Teruslah Berjalan Di Atas Kebaikan

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ للشَّيطانِ لمَّةً بابنِ آدمَ وللملَك لمَّةً فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكذيبٌ بالحقِّ وأمَّا لمَّةُ الملَك فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ فمن وجدَ ذلِك فليعلم أنَّهُ منَ اللهِ فليحمدِ اللَّهَ ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ باللَّهِ منَ الشَّيطانِ الرَّجيمِ ثمَّ قرأ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ الآيةَ

Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam .. dan malaikatpun memiliki bisikan.

Bisikan setan adalah janji dengan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah janji dengan kebaikan dan membenarkan kebenaran.

Siapa yang merasakan itu (yaitu bisikan malaikat) maka hendaklah ia memuji Allah .. dan siapa yang merasakan yang lain (yaitu bisikan setan) maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, ‘Setan itu menjanjikan kefakiran dan menyuruh kepada dosa..’

(Shohih Sunan At Tirmidzi)

Ketika hendak menuntut ilmu..
Setan membisiki, ‘nanti kamu tidak mampu mengamalkannya..’
Ketika hendak mengamalkan sunnah..
Setan membisiki, ‘nanti kamu akan dijauhi orang atau disebut wahabi..’

Maka teruslah berjalan di atas kebaikan..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Bentuk Ujian Keimanan Seorang Hamba

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

الله يبتلي المرء بتيسير أسباب المعصية حتى يعلم سبحانه من يخافه بالغيب.

Allah ‘Azza wa Jalla akan menguji seorang hamba dengan mudahnya jalan untuk berbuat maksiat, sehingga dengan hal tersebut, Allah mengetahui orang yang benar-benar takut kepada-Nya, walaupun ia tidak melihat-Nya.

(Al Qoulul Mufid – 1/200)

Sikap Seorang Mukmin Terkait Aib Orang Lain

Al Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullahu ta’ala (w. 187 H) berkata,

المؤمن يستر ويعظ وينصح، والفاجر يهتك ويعيّر ويفشي.

Seorang mukmin itu :
– menutup aib saudaranya,
– memperingatkan, dan
– menasehatinya.

Sedangkan seorang fajir (pendosa) itu :
– membongkar aib orang lain,
– mencelanya, dan
– menyebarkannya.

(Hilyatul Auliyaa’ – 8/95)

Bagaikan Dedaunan Kering Yang Berjatuhan Dari Pohon

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya.. lalu beliau melewati pohon yang dedaunannya telah kering dan memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya maka daun-daun yang kering itu berguguran.

Dan saat para sahabat melihat dedaunan pohon itu berguguran di depan mereka, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“sesungguhnya kalimat :

SUBHAANALLAH
WALHAMDULILLAH
WALAA ILAAHA ILLALLAH
WALLAHU AKBAR

menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran..”

( HR. at-Tirmidzi – shohih )

Maka sudah seharusnya seseorang itu mengucapkan EMPAT KALIMAT ini sesering mungkin sepanjang hari dan malamnya .. sungguh terdapat padanya pahala yang sangat besar.

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى

Ketergesa-Gesaan Yang Tidak Tercela

Hatim al-Ashom (w. 237 h) rohimahullah berkata,

كَانَ يُقَالُ العَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ فِي خَمْسٍ إِطْعَامِ الطَّعَامِ إِذَا حَضَرَ الضَّيْفُ وَتَجْهِيْزِ المَيِّتِ إِذَا مَاتَ وَتَزْوِيْجِ البِكْرِ إِذَا أَدْرَكَتْ وَقَضَاءِ الدَّيْنِ إِذَا وَجَبَ وَالتَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ إِذَا أَذْنَبَ.

Dikatakan, ketergesa-gesaan itu dari setan, kecuali dalam lima perkara :

1. Bersegera menghidangkan makanan ketika ada tamu.

2. Bersegera mengurus penyelenggaraan jenazah setelah kematiannya.

3. Bersegera menikahkan anak gadis jika sudah bertemu jodohnya.

4. Bersegera membayar hutang jika telah jatuh temponya.

5. Bersegera bertaubat jika telah berbuat dosa

(Hilyatul Auliyaa – 8/78)

Memperbagus Amalan

Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

وكـان الســلـف يـوصــون بـإتــقان الــعمــل وتـحسـينـه دون الإكـثــار مـنــه،

فــإن الــعمــل القــليـل مــع التـحـسيـن والإتــقان، أفضــل مــن الـكثيــر مــع الغــفلـة وعــدم الإتــقـان.

Dahulu para salaf, mereka mewasiatkan untuk menyempurnakan dan memperbagus amalan, bukan sekadar memperbanyaknya.

Maka sesungguhnya amalan yang sedikit, tetapi diperbagus dan disempurnakan, itu lebih utama dibandingkan dengan amalan yang banyak yang disertai dengan kelalaian dan ketidak sempurnaan.

(Majmu Rosail Ibnu Rojab – 1/352)

Renungan Sebelum Beramal

Imam Al Hasan Al Bashry rohimahullah berkata,

رحم الله عبداً وقف عند همّه، فـإن كان لله مضـى، وإن كان لغيره تأخر.

Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti ketika ingin melakukan sesuatu :
– jika hal itu dia niatkan untuk Allah maka dia meneruskannya, namun
– jika hal itu dia niatkan untuk selain-Nya maka dia mundur.

(Ighotsatul Lahafan – 1/81)

Manusia Yang Paling Mulia

Asy Sya’by rohimahullah berkata,

Manusia yang paling mulia adalah yang :
– paling mudah mencintai, dan
– paling lambat bermusuhan,
seperti gelas dari perak, susah pecah dan mudah diperbaiki.

Sedangkan manusia yang paling hina adalah yang :
– paling lambat mencintai, dan
– paling cepat bermusuhan,
seperti gelas dari tanah liat, mudah pecah dan susah diperbaiki.

(Rufaqoo’uth Thoriiq – hal. 22)

Akibat Membanggakan Sesuatu Yang Berharga Yang Dimiliki

● Al Imam Abu Muhammad bin Hazm rohimahullah berkata,

ﻛﻢ ﺭﺃﻳﻨﺎ ﻣﻦ ﻓﺎﺧﺮ ﺑﻤﺎ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﺎﻉ ﻓﻜﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻬﻼﻛﻪ -ﺑﻌﻴﻦ ﺣﺎﺳﺪ ﺃﻭ ﻛﻴﺪ ﻋﺪﻭ- ﻓﺈﻳﺎﻙ ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﺈﻧﻪ ﺿﺮٌّ ﻣﺤﺾ ﻻ ﻣﻨﻔﻌﺔ ﻓﻴﻪ ﺃﺻﻼ.

Betapa banyak kami melihat seseorang yang membanggakan sesuatu yang berharga yang dia miliki, lalu hal itu menjadi sebab kebinasaannya melalui pandangan mata orang yang dengki atau makar orang yang memusuhi.

Maka, jangan sekali-kali engkau melakukannya, karena sesungguhnya hal itu hanya mengakibatkan keburukan tanpa ada manfaatnya sama sekali.

(Al Akhlaq was Siyar – 166)

==========

● Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah’ sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan..” (Qs. Al Kahfi: 39)

Para ulama menjadikan ayat ini dalil bahwa harta bisa terkena ‘ain dan boleh diruqyah ketika terkena ‘ain.

● Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

قال بعض السلف: من أعجبه شيء من حاله، أو ماله، أو ولده فليقل: مَا شَاءَ اللَّهُ لا قوة إلا بالله ـ وهذا مأخوذ من هذه الآية الكريمة

Sebagian salaf mengatakan, orang yang kagum pada :
– keadaannya, atau
– hartanya, atau
– pada anaknya,
hendaknya ia mengucapkan :

مَا شَاءَ اللَّهُ لا قوة إلا بالله

MAASYAA ALLAAH LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Ini diambil dari ayat yang mulia ini..”

(Tafsir Ibnu Katsir)

ARTIKEL TERKAIT 
Dua Do’a Melindungi Diri Dan Anak Dari ‘Ain – Pengaruh Mata Jahat

Keutamaan Memaafkan

Abu Hatim Ibnu Hibban Al Busti rohimahullah berkata,

الواجب على العاقل توطين النفس على لزوم العفو عن الناس كافة، وترك الخروج بمجازاة الإساءة، إذ لا سبب لتسكين الإساءة أحسن من الإحسان، ولا سبب لنماء الإساءة وتهييجها أشد من الاستعمال بمثلها

Orang yang berakal sehat wajib mempersiapkan jiwanya untuk senantiasa memaafkan semua orang. Dia juga tidak boleh membalas perbuatan jelek (dengan kejelekan).

Sebab, tidak ada cara yang lebih baik untuk menghentikan perbuatan jelek kecuali (membalasnya) dengan berbuat baik.

Demikian pula, tidak ada jalan yang lebih dahsyat untuk mengembangkan dan mengobarkan perbuatan kejelekan kecuali membalas dengan perbuatan jelek semisalnya.

(Roudhotul ‘Uqola wa Nuzhatul Fudhola hlm. 188)

Menebar Cahaya Sunnah