Benarkah Anda Orang Baik..?

Benarkah anda orang baik? Ataukah sejatinya anda adalah …

Sobat, anda ingin tahu siapa diri anda? Sederhana, simak kiat praktis yang terungkap pada riwayat berikut:

Qurrah bin Khalid mengisahkan bahwa suatu hari Al Hasan Al Bashri menafsirkan ayat berikut:

{وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ} [القيامة: ٢]

“Dan aku tiada bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.” ( Al Qiyamah 2)

Beliau berkata:

” إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا تَرَاهُ إِلَّا يَلُومُ نَفْسَهُ يَقُولُ: مَا أَرَدْتُبِكَلِمَتِي، يَقُولُ: مَا أَرَدْتُ بِأَكْلَتِي، مَا أَرَدْتُ بِحَدِيثِ نَفْسِي، فَلَا تَرَاهُ إِلَّا يُعَاتِبُهَا، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَمْضِي قُدُمًا فَلَا يُعَاتِبُ نَفْسَهُ ”

“Sejatinya tiadalah engkau mendapatkan orang yang benar benar beriman melainkan ia selalu sibuk dengan mencela dirnya sendiri; ia selalu berkata kepada dirinya sendiri: apa tujuanku berbicara? Apa tujuanku makan? Apa tujuanku bermuhasabah (introspeksi diri)? Sehingga tiada pernah engkau menemuinya kecuali ia sedang sibuk mencela dirinya sendiri. Sedangkan orang keji, maka ia selalu merasa bebas melakukan apa saja, tanpa pernah merasa perlu untuk mencela dirinya sendiri.” ( Ahmad dalam kitab Az Zuhud)

Bagaimana dengan anda sobat! Mungkinkah anda lebih peka membaca kesalahan orang lain dan buta akan kekurangan diri anda sendiri? Semoga saja sebaliknya, anda lebih jeli mengenali kekurangan diri sendiri dibanding kesalahan saudara anda. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

KUBURAN NABI Shollallohu ‘Alaihi Wasallam Berada Di Masjid Nabawi ..?

KUBURAN NABI shollallohu ‘alaihi wasallam berada di masjid Nabawi …?

Inilah yang diyakini oleh sebagian kaum muslimin, padahal sebenarnya tidak demikian… Lebih jelasnya bisa di simak dari perkataan Syeikh Sholeh Sindi -hafizhohulloh- berikut ini:

Jadi, kuburan Beliau itu KELIHATANNYA di dalam Masjid Nabawi, padahal (sebenarnya) dia itu terpisah dengan sempurna dari Masjid Nabawi.

Karena kuburan beliau -shollallohu alaihi wasallam- itu tetap di dalam rumah (atau hujroh) beliau, sebagaimana keadaannya sebelum adanya perluasan Masjid Nabawi.

Perumpaan Hujroh Nabi dengan Masjid Nabawi adalah seperti tanah milik Zaid yang disampingnya ada tanah milik Amr. Kemudian Zaid membeli tanah yang berada di sekeliling tanah tetangganya itu.

Sehingga jadilah tanahnya Zaid mengelilingi tanahnya Amr dari semua arah, dan tanahnya Amr berada di tengah-tengahnya tanahnya Zaid.

Jadinya, gambaran di lapangan yang mungkin samar bagi orang yang tidak teliti melihatnya; bahwa tanahnya Amr adalah bagian dari tanahnya Zaid, padahal sebenarnya tanah tersebut adalah tanah yang berdiri sendiri tapi dikelilingi oleh tanah tetangganya.

Seperti inilah keadaan Hujroh Nabi dengan Masjid Nabawi, sama persis.”

[Kitab: Al-Jawab ‘An Syubhatil Istidlal bil Qobrin Nabawi ‘Ala Jawazit Tikhodzil Qubur Masajid, hal: 34-35].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

(( Silahkan save poster dengan resolusi tinggi dari Telegram Channel kami : https://t.me/bbg_alilmu ))

●   Di gambar diatas, ada pembatas antara makam di dalam rumah (hujroh) Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dengan wilayah masjid yaitu  berupa TIGA lapis dinding: dinding asli hujroh (biru), dan dua dinding setelahnya (merah tua dan merah muda).

●    Yang atas adalah arah utara… yang bawah arah selatan… arah kiblat di masjid nabawi adalah arah selatan.

●    Area berwarna Biru Muda adalah roudhoh

●    Jalur orang yang melewati makam Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam kelihatan di paling bawah gambar itu, jadi kotak simetris (kanan bawah), itu adalah dindng/pagar ke-empat untuk makam beliau, itulah yang sekarang nampak sebagai pagar kuning ke-emasan oleh para peziarah dari luar.

Perkara Yang Harus Dilakukan AGAR Kita Kelak Bisa Minum Dari Telaga Haudh…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

 

Tentang TELAGA HAUDH…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Waktunya Berpuasa…

Saat kita berada di hari-hari utama pada bulan haram (baca: bulan Dzul Qa’dah), tentu saja iman kita akan menggerakkan raga ini untuk memperbanyak ibadah.

Diantara ibadah yang direkomendasi oleh mayoritas ulama kita (madzhab hanafiyyah, malikiyyah, syafi’iyyah dan sebagian ulama hanabilah) adalah *berpuasa sunnah.*

Diantara dalilnya, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Perbanyaklah berpuasa di bulan-bulan haram (Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Al Muharram, dan Rajab) dan berbukalah di sebagian hari-harinya.”
(HR. Ahmad, Syu’aib Al Arnauth menyatakan hasan lighairihi)

Maka jangan menunda,
niatkan berpuasa di bulan haram, lakukan dan nikmati keutamaannya dalam kehidupan anda.

Catatan:
Banyak ulama menasehati agar kita tidak berpuasa sebulan penuh sebagaimana hadits diatas dan ‘Aisyah menyatakan Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.
(HR. Muslim)

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Amalan-Amalan Yang Berat Timbangan Pahalanya Di Sisi ALLAH…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Perkara Yang Menjadi Jaminan Seseorang Dimasukkan Ke Surga…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 22 : Membimbing Sikap Tawasuth (Pertengahan) dan Mencela Sikap Meremehkan dan Ghuluw…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 22

Al Qur’an membimbing kepada sikap tawasuth (pertengahan) dan mencela sikap meremehkan dan sikap ghuluw (melebihi batas).

Allah Ta’ala berfirman:
إن الله يأمر بالعدل

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada keadilan.” (An Nahl:90)

Terhadap para Nabi, Al Qur’an menyuruh untuk beriman kepada mereka, mencintai, menghormati dan mengetahui keagungan hak mereka.

Sebaliknya, Al Qur’an melarang bersikap guluw kepada mereka dengan mendudukkan mereka melebihi kedudukan mereka sebagai hamba dan nabi.

Al Qur’an mencela yahudi yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmu. Juga mencela nashrani yang beramal tanpa ilmu. Dan memerintahkan untuk berilmu dan beramal.

Dalam masalah infaq misalnya. Al Qur’an melarang kekikiran, namun juga melarang sikap pemborosan.

ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط

“Janganlah kamu merantai tanganmu ke lehermu (kikir) dan jangan pula terlalu membukanya (boros).” (Al Isra: 29)

Dan sebagainya

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 23 : Perintah Untuk Menjaga Batasan-Batasan Allah …

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Pelajaran Dari Kehidupan…

Ulat itu menjijikkan
Berjalannya pun lambat menggelikan…

Tapi Sang ulat mulai berbenah, ia pun menggeliat memasuki kempompong, memenjarakan dirinya untuk merancang cita-citanya, memulai mengepakkan sayapnya, dan terbang sebagai kupu-kupu.

Ia tak lagi menjijikkan tapi indah menawan
Ia tak lagi lambat berjalan, bahkan tak berlari tapi ia terbang menggapai impian…

Terkadang langkah harus terhenti
Bahkan harus mundur ke belakang..
Bukankah anak panah akan melesat melaju ke depan sesudah ia ditarik ke belakang ?

Fadlan Fahamsyah,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah