Bolehkah Sholat Tahajjud Setelah Taraweh Dan Witir..?
PERTANYAAN:
Ustadz, apabila kita telah sholat taraweh bolehkah kita tahajjud lagi..?
JAWABAN:
Para ulama berbeda pendapat apakah boleh sholat malam melebihi sebelas roka’at atau tidak.
Mayoritas ulama berpendapat boleh berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa: “Sholat malam itu dua roka’at dua roka’at.” diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya.
Hadits tersebut tidak memberikan batasan jumlah.
Bahkan diantara ulama menyatakan bahwa tidak ada perselisihan dalam masalah ini.
Al Qadli Iyadl rohimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan bahwa tidak ada batasan dalam sholat malam..”
Ibnu Abdil Barr rohimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan diantara kaum muslimin bahwa sholat malam tidak ada batasannya..” (shohih fiqih sunnah 1/414)
ini juga yang dirojihkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. dan inilah pendapat yang kuat.
atas dasar itu, boleh melakukan sholat tahajjud bila telah taraweh dan witir, dengan syarat tidak boleh witir dua kali. berdasarkan hadits: “Tidak ada dua witir dalam satu malam..” (HR Ahmad).
Namun bila mencukupkan dengan sholat taraweh bersama imam itu sudah mencukupi, berdasarkan hadits Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu tentang kisah sholat tarawih Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, Abu Dzarr berkata:
Lalu kami berkata: “Wahai Rosulullah, bagaimana bila sisa malam ini kita gunakan untuk sholat sunnah..?” Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang sholat bersama imam sampai selesai, maka dituliskan untuknya sholat semalam suntuk..” HR At Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan shohih..”
Dalam hadits tersebut Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan dengan sholat bersama imam.
wallahu a’lam
Dijawab oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Courtesy of Al Fawaid
Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 5 : Kata Tunggal Yang Diidhofahkan…
Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.
Kaidah ke 5 :
Kata tunggal yang diidhofahkan mempunyai makna umum juga sebagaimana bentuk jamaknya.
Idhofah artinya disandarkan kepada sesuatu. Contoh pintu sekolah, kata pintu disandarkan kepada sekolah.
Contoh kaidah ini diantaranya firman Allah:
وأما بنعمة ربك فحدث
“Adapun ni’mat Rabbmu maka ceritakanlah.” (Adl Dluha: 11)
Masuk padanya semua ni’mat baik ni’mat dunia atau ni’mat agama.
Contoh lainnya firman Allah Ta’ala:
حرمت عليكم أمهاتكم
“Diharamkan atas kalian ibu ibu kalian.” (An Nisa: 23)
Masuk padanya semua ibu walaupun tinggi seperti nenek, ibunya nenek, neneknya nenek dan seterusnya.
Diantaranya firman Allah Ta’ala:
ولا يشرك بعبادة ربه أحدا
“Dan janganlah ia menyekutukan ibadah Rabbnya dengan siapapun.” (Al Kahfi: 110)
Masuk padanya semua macam ibadah baik yang lahir maupun yang batin, baik ibadah hati, ucapan maupun perbuatan.
Dan seterusnya.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Penyesalan…
Berapa Kali Membaca Do’a Istiftah Dalam Shalat Tarawih..?
Jawab:
Membaca do’a istiftah saat tarawih tidak cukup hanya sekali di raka’at pertama, namun hendaknya dibaca setiap setelah takbiratul ihram (raka’at ke 3, ke 5 dan seterusnya) karena setiap 2 raka’at dalam shalat tarawih adalah shalat yang berdiri sendiri, terpisah dan tidak menyatu dengan yang sebelumnya.
Dijawab oleh salah satu pakar fiqh abad ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- dalam Jalasat Ramadhaniyyah 20/25 dengan perubahan redaksi.
Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Profil Orang Yang Berpuasa…
Jika engkau sedang berpuasa maka puasakanlah pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari kebohongan dan seluruh dosa, dan janganlah engkau menyakiti bawahanmu, berwibawa dan tenanglah dalam menjalani hari puasamu. Dan janganlah engkau menyamakan hari puasamu dengan hari disaat engkau tidak berpuasa.
(HR. Ibnu Abi Syaibah)
Inilah profil orang yang berpuasa dari seorang shahabat Nabi yang bernama Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhuma-.
Marilah secara perlahan kita tahan nafsu bicara, mendengar, dan melakukan sesuka hati.
Jadikan sabda Nabi -shallallahu alaihi wassallam- dibawah ini selalu berada di pelupuk mata kita:
من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في ان يدع طعامه وشرابه. رواه البخار
Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (dosa), maka ALLAH tidak butuh saat dia meninggalkan makanan dan minumannya. (HR. Bukhari)
Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 4 : Kata Yang Berbentuk Nakiroh…
Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.
Kaidah yang ke 4 :
Kata yang berbentuk nakiroh (tak tertentu) apabila berada dalam redaksi peniadaan atau larangan atau syarat atau pertanyaan menunjukkan makna umum.
Nakiroh adalah kata yang tak tertentu, biasanya tanda nakiroh dalam bahasa arab adalah masuknya tanwin pada kata tersebut. Seperti al baitu nakirohnya baitun. Apabila dimasuki alif lam maka ia menjadi ma’rifat (tertentu), dan tidak boleh tanwin.
Dalam ayat ayat alquran bentuk nakiroh memiliki makna yang bersifat umum bila dalam redaksi yang disebutkan dalam kaidah tersebut.
Contoh misalnya firman Allah Ta’ala:
واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا
“Beribadahlah kepada Allah dan jangan kamu menyekutukan dengannya sesuatu.” (4:36)
Kata syaian (sesuatu) dalam ayat tersebut berada dalam redaksi larangan. Maka maknanya mencakup semua jenis syirik baik yang besar maupun yang kecil. Baik syirik dalam niat, ucapan ataupun perbuatan.
Faidah mengenal kaidah ini adalah mengetahui kata yang mempunyai makna umum yang mencakup semua yang ditunjukkan oleh kata tersebut. Dan sesuatu yang bersifat umum harus dibawa kepada keumumannya, tidak boleh dikhususkan kecuali dengan dalil.
Para shahabat senantiasa memahami makna umum pada keumumannya sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Contohnya ketika Allah menurunkan firmanNya:
الذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
“Orang orang yang beriman dan tidak mencampur keimanan mereka dengan kezaliman, bagi mereka keamanan dan mereka mendapat hidayah.” (6:82)
Para shahabat datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah berbuat zalim?”
Mereka berkata demikian karena kata “zalim” dalam ayat tersebut berbentuk nakiroh dalam redaksi peniadaan. Sehingga mencakup semua makna zalim; baik zalim terhadap diri sendiri ataupun zalim kepada orang lain. Baik yang kecil maupun yang besar. Sehingga itu yang membuat mereka berat.
Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa yang dimaksud zalim dalam ayat tersebut adalah syirik. (Muttafaqun alaih)
Walaupun demikian semakin jauh dari kezaliman sekecil apapun semakin menunjukkan kesempurnaan imannya.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Dzikir Adalah Obat…
*ذكر الناس داء وذكر الله دواء*
“Membicarakan orang adalah sebuah penyakit dan berdzikir kepada ALLAH adalah sebuah obat”
Ungkapan indah diatas disampaikan oleh Ibnu ‘Aun -rahimahullah- (As Siyar 6/369).
Saudaraku,
Membicarakan orang akan menumbuhkan berbagai macam penyakit seperti hasad, benci, ghibah, dan lain-lain. Hati akan kotor dan akhirnya akan mati.
Dahulu ulama kita menyatakan:
اكثر الناس خطايا افرغهم ذكرا لخطايا الناس
Orang yang paling banyak kesalahan (dosa) adalah orang yang paling sering membicarakan kesalahan dan ‘aib manusia
(As Shomtu wa Aadaabul Lisaan 104)
Dan obat dari penyakit ini adalah berdzikir kepada ALLAH
Ketika seorang hamba menikmati saat-saat berdzikir dan melafazhkan asma-Nya, niscaya ia tidak akan mau menukarnya dengan membicarakan manusia, karena seorang pencinta lebih tertarik membicarakan kekasihnya dibanding pihak lain.
Lalu bagaimana dengan seorang hamba yang jatuh cinta pada Rabbnya?!
Saudaraku,
Di bulan suci Ramadhan ini, jangan sampai yang lebih sering keluar dari lisan kita adalah nama dan aib manusia dibanding nama-nama ALLAH dan berdzikir padaNya.
…والذاكرين الله كثيرا والذاكرات اعد الله لهم مغفرة واجرا عظيما
“… dan laki-laki serta wanita yang banyak berdzikir kepada ALLAH, ALLAH telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka.”
(QS. Al Ahzab: 35)
Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Tentang Me-LAFAZH-kan Niat Puasa
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
ARTIKEL TERKAIT
Apakah Niat Puasa Ramadhan Harus Dilakukan Setiap Hari..?
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 3 : Alif Lam..
Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.
Kaidah ke-3:
Alif lam yang masuk pada sifat dan nama jenis memberikan makna istighroq (menyeluruh).
Para ahli ushul dan ahli bahasa arab telah bersepakat atas kaidah ini.
Contohnya firman Allah:
إن الإنسان خلق هلوعا
“Sesungguhnya manusia itu tercipta dalam keadaan berkeluh kesah.”
kata al insan, mencakup semua insan karena alif lam di sini masuk pada nama jenis.
Contoh lainnya firman Allah:
وتعاونوا على البر والتقوى
“Saling tolong menolonglah dalam al birr (kebaikan) dan attaqwa.”
Masuk padanya seluruh macam kebaikan dan taqwa. Karena adanya alif laam tersebut.
Demikian pula nama nama Allah seperti Al aziz, masuk padanya semua makna izzah dan kemuliaan.
Ucapan: Alhamdulillah. masuk padanya semua makna pujian untuk Allah Ta’ala. Dan seterusnya.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Kaidah Ke 4 : Kata Yang Berbentuk Nakiroh…
KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP
Courtesy of Al Fawaid

