejak kakinya..

Sedangkan si bakhil, setiap kali dia tidak mau menginfakkan sesuatu, maka menempel setiap mata rantai baju itu di tempatnya, dia berusaha meluaskannya namun tidak mau menjadi luas..”

[ HR Bukhari dan Muslim ]

Al Khattabi rohimahullah berkata,

“Ini adalah perumpamaan yang disebutkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bagi (orang) yang bakhil dan (orang) yang bersedekah.

Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam menyerupakan keduanya dengan dua laki-laki yang masing-masing ingin memakai baju besi untuk menutupi dirinya dari senjata musuh.

Lalu baju besi itu dimasukkan dari kepala, dan baju besi pertama kali dipakai berada di dada hingga leher sampai seseorang berhasil mengeluarkan tangannya dari lengannya. Maka orang yang berinfak sama seperti memakai baju besi yang luas. Baju itu mampu menutupi semua badannya.

Sedangkan si bakhil seperti orang yang terbelenggu kedua tangannya ke lehernya. Setiap kali ia hendak memakai baju itu, tangannya semakin terjepit ke lehernya dan mencekik tenggorokannya.

Maksudnya, orang yang dermawan jika ingin bersedekah maka hatinya menjadi luas dan jiwanya menjadi baik, sehingga mudah mengeluarkan sedekah.

Sedangkan orang bakhil jika diceritakan tentang sedekah, maka ia menjadi kikir sehingga hatinya menyempit dan tangannya terkungkung..”

[ Zaadul Ma’ad ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

MUTIARA SALAF : Orang Berakal Tidak Panjang Angan-Angan

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

“Orang berakal itu tidak panjang angan-angan. Karena orang yang banyak berangan angan biasanya lemah amalnya, dan apabila ajal telah datang maka angan angan tidak akan ada manfaatnya..”

(Roudhotul Uqola)

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Ridho Dan Murka Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

وأنين المذنبين أحبُّ إلى الله مِن زجل المسبحين المدِلِّين

“Rintihan penyesalan sang pendosa lebih disukai oleh Allah dari suara tasbih orang yang ujub..” (Madarijussalikin 1/177)

Terkadang..
Perbuatan dosa membawa pelakunya kepada keridhoan Allah..
Saat dosanya membuat ia menyesal dan kembali kepada Allah..
Saat dosanya menghancurkan keangkuhan dan kesombongannya..
Sehingga hatinya selalu merunduk malu dan tunduk di hadapan Robbnya..

Dan terkadang..
Ketaatan mendatangkan kemurkaan Allah ‘Azza wajalla..
Saat ketaatan itu disertai ujub dan meremehkan orang lain..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Mengapa Kebaikan Terasa Berat Diamalkan..?

“Kenapa kebaikan begitu berat dikerjakan, dan kenapa kejelekan begitu mudah dilakukan..?”

Ibnu Hajar rohimahullah menukilkan jawaban dari ulama salaf,

“Karena saat melakukan kebaikan, pahit segera terasa dalam jiwa, sementara buah manisnya belum hadir di depan mata, jadilah terasa berat mengamalkannya.. maka jangan sekali-kali perasaan berat itu menyebabkanmu meninggalkan kebaikan tersebut..

berbeda ketika melampiaskan kejelekan, manisnya segera terasa, sementara akibat buruknya belum terlihat nyata, sehingga jiwa pun begitu mudah melakukannya.. maka janganlah perasaan mudah itu menggelincirkanmu untuk terjatuh dalam kejelekan..”

[ Fathul Bari ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Laksana Sebuah Pohon

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon..

– bulan Rojab adalah waktu menumbuhkan daun,
– Sya’ban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan
– Ramadhan adalah bulan memanen, (dan) pemanennya adalah kaum mukminin..

(Oleh karena itu), mereka yang ‘menghitamkan’ catatan amal mereka hendaklah bergegas ‘memutihkannya’ dengan taubat di bulan-bulan ini..

sedangkan mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di waktu-waktu tesebut..”

[ Lathooiful Ma’arif – 130 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

EMPAT Tingkatan Manusia Saat Menghadapi Musibah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila mati anak seorang hamba, maka Allah berkata kepada para malaikatnya, “kalian telah mencabut ruh anak hambaku..”

Mereka menjawab, “iya..”

Allah berkata, “kalian telah mengambil buah hatinya..”

Mereka berkata: “iya..”

Maka Allah berkata, “apa yang dikatakannya..?” (dan Allah Maha Tahu apa yang dikatakannya)

Mereka menjawab, “dia memujimu dan mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun..”

Allah pun berkata, “bangunlah untuknya sebuah rumah di surga, dan namakan rumah pujian (Al-Hamdu)..”

[HR. At-Tirmidzi dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1408]

Al-Munawi rohimahullah berkata,

أن الأسقام والمصائب لا يثاب عليها لأنها ليست بفعل اختياري بل هو على الصبر وهو ما عليه ابن السلام وابن القيم قالا فهو إنما نال ذلك البيت بحمده واسترجاعه لا بمصيبته

“Hadits ini menunjukan bahwa penderitaan dan musibah tidaklah diberikan pahala begitu saja, sebab ia bukan perbuatan berdasarkan pilihan, tetapi pahala diberikan karena KESABARAN, inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnus Salam dan Ibnul Qoyyim, mereka berdua berkata: “Dia mendapatkan rumah di surga itu karena pujiannya dan ucapan Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun, bukan semata karena musibahnya..”

[Faidhul Qodhir, 1/564]

Para ulama menyebutkan bahwa seseorang dalam menghadapi musibah ada empat keadaan.

KEADAAN PERTAMA adalah murka (marah) yaitu seseorang menampakkan rasa marah baik pada lisan, hati atau anggota badannya. Seseorang yang murka pada Allah dalam hatinya yaitu dia merasa benci (murka) pada Allah dan dia merasa bahwa Allah telah menzholiminya dengan ditimpakan suatu musibah. –Kita berlindung pada Allah dari perbuatan semacam ini-

Adapun seseorang merasa murka lisannya seperti dia mencaci maki waktu (masa) sehingga menyakiti Allah. Dalam shohih Muslim, Rosulullah shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda,

“Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang..” (HR. Muslim no. 6000)

Sedangkan murka dengan anggota badannya adalah seperti seseorang menampar-nampar pipinya, memukul-mukul kepalanya sampai merobek-robek bajunya atau semacam itu. Dalam hadits disebutkan mengenai orang yang melakukan kelakukan tidak sabar dengan merusak diri. Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah..” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103).

Perbuatan tersebut termasuk niyahah dan ancamannya berat. Niyahah termasuk larangan bahkan dosa besar karena diancam dengan hukuman (siksaan) di akhirat kelak. Rosulullah shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda,

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan :
(1) membangga-banggakan kebesaran leluhur,
(2) mencela keturunan,
(3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan
(4) meratapi mayit (niyahah)
Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal..” (HR. Muslim no. 934).

KEADAAN KEDUA adalah sabar dengan menahan diri terhadap musibah yang dihadapi. Keadaan kedua ini adalah dia merasa benci dengan musibah dan tidak pula menyukai kejadian seperti itu terjadi tetapi dia menahan diri dengan tidak menggerutu dengan lisannya yang bisa membuat Allah murka padanya, dia juga tidak marah sehingga memukul-mukul anggota badannya, dia juga tidak menggerutu dalam hatinya.

KEADAAN KETIGA adalah ridho terhadap musibah. Yaitu seseorang merasa lapang hatinya dengan musibah yang menimpa, dia betul-betul ridho dan seakan-akan dia tidak mendapatkan musibah. Hukum sabar adalah wajib dan ridho adalah mustahab (dianjurkan).

KEADAAN KEEMPAT adalah bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpa.

Keadaan seperi inilah yang dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam mengucapkan,
“Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat – Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.’ Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam mengucapkan,
“Alhamdulillah ‘alaa kulli hal – segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan..” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Keadaan terakhir inilah tingkatan tertinggi dalam mengahadapi musibah yaitu seseorang malah mensyukuri musibah yang menimpa dirinya. Keadaan seperti inilah yang didapati pada hamba Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya, dia melihat bahwa di balik musibah dunia yang menimpanya ada lagi musibah yang lebih besar yaitu musibah agama. Dan ingatlah musibah agama tentu saja lebih berat daripada musibah dunia karena azab (siksaan) di dunia tentu saja masih lebih ringan dibandingkan siksaan di akhirat nanti. Karena musibah dapat menghapuskan dosa, maka orang semacam ini bersyukur kepada Allah karena dia telah mendapatkan tambahan kebaikan.

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
“Tidaklah rasa capek, rasa sakit (yang terus menerus), kekhawatian, rasa sedih, bahaya, kesusahan menimpa seorang muslim sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibah tersebut..” (HR. Bukhari no. 5641)

wallahu ta’ala a’lam

dikutip dari berbagai sumber :
https://rumaysho.com/

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Memperbaiki Diri

Dulu, ‘Atho Al Khurasani rohimahullah (Seorang Tabi’in ahli fiqih dari Hijaz) tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan :

اللَّهُمَّ هَبْ لَنَا يَقِينًا مِنْكَ حَتَّى تُهَوِّنَ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَحَتَّى نَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنَا إِلَّا مَا كَتَبْتَ عَلَيْنَا، وَلَا يُصِيبُنَا مِنَ الرِّزْقِ إِلَّا مَا قَسَمْتَ لَنَا

“Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diri-Mu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.”

[Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin, 108]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Berbaik Sangka Kepada Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

” فالآلام والمشاق إما إحسان ورحمة ، وإما عدل وحكمة ، وإما إصلاح وتهيئة لخير يحصل بعدها ، وإما لدفع ألم هو أصعب منها ” اﻫـ .

“Kesakitan dan kesulitan bisa jadi kebaikan dan rahmat atau keadilan dan hikmah (dari Allah)..

Bisa jadi perbaikan dan persiapan kepada kebaikan yang akan ia raih setelahnya, dan bisa jadi untuk menolak kesusahan yang lebih berat dari itu..”

• (شفاء العليل) (٢٥٠/١) .

Maka berbaik sangkalah kepada Allah..
Karena Allah lebih sayang kepada hamba-Nya..
Melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya…

Dítulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ia Tak Pernah Menyebutkan Kebaikannya

Sungguh kagum melihat seorang yang banyak kebaikannya dan jasanya untuk umat namun ia tak pernah mengungkitnya di hadapan manusia apalagi di sosial media..

Jadi ingat perkataan Ibnul Qoyyim rohimahullah, beliau berkata:

فإن الله إذا أراد بعبد خيراً سلبه رؤية أعماله الحسنة من قلبه والإخبار بها من لسانه ، وشغله برؤية ذنبه ، فلا يزال نصب عينيه حتى يدخل الجنة ، فإن ما تقبل من الأعمال رفع من القلب رؤيته ومن اللسان ذكره .

“Sesungguhnya Allah apabila menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikan hatinya tak mengingat amal amal kebaikannya, dan dijadikan lisannya tak ingin mengabarkan amalnya kepada manusia. Allah jadikan ia sibuk mengingat dosa dosanya. Senantiasa dosa itu berada di pelupuk matanya hingga ia masuk surga..

Karena tanda amal diterima itu adalah menjadikan hati tak mengingatnya dan lisan tak mengabarkannya..”

(Lihat kitab Thoriqul Hijrotain hal. 169-172)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى 

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Keutamaan Bulan Haram # 2

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut (dzulqo’dah, dzulhijjah, muharrom, rojab) sebagai bulan Harom, dianggap sebagai bulan suci, seseorang yang melakukan maksiat pada bulan-bulan tersebut dosanya akan lebih besar, demikian pula amalan sholeh yang dilakukan di bulan-bulan tersebut, akan mendapatkan pahala yang lebih banyak..”

[ Lathoiful Ma’arif – 207 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL