Jangan Berlebihan Dalam Mencintai Atau Membenci Seseorang

Sahabat ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata,

أَحْبِبْ حَبِيبَك هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَك يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَك هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَك يَوْمًا مَا

“Cintailah orang yang engkau sayangi sekedarnya saja, karena bisa saja suatu hari nanti engkau akan membencinya. Dan bencilah orang yang engkau benci sekedarnya saja, karena bisa saja suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang engkau cintai..”

( Shohih al-Adabul Mufrod no. 992 )

MAKNA ATSAR DI ATAS

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

“Sungguh tidaklah semestinya seseorang berlebihan dalam mencintai .. karena mungkin saja suatu hari nanti orang yang dulunya sangat ia cintai menjadi orang yang paling ia benci.

Dan merupakan suatu hal yang lumrah terjadi bahwa seseorang, apabila sudah terlanjur berlebihan mencintai, ia akan menceritakan dan mencurahkan semua privasi pribadi kepada orang yang ia cintai, sehingga bila suatu hari nanti orang tersebut berubah menjadi orang yang dibenci, maka akan diceritakannya dan disebarkan rahasia tersebut kepada orang lain..”

( Fatawa Nuur ‘alad Darb no. 330 )

Diantara Cara Menghilangkan Sifat Ujub

Al Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm rohimahullah berkata,

من امتُحن بالعجب فليفكر في عيوبه، فإن أُعجب بفضائله فليفتش ما فيه من الأخلاق الدنيئة.

Siapa yang ditimpa ujian dengan sifat ujub, maka hendaklah dia memikirkan aib-aib dirinya.

Jika dia merasa ujub karena kelebihan-kelebihan yang dia miliki, maka hendaklah dia memeriksa akhlak akhlak rendah yang ada pada dirinya.

( Al Akhlaq was Siyar – 29 )

Antara 10 Hari Pertama Dzulhijjah Dan 10 Hari Terakhir Ramadhan — Manakah Yang Lebih Utama..?

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah ditanya sbb :

أيهما أفضل العشر الأواخر من رمضان، أم عشر ذو الحجة؟

Manakah yang paling utama, 10 hari terakhir Ramadhan ataukah 10 hari pertama Dzulhijjah..?

JAWABAN

العشر الأواخر من رمضان أفضل من جهة الليل؛ لأن فيها ليلة القدر،

10 hari terakhir dari bulan Ramadhan itu lebih utama dari sisi malam hari .. karena padanya ada (malam) laylatul qodar.

والعشر الأول من ذي الحجة أفضل من جهة النهار؛ لأن فيها يوم عرفة، وفيها يوم النحر وهما أفضل أيام الدنيا،

Sedangkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah itu lebih utama dari sisi siang hari .. karena padanya ada hari ‘Arofah dan hari raya qurban (idul adha) dan keduanya merupakan hari-hari dunia yang paling utama.

هذا هو المعتمد عند المحققين من أهل العلم،

Dan inilah pendapat yang dipegang oleh para pakar dan peneliti dari kalangan ulama.

فعشر ذي الحجة أفضل من جهة النهار، وعشر رمضان أفضل من جهة الليل؛ لأن فيها ليلة القدر وهي أفضل الليالي، والله المستعان

Sehingga :
– 10 pertama Dzulhijjah itu lebih utama dari sisi siang hari, dan

– 10 terakhir Ramadhan itu lebih utama dari sisi malam hari karena padanya ada (malam) laylatul qodar yang merupakan malam-malam terbaik.

Wallahul Musta‘aan

(Fatawa Nuur ‘Alad Darb)

ref : http://www.binbaz.org.sa/node/17753

Do’a Berlindung Dari Hilangnya Nikmat

Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Di antara do’a yang pernah dipanjatkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasalllam,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
MIN ZAWAALI NI’ MATIKA,
WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIKA,
WA FUJAA ATI NIQMATIKA,
WA JAMII’I SAKHOTHIKA

“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari :
– hilangnya kenikmatan yang telah Engkau limpahkan,
– berubahnya al-‘aafiyah yang telah Engkau karuniakan,
– hukuman-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan
– dari segala hal yang bisa menyebabkan kemurkaan-Mu..”

(HR. Muslim no. 2739)

KETERANGAN
Makna berlindung dari

تَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ

TAHAWWULI ‘AAFIYATIKA

Maksudnya adalah berlindung dari bergantinya kondisi :
– sehat menjadi sakit, dan
– kaya (kecukupan) menjadi fakir/miskin.

Oleh karena itu, seseorang yang memanjatkan do’a ini, maka dia telah meminta kelanggengan al-‘aafiyah, yakni keselamatan dari setiap keburukan dan semua penyakit.

(Lihat al-Bahru al-Muhiith ats-Tsajjaaj fii Syarhi Shohiihi al-Imam Muslim bin al-Hajjaj jilid 42 halaman 482-489)

Menghidupkan Kembali Sunnah Di Hari Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Ibnu ‘Abbas -rodhiyallahu ‘anhumaa- berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari tasyriq..”

Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah -rodhiyallahu ‘anhumaa- pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.

(Dikeluarkan oleh imam Al Bukhari rohimahullah tanpa sanad -mu’allaq-, pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”)

● Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari (Imam Al Bukhari) rohimahullah berkata,

“Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)..”

(al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi – 1/168)

Kebanyakan Manusia Melalaikannya

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Amal sholih di 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah -diantaranya puasa- lebih Allah cintai dibandingkan amal sholih di 10 terakhir bulan Ramadhan..

Walaupun demikian, terhadap 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah ini manusia melalaikannya..

Hari-hari tersebut berlalu sementara manusia seperti kebiasaan mereka, engkau tidak menjumpai ada peningkatan dalam membaca al-Qur’an maupun ibadah-ibadah yang lainnya, bahkan untuk sekedar bertakbir saja sebagian mereka ada yang kikir untuk melakukannya..”

[ Asy-Syarhul Mumti’ – 6/470 ]

Menebar Cahaya Sunnah