Tadabbur Surat Al Mulk… part # 4

​Kemudian Allah berfirman:

وهو العزيز الغفور

“Dan Dia maha aziz lagi maha ghofur.”

Aziz berasal dari kata izzah dan mempunyai tiga makna:

1. Kuat. Kekuatan yang maha dahsyat tiada tanding.

2. Kaya dan tidak butuh kepada yang lain. Dia tidak butuh kepada makhlukNya.

3. Kekuasaan. Dimana semua makhluk tunduk kepada kekuasaan dan kehendakNya.

Kaitan nama ini dengan isi ayat tersebut untuk memberikan tiga makna juga sesuai makna al aziz:

1. Dia maha kuat untuk mengadzab hamba yang tak mau tunduk dan beramal.

2. Dia tidak membutuhkan amal shalih manusia. Semua kebaikan hamba adalah untuk dirinya sendiri.

3. Kewajiban hamba adalah untuk tunduk kepada kehendak dan kekuasaanNya. Menjadi hamba yang selalu berkata sami’na wa atho’na. Mendengar dan taat.

Adapun Ghofur artinya yang selalu mengampuni dosa. Kaitan nama ini dengan isi ayat adalah:

1. Allah memaafkan siapa yang bertaubat dan kembali kepadaNya.

2. Amal shalih yang dilakukan oleh hamba dengan sebaik baiknya akan mendatangkan ampunan dari Allah Ta’ala.

Perhatikanlah. Dua nama ini Allah gandengkan Al Aziz dan Al Ghofur. Menunjukkan bahwa walaupun Allah maha kuat untuk mengadzab dan Dia tak butuh kepada makhlukNya tapi Dia maha pengampun. Tak semena mena dengan kekuatanNya yang luar biasa.

Berbeda dengan makhluk. Seringkali bersombong dengan kekuatan dan kekuasaannya sehingga bertindak semena mena.

Maha suci Allah. Betapa indahnya ayat ini bagi yang mentadabburinya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Tadabbur Surat Al Mulk… part # 3

​Telah kita ketahui makna Tabaroka. Allah berfirman:

تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير

Maha berkah Allah yang ditanganNya kerajaan. Dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.

Kerajaan Allah berkah dipenuhi dengan kebaikan yang tak pernah ada habis habisnya dan Ini menunjukan kepada sifat qudroh (kuasa). Maka dia maha kuasa atas segala sesuatu. 
Kuasa untuk menciptakan kerajaanNya yang amat luas. Menciptakan langit dan bumi. Menciptakan Arasy dan kursi. Dan sifat qudroh berkonsekwensi kepada sifat ilmu dan hikmah. 

Lalu Allah berfirman:

الذي خلق الموت والحيوة ليبلوكم أيكم أحسن عملا وهو العزيز الغفور

Dia yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha aziz lagi Maha ghofuur.

Ayat ini masih berhubungan dengan sifat qudrohNya. Artinya Dia kuasa untuk menciptakan kematian dan kehidupan. 
Allah mendahulukan kematian dari kehidupan karena beberapa hal:

1. Kematian lebih dekat kepada sifat qudroh, karena ayat sebelumnya menyebutkan tentang qudroh Allah.

2. Karena kehidupan didahului oleh ketidak adaan. Dan itu disebut kematian.

3. Karena penyebutan kematian lebih memberi motivasi untuk memperbaiki amal. Oleh karena itu Allah mengatakan: agar menguji kalian siapa yang lebih baik amalnya. 

Kemudian Allah menyebutkan hikmahndari menciptakan kematian dan kehidupan:

ليبلوكم أيكم أحسن عملا

Agar Allah menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.”

Allah tidak mengatakan: siapa yang paling banyak amalnya. Tapi siapa yang paling baik amalnya.
Fudlail bin Iyadl berkata, “Yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”

Beliau berkata lagi menjelaskan, “Amal apabila ikhlas tapi tidak benar tidak akan diterima. Dan apabila benar tapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima. Ikhlas adalah hanya karena Allah semata, dan benar adalah sesuai dengan sunnah (tuntunan Nabi).”

Maka kita berusaha beribadah kepada Allah dengan sebaik baiknya. Dalam sholat misalnya dijaga syarat syarat, rukun, kewajiban dan sunnahnya. Dalam puasa berusaha untuk menjauhi hal yang sia sia dan menghiasinya dengan ibadah. Dalam zakat dengan mengeluarkan harta yang baik bukan harta yang jelek. Dan sebagainya.
Berusaha mencari amal yang paling utama karena lebih besar pahalanya.

