Susah Dan Suka Ngantuk Saat Tarawih dan Qiyaamul Lail…?
Terlebih lagi jika kita suka ketiduran di 10 malam terbaik di bulan suci, padahal stamina sudah dijaga dan berbagai vitamin plus kopi pahit telah diminum.
Simak testimoni dan tips para ahli ibadah papan atas:
Sufyan Ats Tsauri menyatakan:
“Aku tidak berhasil mengerjakan qiyamul lail selama 5 bulan disebabkan dosa yang aku lakukan.”
(Hilyatul Auliya’ 7/17)
Ada seseorang yang curhat kepada Hasan Al Bashri bahwa dia tidak pernah berhasil mengerjakan qiyamul lail, maka beliau berkata:
“Dosa-dosamulah yang menghalangimu.”
(Shifatus Shafwah 3/235)
Saudaraku,
Salah satu tips agar kita sukses mengerjakan tarawih dan qiyamul lail adalah menjaga diri dari dosa dan segera beristigfar saat khilaf dan lalai.
Apa yang anda lakukan di siang hari menentukan ibadah anda di malam hari.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى
Beda Antara Posisi Duduk Di Roka’at Akhir Sholat Witir Yang SATU Roka’at Dan Yang TIGA (2+1) Roka’at
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Perbedaan Sholat Yang Di Jamak Dan Di Qoshor
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
PERTANYAAN :
.
Selama safar, apakah kita sholatnya selalu di jamak dan qoshor..?
.
JAWABAN : klik LINK berikut..
Tentang Sholat Di-Jamak Tanpa Qoshor Atau Sebaliknya
Hukum Makmum Menyimak Bacaan Imamnya Dari Mushaf Dalam Shalat Taraweh…
Hukum makmum menyimak bacaan imamnya dari mushaf dalam shalat taraweh karena alasan mengikuti bacaan imam (sehingga kalau salah bisa membenarkan).
=====
Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh-:
“Membawa mushaf untuk tujuan ini menyelisihi sunnah, dilihat dari beberapa sisi:
1. Hal itu akan menjadikan dia meninggalkan (sunnah) meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat berdiri (dalam shalat).
2. Hal itu menjadikan seseorang banyak bergerak dengan gerakan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, yaitu gerakan membuka mushaf dan menutupnya, meletakkannya di ketiak atau saku atau yang semisalnya.
3. Hal itu hakekatnya akan menyibukkan dirinya dari shalatnya dengan gerakan-gerakan tersebut.
4. Hal itu menjadikan orang yang shalat meninggalkan (sunnah) melihat ke tempat sujudnya, padahal mayoritas ulama berpendapat bahwa melihat ke tempat sujud merupakah sunnah dan bahwa itu lebih afdhal.
5. Orang yang melakukan itu bisa jadi lupa bahwa dia sedang shalat jika tidak menghadirkan dalam hatinya bahwa dia sedang shalat.
Berbeda ketika dia khusyu’ dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, menundukkan kepalanya ke arah (tempat) sujudnya, tentu hal itu lebih dekat dalam menghadirkan (dalam hatinya) bahwa dia sedang shalat dan bahwa dia (sedang shalat) di belakang imam”.
[Majmu’ Fatawa Arkanil Islam 1/354, soal no: 282]
Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Bergurulah…
Ulama salaf terdahulu melarang orang yang hanya berguru kepada buku untuk mengajar dan berfatwa, sebagaimana mereka melarang belajar al qur’an dari orang yang tidak pernah talaqqi.
Abu Zur’ah berkata :
”shohafi (yang hanya berguru kepada buku) tidak boleh berfatwa…”. (Al Faqih wal mutafaqqih 2/97).
Imam Asy Syafi’I berkata :
”Barang siapa yang bertafaqquh dari perut
buku ia akan menyia siakan hukum.” (tadzkirotussaami’ wal mutakallim hal 87).
Seorang penya’ir berkata :
Siapa yang mengambil ilmu dari mulut guru
Ia akan terhindar dari penyimpangan dan perubahan.
Dan siapa yang mengambil ilmu hanya dari buku, maka ilmunya disisi para ulama seperti tidak ada.
Dalam kitab wafayatul a’yan (3/310) Al Hafidz ibnu ‘Asakir rahimahullah bersya’ir :
Jadilah engkau orang yang mempunyai semangat
Dan jangan bosan mengambil ilmu dari para ulama
Jangan engkau mengambilnya sebatas dari buku
Niscaya engkau akan terkena tashif dengan penyakit yang berat
Badru Salam, حفظه الله
Mari perbanyak DZIKIR ini…
Safety Player…
“Ayo semangat baca al quran, ini malam ganjil!!”
“Aku izin tidak terawih malam ini ya karena ada bukber lagipula inikan malam genap.”
Ucapan ini sering kita dengar di akhir ramadhan.
Ucapan yang menunjukkan bahwa banyak diantara kita yang semangat beribadah hanya di malam-malam ganjil di akhir ramadhan. Mereka terinspirasi hadits berikut ini:
“Carilah malam lailatul qadr di malam malam ganjil pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan”
(HR. Bukhari)
Itulah sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menjadi keyword untuk mencari malam itu dan semangat beribadah di malam-malam ganjil.
Saudaraku,
Tahukah anda bahwa sebagian ulama -seperti madzhab syafi’i- menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan malam lailatul qadr jatuh di malam-malam genap,
Pandangan ini memiliki dalil yang kuat dan patut diperhitungkan.
Imam Nawawi -rahimullah- menjelaskan:
Setiap malam di 10 malam terakhir memliki kemungkinan, namun malam malam ganjil memiliki peluang yang lebih besar
(Al Majmu’ 6/458)
Saudaraku,
Tulisan singkat ini bukan tempat untuk mengulas masalah ini secara ilmiah dan komprehensif.
Saya hanya ingin mengingatkan mengapa kita tidak main aman saja?
Jadilah seorang safety player !
Jangan ambil resiko untuk malam sekelas lailatul qadr!
Kalau untuk bisnis dunia kita bisa “play safe“, bagaimana dengan akhirat!
Lagipula caranya sangatlah mudah,
hidupkanlah 10 malam terakhir!
Ya, hanya 10 malam, bukan 100 malam, bukan 200 malam!
Jangan pilih kasih dan meng-anak tirikan malam-malam genap!
Dipastikan kita akan mendapatkan lailatul qadr -insyallah-.
Dan bukankah salah satu hikmah dirahasiakannya malam ini agar kita selalu semangat ibadah tanpa pilih kasih?!
Selamat mencari saudaraku…
Semoga ALLAH memberikan taufiq kepada kita untuk mendapatkannya.
Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 12 : Ayat-Ayat Yang Tampaknya Saling Bertentangan Dibawa Kepada Keadaannya Masing-Masing…
Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.
Kaidah ke 12 :
Ayat ayat yang tampaknya saling bertentangan dibawa kepada keadaannya masing masing.
Contoh disebutkan dalam surat Ar Rahman ayat 39 bahwa manusia dan jinn tidak akan ditanya tentang dosa mereka. Sementara dalam surat Al Hijir ayat 92 allah akan menanya mereka.
Maka di bawa kepada keadaannya masing masing. Surat Ar Rahman menunjukkan bahwa mereka tidak ditanya di satu keadaan dan akan ditanya pada keadaan yang lain. Atau mereka tidak ditanya apakah kamu melakukan dosa ini? Tetapi ditanya mengapa kamu melakukan dosa ini? Sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Abbas. Atau tidak ditanya dengan pertanyaan kasih sayang tetapi ditanya dengan pertanyaan penghinaan dan sebagainya.
Contoh lain, dalam surat Al Mukminun ayat 101 Allah meniadakan nasab pada hari kiamat kelak, sementara dalam surat abasa ayat 34 dan 35 Allah menyebutkan adanya nasab.
Surat Al Mukminun menunjukkan bahwa nasab tidak ada manfaatnya kelak di hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam surat asy syu’ara ayat 88 dan 89 bahwa di hari itu tidak akan bermanfaat harta dan anak anak kecuali yang datang dengan membawa hati yang selamat.
Dan sebagainya.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Kaidah Ke 13 : Dihilangkannya Obyek Yang Berhubungan Dengan Sebuah Lafadz…
Engkau Akan Mengalaminya Seorang Diri
Engkau akan mengalaminya seorang diri.. tanpa orang lain.. oleh karenanya, pikirkan baik-baik jalan hidupmu, jangan hanya ikut-ikutan orang lain.
Ibrohim bin Adham -rohimahulloh-:
“Apa hubunganku dengan manusia..?!
– Dahulu aku berada di perut ibuku seorang diri.
– Aku juga keluar ke dunia seorang diri.
– Aku akan mati seorang diri.
– Akan dimasukkan kuburan seorang diri.
– Dan akan ditanya seorang diri.
– Aku akan dibangkitkan seorang diri.
– Dan akan dihisab seorang diri.
– Jika aku masuk surga, aku masuk seorang diri.
– Jika aku masuk neraka, aku juga akan masuk seorang diri.
Di saat-saat itu, tidak ada seorangpun yang bisa memberikan manfaat baik kepadaku, lalu apa hubunganku dengan manusia..”
[Iqozhul Himam, karya Ibnu Ajiibah 1/176]
Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
