Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhaili, حفظه الله تعالى berkata :
“Salam secara syariat dengan menggunakan lisan dan berjabat tangan merupakan tambahan kebaikan, dan termasuk perbuatan baik pada hari ini adalah meninggalkan berjabat tangan dikarenakan menolak mafsadah didahulukan atas mendatangkan mashlahat.
maka aku menganjurkan semua kaum muslimin untuk mencukupkan dengan salam menggunakan lisan dan meninggalkan untuk berjabat tangan, mempersedikit keluar dari rumah, mempersedikit perkumpulan-perkumpulan yang tidak harus, serius dalam menjaga kebersihan serta bertawakkal kepada Allah sebelum dan setelahnya..”
📌 المصافحة بالأيدي في هته الأيام ✍ تغريدة لفضيلة الشيخ أ.د #سليمانبنسليماللهالرحيلي حفظه الله
Dengan memohon izin Allah ‘azza wa jalla, kami kembali membuka kesempatan untuk berpartisipasi dalam menyiapkan bekal makanan dan minuman bagi ratusan penghafal Alqur’an, penuntut ilmu dan jama’ah masjid yang berpuasa di hari SENIN – 21 ROJAB 1441 / 16 MAR 2020
. Laporan penerimaan untuk ifthor puasa sebelumnya (SENIN – 12 MAR 2020) bisa dibaca DI SINI
. ===========================
. ⚉ Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (yang artinya) :
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.” [HR. Ahmad 5/192 – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]
⚉ Dalam hadits lainnya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (yang artinya):
“Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”
Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]
================
Dengan izin Allah ‘azza wa jalla, kami membuka kesempatan untuk berpartisipasi dalam menyiapkan bekal makanan dan minuman bagi ratusan penghafal Alqur’an, penuntut ilmu dan jama’ah masjid yang rutin berpuasa di setiap hari senin-kamis.
.
Untuk sementara ini, kami terapkan kuota 300 paket ifthor bagi 300 orang yang berpuasa per setiap senin dan kamis, dan kuota ini bisa juga lebih atau kurang dari 300, tergantung laporan dari tim di lapangan.
. dalam program ini, kami bekerjasama dengan posko Assunnah Lombok Timur.
.
➡️ dikarenakan adanya perbedaan zona waktu (WIB – WITA), maka donasi untuk ifthor di setiap hari senin dan kamis kami batasi hingga pukul 12.00 WIB (13.00 WITA), dan donasi yang masuk setelahnya dan/atau melebihi kuota ifthor di hari tsb, maka akan dialokasikan untuk kuota ifthor di hari puasa senin/kamis berikutnya, dan begitu seterusnya in-syaa Allah…
. mau ikutan..?
. silahkan transfer ke :
. Bank Syariah Mandiri (kode bank 451) no rek. 748 000 4447 an. Al Ilmu TA’AWUN
.
. konfirmasi (tidak harus) : 0838-0662-4622
. jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus menyisihkan sebagian hartanya untuk sedekah ifthor untuk jama’ah Masjid Sulaiman al Fauzan dan santri/santriwati ponpes Assunnah Lombok Timur yang melaksanakan ibadah puasa, semoga Allah menerimanya…
. silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
. Nabi shollallahu ’alaihi wasallam bersabda:
.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
. Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin
Makna dari kalimat.. LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAH.. . adalah kita berlepas diri dari segala macam daya dan upaya kekuatan dari diri kita. Dan bahwa semua itu dengan izin dari Allah. Maka orang yang mengucapkan kalimat itu seakan-akan telah mengatakan.. . “kita tidak akan diberikan kekuatan dan tidak memiliki kekuatan kecuali dengan kekuatan dari Allah subhanahu wa ta’ala“ . Karena kekuatan, daya dan upaya adalah milik Allah. Kalau bukan karena Allah yang memberikan kekuatan, kita tidak akan mampu. . Allah yang memberikan kepada kita berbagai macam kekuatan. Baik kekuatan fisik maupun kekuatan jiwa. Kekuatan iman, taqwa, kesehatan dan lainnya semua milik Allah subhanahu wa ta’ala. Maka Allah yang memberikan kekuatan. Allah juga yang memiliki daya dan upaya. . ➡️ Oleh karena itu ketahuilah bahwa kita tidak mungkin bisa sholat, puasa, sedekah dll kalau bukan karena Allah yang memberikan kekuatan..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
“Apa saja yang dilakukan tanpa pertolongan Allah maka tidak akan terjadi, karena tidak ada daya dan upaya kecuali dengan bantuan Allah.. dan apa saja yang dilakukan tidak karena Allah maka tidaklah bermanfaat dan tidaklah kekal..”
“Ada 4 hal yang bisa menjadi sebab datangnya rezeki,
⚉ sholat malam ⚉ memperbanyak istighfar di waktu sahur (sebelum shubuh) ⚉ membiasakan sedekah ⚉ membiasakan berdzikir di awal siang (pagi) dan di akhirnya (petang)..”
Syaikh Rabie’ Al Madkhali حفظه الله تعالى berkata:
”وجدنا كثيرًا من السلفيين يدور حول الأشخاص لا يدور حول الحق، هذا مرض خطير، إيّانا أن ندور مع الأشخاص. فيجب أن نَزِنَ الأشخاص بالحق،لا نزن الحق بالأشخاص، وأن نعرف الرجال بالحق، لا نعرف الحق بالرجال “
“Banyak kita dapati orang yang mengaku salafy masih fanatik kepada individu. Bukan fanatik kepada kebenaran. Ini adalah penyakit yang berbahaya. Jauhilah fanatik kepada individu. Kewajiban kita adalah menimbang individu dengan kebenaran. Bukan kebenaran yang ditimbang dengan pendapat individu. Dan hendaknya kita mengenali individu itu karena ia berpegang kepada kebenaran. Bukan menilai kebenaran itu karena dipegang oleh individu.”
📚 مناظرة حول الأوضاع في أفغانستان شريط (1)
Namun.. Ketika seseorang telah sangat mengagumi seorang ustadz.. Seakan ucapannya bagaikan wahyu dari langit.. Bahkan memberikan loyalitas dan permusuhannya di atasnya.. Inilah hizbiyah yang dilarang oleh Allah..
Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
“Mereka begitu peduli dengan urusan yang telah Allah jamin untuk mereka, namun mereka kurang peduli dengan urusan yang Allah perintahkan mereka dengannya. Mereka girang dengan urusan dunia, dan berduka bila gagal mendapatkan bagian darinya..
Namun mereka tidak berduka bila kehilangan kesempatan mengapai surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya. Mereka tidak girang dengan urusan iman, kegirangan mereka hanyalah urusan dirham dan dinar..”
Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Pembagian Kufur Berdasarkan Asli Atau Bukannya) bisa di baca di SINI
=======
. 🌿 Pembagian Kufur Berdasarkan Mutlak Atau Mu’ayyan 🌿
Kemudian Beliau (Syaikh DR Ibrahim Arruhaili) membawakan bab pembahasan yang ke-5, yaitu..
⚉ PEMBAGIAN KUFUR DILIHAT DARI MUTLAK ATAU MU’AYYAN-NYA
Ada 2 macam:
1⃣ PENGKAFIRAN SECARA MUTLAK
Dan ini ada 2 martabat
⚉ MARTABAT PERTAMA: Yaitu mengkafirkan sifat, yang sifatnya umum, seperti ucapan tertentu atau perbuatan tertentu atau keyakinan tertentu. Contoh misalnya, siapa yang mengucapkan begini, maka dia kafir, siapa yang melakukan begini maka dia kafir, siapa yang meyakini begini maka dia kafir.
“Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir”
➡️ Seperti juga perkataan Imam Ahmad rohimahullah, “Siapa yang mengatakan AlQur’an makhluk maka ia kafir”
⚉ MARTABAT KE-DUA : Pengkafiran terhadap sifat yang lebih khusus seperti kelompok tertentu atau firqoh tertentu, atau jama’ah tertentu. Seperti misalnya Yahudi, Nashoro, Rofidhoh, Jahmiyyah.
➡️ Contoh misalnya, kalau ada orang yang berkata Rofidhoh itu kafir, atau jahmiyyah itu kafir.
“Beimanlah sebagian dari Bani Isra’il dan sebagian lagi kafir”
Ini macam yang pertama yaitu pengkafiran secara mutlak.
2⃣ PENGKAFIRAN SECARA MU’AYYAN (INDIVIDU)
Apa itu ? yaitu mengkafirkan individu. Dengan mengatakan si Fulan kafir, dengan menyebut namanya.
➡️ Maka yang seperti ini para Ulama memberikan kaidah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah dalam Kitab Al-Istiqomah jilid 1 hal 164, “bahwa pengkafiran secara mutlak sama dengan ancaman secara mutlak tidak mengharuskan pelakunya itu langsung dikafirkan, sampai tegak padanya hujjah”
Yang harus diingat, bahwa ini untuk orang Islam yang melakukan kekafiran, adapun diluar Islam jelas mereka telah kafir, seperti Yahudi, Nashoro dan yang lainnya.
➡️ Beliau juga (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah) berkata, “Bahwasanya perkataan itu terkadang kufur, seperti perkataan kaum Jahmiyyah yang mengatakan sesungguhnya Allah tidak berbicara, Allah tidak terlihat di akhirat.. namun pelakunya belum tentu dikafirkan sampai tegak padanya hujjah” (Dalam Majmu’ Fatawa jilid 7/ hal 619)
➡️ Demikian pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rohimahullah dalam Kitab Adduror Asunniyah jilid 8/ hal 244), mengatakan, “Masalah kafir mengkafirkan individu itu masalah yang dikenal oleh para Ulama, yaitu apabila seseorang mengucapkan kata-kata kufur, maka dikatakan: “maka barangsiapa yang mengucapkan ini maka dia kafir”, akan tetapi orang yang mengucapkannya belum bisa dihakimi/divonis sebagai kafir sampai tegak padanya hujjah, yang dimana bisa menjadikan pelakunya kafir (kalau sudah tegak hujjah tersebut)”
Disini para Ulama membedakan antara takfir secara mutlak dengan takfir secara individu/mu’ayyan.
➡️ Maka contoh misalnya Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka ia kafir”
Ini mutlak, tapi apakah pelakunya langsung kita kafirkan secara individunya ? Belum tentu, sampai tegak dulu hujjah padanya.
➡️ Seperti misalnya Imam Ahmad rohimahullah mengatakan, “Siapa yang mengatakan AlQur’an mahluk, maka ia kafir” Tapi Imam Ahmad tidak mengkafirkan, Kholifah al-Ma’mun, demikian pula Kholifah al-Mu’tasim, demikian Kholifah al-Wathiq yang jelas-jelas mereka mengucapkan demikian, bahkan menyiksa para Ulama untuk mengucapkannya, kenapa ? Karena masih ada syubhat, masih ada penghalang.
.
. Wallahu a’lam 🌼 . Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
إن المؤمن يصبح حزينا ويمسي حزينا، ولايسعه غير ذلك، لأنه بين مخافتين,
“Sesungguhnya Seorang Mukmin semestinya pada pagi hari dalam keadaan bersedih, dan pada sore hari dalam keadaan bersedih, dan tidak ada pilihan selain itu. Karena ia di antara dua perkara yang menakutkan,
بين ذنب قد مضى لايـدري مـا الله يصنع فيه,
antara dosa yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang Allah akan perbuat dengannya,
وبين أجل قد بقي لايدري مايصيبه فيه من المهالك.
dan antara ajalnya yang tersisa yang ia tidak tahu apa yang akan menimpanya berupa kebinasaan.”