Sang Gula

Beliau bernama Imam Muhammad bin Maimun Abu Hamzah, rohimahullah, ‘Sang Gula’..

Mengapa beliau dijuluki dengan ‘Sang Gula’..??

Mari kita simak keterangan Imam Adz Dzahabi rohimahullah :

“Beliau bukanlah seorang penjual gula, akan tetapi dinamakan as sukkari (sang gula) karena manisnya tutur kata beliau..”

(Siyar A’laamin Nubalaa’ 7/386)

Benar memang, saat telinga ini disapa dengan rangkaian kata yang penuh dengan kesantunan dan kelembutan, maka akan terasa manis di dalam jiwa, rasa yang lebih manis dari gula dan madu.

Bukankah sesendok gula yang disajikan dengan umpatan dan cacian akan terasa pahit di dalam hati..?!

“Kata-kata yang baik adalah sebuah sedekah..”
Sabda Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Rasanya tidak berkebihan jika kita berharap lahirnya “sang gula – sang gula” berikutnya untuk menghiasi layar kehidupan keluarga, pergaulan, dunia dakwah dan SOSMED kita.

(Terinspirasi oleh Faidah Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz As Sindi حفظه الله تعالى)

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

ref : https://www.facebook.com/134129847234901/posts/908836939764184/

 

Ingatlah

Ingatlah, kita di dunia ini untuk menjalani UJIAN..

Harusnya kita mengingat terus hal ini, agar kita bisa tabah dan sabar, teguh dan tegar di atas jalan Allah yang lurus dan terang benderang..

Jika kita diberi kenikmatan, maka ingatlah bahwa itu ujian, apakah kita bisa bersyukur kepada-Nya, ataukah kita kufur..?! Mensyukuri nikmat adalah dengan mengakui bahwa itu benar-benar murni dari Allah, memuji Allah karenanya, dan menggunakannya untuk sesuatu yang dicintai Allah ‘Azzawajall atau minimal tidak dimurkai oleh-Nya..

Jika kita diberi kesusahan, maka ingatlah bahwa itu ujian, apakah kita bisa bersabar atau tidak..?! Bersabar saat kesusahan adalah dengan mengingat bahwa itu dari Allah sesuai dengan takdir-Nya, menahan diri dari tindakan tidak rela kepada takdir Allah baik dengan ucapan ataupun perbuatan, serta semakin mendekat kepada Allah dan meminta agar Allah mengangkat kesusahan itu.. bukan malah melakukan hal-hal yang diharamkan..

Intinya, nikmat dan musibah, keduanya adalah ujian dari Allah untuk kita. Darinya akan terlihat siapa dari kita yang baik.. dan kita tidak akan baik dalam mengahadapi ujian itu, kecuali dengan pertolongan dari Allah yang Maha Perkasa..

Allah telah menjelaskan hal ini di ayat berikut :

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Mahasuci Allah, yang di tangan-Nya semua kerajaan. Dia maha berkuasa atas segala sesuatu (1) Dialah yang menciptakan MATI dan HIDUP untuk MENGUJI kalian, siapa di antara kalian yang lebih BAIK amalannya. Dia maha perkasa lagi maha pengampun (2).. [Al-Mulk 1-2].

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

TIGA Perdagangan Yang Tidak Mengenal Kata RUGI

Disebutkan oleh Allah dalam satu ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitabullah (Alquran), mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi..” [Faathir: 29].

Itulah 3 perdagangan yang Allah sebut “tidak akan rugi” :
– membaca Alquran,
– mendirikan sholat, dan
– bersedekah secara diam-diam dan terang-terangan.

Pertanyaannya:
– Sudahkah Anda membaca Alquran hari ini..?
– Sudahkah Anda bersedekah hari ini..?
– Apakah Anda sholat berjama’ah di Masjid hari ini..?

Bila sudah, bersyukurlah kepada Allah..
Bila belum, maka berbenahlah, kapan lagi kalau tidak sekarang..?!

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Semakin Hati Penuh Dengan Keimanan Kepada Allah, Semakin Dekat Kepada Kebenaran

Allah Ta’ala berfirman :

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“… maka Allah memberi hidayah orang-orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan, dan Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus..” (Al Baqarah: 213)

• Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

“Diantara faidah ayat ini adalah bahwa keimanan seorang hamba bila semakin kuat maka ia lebih dekat kepada kebenaran. Karena Allah berfirman yang artinya, “maka Allah memberi hidayah orang-orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..”

Karena Allah menggantungkan hidayah kepada keimanan. Maka hidayah semakin kuat dengan kuatnya iman dan semakin lemah dengan lemahnya iman.

Oleh karena itu para shahabat lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan generasi setelahnya, baik dalam tafsir, hukum, dan akidah. Karena tidak diragukan lagi bahwa para shahabat adalah generasi yang paling kuat imannya. Rosul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sebaik baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya, kemudian setelahnya..”

Oleh karena itu madzhab imam Ahmad adalah bahwa pendapat shahabat adalah hujjah selama tidak bertabrakan dengan nash..”

[ Tafsir Syaikh al-‘Utsaimin 3/35 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menyaring Keimanan

Allah memberi ujian untuk menyaring keimanan..

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi..? (Al-Ankabut – 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta..” (Al-Ankabut – 3)

Hati yang jujur adalah hati yang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla..
hati yang sabar saat diterpa ujian..
dan bersyukur saat diberi kesenangan..

Hati yang jujur adalah hati yang lebih mengharapkan kehidupan akherat..
hati yang takut adzab Allah dan berharap rahmat dan keridhoan-Nya..

Kelak orang orang yang jujur dalam imannya akan melihat kegembiraan di negeri sana..

قَالَ اللَّهُ هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar..” (Al-Maidah – 119)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

HADITS : Setiap Amalan Tergantung Pada Akhirnya

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya..”

(HR. Bukhari, no. 6493)

Dalam riwayat lain disebutkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya..”

(HR. Bukhari, no. 6607)

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

HADITS : Bahaya Ghibah (Menggunjing)

●  Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Tahukah engkau apa itu ghibah..?” Mereka menjawab, “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu..” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain..”

Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan..?” Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya.. jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya..”

[ HR. Muslim no. 2589 ]

●  Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda,

“Siapa yang pernah menzholimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezholiman tersebut hari ini.. sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham..

Pada saat itu bila ia mempunyai amal sholih maka akan diambil seukuran kezholiman yang ia perbuat.. bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudian dibebankan kepadanya..”

[ HR. Bukhari no. 2449 ]

●  Imam Nawawi rohimahullah berkata,

“Ghibah adalah sesuatu yang amat jelek, namun tersebar dikhalayak ramai. Yang bisa selamat dari tergelincirnya lisan seperti ini hanyalah sedikit..

Ghibah memang membicarakan sesuatu yang ada pada orang lain, namun yang diceritakan adalah sesuatu yang ia tidak suka untuk diperdengarkan pada orang lain. Sesuatu yang diceritakan bisa jadi pada badan, agama, dunia, diri, akhlak, bentuk fisik, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, budak, pakaian, cara jalan, gerak-gerik, wajah berseri, kebodohan, wajah cemberutnya, kefasihan lidah, atau segala hal yang berkaitan dengannya..

Cara ghibah bisa jadi melalui lisan, tulisan, isyarat, atau bermain isyarat dengan mata, tangan, kepala atau semisal itu..”

[ Al Adzkar – hal. 597 ]

●  Imam Qotaadah rohimahullah berkata,

“Siksa kubur itu berasal dari tiga bagian :
– sepertiganya dari ghibah (menggunjing),
– sepertiganya dari namimah (mengadu domba), serta
– sepertiganya lagi dari air kencing (tidak dibasuh dengan cara yang benar)..”

(Al-Baihaqi dalam Itsbat ‘Adzaabil Qobri no. 261, Ibnu Abid Dunya di dalam as-Shomt no. 189 dan Ibnu Rojab dalam Kitab Ahwaalul Qubur hal 65)

●  Imam Ibnu Qudamah rohimahullah mengatakan,

“Ketahuilah bahwa seseorang yang telah mendengarkan ghibah, maka dia telah berserikat dalam perbuatannya tersebut. Dia tidak (dianggap) terbebas dari dosa mendengarkan ghibah, kecuali dengan pengingkaran di lisannya..

Apabila ia takut, maka ia (wajib) untuk mengingkari dengan hatinya. Namun jika ia mampu berdiri (pergi), memotong pembicaraan ghibah tersebut ataupun (mengalihkan) dengan pembicaraan yang lain, maka dia harus untuk melakukannya..”

(Mukhtashor Minhaajul Qooshidiin 221)

●  Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

Setiap orang yang mengghibahi orang lain, hakikatnya dia telah memberikan amalan sholehnya kepada orang tersebut..

Karena itulah, sebagian salaf mengatakan, “saya ingin memberi dirham kepada orang yang mengghibahi saya.. karena orang yang mengghibahi saya telah memberikan kepada saya yang lebih baik daripada dirham ini, yakni amal sholehnya..”

[ Al Liqo Asy Syahri – 58 ]

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kelak Semua Akan Kembali Kepada Allah

Imam Asy Syafi’i rohimahullahu Ta’ala berkata,

إنك لا تقدر أن ترضي الناس كلهم،
‏فأصلح ما بينك وبين الله عز وجل.
‏فإذا أصلحت ما بينك وبين الله عز وجل ،
‏فلا تبال بالناس

“Sesungguhnya engkau tidak akan mampu meridhokan manusia seluruhnya.. maka perbaikilah hubunganmu dengan Allah ‘Azza Wajalla.. apabila engkau telah memperbaiki hubunganmu dengan-Nya, maka jangan pedulikan lagi manusia..”

(Tawalu Ta’nis hal. 168 karya ibnu Hajar)

Jangan pedulikan sikap manusia kepadamu..
Sibuklah memperbaiki diri dengan ibadah dan amal sholeh..
Kelak semua akan kembali kepada Allah..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berbuat Dosa Setelah Taubat

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata

الإنسان إذا فعل الذَّنب ثُم تاب توبةً نصُوحًا ثم غلبتهُ عليهِ نفسُه مرَّةً أُخرى فإن توبتهُ الأولى صحيحة، فإذا تاب ثانيةً فتوبتُه صحيحة،
‏لأن مِن شُروط التوبة أن يعزِم أن لا يعُود وليس من شروط التوبة أن لا يعود .

“Seorang insan apabila berbuat dosa kemudian bertaubat dengan taubat nasuha lalu kalah kembali oleh hawa nafsu dan berbuat dosa.. maka taubatnya yang pertama itu shohih..

Jika ia bertaubat lagi kedua kalinya maka taubatnya juga shohih.. karena syarat taubat adalah bertekad bulat untuk tidak kembali berbuat dosa.. bukanlah syarat taubat untuk tidak pernah kembali berbuat dosa..”

(Syarah Kitab Tauhid)

Siapakah yang mampu tak pernah berbuat dosa setelah bertaubat..
Namun mukmin itu setiap kali jatuh kepada dosa..
Ia segera bertaubat dan membalasnya dengan amal sholeh..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah