Dalil TEGAS Tentang Sampainya Pahala Sedekah Untuk Orangtua Yang Sudah Meninggal…
Dari ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha, bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ، إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا»
“Ibuku mati mendadak, sementara beliau belum berwasiat. Saya yakin, andaikan beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapat aliran pahala, jika saya bersedekah atas nama beliau ?” Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya. Bersedekahlah atas nama ibumu.”
(HR. Al Bukhari 1388 dan Muslim 1004)
Dari Ibnu ‘Abbas rodhiallahu ‘anhumaa, bahwa ibunya Sa’d bin Ubadah meninggal dunia, ketika Sa’d tidak ada di rumah. Sa’d berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ»
“Wahai Rosulullah, ibuku meninggal dan ketika itu aku tidak hadir. Apakah dia mendapat aliran pahala jika aku bersedekah harta atas nama beliau ?” Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”
(HR. Al Bukhari 2756)
Ref : https://konsultasisyariah.com/11272-menghadiahkan-pahala-sedekah-untuk-mayit.html
EDISI – 24 Ramadhan 1441 / 2020 M
Luruskan Dan Do’akan
Dahulu ada seorang lelaki penduduk syam yang selalu berkunjung kepada Umar bin Khathab. Suatu ketika Umar kehilangan lelaki tsb. Umar bertanya kepada teman temannya. Mereka menjawab bahwa ia sudah berubah.
Maka Umarpun menulis surat kepadanya memberi nasehat.
Ketika orang itu membaca surat Umar, ia menangis dan kembali bertaubat dengan taubat yang nasuha.
Umar berkata:
هكذا فاصنعوا، إذا رأيتم أخا لكم زل فسددوه، وادعوا الله أن يتوب عليه، ولا تكونوا عونا للشيطان عليه
“Demikianlah hendaknya kalian lakukan. Bila kamu melihat saudaramu tergelincir maka luruskanlah ia dan do’akan agar Allah memberinya taubat. Dan jangan menjadi pembantu setan untuk menyesatkan sadaramu” (Hilyatul Auliya 4/97)
Namun..
Banyak diantara kita saat melihat saudaranya tergelincir..
Ia bertepuk tangan karena mendapat celah untuk memburukkannya…
Allahul musta’an…
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
EDISI – 23 Ramadhan 1441 / 2020 M
Karena Cinta Yang Tulus Kepada Allah
Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wa sallam berdoa:
أَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ
“Ya Allah aku memohon kepadaMu kenikmatan yang tak pernah habis, aku memohon kepadaMu kesejukan pandangan yang tak pernah putus. Aku memohon kepadaMu keridhoan kepada takdirMu. Aku memohon kepadaMu dinginnya kehidupan setelah mati. Aku memohon kepadaMu kelezatan memandang wajahMu. Aku memohon kepadaMu kerinduan untuk bertemu denganMu bukan karena derita yang menerpa bukan juga karena fitnah yang menyesatkan.” (HR Annasai)
Ibnu Rojab mengatakan bahwa ahli dunia biasanya menginginkan kematian karena derita yang menerpa padahal itu tidak boleh. Dan ahli agama menginginkan kematian karena takut agamanya terfitnah. Maka nabi memohon kepada Allah agar kerinduannya kepada Allah bukan karena itu, namun karena cinta yang tulus kepada-Nya…
(Syarah hadits labaik hal.95)
Di alih-bahasakan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Perbuatan Kebaikan Itu Mencegah Kejadian Yang Buruk
Ada seorang ibu bertanya: “ustadz.. di bulan ramadhan ini kan sangat dianjurkan sedekah. Tapi ana mau sedekah dilarang suami katanya kita nggak tahu kedepannya bagaimana pandemi ini.. apakah ana tetap sedekah ?”
Ana jawab..
Seorang istri tidak boleh menggunakan harta suami kecuali dengan izinnya. Tapi jika itu harta ibu pribadi maka silahkan atas pendapat yang kuat.
Cuma nasehat saya buat suami ibu bahwa justru di zaman seperti ini pahala sedekah lebih besar lagi.
Disebutkan dalam hadits:
ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,“Wahai Rosulullah, sedekah apa yang paling utama..?” Beliau menjawab:
« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .
“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “(andai) Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian. (Andai itu) telah menjadi milik si fulan..” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits ini disebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah saat kita pelit takut kemiskinan. Yakinlah bahwa sedekah itu tidak akan mengurangi harta sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun kekhawatiran suami ibu tentang masa depan yang tidak jelas adalah berasal dari ketakutan yang ditimbulkan oleh setan.
Barangkali dengan sedekah Allah mengangkat pandemi ini dan menghindarkan kita dari segala macam keburukan. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits:
صنائع المعروف تقي مصارع السوء
“Perbuatan kebaikan itu mencegah kejadian yang buruk.”(Dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
EDISI – 22 Ramadhan 1441 / 2020 M
Mutiara Do’a Malam LAYLATUL QODR
Simak penjelasan Ustadz Nuzul Dzikri, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
da0107162149




