Soal Kesyirikan…

Pertanyaan :
Assalamu’alaykum ustadz, bagaimanakah hukum orang yang melakukan kesyirikan namun ia tidak tahu bahwa hal tersebut merupakan kesyrikan, apakah orang tersebut mendapatkan udzur sebagai orang yang tidak tahu?

Jawaban :
Wa’alaykumussalam warohmatullah.
Orang yang melakukan kesyirikan seperti sujud kepada selain Allah atau memberikan sesajian kepada jin atau lautan dan lain sebagainya. Apabila dia mengaku muslim dan tinggal di tengah muslimin maka orang tersebut telah sampai kepadanya hujjah. Islamnya telah batal. Klaimnya sebagai orang jahil tidak benar. Yang benar bahasa syar’i nya dia mu’ridh / berpaling.

Karena yang disebut jahil dalam syari’at adalah orang yang belum mendengar Al Qur’an belum mengetahui ada nabi namanya Muhammad. Merekalah yang layak disebut jahil. Dan orang jahil diberi uzur, sedangkan mu’ridh tidak.

Wallahua’lam.

Jafar Salih,  حفظه الله تعالى 

Ref : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10210079805615726&id=1354791662

TIGA Kelompok Manusia Berkaitan Dengan SIFAT Allah

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

 

Berdakwah Saat Kebodohan Merajalela, Lebih Mulia Daripada Berjihad…

Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ

“Tidak ada orang yg lebih baik ucapannya daripada orang yg berdakwah kepada Allah”. [QS. Fush-shilat:33].

Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallam- juga telah bersabda:

“Orang yang paling baik dari kalian, adalah orang yang mengajarkan Alqur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” [HR. Al Bukhori Muslim]

Tentunya keutamaan ini tidak terbatas pada amalan mengajarkan huruf-huruf Alqur’an, tapi juga mencakup amalan mengajarkan makna-makna yang terkandung dalam Alqur’an.

Bahkan, Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Menyampaikan sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- kepada umat; lebih afdhal daripada menyampaikan busur panah ke leher-leher musuh (dalam perang).” [Bada-i‘ut Tafsir 2/416].

Dan jangan meremehkan ilmu agama yang ada pada diri Anda, sebarkanlah walaupun sedikit, Allah-lah yang akan menambah dan memberkahinya, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. [HR. Al-Bukhori]. 

Tentunya ilmu Anda sudah lebih banyak dari satu ayat Alqur’an.

Semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 19 : Adat Istiadat Sebagai Rujukan Dalam Sebagian Hukumnya…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 19 :

Al Quran menjadikan adat istiadat sebagai rujukan dalam sebagian hukumnya.

Allah memerintahkan kepada setiap perkara yang ma’ruf. Dan perkara yang ma’ruf adalah semua yang dipandang baik oleh syariat, akal dan kebiasaan.

Perkara yang ma’ruf ada yang tak berubah sepanjang masa seperti sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Maka yang seperti ini tidak disesuaikan dengan adat istiadat.

Ada juga yang bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Maka perkara seperti ini dikembalikan kepada kebiasaan atau adat suatu bangsa dan kemashlahatan yang besar.

Contohnya Allah Ta’ala berfirman:

وعاشروهن بالمعروف

Pergaulilah istri istri dengan ma’ruf (An Nisaa: 19)

Dalam ayat ini Allah tidak menyebutkan bagaimana cara yang ma’ruf dalam mempergauli istri. Maka dikembalikan kepada adat suatu tempat selama tidak bertabrakan dengan syariat.

Contoh lainnya firman Allah

إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم

Kecuali perniagaan yang berdasarkan keridloan (Annisaa:29)

Masuk padanya semua jenis perniagaan di suatu daerah selama tidak dilarang oleh syariat. Demikian pula semua yang menunjukkan keridloan baik ucapan atau perbuatan. Telah ditunjukkan oleh ayat tersebut.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah ke 20 : Maksud Perumpamaan Dalam Al Qur’an…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Tahukah Anda…?

Tahukah anda bahwa kita sedang berada di bulan ibadah, bulan haji tepatnya?

Kita terbiasa mengatakan Ramadhan adalah bulan puasa. Sekarang marilah kita populerkan bahwa bulan Syawwal, Dzulqo’dah dan 10 hari pertama Dzulhijjah adalah bulan haji.

Mari kita simak QS. Al Baqarah: 197

الحج أشهر معلومات

“Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzulqo’dah, 10 hari pertama Dzulhijjah).”

Memang benar prosesi haji sendiri baru dimulai tanggal 8 Dzulhijjah, namun jika anda mau, anda sudah bisa melakukan ihram pada bulan Syawwal ini.

Selamat datang di bulan haji…
Hadirkan suasana ibadah, khususnya haji di dalam diri kita!

Perbanyaklah ibadah di hari-hari ini!

Bagi yang akan berangkat tahun ini, lakukan persiapan semaksimal mungkin!

Bagi yang belum mendaftar, segera daftarkan diri anda!

Bagi yang telah mendapatkan nomor porsi, selamat menunggu dengan penuh kesabaran!

Bagi yang telah berhaji, semikan kembali memori indah itu serta bumikan makna dan hikmah dalam keseharian anda, tancapkan tonggak-tonggak tauhid di dalam hati anda.

Catatan:
– Terinspirasi dari nasehat Al ‘Allaamah Syaikh ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti KSA tentang bulan haji.
– Lihat tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al Baqarah: 197.
– Penjelasan apa saja bulan-bulan haji diatas disitir dari penjelasan ulama, diantaranya pandangan madzhab Syafi’i.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله

Ternyata Benar, Ada Sungai-Sungai Pencuci Dosa

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Bagi mereka yang banyak dosa, ada tiga sungai besar yang dapat membersihkan mereka di dunia, jika itu tidak cukup membersihkan mereka, nantinya mereka akan dibersihkan di sungai (neraka) jahim pada hari kiamat.

1. Sungai taubat nasuha.
2. Sungai amal-amal kebaikan yang dapat menenggelamkan dosa-dosa yang mengelilingi pelakunya.
3. Sungai musibah besar yang dapat menebus dosanya.

Maka, jika Allah menginginkan hambanya kebaikan; Dia akan memasukkannya ke tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia akan datang dalam keadaan baik dan bersih, sehingga dia tidak perlu lagi pembersihan keempat..”

[Madarijus Salikin 1/312]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

Menebar Cahaya Sunnah