MUTIARA SALAF : Hukum Kalimat ‘RAMADHAN KARIIM’

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahullah pernah ditanya tentang hukum kalimat ‘Ramadhan Kariim’..

Beliau rohimahullah menjawab,

حكم ذلك أن هذه الكلمة: (رمضان كريم) غير صحيحة،
وإنما يقال: (رمضان مبارك)، وما أشبه ذلك،
️لأن رمضان ليس هو الذي يعطي حتى يكون كريماً، وإنما الله تعالى هو الذي وضع فيه الفضل .

“Hukumnya adalah bawah kalimat ini ‘Ramadhan Karim’ (terjemahnya, Ramadhan itu pemurah) adalah tidak benar..

Yang benar adalah ‘RAMADHAN MUBARAK..’ (Ramadhan yang diberkahi) atau yang semisal, karena bukan Ramadhan yang memberi sehingga disebut pemurah, akan tetapi Allah Ta’ala yang memberikan keutamaan ini..”

[ Majmu’ Fatawa Syaikh Al-‘Ustaimin 20/254 ]

Syarah Kitab Tauhid : 252 – 253 – 254

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini:

252.

253.

254.

 

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Yang Ajaib

Syaikh Utsaimin rohimahullah berkata,

والعجيب أن من طلب عيش الآخرة
‏طاب له عيش الدنيا
‏ومن طلب عيش الدنيا
‏ضاعت عليه الدنيا والآخر .

“Yang ajaib adalah orang yang mencari kehidupan akherat, maka menjadi baik juga kehidupan dunianya..

Dan orang yang mencari kehidupan dunia saja, hilang untuknya dunia dan akheratnya..”

(Tafsir Syaikh Utsaimin 1/23)

Ya..
Para pencari dunia yang rakus itu berpaling dari akherat..
Tak peduli halal dan haram..
Tak peduli dengan batasan batasan agama-Nya..
Sehingga ia tidak mendapat akherat dan dunia pun belum tentu mendapatkannya..

Kalaupun ia meraih dunia, maka menjadi adzab untuknya..
Hatinya dipalingkan dari ketaatan..
Hatinya makmur dengan cinta dunia..

Sebaliknya..
Orang yang mencari akherat..
Ia jadikan dunia untuk kebaikan akheratnya..
Ia tetap mendapat kenikmatan dunia..
Namun ia tidak tertipu dengannya..

Ia tak ingin mengambil harta dengan cara yang haram..
Tak ingin melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya..

Ia takut akan hari yang setiap manusia berdiri di hadapan Robbnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 249 – 250 – 251

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini:

249.

250.

251.

 

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Hati Yang Selamat

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب

“Sesungguhnya orang yang hatinya kosong dari Al Qur’an bagaikan rumah yang telah usang tak terpakai..”

(HR At Tirmidzi dan ia berkata, Hadits ini hasan shohih)

Cobalah renungkan…

Malam yang diturunkan padanya Al Qur’an…
Menjadi malam yang paling mulia…

Bulan yang diturunkan padanya Al Qur’an…
Menjadi bulan yang paling mulia…

Rosul yang diturunkan kepadanya Al Qur’an…
Menjadi rosul yang paling mulia…

Maka bagaimana jika Al Qur’an itu ada di hatimu..?

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 246 – 247 – 248

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

246.

247.

248.

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

MUTIARA SALAF : ENAM Tempat Peredaran Hati

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hati mempunyai enam tempat beredar, tidak ada yang ketujuhnya..

Tiga rendah dan tiga lagi mulia..

Adapun yang rendah:
– Dunia yang berhias untuknya..
– Hawa nafsu yang mengajaknya berbicara..
– Dan musuh yang memberinya was was…

Inilah tempat jiwa-jiwa yang rendah yang selalu berkutat padanya..

Adapun tiga yang mulia:
– Ilmu yang memberinya kejelasan..
– Akal yang yang membimbingnya..
– Dan Ilah yang ia sembah..

Dan ini tempat peredaran hati sesungguhnya..

(Al Fawaid hal 130)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berbaik Sangka Kepada Allah

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

إن المؤمن أحسن الظن بربه، فأحسن العمل. وإن الفاجر أساء الظن بربه، فأساء العمل

“Sesungguhnya mukmin berbaik sangka kepada Allah sehingga ia pun memperbaiki amalnya. Sedangkan orang yang buruk berburuk sangka kepada Allah sehingga ia pun berbuat buruk..”

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Az Zuhd no 1652)

Yang mendorong seorang insan beramal adalah husnuzhon kepada Allah..
Ia berhusnuzhon bahwa Allah akan memberinya pahala dan menerima amalnya..

Sebaliknya..
Orang yang berbuat keburukan..
Ia menyangka Allah tidak mengawasinya..
Atau tidak kuasa untuk mengadzabnya..
Sehingga ia berani berbuat keburukan..

Kalaupun ia yakin..
Namun keyakinannya lemah sehingga tak mampu menahan hawa nafsunya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Pahala Yang Lebih Baik

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia berkata ‘Alhamdulillah..’ kecuali apa yang Allah berikan kepadanya (berupa pahala) lebih baik daripada kenikmatan yang ia ambil..”

(HR. Ibnu Majah no. 3805)

Saat hamba mengucapkan alhamdulillah ketika diberi nikmat..
Maka pahala mengucapkan alhamdulillah itu..
Lebih utama dan lebih baik dari kenikmatan yang ia dapatkan..

Itulah kemuliaan seorang mukmin yang diberi taufik oleh Allah..
Sehingga setiap nikmat yang ia rasakan..
Mendapatkan pahala yang besar dengan ucapan alhamdulillah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah