Syarah Kitab Tauhid : 43 – 44 – 45

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

43.

44.

45.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 46 – 47 – 48
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Sampai Kapan Anda Bertaubat..?

Ada seorang ulama ditanya:

“Sungguh ada seorang yang jatuh dalam kesalahan, lalu dia bertaubat… Lalu dia jatuh lagi dalam kesalahan, dan bertaubat lagi… Kemudian dia jatuh dalam kesalahan lagi dan bertaubat lagi… Sampai kapan..?!”

Dia menjawab: “Sampai setan putus asa menggodanya..”

———

Jadikanlah setan putus asa untuk menggoda Anda… Jangan sebaliknya, Anda malah dijadikan putus asa untuk bertaubat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

“Katakanlah: Wahai orang yang melampaui batas terhadap dirinya (dengan dosa), janganlah kalian BERPUTUS ASA dari rahmat Allah (dengan meminta ampun kepadaNya), karena Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia maha pengampun lagi maha penyayang..” [QS. Azzumar: 53].

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda dalam hadits qudsi, bahwa Allah berfirman:

“Wahai hamba-hambaKu, sungguh kalian akan terus melakukan kesalahan, baik di malam hari maupun siangnya, sedang Aku akan mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kalian..” [HR. Muslim: 2577]

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 40 – 41 – 42

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

40.

41.

42.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 43 – 44 – 45
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Semangat Menjalankan Perkara Yang Sunnah

Ah .. itu kan sunnah, boleh dong ditinggalkan..!

=====

Inilah ucapan sebagian orang yang malas-malasan dalam melakukan ketaatan kepada Allah.

Bedakan dengan keadaan para pemuka sahabat Nabi -rodhiallahu ‘anhum- dan orang-orang yang mengikuti mereka .. sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahullah-:

وقد كان صدر الصحابة ومن تبعهم؛
– يواظبون على السنن مواظبتهم على الفرائض،
– ولا يفرقون بينهما في اغتنام ثوابهما

“Dahulu para pemuka sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka:
– merutinkan amalan-amalan sunnah, sebagaimana mereka merutinkan amalan-amalan wajib.
– dan mereka tidak membedakan antara keduanya dalam mengambil manfaat pahalanya..”

[Fathul Bari 3/265]

Dan inilah salah satu sebab jauhnya mereka dari amalan-amalan bid’ah .. karena waktu-waktu mereka sudah terisi dengan amalan-amalan yang disyariatkan.

Berbeda dengan orang-orang yang meremehkan amalan-amalan sunnah .. akhirnya banyak waktu kosong yang ingin mereka isi dengan amalan-amalan bid’ah.

Kata Imam Syafi’i rohimahullah :

نفسك إن لم تشغلها بالحق؛ وإلا شغلتك بالباطل

“Jiwamu, bila tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka dia menyibukkanmu dengan kebatilan..” [Adda’ wad Dawa’, hal 156].

Yang terakhir..
bila hal ini berkaitan dengan perkara yang sunnah, maka gunakan pola pikir yang sama pada perkara yang makruh. Semangatlah dalam meninggalkannya sebagaimana dalam meninggalkan yang haram, untuk mengambil manfaat pahala dari meninggalkannya.

Jangan malah mengatakan: “ah .. itu kan makruh, boleh dong dilakukan..!” Sungguh perkataan seperti ini hanya akan menjadikan kita rugi dengan banyak pahala, bahkan akan menjerumuskan kita kepada yang haram, wallahu a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Diantara Nikmat Yang Paling Ajaib

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

ومن أعجب النعـــــــــــم عليه
‏نعمة النسيان
‏فإنه لولا النسيان لما سلا شيئا
‏ولا انقضت له حسرة
‏ولا تعزى عن مصيبة
‏ولا مات لـــــــه حزن
‏ولا بطل لـــــــه حقد
‏ولا استمتع بشيء من متاع
‏الدنيا مع تذكر الآفات.

“Diantara nikmat yang paling ajaib adalah lupa. Karena kalau bukan karena lupa, tentu sesuatu itu tak terasa manis..
– penyesalan tak pernah selesai,
– musibah tak pernah berlalu,
– kesedihan selalu merundung,
– kedengkian tak pernah padam,
– bahkan kenikmatan dunia tak terasa menyenangkan bila selalu mengingat kepedihannya..”

( Miftah Dar Assa’adah 2/887 )

Diterjemahkan oleh.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah