Malam Rabu – 02 Ramadhan / 12 Maret

Malam Rabu – 02 Ramadhan / 12 Maret

Malam Selasa – 01 Ramadhan / 11 Maret

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ ٧
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar..”
[ Qs. Al Hadiid/57 : 7 ]
• Al Qurthubi rohimahullah berkata tentang ayat 7 dari Qs Al Hadiid/57,
“Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian pada hakikatnya bukanlah milik kalian. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta yang sebenarnya.
Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian..”
[ Tafsir Al Qurthubi ]
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullah pernah ditanya sbb :
PERTANYAAN
هل وردت تهنئة بدخول شهر رمضان، وإذا هنأني شخص ماذا أقول له؟ وجزاك الله خيراً.
– Wahai Syaikh yang mulia, apakah ada riwayat tentang ucapan selamat ketika masuk bulan Ramadhan..?
– Apabila ada seseorang yang mengucapkan selamat (ketika masuk bulan Ramadhan) kepadaku, apa yang bisa aku ucapkan untuk membalas ucapannya..?
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
JAWABAN
ورد عن السلف أنهم كانوا يهنئون بعضهم بعضاً في دخول رمضان ولا حرج في هذا
Telah diriwayatkan dari para salaf bahwa mereka saling mengucapkan selamat ketika memasuki bulan Ramadhan. Yang demikian tidaklah mengapa.
Misalnya seseorang mengucapkan
شَهْرٌ مُبَارَكٌ
SYAHRUN MUBAARAK (Semoga bulan ini diberkahi)
atau ucapan,
بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْ شَهْرِك
BAARAKALLAAHU LAKA FII SYAHRIK (Semoga Allah memberikan kepada Anda keberkahan bulan ini)
Atau ucapan lain yang semisal dengan itu.
Demikian pula, orang yang diberi ucapan tersebut hendaknya membalasnya dengan ucapan yang semisalnya, seperti:
وَلَكَ بِمِثْلِ هَذَا
WA LAKA BI-MITSLI HAADZAA (Semoga Anda juga mendapatkan semisal yang Anda doakan kepada saya)
atau ucapan,
وَهُوَ مُبَارَكٌ عَلَيْك
WA HUWA MUBAARAKUN ‘ALAIK (Semoga Anda pun juga diberkahi padanya).
Atau ucapan lainnya yang dapat menyenangkan jiwanya..”
(As-Silsilah al-Liqaa` asy-Syahri no. 70)
Kita semua sedang berjalan .. tidak ada yang bisa berhenti .. bedanya hanya pada kemana arahnya dan pada cepat lambatnya perjalanan kita.
=====
Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan,
فالعبد سائر لا واقف، فإما إلى فوق، وإما إلى أسفل، إما إلى أمام وإما إلى وراء، وليس في الطبيعة ولا في الشريعة وقوف البتة، ما هو إلا مراحل تطوى أسرع طي إلى الجنة أو النار، فمسرع ومبطئ، ومتقدم ومتأخر، وليس في الطريق واقف البتة، وإنما يتخالفون في جهة المسير، وفي السرعة والبطء … فمن لم يتقدم إلى هذه بالأعمال الصالحة فهو متأخر إلى تلك بالأعمال السيئة
“Seorang hamba itu berjalan, bukan berhenti. Kemudian bisa jadi ia pergi ke atas (kemuliaan) atau ke bawah (kehinaan), bisa jadi ia pergi ke depan atau ke belakang.
Dalam kehidupan ini -begitu pula dalam syariat- tidak ada yang berhenti sama sekali.
Ia hanya fase-fase yang akan digulung dengan sangat cepat, bisa ke surga atau ke neraka. Ada yang sampai dengan cepat, ada yang lambat, ada yang ke depan, ada yang ke belakang, dan tidak ada yang berhenti di jalan ini sama sekali.
Mereka hanya berbeda dalam arah perjalanan itu dan dalam cepat dan lambatnya .. barangsiapa tidak maju ke surga dengan amal-amal saleh, berarti ia mundur ke neraka dengan amal-amal buruknya..”
[Madarijus Salikin 1/278]
——
Sungguh betapa lemahnya manusia .. ternyata untuk berhenti saja, mereka pun tidak mampu .. maka tunduk dan taatlah kepada Allah dan bersabarlah untuk menjalaninya, hingga kita mendapatkan surga-Nya, amin.
✍
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Perjalanan di dunia ditempuh dengan menggunakan kendaraan..
Sedangkan perjalanan akherat ditempuh dengan menggunakan hati..
Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ (٨٨)
(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna.. (Qs Asy-Syu’ara’ ayat 88)
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ (٨٩)
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat. (Qs Asy-Syu’ara’ ayat 89)
Hati yang selamat dari kungkungan hawa nafsu dan syahwat..
Hati yang selalu mengagungkan Allah dan syariat-Nya..
Hati yang rindu untuk bermunajat dengan-Nya..
Hati yang merasa sedih karena memaksiati-Nya..
Itulah hati yang selamat..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
KEUTAMAAN BERWUDHU
Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu kemudian ia membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa karena penglihatan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air.
Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir.
Jika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah seluruh dosa dari langkah-langkah kakinya yang digunakan menuju maksiat bersamaan dengan air atau tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari berwudhu) dalam keadaan bersih dari dosa..”
(HR. Muslim no. 244)
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Sholeh Fauzan al-Fauzan حفظه الله تعالى
PERTANYAAN:
إذا لم أختم قراءة القرآن قبل رمضان فهل أبدأ من جديد مع بداية رمضان أم أكمل ختمه ، ثم أبدأ من جديد؟
Apabila saya belum mengkhatamkan bacaan Alqur’an sebelum bulan Ramadhan:
– apakah saya memulai bacaan Alqur’an dari awal lagi pada permulaan Ramadhan, ataukah
– saya khatamkan bacaan Alqur’an yang sebelumnya dahulu, kemudian baru saya memulai bacaan Alqur’an dari awal lagi..?
JAWABAN:
لا، أكمل القرآن ثم إذا أكملته تبدأ من جديد،
Tidak (yakni jangan mengulangi dari awal). Namun, sempurnakan dahulu bacaan Alqura’n yang sebelumnya (sampai khatam). Apabila sudah khatam, barulah engkau mulai (bacaan Alqur’an) lagi dari awal.
أما إذا إنك ما أكملته وتترك باقيه وتبدأ من جديد بعد كل رمضان، لا،
Adapun keadaanmu belum mengkhatamkan bacaan Alqur’an dan engkau abaikan sisanya, kemudian justru engkau memulai dari awal lagi setiap Ramadhan, maka janganlah (melakukan yang demikian).
ما هو طيب،
Yang demikian tidak baik.
أكمل القرآن، ثم بعد ذلك تبدأ من جديد.
Khatamkan dahulu bacaan Alqur’an (yang sebelumnya), baru setelah itu engkau mulai dari awal lagi.
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
والجاهل الظالم يخالفك بلا حجة ويكفرك أو يبدعك بلا حجة، وذنبك: رغبتك عن طريقته الوخيمة وسيرته الذميمة،
فلا تغتر بكثرة هذا الضرب، فإن الآلاف المؤلفة منهم؛ لا يعدلون بشخص واحد من أهل العلم
“Orang yang bodoh lagi zholim menyelisihimu dengan tanpa hujjah. Mengkafirkanmu dan membid’ahkanmu pun dengan tanpa hujjah.
Kesalahanmu di matanya karena tidak mengikuti tata caranya yang berpenyakit.
Maka jangan tertipu dengan banyaknya orang jenis ini.
Karena ribuan orang seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan satu orang ahli ilmu..”
(I’laamul Muwaqqi’in 1/308)
Orang yang tak memiliki ilmu..
Hanya mengandalkan pemikirannya saja..
Tak ada dasar dari kitabullah tidak pula dari hadits Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam..
Tidak pula dari para ulama yang terkemuka..
Jika tak sesuai dengan pendapatnya..
Ia tolak walaupun dalilnya jelas shohih..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata,
“Datang seorang nenek kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu beliau di rumahku.
Maka Nabi bertanya, “Siapakah kamu..?”
Ia menjawab, “Namaku Jatsamah Al Muzaniyah..”
Beliau bersabda, “Tapi namamu adalah Hassanah Al Muzaniyah. Bagaimana keadaan dan kabar kalian..? Bagaimana kalian sepeninggal kami..?”
Ia menjawab, “Bikhoir demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya wahai Rosulullah..”
Ketika ia keluar, aku berkata, “Wahai Rosulullah, mengapa engkau memperlakukan nenek itu dengan penuh kegembiraan..?”
Beliau bersabda, “Dahulu ia selalu mengunjungi kami di zaman Khodijah. Dan sesungguhnya husnul ‘ahdi termasuk keimanan..”
(HR. Al Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah hadits shohih 1/424)
• Ibnul Atsir rohimahullah berkata,
“Makna hadits ini adalah bagus dalam menjaga persahabatan dan menjaga ikatan yang telah lama..”
• Imam Assakhowi rohimahullah berkata,
“Maknanya adalah menjaga hubungan yang telah lama dengan orang yang mencintaimu, atau mencintai orang yang mencintaimu..”
Demikianlah kecintaan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang amat besar kepada Khodijah rodhiyallahu ‘anha..
Hingga beliau tak pernah melupakan teman dan sahabatnya..
Bahkan tetap menjaga hubungan dengan mereka..
Dan itu termasuk keimanan..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى