Orang-Orang Kafir Itu Membuat Tipu Daya dan Allah Membalas Tipu Daya Mereka…

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran/3 : 54 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”

Sebagian orang merasa berat memahami makna dari ayat ini. Bagaimana kita memahami bahwa Allah itu pembuat tipu daya yang terbaik ? Sementara tidak ada ta’wil untuk ayat tersebut ?

Jawaban.
Dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah masalah tersebut mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu bahwa tipu daya itu tidak selamanya jelek dan tercela dan sebaliknya tidak selamanya baik.

Misalnya ada seorang kafir yang akan membuat tipu daya terhadap seorang muslim, tetapi karena si muslim ini kebetulan seorang yang cerdik dan selalu waspada, maka dia balik membikin tipu daya agar niat jahat si kafir tersebut tidak sampai mengenai dirinya. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak bisa dikatakan bahwa si muslim ini telah berbuat kesalahan dan melanggar syari’at.

Hal ini akan lebih jelas ketika kita perhatikan sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الحَرْبُ خُدْعَةٌ

“Perang adalah tipuan” [1]

Kata “tipuan” dalam hadits ini sama sifatnya dengan kata “tipu daya” pada ayat di atas. Seorang muslim yang menipu saudaranya sesama muslim jelas hukumnya adalah haram, tetapi seorang muslim yang menipu orang kafir yang merupakan musuh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam (di dalam peperangan), maka hal seperti itu tidaklah haram, bahkan hukumnya wajib.

Demikian juga tipu daya seorang muslim terhadap orang kafir yang lebih dulu berniat membuat tipu daya terhadap dirinya dengan tujuan untuk menyelamatkan dirinya seperti ini jelas tidak tercela, bahka ini adalah tipu daya yang baik. Tipu daya ini dilakukan oleh seorang manusia. Lalu bagaimana kalau tipu daya tersebut berasal dari Dzat yang menguasai seluruh alam ? Yang Maha Tahu, Maha Bijaksana, Apakah mungkin tipu daya-Nya tercela ?.

Kesimpulan.
1. Tipu daya itu ada yang jelek dan ada yang baik

2. Segala sesuatu yang tercela menurut angan-angan kita, maka akan menjadi terpuji (menjadi sebaliknya) apabila disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Angan-angan/anggapan yang tidak dikembalikan kepada Allah (tidak berdasarkan dalil) merupakan suatu kesalahan.

4. Ayat di atas mengandung pujian terhadap Allah, bukan mengandung sesuatu yang tidak boleh di-nisbat-kan (disandarkan) kepada Allah.

[Disalin kitab Kaifa Yajibu ‘Alaina Annufasirral Qur’anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur’an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, Penerjemah Abu Abdul Aziz, Cetakan April 2002/Shafar 1423H]
_______
Footnote
[1]. Shahih Bukhari No. 3030, Shahih Muslim No. 1740

Sumber: https://almanhaj.or.id/356-orang-orang-kafir-itu-membuat-tipu-daya-dan-allah-membalas-tipu-daya-mereka.html

Sebuah Nasehat Untuk Pemberi Nasehat

Sambil memberi nasehat, berusahalah untuk sedikit demi sedikit memperbaiki diri.

Sebagian ulama mengatakan:
“Ada TIGA ayat dalam Al Qur’an yang hendaknya selalu ada di depan mata seorang penuntut ilmu..”

Ayat pertama:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Aku tidaklah ingin melanggar larangan yang telah kusampaikan kepada kalian..” [QS. Hud: 88]

Ayat kedua:

لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُون

“Mengapa kalian katakan; apa yang tidak kalian lakukan..” [QS. Ash-Shoff:2]

Ayat ketiga:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُون

“Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat kebaikan, namun kalian lupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Alkitab?! Tidakkah kalian berpikir..?!” [QS. Albaqoroh: 44]

[Oleh: Syeikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizhohulloh, dalam Syarah Kitab Kabair, 35].

———

Janganlah Anda gunakan pesan ini sebagai penghalang menasehati orang lain… Tapi manfaatkanlah sebagai penyemangat dalam mengubah diri ke arah yang lebih baik.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, baik dalam menuntut ilmu, mengamalkan, maupun menyebarkannya, aamiin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hakekatnya Kita Dianggap Baik Bukan Karena Kebaikan-Kebaikan Tapi Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita

Muhammad bin Waasi’ rohimahullah berkata, 

لو كان للذنوب ريح ما جلس إلي أحد

“Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku..”

Jangan pernah ujub dengan amalan kita, jangan pernah terpedaya dengan pujian mereka yang memujimu.

Kalau ada satu aib kita saja diungkap oleh Allah maka semua pujian akan menjadi celaan..

AmpunanMu senantiasa hamba harapkan wahai Dzat yang menutupi aib-aib hambaNya.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Dua PERANG Yang Diabadikan Oleh Allah Dalam Al Qur’an…

Dua perang itu adalah perang Uhud dan perang Hunain.

Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut.
Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang orang yang berfikir.

Adapun Perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di jabal rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah.
Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan.

Allah berfirman:

أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم

Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri.
(Ali Imron: 165)

Allah tidak mengatakan: Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat.
Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…
Sebuah renungan yang perlu dicamkan..

Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak.

Allah berfirman:

لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين

Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang.
(At Taubah: 25)

Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…

Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Menuntut Ilmu Yang Tidak Pada Tempatnya…

Ibnu Qutaibah -rohimahulloh- mengatakan:

“Dahulu seorang penuntut ilmu mendengarkan (kajian) untuk mendapatkan ilmu, dia mendapatkan ilmu untuk diamalkan, dan dia mencari ilmu Agama Allah untuk mendapatkan manfaat dan memberikan manfaat kepada yang lain.

Tapi sekarang, penuntut ilmu mendengar untuk mengumpulkan (ilmu), dia mengumpulkan (ilmu) agar disebut-sebut, dan dia menghapal agar bisa menang (dalam debat) dan membanggakan diri”
[Ikhtilaful Lafzh, 18]

———

Subhanalloh… ini beliau katakan di zamannya, padahal beliau meninggal tahun 276 H, lalu bagaimana keadaannya di zaman ini, yakni: lebih dari SEBELAS ABAD setelahnya.

Semoga kita menjadi golongan pertama, bukan golongan kedua, aamiiin.

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Keajaiban Do’a

Syaikh Ali Musthofa Thonthowi rohimahullah mengisahkan,

“Dahulu, aku menjabat sebagai hakim di wilayah Syam.

Disuatu senja, aku dan beberapa kawan pergi menikmati sejuknya malam. Namun tiba-tiba aku merasakan pernafasanku begitu sesak.

Akupun pamit kepada kawan-kawan untuk pulang. Akan tetapi mereka meminta supaya aku tetap ikut bersama mereka.
Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa menemani mereka lagi. Aku ingin pulang dan mencari hawa yang baik.

Aku menyusuri gelapnya malam yang baru saja dihantarkan senja.

Tiba-tiba aku mendengar tangisan seorang wanita dari balik bukit kecil.

Suara tangis itu terdengar begitu keras, aku mendekat ke arah dimana suara itu berasal.
Ternyata kudapati seorang wanita yang sedang menangis dengan wajah yang memendam kesedihan yang mendalam. Dalam tangisnya ia tak henti-hentinya berdo’a.

Lalu akupun bertanya, “Saudariku. .. apa yang membuatmu menangis .?

Wanita itu menjawab:
“Suamiku adalah orang yang sangat keras dan suka menzhalimiku, dia mengusirku dari rumah dan merampas anak-anak dariku. Dia juga bersumpah untuk tidak akan melihatku selama-lamanya. Sementara aku tak punya siapa-siapa. Tak ada tempat untukku kembali.

Aku bertanya lagi “Mengapa engkau tidak mengadukannya kepada Hakim. .?”

Wanita itu menjawab: “Bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku bisa sampai kepada seorang hakim.?”

Sambil menangis Syaikh melanjutkan kisahnya,

“Wanita itu berkata seperti itu, padahal dia tidak menyadari bagaimana Allah menghantarkan seorang hakim untuknya (maksudnya beliau).

Subhanallah.. siapa yang menuntun hakim tersebut keluar ditengah gelapnya malam, untuk kemudian berdiri didepan wanita malang dan menanyakan sendiri apa keperluannya..?

Do’a apa yang telah dipanjatkan wanita malang itu, sehingga dengan cepat dijawab oleh Allah dengan cara seperti ini.. ?

Wahai engkau yang merasa dirundung duka dan mengira bahwa dunia begitu gelap hingga tak lagi dapat mengantarkanmu pada jalan keluar..

Angkatlah tanganmu ke langit dan jangan bertanya, “Bagaimana masalaahku akan diselesaikan.?”
Apakah engkau masih akan merasa bahwa hidup itu sempit..?

Jangan lagi.. khusyu’lah dengan penuh tunduk kepada-Nya. Dialah yang Maha Mendengar langkah seekor semut yang berjalan di tengah kegelapan malam.

Yakinlah.. bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.
Tidaklah Allah mengujimu dengan suatu ujian melainkan disana ada kebaikan untukmu, meskipun engkau menduga sebaliknya. .

Lapangkan dadamu.
Kalau bukan karena ujian, maka Yusuf tetap menjadi seorang anak yang manja dipangkuan ayahnya.
Namun setelah melewati ujian, ia kemudian menjadi penguasa Mesir.
Apakah engkau masih merasa bahwa hidup itu sempit..?

Yakinlah..
Bahwa disana ada bahagia yang menantimu setelah kesabaran yang panjang.

Ada keajaiban yang menantimu untuk membuatmu lupa betapa pahitnya ujian hidup..”

(Rowaa’i At-Thonthowi)

Tanya Kenapa…

Tanyalah diri Anda, mengapa dia lebih rajin membaca status di FB, WA, BB, dst… tapi dia malas membaca Al Qur’an ?!

Saya bantu jawab ya, “karena dia lebih SENANG kepadanya, sehingga dia lebih rajin membacanya”

Tanya juga dia, mengapa dia malas membaca Al Qur’an, sedang orang lain rajin membacanya ?!

Dan jawablah sendiri, “alasan paling mungkin adalah karena orang itu lebih mencintai Al Qur’an daripada Anda”

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Benih-Benih Syirik & Kultus Mulai Bersemi di Sebagian Majlis Taklim…

Dahulu, dan hingga akhir zaman, syirik itu mulai tumbuh berkembang dari sikap ghuluw, kekaguman dan sanjungan yang berlebih atau kelewat batas.

Mau tidur ingat dia, mau makan ingat dia, dan setiap disebut namanya atau mendengar suaranya, jantung berdejak keras, dag dig dug der.

Bahkan di kalangan wanita, melihat foto ustadznya seakan menjadi aktifitas rutin, rasanya rinduuuu gitu untuk bertemu, padahal dia sudah bersuami. Nama ustadznya lebih sering disebut dan menyejukkan hatinya dibanding nama suaminya.

Bisa jadi ada wanita wanita bersuami yang berbisik di hatinya: andai aku tidak menikah dengan dia, niscaya kini aku kan menawarkan diriku kepada sang ustadz pujaan hati. Anehnya, para suami bungkam seribu bahasa seakan tiada rasa cemburu atas sikap istrinya. Hiiih ngeriiii…

Diantara indikator benih benih cinta ekstrim mulai bersemi, adalah adanya sebagian orang yang jungkir balik demi dapat berselfi atau mencium tangan sang ustadz.

Subhanallah tauhid mulai luntur, pintu kultus kepada orang Sholeh dan cinta ekstrim mulai bersemi, sudah waktunya benih kultus semacam ini dikubur dalam dalam.

Ayo, kita ngaji tauhid, bukan hanya teorinya namun ayo berusaha menerapkan tauhid dalam setiap ucapan dan tindakan kita.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam murka ketika ada yang menyanjung beliau, dan segera tanpa ditunda sedikitpun beliau mengingkari pelakunya: 

قولوا بقولكم او ببعض بقولكم ولا يستجرينكم الشيطان

“Ucapkan kalian ini atau sebagian ucapan kalian ini, dan jangan sampai setan menyeret kalian kepada kesesatan.” ( Abu Dawud dan lainnya)

Pada hadits lain beliau bersabda: 

لا تطروني كما اطرت النصارى عيسى بن مريم انما انا عبد الله ورسوله

“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku, sebagaimana orang orang Masyarakat berlebih lebihan dalam memuji Isa putra Maryam. Sejatinya aku hanyalah seorang hamba Allah dan utusannya.” ( Bukhari)

Beliau dengan tegas menegur para pemuji yang berlebihan di tempat , tanpa menunda, atau dengan kata kata yang melankolis yang malah semakin mengobarkan sanjungan para pemuja “masyaAllah semakin nampak tawadhu’ “.

Saudaraku! Mari kita tebarkan tauhid, jaga tauhid ummat, dan berkorban demi murninya tauhid. Kita berjuang untuk mengikis syirik, kultus kepada figur yang berujung pada kesyirikan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah