Tiga Hal Yang Sangat Berharga Dalam Kehidupan

Tiga hal yang sangat berharga dalam kehidupan… Jangan sampai kita sia-siakan.

Muhammad bin Wasi’ -rohimahulloh- mengatakan:

Tidak ada yang tersisa dari kehidupan dunia ini kecuali tiga hal:

(Pertama): Sholat berjama’ah; engkau mendapatkan keutamaannya dan dimaafkan lupamu di dalamnya.

(Kedua): Kehidupan yang mandiri dan bersih; engkau tidak merasa berhutang budi di dalamnya pada orang lain, dan harta itu tidak mendatangkan dosa kepada Allah.

(Ketiga): Saudara yang baik denganmu, jika engkau salah; dia meluruskanmu..”

[Kitab: Roudhotul Uqola’, hal: 86].

——-

Di saat kita diganggu dengan kegaduhan berita oleh media-media.. kita perlu mengingat pesan-pesan sederhana seperti di atas ini.

Kita juga perlu menyadarkan diri, bahwa sebenarnya banyak berita yang hanya mengganggu pikiran kita.. kita hanya dibuat khawatir olehnya, tapi kita tidak bisa berusaha mengubahnya.

Jika kita hanya penonton, mengapa cari tontonan yang tidak mengenakkan pikiran.. sudah saatnya kita ganti dengan menonton kajian sunnah yang menyejukkan hati dan mendekatkan kepada ilahi.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Pembawa Polusi Agama Islam…

Sobat, Islam itu jernih dan terang benerang, namun sering kali dibuat keruh oleh ulah sebagian oknum dari ummatnya.

Tauhid, yaitu mengabdi dan menjadikan keridhaan Allah Ta’ala sebagai satu satunya tujuan hidup itu indah namun menjadi keruh karena ulah sebagian ummat islam. Sebagian ummat islam beribadah karena riya’, jabatan, status sosial dan lainnya, apalagi bila ada dari mereka yang sudah keracunan oleh kemunafikan atau kesyirikan, maka tauhid yang semula indah menjadi keruh.

As sunnah, yaitu beramal sesuai dengan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam itu indah, namun karena ulah sebagian ummat yang mencampurinya dengan budaya, selera, kemalasan dan rekayasa atau modifikasi maka as sunnah yang semula indah menjadi buram.

Akhlaq islam itu indah, namun karena ulah sebagian oknum muslim yang bersikap kaku, arogan, sombong, curang, khianat, dan noda lainnya, maka akhlaq islam terkesan menyebalkan.

Metode ulama’ salaf atau yang sering disebut dengan manhaj salaf itu begitu indah, namun karena ulah sebagian oknum yang menamakan dirinya salafy maka mahaj salaf yang semula indah nampak menakutkan.

Negri islam yang penuh dengan berkah amal sholeh dan ketaatan itu pasti indah, namun karena ulah sebagian oknum ummat islam maka negri islam yang semula indah menjadi gersang, seram nan menakutkan.

Karena itu sobat, mari berinstropeksi diri jangan-jangan anda adalah salah satu oknum yang telah menjadikan semua yang berhubungan dengan Islam yang semula indah kini menjadi nampak suram dan menakutkan.

Sekedar berteriak dan mengamalkan islam belum cukup, sampai anda sadar bahwa anda juga bertanggung jawab menjaga keindahan islam agar tetap indah nan jernih. Jangan sampai orang membuang islam yang begitu berkilau bak cermin hanya karena mereka melihat anda yang sedang bercermin.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وإن منكم لمنفرين

“Sungguh dari kalian ada orang orang yang menyebabkan masyarakat lari menjauh dari Islam.” (MUTTAFAQUN ALAIH)

Hadits di atas beliau sampaikan sebagai teguran keras kepada sebagian sahabat yaitu Mua’adz bin Jabal radhiallahu anhu, karena beliau memanjangkan sholatnya sampai ada dari jama’ah beliau yang memisahkan diri.

Kalau dari sahabat saja ada yang mendapat teguran karena sikapnya yang kurang tepat, maka mungkinkah saat ini semua ustadz dan para juru dakwah telah selamat dari sikap serupa, sehingga tidak layak diingatkan terlebih introspeksi diri dengan hadits di atas ?

Ya Allah, ampunilah dosa dosa hamba-Mu ini dan tambahkanlah ilmu kepadanya, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

3 Yang Bangkrut…

3 yang bangkrut :

1) Anjing pemburu, yang berburu susah payah namun buruannya diserahkan kepada tuannya

2) Orang yang pelit, ia berletih-letih mengumpulkan harta, namun ia sendiri tdk menikmatinya (krn pelit pada dirinya), harta tersebut pada akhirnya ia kumpulkan untuk orang lain (ahli warisnya)

3) Orang yang ghibah, ia bersusah payah beramal shalih namun toh amal shalih tersebut akan ia transfer ke orang yang ia ghibahi

(Faidah dari Dr Abdul Aziz as-Sadhan)

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 3

Menyambung dari pembahasan kajian kita pekan kemarin (baca PART # 2), tibalah saatnya Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu untuk menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam guna menyampaikan penjelasan sebabnya Ka’ab tidak ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu menceritakan dalam hadits yang telah disampaikan lalu, bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam setibanya di Madinah mendengarkan alasan tidak ikut berperangnya dari sedikitnya 80 orang dari kaum munafik setelah selesainya sholat dua rakaat di masjid selesai shafarnya dari Tabuk.

Kedustaan demi kedustaan dari alasan yang disampaikan oleh kaum munafik pun tidak ada yang dibantah, namun tidak ada juga yang dibenarkan. Setelah beliau memberikan himbauan untuk senantiasa taat pada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada kaum munafik, bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ber-istighfar kepada Allah Jalla wa’ala untuk mengampuni kesalahan mereka.

Sampai tiba giliran Ka’ab bin Malik menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan tiada hal yang keluar dari ekspresi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kecuali sebuah senyuman orang yang sedang marah, kemudian bersabda:

“Kemarilah!”

Ka’ab pun mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan duduk berhadap-hadapan dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan kemudian beliau membuka percakapan dengan santun kepada Ka’ab dengan sabda:

“Apakah yang menyebabkan engkau tertinggal bukankah engkau telah membeli unta untuk kendaraanmu?”

Lalu Ka’ab menjawab pertanyaan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam;

” Ya Rasulullah, sesungguhnya saya, demi Allah, andaikata saya duduk di sisi selain Rasulullah dari golongan ahli dunia, niscayalah saya rasa bahwa saya akan dapat keluar dari kemurkaannya dengan mengemukakan suatu alasan (palsu). Sebenarnya saya telah dikaruniai kepandaian dalam bercakap-cakap. Tetapi saya ini -demi Allah- yakin andai kata saya menyampaikan alasan palsu pada hari ini yang Rasulullah akan menerima dan ridha dengan alasanku itu, namun sesungguhnya Allah akan membuat Rasulullah marah terhadapku. Dan Sebaliknya jikalau saya menyampaikan alasan yang sebenarnya yang mungkin membuat Rasulullah marah terhadap diriku namun saya berharap akhir yang baik dari Allah ‘Azza wa jalla. Demi Allah, saya tidak punya alasan syar’i sedikitpun – sehingga tidak mengikuti peperangan itu. Demi Allah, sama sekali saya belum pernah merasa lebih kuat dan lebih ringan untuk mengikutinya itu, yakni di waktu saya tidak ikut perang tabuk.”

Demikiannya Ka’ab, lebih memilih jujur kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada berbohong. Padahal dirinya dikenal dengan kepiawaiannya dalam bahasa dan berbicara, serta merta tak membuatnya mau mengambil tindakan berdusta untuk alasan tidak berperang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan menggunakan kepandaian berbicaranya. Karena Ka’ab lebih takut kepada Allah Jalla jalaluhu jika membohongi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Tentu banyak pembelajaran dari penyikapan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ke dalam kehidupan kita. Banyak pembohong yang tidak sampai terpikir hal seperti yang dipikirkan Ka’ab. Secanggih-canggih pembohong hanya melihat hal di depan dirinya saja. Dirinya tidak melihat konsekuensi dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Ka’ab jelas memahami 100% konsekuensi berdusta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS: Ibrahim: 42)

Allah Maha Mengetahui. Semua yang apa-apa kita perbuat Allah mengetahui, hingga ke isi hati kita. Demikiannya elegan cara Allah bersikap kepada pendusta, segala hukuman ditangguhkan sampai pada waktunya. Dan inilah yang tidak terpikirkan oleh para pembohong. Dan Allah membenci para pendusta. Karena dusta adalah pokok kemunafikan.

Ulama Hasan Al Bashri berkata;

“Inti kemunafikan yang diatasnya dibangun kemunafikan adalah kebohongan” (dzammul kadzib wa ahlih hal 20)

Dari Abu Hurairah RadhiAllahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Bukhari).

Dan orang munafik tempatnya kelak adalah di neraka bawah. Karena kemunafikan adalah kekufuran.

Itulah yang dikhawatirkan Ka’ab bin Malik bin RadhiAllahu’anhu:

“Aku khawatir Allah membuat Anda (Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam) membenci kepada saya.”

Itulah konsekuensi dari berdusta. Sekalipun ada orang yang berdusta demi ridho orang yang didustakannya, kelak Allah akan membuat orang yang didustakannya menjadi benci pada si pendusta dengan sebab lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS: Ali Imran: 54)

Karena jika bermain tipu daya, Allah Jalla jalaluhu akan balas dengan tipu daya pula. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.

Ka’ab sadar betul, untuk menjadi orang bertaqwa adalah dengan sabar dan kejujuran. Karena Ka’ab memilih akhir yang baik. Ka’ab memilih jalan kejujuran untuk mengharap dapat senantiasa bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَاقِبَةُ للتقوى

Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (QS: At Thaha: 132).

Demikiannya, orang yang melakukan dusta itu hidupnya akan melelahkan. Karena dirinya akan terus berhadapan dengan dampak kebohongannya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

…عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ

”Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga…” (HR: Ahmad)

Kita kembali ke kisah Ka’ab, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda setelah mendengar tutur jujur Ka’ab:

“adapun ka’ab ia telah berkata jujur. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Mendengar hal tersebut, pulanglah Ka’ab ke rumahnya. Serta merta diperjalanannya Ka’ab ditemui oleh beberapa orang dari sekampungnya, dari Bani Salimah. Mereka melakukan provokasi terus-terusan kepada Ka’ab. Mereka berkata:

“Demi Allah, kita tidak menganggap bahwa engkau telah pernah bersalah dengan melakukan sesuatu dosapun sebelum saat ini. Engkau agaknya tidak kuasa, mengapa engkau tidak mengemukakan alasan palsu saja kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kepalsuan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tertinggal yang lain-lain. Sebenarnya bukankah telah mencukupi untuk menghilangkan dosamu itu jikalau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam suka memohonkan mengampunan kepada Allah untukmu.”

Demikiannya Ka’ab menjadi terpengaruh. Sampai-sampai dirinya ingin kembali lagi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan bermaksud ‘merevisi’ pernyataan sebelumnya.

Inilah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kita makhluk lemah. Kita sangat terpengaruh dengan apa yang kita dengar. Kita sangat tepengaruh dengan apa yang kita lihat. Kita sangat terpengaruh dengan lingkungan kita. Sejenak kita refleksi kepada Kaab bin Malik RadhiAllahu’anhu, orang yang telah duapuluhan kali berperang di jalan Allah, orang yang ikut bai’at Aqobah, dan dalam sekejap akibat perkataan-perkataan yang buruk, dirinya menjadi terpengaruh. Lalu bagaimana dengan kita?

Bagaimana kita bisa istiqomah, jika kita masih berada di lingkungan yang jauh dari yang mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Bagaimana kita bisa istiqomah, jika kita masih berada di lingkungan yang jauh dari yang mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam?

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengulang mengenai pentingnya peran pendengaran dan penglihatan sedikitnya hingga 22 kali. Berikut beberapa firman-Nya:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya:
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. al-Baqarah: 7)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra’:36)

Karena mata dan telinga adalah informan terbaik bagi hati kita. Dan jika kedua indera tersebut senantiasa dipaparkan dengan informasi kesyirikan, maka hati akan hancur. Demikiannya orang sekaliber Ka’ab sekalipun, dapat lemah atas paparan pendengaran yang buruk.

Sementara bagi sebagian kita; optimis dapat isitqomah sementara jarang mendengar ayat-ayat Allah? Mustahil.

Oleh karena itu senantiasa jagalah penglihatan dan pendengaran kita, sebagai langkah menjaga hati tetap istiqomah di jalan Allah…

Bersambung di PART # 4
Baca kisah sebelumnya di
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1625812731055857/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 3

Wahai Ahlussunnah, Bersabarlah…

Wahai Ahlussunnah, bersabarlah…

Dan teruslah mendakwahkan tauhid dan sunnah Nabi, semampu kalian dan sesuai batasan syariat… walaupun badai cobaan terus menerpa kalian… ujian itu pasti akan berlalu dan semoga kita bisa melaluinya dengan baik, amin.
Ambillah pelajaran dari kisah Nabi Musa alaihissalam dengan Firaun:

a. Fir’aun adalah raja yang jelas-jelas kafir… disifati oleh Allah sebagai musuh-Nya dan musuh Nabi Musa (QS.Thaha: 39)… bahkan dia mengaku tuhan (QS. Annazi’at: 24)… dia kejam dan biadab, sampai-sampai tega memberi perintah membunuh semua bayi laki-laki Bani Isroil di negerinya, entah berapa ribu jumlahnya (QS. Al-A’rof: 141)… dan masih banyak kejahatan, kebejatan, dan kebiadaban dia yang lainnya.

b. Fir’aun keadaannya demikian sudah sejak sebelum lahirnya Nabi Musa alaihissalam, hingga Nabi Musa diutus, dan biasanya seorang nabi diutus di usia ke 40 tahun.. setelah Nabi Musa diutus pun, dia masih seperti itu.. bahkan setelah melihat 9 mukjizat Nabi Musa pun masih seperti itu juga (QS. Al-Isro’: 101).

Bisa kita bayangkan berapa tahun Allah membiarkannya dalam kesesatan dan kejahatannya. Ibnu Jarir Ath-Thobari -rohimahulloh- mengatakan: “Dari lahirnya Nabi Musa sampainya keluarnya Bani Isroil dari negeri mesir 80 tahun”. [Tarikh Thobari 1/386]. Dan ini belum termasuk masa berkuasanya Fir’aun sebelum Nabi Musa lahir.
Meski demikian, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa -alaihissalam- untuk bersabar dalam mendakwahi Fir’aun, dengan mengatakan perkataan yang halus kepadanya, dan Allah memberikan harapan kepada Nabi-Nya mungkin saja dia sadar (QS. Thaha: 44).

c. Allah tidak memerintahkannya untuk memberontak dan menggulingkan Fir’aun… Bahkan akhirnya Allah memerintahkannya untuk membawa keturunan Bani Isroil yang beriman kepadanya untuk lari dan menyelamatkan diri dan umatnya yang beriman (QS. Asy-Syu’aro’: 52) .

Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi Musa alaihissalam, beliau terus mengikuti perintah Allah dengan apa adanya, hingga akhirnya Allah menyelamatkannya dari Fir’aun dan bala tentaranya.
Lihatlah bagaimana Allah menolong para pejuang agama-Nya, di saat mereka di puncak kelemahan, dan di saat musuh mereka di puncak kekuatan!

Ingatlah selalu bahwa Allah hanya memerintahkan untuk membela Islam sesuai kemampuan kita dan sesuai jalan yang Allah gariskan untuk kita… Di sisi lain, Allah juga telah memberikan jaminan akan menjaga agama-Nya… Oleh karenanya, jangan sampai kita melampui batasan-Nya, sehingga kita menjadi binasa sendiri.

d. Ingatlah pemerintah kita, masih jauh lebih baik dari Fir’aun… dan diri kita jauh lebih rendah kedudukannya di sisi Allah dari Nabi Musa -alaihissalam-… Jika Nabi Musa saja memilih jalan sabar dengan tetap mendakwahkan yang baik dengan halus dan beradab, maka harusnya kita juga demikian, wallohu a’lam.

e. Kalaupun kita mati dalam memperjuangkan agama-Nya satu demi satu, hingga kita semua mati dalam rentang waktu lebih lama, itu lebih baik bahkan jauh lebih baik daripada kita semuanya mati dalam waktu singkat… tentu ini hanya seandainya saja, dan semoga hal itu tidak terjadi pada para pejuang dakwah sunnah di negeri yang kita cintai semua, Indonesiaku… wallohul musta’an, wa ilaihil musytaka.

[Faedah ini, penulis rangkum dari tausiah Syeikh Tarhib Addausary -hafizhahullah-, guru besar ilmu ushul fikih Univ Islam Madinah, di rumah beliau pada tanggal 22 Januari 2017 M].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Kita Perlu Terus Belajar Untuk Menjadi Lebih Baik…

Bismillah
Akhi Ukhti rahimakallah

Siapa yang tidak tahu dengan kedudukan shalat
Rukun islam yang kedua
Tiangnya agama
Pencegah dari perbuatan keji dan munkar
Tempat mengadu dan istirahat
Awal yang akan dihisap pada hari Kiamat?

InsyaAllah semua pada tahu…

Namun ternyata tidak semua mengamalkannya
Dan yang mengamalkannya belum tentu shalatnya benar dan diterima

Yang belum shalat segeralah untuk bertaubat, rasakan nikmatnya shalat
Yang sudah shalat perhatikan shalatmu, kiranya diterima atau tidak oleh Allah

Karena ada orang yang shalat selama 60 tahun, ternyata satupun shalatnya tidak diterima, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً وَمَا تُقْبَلُ لَهُ صَلاَةٌ وَلَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلاَ يُتِمُّ السُّجُودَ وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلاَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ

“Sesungguhnya (ada) seseorang sholat selama enam puluh tahun, namun tidak ada satu sholat pun yang diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, namun tidak menyempurnakan ruku’nya.” [Hadits hasan riwayat al-Ashbahani dalam at-Targhib, lihat ash-Shohihah no. 2535]

Seorang muslim sejatinya tidak boleh beribadah asal-asalkan tanpa memperhatikan standar dari diterimanya amalan tersebut, yaitu :
1. Ikhlas
2. Sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Apakah shalatmu sudah benar dan baik?
Untuk baik hanya engkau yang tahu, dari niatmu
Untuk benar mungkin ada orang lain yang bisa melihat gerakan dan bacaanmu

Kita perlu terus belajar untuk menjadi lebih baik

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى 

Yang Dicela Bukan Dzat Dunianya, Tapi…

Faedah: Yang dicela bukan dzat dunianya, tapi tindakan buruk manusia terhadap dunia itu.

=====

Al-Hafizh Ibnu Rojab -rohimahulloh- mengatakan:
“Ketahuilah, bahwa celaan yang ada dalam Alkitab dan Assunnah terhadap dunia, bukan ditujukan kepada masanya; siang dan malam yang silih berganti hingga hari kiamat, karena Allah telah menjadikannya sebagai pengingat bagi orang yang ingin mendapatkan pelajaran atau ingin bersyukur.
Celaan itu juga bukan ditujukan kepada tempat dunia; bumi, yang dijadikan Allah sebagai hamparan dan tempat menetap bagi manusia.

Bukan ditujukan kepada benda-benda yang Dia tempatkan di dalamnya, berupa gunung, laut, sungai, dan sumber daya alamnya. Bukan ditujukan kepada apa yang Dia tumbuhkan di atasnya berupa tanaman dan pohon. Bukan ditujukan kepada apa yang Dia sebarkan berupa hewan-hewan dan yang lainnya.

Karena itu semua merupakan kenikmatan dari Allah untuk para hamba-Nya, mereka bisa mendapatkan banyak manfaat darinya, dengannya pula mereka bisa mengambil pelajaran dan bukti akan keesaan, kekuasaan, dan keagungan penciptanya.

Sungguh celaan itu hanyalah ditujukan kepada perlakuan-perlakuan anak adam terhadap dunia, karena kebanyakan perlakuan mereka terhadap dunia tidak mendatangkan akibat yang baik bagi mereka, tapi malah mendatangkan akibat yang buruk, atau tidak memberikan manfaat.

Adapun penyebutan bahwa dunia itu mengecoh dan menipu, maka pada hakekatnya dunia itu selalu memanggil manusia dengan pengajarannya, selalu menasihati mereka dengan ibrahnya, dan juga selalu menampakkan aibnya kepada mereka, berupa kematian-kematian orang yang hidup di atasnya, perubahan keadaan dari sehat menjadi sakit, dari muda menjadi tua, dari kaya menjadi miskin, dan dari mulia menjadi hina.

Hanya saja orang yang mencintai dunia telah ditulikan dan dibutakan oleh kecintaannya kepada dunia, sehingga dia tidak lagi mendengar panggilan (nasihat) nya”.
[Kitab: Jami’ul Ulum wal Hikam 2/98-99]

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Pertanyaan Untuk Anda…

Bismillah
AKhi Ukhti…

Sudah sejak kapan engkau menjadi seorang muslim?
Sudah berapa kali engkau mengkhatamkan al Qur’an?
Hanya engkau yang tahu dan bisa menjawabnya

Tahukah engkau bahwa biasanya seorang pegawai baru akan mendapatkan training atau penjelasan yang gamblang tentang aturan perusahaan, agar dia tidak salah dalam bekerja
Kitapun ketika naik pesawat selalu mendapatkan penjelasan beberapa hal yang harus diketahui oleh penumpang:
Cara memakai sabuk pengaman
Cara meletakkan barang
Cara memakai Pelampung
Cara Memakai masker pernafasan, siapa dahulu yang harus memakainya?
Apalagi yang duduk di pintu darurat
Bila kau berkata kepada pramugarinya, saya sudah tahu dan sudah sering kali naik pesawat, dia tetap akan menjelaskan karena seperti itulah SOPnya

Ada sebuah pertanyaan yang ingin ana sampaikan, moga kau bisa menjawabnya

Sebagai seorang muslim tentunya engkau membaca al Qur’an
ia terdiri dari 30 juz dan terbagi menjadi 114 surat: bermula dengan al Fatihah dan berakhir denga an Naas
Perintah apakah yang pertama kali disebutkan di dalam al Qur’an, yang harus dilaksanakan hamba ?
hmm

Apakah engkau harus berfikir untuk menjawabnya?

sepertinya tidak perlu, karena engkau adalah seorang muslim yang memang harus mengetahui dan mengamalkannya
Kalau ternyata engkau belum tahu, maka bukalah surat al Baqarah ayat 21

Aku tidak akan menuliskan di sini, engkau harus membuka al Qur’an dan mengetahui tempatnya
Lalu Bacalah bersama artinya, hayati maknanya dan amalkan serta sampaikan

Itu modal hidup seorang hamba di muka bumi ini, supaya tidak lagi muncul muslim-muslim yang tersesat dan tidak tahu jalan
Jangan pernah bosan mengulanginya, seperti pramugari yang tidak pernah bosan memberikan penjelasan pada penumpang pesawat

Barakallahu fiik

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Teman…

Teman..
lihatlah rumput ilalang yang bergoyang..
seakan membisikkan pengalaman..
seraya berkata..
hidupku tak lepas dari terpaan angin..
terkadang aku merunduk..
terkadang pula meliuk liuk..
namun itu tak membuatku tersungkur..

Teman..
itulah kehidupan..
tak lepas dari aral yang melintang..
ujian dan cobaan silih berganti..
menyaring keimanan..
demikian Robb kita berfirman:

alif laam miim..
apakah manusia mengira akan dibiarkan berucap kami beriman sementara ia tidak diuji..
(al ankabut: 1)

Teman..
tidakkah kita ingin setegar batu karang..
yang selalu diterjang ombak samudra..
namun ia tegar tak bergeming..
seakan tersenyum anggun menuai kesabaran..

Teman..
sabar di dunia amat indah..
walau pahit dan getir terasa..
tapi ia sementara dan tak lama..
sedangkan sabar di neraka tak lagi berguna..
dalam masa yang amat panjang..
satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia..
manakah kesabaran yang engkau pilih..

Teman..
sabarlah di atas jalan Rabbmu..
sabarlah tuk menaati Nabimu..
sampai kita berjumpa denganNya..
Nabi bersabda..
bersabarlah.. sampai berjumpa denganku di telaga haudl..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Saat Musibah Menerpa…

Ulangilah dzikir ini beberapa kali dan ingatkan diri Anda akan kandungan maknanya, hingga Anda benar-benar meresapinya.

Tidak lain, agar hati Anda rela dengan apa yang terjadi, karena itu adalah putusan Allah yang harus berjalan sesuai kehendakNya, dan Dia telah memberikan banyak kenikmatan di sepanjang hidup Anda.

Musyaffa’Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah