Kejujuran Iman

Tanda kejujuran iman seorang hamba adalah ia meninggalkan sesuatu yang disukai oleh syahwatnya karena takut dimurkai oleh Robbnya.

Puasa mengajarkan kita tentang kejujuran. Saat sendiri tiada orang melihat sementara makanan lezat dan minuman sejuk terhidang di hadapan. Namun kita tetap menahan lapar dan dahaga hingga waktu yang dihalalkan. Itulah kejujuran iman. Jika ia meninggalkannya karena takut kepada Allah, bukan karena sebatas kebiasaan.

● Ibnu Rojab rahimahullah berkata,

“Ketika mukmin yang berpuasa mengetahui bahwa ridho Allah terdapat pada meninggalkan syahwatnya, ia dahulukan ridho Allah dari pada hawa nafsunya. Sehingga kelezatannya ia rasakan saat meninggalkan syahwatnya karena Allah. Karena keimanannya bahwa Allah melihatnya..”

● DzuNun Al Mishri rohimahullah ditanya, “Kapan aku dapat mencintai Robbku..?”

Ia menjawab, “Apabila yang Dia tidak sukai lebih pahit bagimu dari pahitnya kesabaran..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 289)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sedekah Di Bulan Ramadhan

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

“Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan memberikan kebaikan. Beliau paling dermawan ketika di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril ‘alaihis salam biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan sampai apabila Jibril telah selesai -menyampaikan wahyu- maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan hafalan al-Qur’annya kepada Jibril..

Apabila Jibril ‘alaihis salam menemuinya maka beliau adalah orang yang paling ringan dalam berderma lebih daripada angin yang bertiup..” (HR. Al Bukhari)

Mengapa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam semakin dermawan di bulan Ramadhan..?

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Ada beberapa faidah:
Pertama: Kemuliaan waktu. Karena amal di waktu yang mulia itu dilipat gandakan pahalanya.

Kedua: Membantu orang yang berpuasa untuk ketaatan sehingga mendapatkan pahala seperti amalan mereka.

Ketiga: Allah amat dermawan di bulan Ramadhan dengan rahmat, ampunan dan memerdekaan dari api neraka. Siapa yang dermawan di bulan itu maka Allahpun dermawan kepadanya.

Keempat: Mengumpulkan puasa dan sedekah lebih kuat untuk menggugurkan dosa dan dijauhkan dari jahannam. Terlebih bila ditambah dengan sholat malam.

Kelima: Mengumpulkan puasa dan sedekah itu sebab yang amat kuat untuk masuk ke dalam jannah, dan mendapatkan kamar kamar yang istimewa.

Keenam: Ketika puasa pasti terdapat kekurangan. Sedekah dapat menutupi kekurangan tersebut.

(Lathoiful Ma’arif hal 310-313)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tuduhlah Hatimu

Amal sholeh di bulan ramadhan adalah inti keindahan ramadhan. Manisnya amal sholeh di bulan yang mulia ini berasal dari manisnya iman..

Namun, ketika hati tidak merasakan kenikmatan saat beramal sholeh, pasti ada sesuatu padanya.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

إِذَا لَمْ تَجِدْ لِلْعَمَلِ حَلَاوَةً فِي قَلْبِكَ وَانْشِرَاحًا، فَاتَّهِمهُ؛ فَإِنَّ الرَّبَّ تَعَالَى شَكُورٌ، يَعْنِي أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يُثِيبَ الْعَامِلَ عَلَى عَمَلِهِ فِي الدُّنْيَا، مِنْ حَلَاوَةٍ يَجِدُهَا فِي قَلْبِهِ، وَقُوَّةِ انْشِرَاحٍ ، وَقُرَّةِ عَيْنٍ، فَحَيْثُ لَمْ يَجِدْ ذَلِكَ ، فَعَمَلُهُ مَدْخُولٌ

“Apabila kamu tidak mendapatkan manisnya amal sholeh di hatimu dan kelapangan dada, maka tuduhlah amalmu.. karena Robb kita maha berterima kasih (asy Syakur), artinya bahwa Allah pasti memberikan balasan amal sholeh di dunia berupa rasa manis yang ia rasakan di hatinya, kelapangan dada, dan kesejukan hati..

Ketika ia tidak merasakan itu berarti amalnya dimasuki oleh sesuatu (yang merusaknya)..”

(Madarijussalikin 3/67-68)

Mungkin dimasuki oleh ketidak ikhlasan, atau berharap kesenangan dunia dari amalnya, atau terkena ujub dan kesombongan, atau akibat dosa dan lain sebagainya sehingga ia tidak merasakan kelezatan amal..

Bagi orang yang beriman, ini adalah perkara yang membuatnya sedih. Maka ia segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah ‘Azza wajalla, dan berusaha memperbaiki amalnya dengan penuh kesungguhan.

Siapa yang bersungguh-sungguh maka pasti Allah berikan kepadanya manisnya iman dan amal sholeh, karena Dia maha berterima kasih kepada hamba hamba-Nya.. padahal Dia tidak membutuhkan amalnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah