Jangan Mengakhirkan Sholat Maghrib

Sebagian ikhwah ada yang segera berbuka namun mengakhirkan sholat maghrib. Tentu ini tidak sesuai sunnah.

Abu Athiyah berkata:

‎دخلت أنا ومسروق، على عائشة
‎فقلنا: يا أم المؤمنين، رجلان من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، أحدهما «يعجل الإفطار ويعجل الصلاة»، والآخر يؤخر الإفطار ويؤخر الصلاة،
‎ قالت: أيهما الذي يعجل الإفطار ويعجل الصلاة؟ “
‎ قال: قلنا عبد الله يعني ابن مسعود
‎ قالت: «كذلك كان يصنع رسول الله صلى الله عليه وسلم»

“Aku masuk bersama Masruq kepada ‘Aisyah rodiyallahu ‘anha.

Kami berkata, “Wahai ummul mukminin, ada dua orang dari shahabat Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam..

yang satu menyegerakan berbuka dan menyegerakan sholat maghrib..

dan satu lagi mengakhirkan berbuka dan sholat maghrib..

Manakah yang sesuai..?”

‘Aisyah berkata, “Siapa yang menyegerakan berbuka dan sholat..?”

Kami berkata, “Abdullah bin Mas’ud..”

‘Aisyah berkata, “Demikian yang dilakukan oleh Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam..”

(HR Muslim no 1099)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Dua Perkara Yang Mudah Namun Sedikit Yang Mengamalkannya

Dari ‘Abdullah bin Amru rodhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ : يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا ، وَيَحْمَدُ عَشْرًا ، وَيُكَبِّرُ عَشْرًا ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ ، وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ .
وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ ، وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ ، فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ ، وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ ، فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ ؟ قَالَ : يَأْتِي أَحَدَكُمْ – يَعْنِي : الشَّيْطَانَ – فِي مَنَامِهِ فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أَنْ يَقُولَهُ ، وَيَأْتِيهِ فِي صَلَاتِهِ فَيُذَكِّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ أَنْ يَقُولَهَا )

“Dua perkara yang apabila dijaga oleh seorang muslim akan memasukkannya ke surga.. Keduanya mudah tapi yang mengamalkannya sedikit. Yaitu :

bertasbih di belakang sholat 10x, tahmid 10x dan takbir 10x maka jumlahnya (dikali lima sholat) menjadi 150 di lisan tapi ditimbangan 1,500..
dan sebelum tidur ia membaca takbir 34x, tahmid 33x dan tasbih 33x. Maka ini 100 di lisan tapi 1,000 di timbangan..”

Mereka berkata, “Wahai Rosulullah, bagaimana ia mudah namun yang mengamalkannya sedikit..?”
Beliau bersabda, “Setan datang ketika ia hendak tidur lalu membuatnya tidur sebelum mengucapkannya.. dan datang ketika setelah sholat lalu mengingatkan keperluannya sebelum ia mengucapkannya..”

(HR Abu Dawud no 5065 dan dishohihkan oleh Al Hafidz ibnu Hajar)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

10 RAMADHAN 1442

Pahala besar ini akan didapatkan oleh setiap orang muslim yang melakukan hal tersebut (memandikan mayit) dengan disertai dua syarat, Al-Imam Al-Albani rohimahullah menjelaskan kedua syarat tersebut beliau berkata :

“Bagi orang yang bertugas memandikan ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan dua syarat :

1). PERTAMA : Ia hendaknya menyembunyikan aib jenazah, tidak menceritakan sesuatu yang tidak disukai yang terlihat pada jenazah, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa Salaam : “Barangsiapa memandikan mayit lalu menyembunyikan aib-aibnya, Allah akan mengampuninya dengan 40 kali ampunan. Dan barangsiapa menggali (kubur) untuknya maka akan diberikan pahala untuknya seperti pahala orang yang memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Dan barangsiapa yang mengkafani mayit, Allah akan mengkafaninya dengan sutra halus dan bludru dari surga di hari kiamat nanti..”

Diriwayatkan oleh Hakim 1/354, 362, Baihaqi ; 3/395, dari haditsnya Abu Rafi’ Rodhiyallahu ‘anhu. Al Hakim berkata : ‘shohih atas syarat Muslim’. Lalu disetujui oleh Adz-Dzahabi dan demikian sebagaimana yang mereka katakan.

Telah diriwayatkan oleh Thobrani dalam “Al Kabiir” dengan lafadz : “40 dosa besar”. Al Mundziri (4/171) berkata, kemudian diikuti oleh Al Haitsami (3/21) : ‘Para perawinya adalah yang dijadikan hujjah dalam hadits shahih’. Al Hafidz dalam “Ad-Duriyyah : 1/40” berkata : ‘sanadnya kuat’.

2). Yang KEDUA : Hendaknya ia melakukan hal tersebut karena mengharap wajah Allah bukan mengharap balasan, ucapan terimakasih, atau hal-hal keduniaan lainnya. Berdasarkan apa yang telah paten di dalam syariat bahwa Allah tiada pernah menerima ibadah kecuali yang dilakukan ikhlas karena-Nya. Dalil atas hal ini sangat beragam di dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah..”

(Ahkamul Jana’iz Wa Bida’uha : 69)

Menebar Cahaya Sunnah