Images

Beberapa Bentuk Sholat Sunnah WITIR dan Bacaan Dzikir Setelahnya…

JUMLAH ROKA’AT dan CARA PELAKSANAAN SHOLAT SUNNAH WITIR
.
Witir boleh dilakukan SATU, TIGA, LIMA, TUJUH atau SEMBILAN roka’at. Berikut rinciannya.
.
⚉   PERTAMA: Witir dengan SATU roka’at. (HR. Abu Daud no. 1422. Syaikh Al Albani mengatakan Shohih)
.
⚉   KE-DUA: Witir dengan TIGA roka’at.
.
Di sini boleh dapat dilakukan dengan dua cara:
[1] TIGA roka’at, sekali salam. (HR. Al Baihaqi)
[2] Mengerjakan DUA roka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah SATU roka’at kemudian salam. (HR. Ahmad 6/83). Cara kedua ini lebih utama, simak di SINI untuk penjelasannya.
.
⚉   KE-TIGA: Witir dengan LIMA roka’at.
.
Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakan LIMA roka’at sekaligus dan tasyahud pada roka’at kelima, lalu salam. (HR. Muslim no. 737)
.
⚉   KE-EMPAT: Witir dengan TUJUH roka’at.
.
Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk tasyahud kecuali pada roka’at KE-ENAM. Setelah tasyahud pada roka’at KE-ENAM, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada roka’at KE-TUJUH. Kemudian tasyahud pada roka’at KE-TUJUH dan salam. (HR. Muslim no. 746)
.
⚉   KE-LIMA: Witir dengan SEMBILAN roka’at.
.
Cara pelaksanaannya adalah dianjurkan mengerjakannya tanpa duduk tasyahud kecuali pada roka’at KE-DELAPAN. Setelah tasyahud pada roka’at KE-DELAPAN, tidak langsung salam, namun dilanjutkan dengan berdiri pada roka’at KE-SEMBILAN. Kemudian tasyahud pada roka’at KE-SEMBILAN dan salam. (HR. Muslim no. 746) Dalil yang sama berlaku untuk 7 dan 9 Roka’at Witir.

MUTIARA SALAF : Barometernya Adalah Ketaatan

Allah Ta’ala berfiman,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu..”

[ Al-‘Ankabuut: 62 ]

● Ibnu Katsir rohimahullahu Ta’ala berkata,

“Sesungguhnya Allah taala memberikan harta kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai. Dia pun menyempitkan rezeki kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai.

Barometer dalam permasalahan ini tiada lain adalah “KETAATAN” kepada Allah Ta’ala dalam dua kondisi tersebut..

Apabila seseorang diberi kekayaan, maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas hal tersebut. Namun jika ia berada dalam kemiskinan, maka hendaknya ia bersabar”

[ Tafsir Ibnu Katsir 8/388 ]


ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Balaslah Salam Dengan Yang Lebih Baik

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila diucapkan salam kepadamu, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah maha memperhitungkan segala sesuatu..”

[ An-Nisaa’/4: 86 ]

Imam Ibnu Katsir rohimahullah menjelaskan,

“An-Nisaa’: 86, artinya: apabila seorang muslim mengucapkan salam kepadamu, maka balaslah/jawablah dia dengan (lafazh) salam yang lebih baik dari ucapan salamnya, atau balaslah dengan ucapan salam yang serupa. Maka menambah (dengan ucapan salam yang lebih baik ketika menjawab salam) adalah dianjurkan, sedangkan (menjawab salam dengan lafazh) yang serupa adalah wajib..”

[ Tafsir Ibni Katsir – 1/705 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Mutiara Sayyidul Istighfar

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan sayyidul istighfar.
“Allahumma anta Robbii.. Laa ilaaha illa anta kholaqtanii..
Sampai: abuu-u laka bini’matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii..”
“Aku kembali kepada-Mu dengan kenikmatan-Mu kepadaku..
Dan aku kembali dengan membawa dosaku..”

Renungkanlah..
Menyaksikan Nikmat..
Pengakuan Dosa..

Sebuah mutiara yang amat berharga..
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata..
“Seorang hamba berjalan kepada Allah antara menyaksikan ni’mat dan melihat aib diri..
Menyaksikan ni’mat menimbulkan cinta, pujian dan rasa syukur..
Dan melihat aib diri menimbulkan penghinaan diri, ketundukan dan taubat..”

(Shohih Al Wabil Ash Shoyyib hal 16-17).

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

.
.
Rosulullah Shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

Barangsiapa mengucapkannya (sayyidul istighfar) di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni Surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni Surga.”
.
[HR. Bukhari no. 6306, 6323]

da171114-0009

Ingatlah..

Allah berfirman (yang artinya),

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)

Ingat.. kita tidak akan mampu lepas atau menghindar dari apa yang Allah ‘Azza wa Jalla telah takdirkan.. seandainya kita ridho dengan pilihan Allah maka takdir akan menghampiri kita dalam keadaan kita terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah..

bila tidak ridho, maka takdir tetap akan menghampiri kita dalam keadaan kita tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena kita bersama pilihan
kita sendiri.. wal ‘iyadzubillah..

Ref : https://t.co/WuM4bmi1W8

*

Larangan Duduk Bersandar Dengan Tangan Kiri

➡️ Syirrid bin Suwaid rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rosulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai..?”

[ HR. Abu Daud no. 4848 ] Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

➡️ Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Duduk dengan bersandar pada tangan kiri disifatkan dengan duduk orang yang dimurkai Allah. Adapun meletakkan kedua tangan di belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa..

Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana disifati nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran. Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan..”

[ Syarh Riyadhus Sholihin ]

MUTIARA SALAF : Tentang Rasa Takut dan Harap Kepada Allah Ta’ala

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahulloh berkata,

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.. Jika pada masa sehatnya dia melakukan kebaikan, tentu akan menjadi besar rasa harap dan baik sangkanya (kepada Allah Ta’ala) saat kematian (menghampirinya)..

(Tapi) bila pada masa sehatnya dia melakukan keburukan, tentu dia akan berburuk sangka ketika (kematian) menghampirinya, dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah)..”

[ Hilyatul Auliya’ – 8/89 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Yang Lebih Baik Dari Dirham

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah berkata :

“Setiap manusia yang mengghibahi orang lain, maka hakikatnya dia telah memberikan amal sholihnya kepada orang itu. Oleh karena itu sebagian salaf mengatakan : “Aku ingin memberikan dirham kepada orang yang telah mengghibahiku, karena dia telah memberikan kepadaku yang lebih baik daripada dirham, yaitu amal sholihnya”

[ Al-Liqo asy-Syahri hal 58 ]

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL