Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

Kaidah ke 3:

👉🏼  Dalam memberikan udzur dengan kebodohan tidak ada bedanya antara masalah aqidah atau ushul atau masalah parsial.

Pembedaan antara masalah ushul dengan cabang dimana kebodohan dalam masalah parsial dimaafkan sedangkan dalam masalah ushul tidak dimaafkan sama sekali tidak berdasarkan dalil dan tidak pula atsar.

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Adapun masalah aqidah, banyak manusia mengkafirkan orang yang jatuh dalam kesalahan padanya. Pendapat ini tidak diketahui asalnya dari para shahabat dan tidak pula tabi’in dan tidak juga para imam kaum muslimin. Akan tetapi ia berasal dari pendapat ahlul bid’ah yang mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka seperti khowarij, mu’tazilah dan jahmiyah…” (lihat Minhajussunnah 5/239-240).

Diantara dalil yang menunjukkan kepada kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa ada seorang ayah yang berwasiat kepada anak anaknya agar kelak mayatnya dibakar dan abunya sebagian dibuang ke laut dan sebagian lagi dibuang ke darat. ia berkata, “Jika Allah mampu membangkitkan aku, pasti dia akan mengadzabku dengan adzab yang amat berat.”
Lalu Allah membangkitkannya dan bertanya kepadanya: “mengapa kamu lakukan itu ?” ia menjawab: “Karena aku takut kepadamu.” Maka Allah memaafkannya.

⚉  Syaikhul Islam rahimahullah berkata:
“Ini adalah keraguan terhadap kemampuan Allah dan kebangkitan, bahkan ia mengira tidak akan dibangkitkan..”
(Majmu Fatawa 23/346-347)

Namun Allah memaafkannya karena kebodohannya. Padahal meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan adalah masalah yang sangat pokok.
ini menunjukkan bahwa pembedaan masalah pokok dengan masalah cabang dalam pemberian udzur dengan kejahilan adalah tidak benar.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…

 

da1110161628

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…

Kaidah ke 2:

👉🏼  Seorang muslim tidak boleh dikafirkan karena perbuatan atau perbuatan atau keyakinan kecuali setelah ditegakkan hujjah padanya dan dihilangkan syubhat darinya.

⚉  Allah berfirman:

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

“Dan tidaklah Kami mengadzab sampai kami utus rosul kepada mereka.” (Al Isro : 15).

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Tidak boleh bagi seorangpun untuk mengkafirkan seorang muslim yang bersalah sampai ditegakkan padanya hujjah. Barang siapa yang telah islam secara yakin, maka tidak boleh dihilangkan keislamannya dengan alasan yang meragukan. Tidak hilang keislamannya sampai ditegakkan hujjah dan dihilangkan darinya syubhat.”
(Majmu Fatawa 12/465-466).

Dalam kisah Muadz bin Jabal yang pulang dari Syam lalu sujud kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu bertanya alasan mengapa Muadz sujud kepada beliau. Muadz menjslaskan bahwa ia melihat kaum ahlul kitab sujud kepada pendeta mereka. Muadz berfikir bahwa kaum muslimin lebih berhak sujud kepada Nabi. Namun Nabi mengingkari dan mengatakan bahwa bila boleh sujud kepada manusia, beliau akan menyuruh istri sujud kepada suaminya. HR Ahmad.
Dalam hadits tersebut, Nabi tidak langsung memvonis, tetapi beliau menghilangkan syubhat dan membimbing kepada sikap yang benar.

⚉  Kapankah disebut tegak hujjah ?

Sebagian ulama berpendapat bahwa sebatas sampainya alqur’an kepada seseorang maka telah tegak hujjah.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa sebatas sampainya alqur’an belum tegak hujjah sampai ia memahami dengan benar hujjah yang disampaikan kepadanya. Inilah pendapat yang paling kuat. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Dawud tentang empat orang yang akan mengemukakan alasannya pada hari kiamat. Diantaranya adalah orang tua yang pikun. ia berkata, “Ya Allah islam datang dalam keadaan aku telah pikun dan tidak faham.”

Kaidah ini menunjukkan bahwa yang berhak memvonis kafir terhadap muslim yang jatuh kepada perbuatan kufur adalah para ulama yang kokoh keilmuannya. Karena menegakkan hujjah dan menghilangkan syubhat bukanlah pekerjaan para penuntut ilmu yang dangkal ilmunya.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

 

da0810161707

Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Pertama…

Kaidah Pertama:

👉🏼  Memvonis kafir adalah hukum syari’at dan hak murni untuk Allah Ta’ala.

Bukan milik suatu organisasi atau jama’ah tertentu dan tidak diserahkan kepada akal atau perasaan atau fanatisme.

⚉  Ibnul Wazir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya vonis kafir itu adalah bersifat sam’iy (berdasar syariat) saja. Tidak diserahkan kepada akal. Dan dalil yang menunjukkan kekafiran sesuatu adslah syariat yang qoth’iy (pasti). Tidak ada perselisihan dslam masalah ini.” (Al Awashim wal Qowashim 4/178).

⚉  Imam Ghozali rahimahullah berkata, “Kufur itu adalah hukum syariat sama dengan status budak dan merdeka. Karena maknanya adalah penghalalan darah dan menghukumi kekal di neraka. Maka dasarnya harus syari’at baik dengan nash atau qiyas.” (Faishol tafriqoh bainal islam wazandaqoh hal 128).

⚉  Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ini tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh sebagian orang seperti Abu Ishaq Al Isfirooyini dan para pengikutnya yang mengatakan: “Tidak ada vonis kafir kecuali yang kami kafirkan.”

Karena vonis kafir itu bukan hak mereka, akan tetapi ia adalah hak Allah saja. Seorang manusia tidak boleh mendustakan orang yang mendustakan dirinya. Tidak boleh membalas menzinai istri orang yang menzinai istrinya..
(Minhajussunnah 5/244).

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 2…
Kaidah-Kaidah Dalam Kafir Mengkafirkan : Kaidah Ke 3…

 

da0710162247

Teman…

Teman..
lihatlah rumput ilalang yang bergoyang..
seakan membisikan pengalaman..
seraya berkata..
hidupku tak lepas dari terpaan angin..
terkadang aku merunduk..
terkadang pula meliuk liuk..
namun itu tak membuatku tersungkur..

Teman..
itulah kehidupan..
tak lepas dari aral yang melintang..
ujian dan cobaan silih berganti..
menyaring keimanan..
demikian Robb kita berfirman:
alif laam miim..
apakah manusia mengira akan dibiarkan berucap kami beriman sementara ia tidak diuji.. (al ankabut: 1)

Teman..
tidakkah kita ingin setegar batu karang..
yang selalu diterjang ombak samudra..
namun ia tegar tak bergeming..
seakan tersenyum anggun menuai kesabaran..

Teman..
sabar di dunia amat indah..
walau pahit dan getir terasa..
tapi ia sementara dan tak lama..
sedangkan sabar di neraka tak lagi berguna..
dalam masa yang amat panjang..
satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia..
manakah kesabaran yang engkau pilih..

Teman..
sabarlah di atas jalan Rabbmu..
sabarlah tuk menaati Nabimu..
sampai kita berjumpa dengan-Nya..
Nabi bersabda..
bersabarlah.. sampai berjumpa denganku di telaga haudl..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jatuh Cinta…

kata orang..
jatuh cinta itu lumrah..
sudah fitrah manusia..
tapi menyibukkan hati dari berdzikir..
selalu ingat si dia..
dalam banyak aktivitas..
padahal kata ulama..
mengingat manusia itu penyakit..
sedangkan mengingat Allah itu penawar kegundahan hati..

kata orang..
jatuh cinta itu indah..
tapi membuat mabuk kepayang..
sebetulnya jatuh cinta itu siksaan batin..
tersiksa oleh kekhawatiran..
tersiksa oleh kerinduan..
tersiksa oleh khayalan dan angan angan..
padahal belum tentu jodoh..
apalagi lelaki yang sudah beristri..
ketika jatuh cinta kepada wanita lain..
ia dijadikan lupa kepada yang halal..
dan sibuk dengan yang haram..

bertepuk sebelah tangan.. 
jatuh cinta tak berguna..
menderita di dunia sebelum di akhirat..
bagai mengejar fatamorgana..
padahal ada cinta yang tak kan pernah bertepuk sebelah tangan..
ia adalah cinta kepada Allah..
cinta yang memberi keindahan hidup..
cinta yang tak ada lagi di atasnya cinta..
rindu kepada Ar Rahman..
merasakan kenikmatan batin ketika asyik berduaan denganNya..

untuk itulah kita hidup..
untuk itu pula kita meninggal..
ya Rabb..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Tak Ingin Ku Ucapkan…

Aku tak ingin mengucapkan selamat untukmu..
Karena tuhanku hanya satu..
Pencipta langit dan bumi..
Dan pencipta sesembahanmu selain Dia..

Tuhanku Maha Esa..
Ia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan..
Dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya..
Tuhanku adalah Allah, Robbku dan Robb kalian..
Bukan Nabi Isa..
Bukan matahari..
Bukan pula makhluk lain yang lemah..

Tak pantas aku ucapkan selamat untukmu..
Karena kamu mempersekutukan Allah yang sempurna..
Dengan makhluk yang tidak sempurna..
Kamu rayakan kelahiran tuhanmu..
Padahal tuhan tak pernah dilahirkan tidak pula melahirkan..

Dia Allah tidak membutuhkan anak..
Tidak juga semua makhluk-Nya..
Justru semua makhluk-Nya butuh kepada Dia..
Kamu mengatakan Nabi Isa ‘alayhissalam itu Tuhan..
kelak di hari kiamat kamu akan melihat siapa Tuhan sebenarnya..
Bahkan Nabi Isa ‘alayhissalam pun akan ditanya oleh Allah..
“Hai Isa..
apakah kamu dahulu pernah mengatakan..
Ambil aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allah..”
Nabi Isa ‘alayhissalam menjawab : “Maha suci Engkau ya Allah..
Tak berhak aku mengatakan demikian..
Yang aku katakan adalah yang Engkau perintahkan kepadaku..
Agar kamu hanya menyembah Allah saja..
Tuhanku dan tuhanmu..”

Demikian yang diceritakan oleh Allah tuhanku..
Dalam kitab-Nya yang suci..
Yang tak pernah berubah sepanjang masa..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da2312162225

Sanksi Terberat…

.
.
WASPADALAH…!
.
Contoh:
.
Adakah rasa gembira di hati anda ketika melihat rekening koran di akhir bulan dan mendapatkan bahwa nilai tabungan anda bertambah karena pihak bank memberikan riba dan sejenisnya..?
.
Jika iya, maka waspadalah saudaraku… Segera memohon ampun kepada Allah ‘azza wa jalla karena ini termasuk sangsi dari Allah… Iya sangsi, karena Allah telah mengharamkan riba (Al Baqoroh : 275) dan Allah beserta Rosul-Nya memerangi riba (Al Baqoroh : 278-279)… lalu kita bergembira dengan harta haram ini ?!.. Segeralah keluarkan harta riba tsb…
.
Semoga bermanfa’at, baarakallahu fiik
.
.
#riba
#haram
#bank

Menebar Cahaya Sunnah