Mempergunakan waktu waktu yang utama untuk beramal. Dan tempat tempat yang utama untuk beramal shalih seperti di Makkah dan Madinah.

Mendahulukan perkara yang wajib dari yang hukumnya sunnah. Mendahulukan yang lebih besar mashlahatnya dari yang tidak demikian.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Salahkah Ucapan Minal Aa’idin Wal Faa’iziin..?

​Sebagian orang menyalahkan ucapan selamat saat hari raya “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin”, karena artinya:

“Semoga termasuk orang-orang yang kembali dan menang”. 
Mereka juga mengatakan: orang-orang arab tidak menggunakan ucapan selamat seperti itu.
Kita katakan: 
1. Arti yang paling tepat untuk ucapan “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin” adalah: “Selamat berhari raya, dan semoga termasuk orang yang mendapatkan kemenangan”. 
Maksud dari ucapan ini adalah: memberikan ucapan selamat berhari raya, dan MENDOAKAN semoga orang tersebut termasuk orang yang menang dengan banyak pahala, ampunan, dan kemuliaan yang dijanjikan Allah di Bulan Ramadhan. 

2. Tidak benar bila ‘ucapan selamat’ itu tidak digunakan orang-orang arab, karena saya sendiri -selama di Madinah- pernah mendengar beberapa orang arab mengatakannya, terutama mereka yang berasal dari negeri Syam.

3. Para ulama telah menegaskan, bahwa ucapan selamat untuk datangnya hari raya, tidak ada batasannya, selama maknanya baik, maka dibolehkan.. karena syariat tidak membatasinya dengan ucapan atau doa-doa tertentu.
Hal ini, sama dengan dibolehkannya merayakan hari idul fitri dengan permainan, nasyid, dan hal-hal mubah lainnya.. dan syariat tidak membatasi jenis permainannya, atau jenis nasyidnya… selama hal mubah itu tidak mengandung hal-hal yang diharamkan, maka dibolehkan.
Sehingga ‘ucapan selamat’ ini tidak mengapa, maknanya baik, dan cocok diucapkan di momen Hari Raya Idul Fitri, wallohu a’lam.

4. Bagi yang ingin memasyarakatkan ucapan selamat yang dipakai oleh para sahabat -rodhiallohu anhum-, maka itu merupakan hal yang sangat baik… yakni ucapan: Taqobbalallohu Minna wa Minkum yang artinya: semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua.
Namun, bukan berarti kita boleh mengharamkan atau menyalahkan ‘ucapan selamat’ yang lainnya tanpa dasar dalil yang kuat, wallohu a’lam.

5. Diantara contoh ucapan selamat lain yang maknanya baik dan biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin adalah: 
“‘Iidukum Mubarok” (semoga hari rayanya penuh dengan keberkahan.
“‘Iidukum Sa’iid” (semoga hari rayanya penuh dengan kebahagiaan).
“Taqobbalahu Thoa’atakum” (semoga Allah terima amal ketaatannya).

Tidak mengapa pula menyelipkan ucapan “Mohon maaf lahir batin”, setelah ucapan minal ‘aa-idin wal fa-izin, karena maksudnya; meminta atau mengingatkan agar saling memaafkan.. karena waktu hari raya adalah momen berkumpulnya karib kerabat, sehingga sangat pas bila digunakan uuntuk saling memaafkan dan mempererat atau memperbaiki tali silaturrahim.
Sekian, semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Selamat Datang Malam Yang Mulia…

​Saudaraku, 

Beberapa saat yang lalu kita memasuki malam ke 27

Sebagian ulama menyatakan malam ini adalah malam yang memiliki peluang terbesar jatuhnya lailatul qadr, bahkan shahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sekaliber Ubay bin Ka’ab begitu yakin dan berani bersumpah tentang hal ini. (HR. Muslim)

Saudaraku,

Manfaatkan kebersamaan kita dengan malam ini dengan baik. 

Muliakan dia!
Ia hanya sejenak dan beberapa jam saja.

Untuk saudaraku yang sedang mudik dan berada di jalan, berdzikirlah, angkatlah tanganmu, berdoa dan basahi lisan ini dengan asmaa’nya. Bukankah doa musafir dikabulkan oleh ALLAH?!

Isilah waktu dengan shalat sunnah dan qiyamul lail di dalam kendaraanmu, bukankah di saat safar Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan beliau (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dan seluruh ulama telah sepakat bolehnya shalat sunnah diatas kendaraan ketika safar. (Ibnu Quddamah)

Buktikan bahwa mudik bukan halangan untuk meraih lailatul qadr!!

“Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala niscaya dosa-dosanya akan diampuni oleh ALLAH”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Selamat beribadah saudaraku….

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Soal Adzan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir…

​Pertanyaan:

Ustadz hadits tentang mengadzankan bayi bagaimana derajatnya? Apakah bisa diamalkan..?

Jawab:
Badru Salam,

Ada tiga hadits mengenai mengadzankan bayi yang saya ketahui, yaitu :

Pertama : hadits Abu Rofi’ Maula Rosulullah ia berkata :
”Aku melihat Rosulullah adzan ditelinga Al Hasan bin Ali seperti adzan untuk sholat ketika Fathimah melahirkanya.”
Dikeluarkan oleh Abu Daud (5105), At Tirmidzi (4/1514), Al Baihaqi dalam Al Kubro (9/300),
Ahmad (6/391-392). Ath Thobroni dalam Al kabiir (931, 2578), Abdurrozaq (7986), Ath Thoyalisi (970), Al hakim (3/179) dan Al
Baghowi dalam Syarah sunnah (11/273). Semuanya dari jalan Sufyan AtsTsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rofi’ dari ayahnya.

Dalam sanad ini terdapat ‘Ashim bin Ubaidillah, ia lemah. Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata : ”munkar haditsnya.”
Ad Daroquthni berkata : ”Yutrok (ditinggalkan haditsnya). Sementara itu Ath Thobroni meriwayatkan dalam al kabiir (926, 2579) dari jalan Hammad bin Syu’aib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin Al Husain dengan
tambahan :” Beliau adzan ditelinga Al Hasan dan Al husain…diakhirnya dikatakan : ”dan beliau memerintahkannya.” Dan Hammad bin Syu’aib sangat lemah, selain itu ia diselisihi oleh Sufyan Ats Tsauri dalam riwayat lalu sehingga riwayatnya munkar secara sanad dan matan.

Kedua : hadits Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul iman (6/8620) dari Muhammad bin Yunus dari Al hasan bin Amru bin Saif As Sadusi mengabarkan kepada kami Al Qosim bin Muthoyyab dari Manshur bin Shofiyyah dari Abu ma’bad dari Ibnu Abbas sesungguhnya
Nabi adzan di telinga kanan Al hasan bin Ali pada hari kelahirannya dan iqomat di telinga kirinya.”

Kemudian setelahnya Al Baihaqi berkata : “padanya terdapat kelemahan.’

Kita katakan :
”Justru hadits ini palsu, illatnya adalah Al hasan bin Amru, Al hafidz Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib : ”Matruk “.
Adz Dzahabi berkata dalam Al Mizan :
”ia dianggap pendusta oleh Ibnul Madini, Al Bukhori berkata :
”Kadzdzaab (tukang dusta) “.
Ar Rozi berkata :” Matruk “.

Ketiga : hadits Al Husain bin Ali, yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman  (6/390), dan Ibnu Sunni dalam ‘amal yaum wal lailah (ح – 623) dari Yahya bin Al ‘Ala dari Marwan bin Salim dari

Tholhah bin Ubidillah dari Al husain bin Ali ia berkata, Rosulullah bersabda : ”Barang siapa yang kelahiran bayi lalu ia adzan di telinga
kanannya dan iqomat di telinga kirinya, tidak akan bermudlorot padanya ibunya bayi “.

Sanad ini palsu, ada dua cacat : Yahya bin Al ‘Ala tertuduh berdusta (muttaham bil kadzib) dan Marwan bin Salim matruk.

Kesimpulan : hadits mengadzankan bayi adalah dlo’if dan tidak boleh
dijadikan hujjah. Dan hadits-hadits tersebut tidak dapat saling

menguatkan karena hadits kedua dan ketiga tidak dapat djadikan sebagai

Penguat karena sangat lemah bahkan palsu, dan yang seperti ini tidak

dapat menguatkan sebagaimana disebutkan dalam ilmu mushtolah hadits.

Sekali Lagi… Soal ROKOK…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam,  حفظه الله تعالى   berikut ini

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, Instagram dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’alamembalas kebaikan Anda.

Sedih Berpisah Denganmu…

Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita….

Kita tahu tentang kualitas ibadah kita masing-masing.
Sempurnakah puasa kita….. atau kita robek puasa kita dengan kesia-siaan, kekejian dan kemaksiatan, sedangkan Rasulullah bersabda, Puasa akan menjadi perisai selagi tidak merobeknya.
(H.R Ahmad no: 1690).

Kita juga sadar akan kualitas bacaan al-Qur’an kita dan dzikir kita selama bulan Ramadhan…..
Kita juga paham kesungguhan kita dalam Qiyam taraweh dan shalat berjamaah di masjid bersama rawatibnya.
Kita juga mengetahui betapa kurangnya sedekah dan infaq kita selama bulan ramadhan.
Qiyam Lailatul Qadar, I’tikaf dan hataman al-Qur’an lewat karena acara mudik dan sibuk dengan urusan duniawi.

Logis kah….. malaikat turun ke bumi yang lebih banyak ketimbang jumlah kerikil yang ada di bumi sebagaimana riwayat yang dikeluarkan imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang dihasankan oleh Syekh ALBANI ternyata kita tinggalkan masjid tersebut hingga kosong tanpa penghuni yang berarti.

Memang benar, amalan kita selama bulan di ramadhan diterima Allah hanya semata-mata rahmat dan karuniaNya.
Bila bulan Ramadhan yang akan datang masih ada sisa umur hanya uluran tangan sang Kekasih yang Maha Rahman.
Makanya ulama salaf selama enam bulan setelah Ramadhan memohon agar amalnya diterima dan enam bulan berikutnya memohon agar dipertemukan kembali Ramadhan yang akan datang.

Kapan seorang mendapatkan ampunan lagi kalau bulan Ramadhan tak dapat pengampunan…
Kapan lagi seorang diterima amalnya kalau pada saat Lailatul Qadar ditolak…..
Kapan lagi kita menjadi orang shalih kalau pada bulan Ramadhan tidak bisa mengukir kesalihan….
Kapan lagi hati kita sehat, sementara dua penyakit kronis yaitu kejahilan dan kelalaian mengakar kuat dalam dirinya…

Setiap pohon yang tak berbuah pada musim buahnya maka yang paling pantas harus dipotong dan dijadikan kayu bakar….
Barangsiapa yang teledor pada musim tanam maka pada musim panen yang dirasakan hanya penyesalan dan kerugian….

Abdullah bin Masud berkata, Bila di antara kita (di bulan Ramadhan) yang amalnya diterima maka aku ucapkan selamat dan bila amalnya ditolak maka aku sampaikan takziyah kepadanya.
( Lathaiful Na’arif, Ibnu Rajab hal. 295).

AKU MEMOHON AMPUNAN KEPADA ALLAH DARI PUASAKU
SEPANJANG MASA DAN JUGA SHALATKU.
HAMPIR SELURUH PUASA KITA CACAT. DAN HAMPIR SELURUH SHALAT KITA JUGA DEMIKIAN.
AKU BANGUN DI TENGAH MALAM TETAPI TIDURKU LEBIH BAIK DARI BANGUNKU.

Terima kasih wahai Ramadhan dengan setia kau temani ibadahku….puasaku…..hataman al-Quranku…..tarawehku……i’tikafku….dan umrahku.
Para pecintamu pasti menetes air mata saat melepasmu……
Hati mereka galau, pikiran mereka kalut dan perasaan mereka gundah saat menyambut perpisahanmu…

Moga akhir perpisahan bisa mengobati kerinduan…
Moga detik-detik akhir ada penyesalan dan taubat untuk menutupi kekurangan….
Moga masih ada kesempatan untuk membalut luka amal yang mendalam….
Moga Ramadhan bisa menghantarkanku menjadi hamba yang dimerdekakan dari neraka.
Moga para tawanan Iblis bisa dibebaskan oleh TUHAN MAHA PENGAMPUN DAN PENYAYANG.

Zainal Abidin in Syamsuddin, حفظه الله تعالى

Sholat Tahajjud Berjama’ah Setelah Tarawih

PERTANYAAN

Ustadz, sebagian teman bila telah masuk sepuluh akhir ramadlan mereka lebih memilih sholat di waktu dini hari dan tidak sholat taraweh di awal malam. apakah ini dibenarkan..?

JAWAB

Perbuatan seperti ini tidak sesuai perbuatan salafush shalih.

Syaikh Sholeh Fauzan hafizhohullah pernah ditanya tentang ini. beliau berkata :

 أما صلاة التراويح، فإنها سنة مؤكدة، وفعلها بعد صلاة العشاء وراتبتها مباشرة، هذا هو الذي عليه عمل المسلمين.
أما تأخيرها كما يقول السائل إلى وقت آخر، ثم يأتون إلى المسجد ويصلون التراويح؛ فهذا خلاف ما كان عليه العمل، والفقهاء يذكرون أنها تُفعل بعد صلاة العشاء وراتبتها، فلو أنهم أخروها؛ لا نقول أن هذا محرم، ولكنه خلاف ما كان عليه العمل، وهي تفعل أول الليل، هذا هو الذي عليه العمل.

“Adapun sholat tarawih, itu sunnah muakkadah (hukumnya) .. Sholat tarawih dilaksanakan langsung setelah sholat isya dan rawatibnya. Itulah yang diamalkan kaum muslimin (salaf).

Adapun mengakhirkannya (tarawih)-seperti yang dikatakan penanya- kepada waktu yang lain. Kemudian mereka datang (lagi) ke masjid untuk sholat tarawih, maka ini menyelisihi amalan (salaf)..”

(Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Fauzan 3/76)

Bahkan syaikh Al Albani rahimahullah menganggap sholat tahajjud di waktu dini hari secara berjama’ah termasuk perkara bid’ah. beliau berkata:

ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﻬﺠﺪ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺑﻌﺪ ﻣﻨﺘﺼﻒ ﺍﻟﻠﻴﻞ، ﺑﺪﻋﺔ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﺇﺫ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ـ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ـ ﻭﻣﺎ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻭﻻ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻮﻥ ﻭﻻ ﻣﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢ .

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﺑﺘﺪﺃﻫﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﻲ، ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻞ ﻧﺤﻮ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻋﺎﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ الحرام…

“Sholat tahajjud (berjama’ah) yang didirikan di masjid masjid setelah lewat pertengahan malam adalah bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat.

Karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berjama’ah di masjid. Tidak pula para shahabat, tidak pula anak anak shahabat setelah mereka, tidak pula para tabi’in dan tabiuttabiin.

Yang pertama kali memulai adalah syaikh Abdullah Al Kholifi sekitar 50 tahun yang lalu di masjidil harom..”

(Silsilatul Hudaa Wannuur)

Dijawab oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 14 : Al Qur’an Menjadikan Sebab-Sebab Ketenangan Hati dan Bertambahnya Iman… 

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 14 :

Al Qur’an menjadikan sebab sebab ketenangan hati dan bertambahnya iman. Diantaranya adalah dengan memberikan kabar gembira.

Diantara contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

وما جعله الله إلا بشرى لكم ولتطمئن قلوبكم

“Tdaklah Allah menjadikannya kecuali sebagai kabar gembira untukmu dan agar hatimu menjadi tenang.” (Ali Imron: 126)

Allah juga berfirman:

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون. الذين ءامنوا وكانوا يتقون. لهم البشرى فى الحيوة الدنيا وفى الأخرة

“Ketahuilah sesungguhnya wali wali Allah itu tidak akan merasakan ketakutan tidak pula bersedih hati. Yaitu orang orang yang beriman dan mereka bertaqwa. Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan dunia dan di akherat kelak..” (Yunus: 62-64)

Diantara contohnya juga firman Allah Ta’ala:

وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين ءامنوا معه متى نصر الله، ألا إن نصر الله قريب

“Mereka diguncang (dengan ujian) hingga rosul dan orang orang beriman bersamanya berkata, “Kapankah pertolongan Allah datang?” Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al Baqoroh:214).

Demikian juga firman Allah Ta’ala:

فإن مع العسر يسرا. إن مع العسر يسرا

“Sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan.” (Al Insyiroh:5-6)

Dan ayat ayat lainnya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 15 : Menghilangkan Jawab Syarat Untuk…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Perhatikan Bawaan Anda Ketika Mudik ..!

“Baju sudah di packing… oleh-oleh…sudah, apa lagi ya?”

Gumam seorang calon pemudik. 

Saudaraku,

Saat kita me-list apa yang akan kita bawa untuk mudik, jangan lupa bawa niat ! Ya niat..

Ini hal yang tidak boleh ketinggalan dalam mudik kita kali ini. Hal yang merubah biaya, keletihan, kemacetan dan pengorbanan selama mudik menjadi bernilai pahala.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan niatnya tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niatkan dalam rangka birrul waalidain, menyenangkan orang tua.

Niatkan shilaturrahim, menjaga hubungan dengan sanak saudara di kampung halaman.

Maka setiap langkah dan setiap kilometer yang kita lewati diberkahi oleh ALLAH.

Semoga anda selamat sampai di tujuan dan mudik anda bernilai ibadah disisi ALLAH.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah