Fenomena TERAWEH KILAT.. Atau TERAWEH PATAS…

Melihat derasnya ilmu agama yang sampai kepada masyarakat indonesia, rasanya sudah tidak zamannya lagi memburu teraweh kilat.

Karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri.. Shalat teraweh kita menjadi TIDAK SAH.. Yang dengannya kita kehilangan pahala yang sangat besar.. Yakni pahala shalat semalam suntuk dan ampunan dosa yang telah lalu.

Sungguh tidak dibolehkan shalat bersama imam yang cepat sampai tidak thoma’ninah, sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Utsaimin -rohimahulloh-:

“Jika imam telah dikenal TIDAK THOMA’NINAH dalam shalatnya, dan berdirinya juga cepat sehingga makmum tidak bisa menyempurnakan bacaan Fatihah-nya, maka harusnya kamu tidak shalat bermakmum dengannya sama sekali, karena tidak boleh bermakmum dengan orang yang seperti ini.

Karena kamu diantara dua pilihan: mengikuti gerakan imam tapi meninggalkan rukun shalat (thoma’ninah), atau tetap menjaga rukun shalat (thoma’ninah) tapi tidak bisa mengikuti imam.

Dan kami benar-benar memperingatkan para imam tersebut dari tindakan yang demikian, (karena) para ulama -rohimahumulloh- telah menyebutkan: ‘bahwa diharamkan bagi imam untuk mencepatkan shalatnya sampai makmum tidak bisa melakukan apa yang diwajibkan (dalam shalat)’. Dan thoma’ninah adalah wajib.

Maka, para imam tersebut harusnya tidak boleh menjadi imamnya kaum muslimin, dan harus dicopot dari keimaman jika dia sebagai pegawai (imam resmi pemerintah).

Dan wajib bagi orang-orang yang bertugas memilih imam, untuk berkeliling ke masjid-masjid; siapa saja yang didapati keadaannya demikian, dan tidak menunaikan kewajibannya sebagai imam, harus mereka ganti, karena ini adalah kebiasaan buruk.

Saya tegaskan, apabila kebiasaan imam tersebut mencepatkan shalatnya sampai secepat ini, sehingga makmum tidak bisa membaca Fatihah karenanya, maka harusnya orang-orang yang shalat di masjid itu meminta agar imam tersebut diganti. Dan siapa yang tahu keadaan imam itu, dia tidak boleh shalat bermakmum dengannya, dia harus pergi ke masjid lain.”

[Liqo’ Babil Maftuh 9/146]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Bahaya UJUB…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan akan bahaya tersebut dalam sabdanya :

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri”(HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)

Demikian pula sabda beliau :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 1 : Tata Cara Talaqqi Al Qur’an…

Kita in sya Allah akan memulai kaidah kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 1 :

Tata cara talaqqi al Qur’an.

Syaikh Abdurrohman As Sa’diy berkata:
“Hendaknya manusia mempelajari ayat ayat al quran sebagaimana para shahabat mempelajarinya. Mereka mengambil sepuluh ayat atau kurang atau lebih. Mereka tidak menambahnya sampai mengetahui makna makna yang ditunjukkan oleh ayat ayat tersebut berupa iman, ilmu dan amal. Kemudian mereka menempatkannya pada kenyataan yang ada.
Mereka meyakini seluruh kabar yang ada padanya. Tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan yang ada padanya.

Mereka melihat kejadian kejadian dan kenyataan kenyataan yang ada pada mereka. Lalu muhasabah diri, apakah mereka telah melaksanakan ayat ayat tersebut padanya atau mereka kurang dalam melaksanakannya.

Mereka berusaha untuk selalu kuat dalam melakukan perkara perkara yang bermanfaat dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada mereka.

Bagaimana menyelamatkan diri mereka dari perkara yang membahayakan.

Lalu mereka berusaha mengambil petunjuk dari ilmu yang terkandung dalam ayat itu dan mempraktekannya dalam adab dan akhlak.
Mereka yakin bahwa ayat ayat itu adalah ucapan Allah yang harus dipelajari dan difahami maknanya serta diamalkan.

Barang siapa yang meniti jalan para shahabat tersebut, ia bersungguh sungguh untuk memahami firman Allah, akan terbuka untuknya pintu yang agung dalam memahami tafsir.

Terlebih bila ia menguasai bahasa arab dan memiliki pengetahuan yang luas tentang sunnah Nabi dan keadaan beliau. Maka itu adalah alat yang paling kuat untuk semakin memahami ayat ayatAllah.”
(Al qowa’idul hisaan hal. 9-10)

Maksud beliau adalah bahwa bila kita ingin berhasil dalam mempelajari alquran hendaknya kita
1. Mengikuti metode para shahabat dalam mempelajari Al Qur’an.
2. Bertujuan untuk mendapatkan hidayah dan menjalankannya.
3. Bersungguh sungguh mentadabburinya.
4. Dan dibantu oleh ilmu alat berupa bahasa arab dan pengetahuan yang luas tentang sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Siapa yang terpenuhi syarat ini, ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan terbuka untuknya ilmu ilmu yang terkandung dalam al Qur’an.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 2 : Keumuman Lafadz Bukan Kekhususan Sebab…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Berpuasa Berlatih Jadi Orang Miskin…

Sebagian mubaligh atau penceramah menjelaskan bahwa diantara hikmah berpuasa ialah melatih diri menjadi orang miskin. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan berpuasa anda sedikit mencicipi rasa derita yang di alami oleh orang miskin.

Sekilas ucapan di atas sungguh rasional, namun tatkala anda renungkan lebih mendalam ucapan di atas kurang sejalan dengan ayat berikut:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah 183)

Dengan jelas alasan berpuasa ialah agar anda menjadi orang yang bertaqwa, bukan agar anda menjadi orang miskin atau minimal memiliki kesiapan mental menjadi orang miskin.

Tentu dua hal ini sangatlah berbeda jauh, karena anda pasti tahu bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa tidaklah harus menjadi miskin terlebih dahulu. Kalaupun anda adalah orang kaya paling kaya, anda memiliki peluang besar menjadi orang yang bertakwa, sama besarnya dengan orang yang miskin.

Faktanya, betapa banyak orang miskin kafir, fasik dan sesat, sebaliknya betapa banyak orang kaya raya yang bertakwa, salah satunya ialah anda wahai saudaraku yang sedang membaca tulisan ini, bukankah demikian?

Saudaraku, sadarilah sejatinya taqwa ialah kemampuan anda mengendalikan hawa nafsu anda, sehingga hawa nafsu anda senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan syari’at agama. Bukan hanya tunduk dan patuh, bahkan anda berhasil menjadikan hawa nafsu anda bagian dari ibadah anda. Sebagaimana ketika berpuasa, anda menuruti nafsu makan dan minum karena menjalankan perintah dan mengharapkan pahala, bukan hanya sekedar melampiaskan selera belaka.

ANda menyantap hidangan buka puasa dan makan sahur, karena menjalankan perintah dan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

“Ummatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahurnya.” (Ahmad dan lainnya)

Sebagaimana pula anda menghentikan nafsu anda dalam rangka menjalankan perintah, sebagaimana tergambar pada firman Allah berikut ini:

)أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ
الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ(

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqarah 187)

Kemampuan untuk senantiasa menundukkan hawa nafsu alias mengendalikan hawa nafsu semacam inilah hakikat dari ketakwaan.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang benar-benar berhasil menundukkan hawa nafsunya, sehingga tiada yang ia inginkan atau cintai kecuali yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Dan tiada yang ia benci kecuali sesuatu yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya benci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وولده وأهله والناس أجمعين

“Tidaklah engkau dianggap beriman hingga diriku lebih ia cintai dibanding dirinya, anak keturunannya, keluarganya dan seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi ndak perlu berlatih kelaparan atau mencicipi hidup dalam kemiskinan. Silahkan anda menjadi orang kaya, namun berlatihlah mengendalikan hawa nafsu anda, agar tiada mendorong anda untuk berbuat maksiat, bahkan sebaliknya terus mengobarkan semangat dalam diri anda untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala Sang Penciptanya.

Karena itu sangat ironis bila selama bulan puasa; di siang hari anda berjuang mengendalikan hawa nafsu, namun ketika malam telah tiba anda kembali mengumbar hawa nafsu anda seakan anda kehilangan kekang atau kendali. Bila demikian ini sikap anda, maka dapat dipastikan anda gagal mengilhami nilai-nilai taqwa yang bertujuan menghantarkan anda menjadi orang yang benar-benar bertaqwa.

Selamat berpuasa, semoga Allah memudahkan anda untuk mengendalikan hawa nafsu anda.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Kecerdasan Seorang Muslim…

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid,  حفظه الله تعالى berkata :

“Termasuk tanda kecerdasan seseorang : bersemangat beramal yang lebih banyak pahalanya, dia paham amal apa yang paling Allah cintai, kemudian dia melakukannya. Dia paham amal apa yang lebih utama di sisi Allah kemudian dia mengikutinya.

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Rahasia Infaq Di Bulan Ramadlan…

Dalam hadits ibnu Abbas disebutkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan… al hadits.

Hadits tersebut memberikan faidah kepada kita bahwa kedermawanan hendaknya lebih di tingkatkan lagi di bulan Ramadlan. Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih meningkatkan kedemawanan di bulan Ramadlan secara khusus?? Al Hafidz ibnu Rajab menyebutkan banyak faidah mengapa demikian. Beliau berkata, “Meningkatnya kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan secara khusus memberikan faidah yang banyak, diantaranya:

Pertama: Bertepatan dengan waktu yang mulia dimana amalan dilipatkan gandakan pahalanya bila bertepatan dengan waktu yang mulia.

Kedua: Membantu orang-orang yang berpuasa, sholat malam, dan berdzikir dalam ketaatan mereka, sehingga orang yang membantu itu mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang dibantu. Sebagaimana orang yang memberikan persiapan perang kepada orang lain mendapat pahala seperti orang yang berperang.

Ketiga: Allah amat dermawan kepada hamba-hamabNya di bulan Ramadlan dengan memberikan kepada mereka rahmat, ampunan dan kemerdekaan dari api Neraka, terutama di malam lailatul qodar. Allah merahmati hamba-hambaNya yang kasih sayang, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ.

“Sesungguhnya Allah hanyalah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang.” HR Bukhari dan Muslim. Barang siapa yang dermawan kepada hamba-hamba Allah, maka Allahpun akan dermawan kepadanya dengan karuniaNya, dan balasan itu sesuai dengan jenis amalan.

Keempat: Menggabungkan puasa dan sedekah adalah sebab yang memasukkan ke dalam surga, sebagaimana dalam hadits Ali Radliyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya, dan dalamnya terlihat dari luarnya.” Seorang arab badui berdiri dan berkata, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Untuk orang yang membaguskan perkatannya, memberi makan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam karena Allah sementara manusia sedang terlelap tidur.” HR At Tirmidzi.

Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits ini semuanya ada dalam bulan Ramadlan, maka terkumpul pada seorang mukmin puasa, qiyamullail, shodaqoh, dan berbicara baik karena orang yang sedaang berpuasa dilarang melakukan perbuatan sia-sia dan kotor.

Kelima: Menggabungkan antara puasa dan shodaqoh lebih memberikan kekuatan yang lebih untuk menghapus dosa dan menjauhi api Neraka, terlebih bila ditambah sholat malam. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa puasa adalah perisai. Beliau juga mengabarkan bahwa shodaqoh itu dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api.

Keenam: Orang yang berpuasa tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka shodaqoh dapat menutupi kekurangan dan kesalahan tersebut, oleh karena itu diwajibkan zakat fithr di akhir Ramadlan sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang kotor.

Faidah lainnya adalah yang disebutkan oleh imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku suka bila seseorang meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadlan karena mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga karena kebutuhan manusia kepada perkara yang memperbaiki kemashlatan mereka, dan karena banyak manusia yang disibukkan dengan berpuasa dari mencari nafkah.”

Badru Salam, حفظه الله

Ramadlan dan Al Qur’an…

Bulan Ramadlan adalah bulan Al Qur’an, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap bulan Ramadlan tadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam. Ibnu Abbas berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an.. (HR Al Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tadarus Al Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam di malam bulan Ramadlan, ini menunjukkan bahwa waktu yang paling utama untuk membaca Al Qur’an dan mempelajarinya di bulan Ramadlan adalah di waktu malam. Dan ini juga ditunjukkan oleh sebuah hadits:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Shoum dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Shoum berkata, “Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, izinkan aku memberi syafa’at untuknya.” Al Qur’an berkata, “Aku telah mencegahnya tidur di waktu malam, izinkan aku memberi syafa’at untuknya. Keduanya pun diberi izin untuk memberi syafa’at.” HR Ahmad dan lainnya.

Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al Qur’an di bulan Ramadlan, oleh karena itu dahulu salafushalih lebih banyak menyibukkan dirinya dengan membaca Al Qur’an ketika datang bulan Ramadlan. Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Dahulu salafushalih memperbanyak membaca Al Qur’an di bulan Ramadlan, dalam shalat dan dalam kesempatan lainnya. Imam Az Zuhri rahimahullah apabila telah masuk Ramadlan berkata, “Ia hanyalah untuk membaca Al Qur’an dan memberi makan.” Imam Malik rahimahullah apabila telah datang bulan Ramadlan meninggalkan membaca hadits dan majelis-majelis ilmu dan lebih menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an dari mushhaf. Imam Qatadah biasanya mengkhatam Al Qur’an di setiap tujuh hari, dan di bulan Ramadlan beliau mengkhatam setiap tiga hari…

Imam Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani berkata, “Sufyan Ats Tsauri apabila telah masuk bulan Ramadlan, beliau meninggalkan semua ibadah (yang sunnah) dan bersungguh-sungguh membaca Al Qur’an. Dan Aisyah radliyallahu ‘anha membaca mushaf di awal siang di bulan Ramadlan, apabila matahari telah terbit beliapun tidur.”

Badru Salam, حفظه الله

Adab Menjaga Ucapan…

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kata-katanya,

“Menjaganya, berarti tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, tidak berbicara melainkan dengan sesuatu yang ia harapkan keuntungan dan faedah darinya.

Jika ia hendak berkata-kata, ia amati: Apakah kata-kata itu ada manfaat dan faedahnya atau tidak? Jika tidak, hendaknya ia menahannya.

Jika ia mendapati ada manfaatnya, ia amati lagi: Apakah ada kata-kata yang lebih memberi keuntungan dari yang akan dikatakannya? Maka hendaklah ia tidak melewatkannya.”

(Ad Daa wa Ad Dawaa’ hal. 225)

Abu Khaleed Resa Gunarsa,  حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah