1265. Bila Pinjaman Bank Untuk Biaya Haji Sudah Dilunasi

1265. BBG Al Ilmu

Tanya:
Ini pertanyaan lanjutan dari soal # 1264 mengenai naik haji dengan uang bank.

Orang itu pinjamnya dari bank untuk setoran haji beberapa tahun lalu dan pinjaman tersebut sudah dilunasi. Pada saat dia meminjam uang bank hingga pelunasan, dia belum mengetahui haramnya hukum ribaa dll dan tidak sahnya haji jika pakai uang haram.

Pekan depan adalah jadwal dia dan rombongan berangkat haji. Apakah yang dia harus lakukan ? Batalkan keberangkatannya atau bagaimana ustadz ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Jikalau sudah bertekad kuat melaksanakan haji, maka bismillah tawakkal kepada Allah Ta`ala, adapun apa yang telah lewat dan belum tau, semoga Allah mengampuni segala ke-alpaan. Banyak beristighfar kepada Allah, dan berdoa agar ibadah haji nya mabrur, diterima oleh Allah Ta`ala.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1264. Sahkah Haji Yang Biayanya Berasal Dari Pinjaman Uang Bank ?

1264. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bolehkah kita membayarkan setoran naik haji dengan meminjam uang di bank dulu ? Dan nantinya kita bayarkan secara kredit?

Jawab:
Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Pinjam meminjam uang dari bank yang tentu saja disana terdapat riba yang di haram kan agama digunakan untuk suatu ibadah adalah tidak boleh. Karena uang yang dipakai adalah haram, sehingga tidak sah untuk ibadah. Diriwayatkan dalam hadits, “Sesungguhnya Allah Ta`ala adalah Dzat Yang Maha baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.”

Perlu diketahui bahwa asal hukum haji adalah wajib bagi yang mampu untuk perjalanan dan perbekalan selama ibadah berlangsung. Akan tetapi jikalau tidak mampu maka gugur bagi nya kewajiban haji. Ibadah haji tidak disyariatkan dengan cara berhutang, terlebih hutang bank.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1263. Hukum Menyemir/Mewarnai Rambut Bagi Wanita

1263. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apa hukum menyemir/mewarnai rambut bagi kaum wanita ?

Jawab:
Hukum mewarnai rambut untuk wanita (dengan warna selain hitam) adalah halal. Kecuali jika terdapat unsur merubah warna rambut tersebut untuk menyerupai orang-orang kafir, maka di sini hukumnya menjadi tidak diperbolehkan. Karena hal ini termasuk dalam masalah tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, sedangkan hukum tasyabuh dengan orang kafir adalah haram. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Adapun menyemir dari rambut warna hitam ke warna lainnya, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhohullah mengatakan,
“Adapun mengenai seorang wanita mewarnai rambut kepalanya yang masih berwarna hitam menjadi warna lainnya, maka menurutku hal ini tidak diperbolehkan. Karena tidak ada alasan bagi wanita tersebut untuk mengubahnya. Karena warna hitam pada rambut sudah menunjukkan keindahan dan bukanlah suatu yang jelek (aib ).

Mewarnai rambut semacam ini juga termasuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir).” (Tanbihaat ‘ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu’minaat, hal. 14, Darul ‘Aqidah)

والله أعلم بالصواب
Ref:
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-menyemir-rambut.html

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Bagaimana Mengatasi Rasa Marah Bila Di Ghibah

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Para Ulama sudah sering mengajarkan agar kita bersabar bila di ghibah (dibicarakan dibelakang kita) oleh orang lain, namun kita masih sering marah bilamana itu terjadi apalagi bila yang melakukannya adalah teman kita sendiri, bagaimana kiat-kiat agar kita bisa lebih bersabar dalam hal ini ?

Simak jawaban  Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى  sebagai berikut :

Kunci Sukses Dunia

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Semua orang pasti ingin sukses..

Beraneka raga cara yang mereka tempuh tak menggapainya..

Namun persepsi mereka tentang sukses juga berbeda-beda..

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadiah sahih telah menentukan bahwa sukses di dunia adalah dengan meraih kecintaan & keridhoan Sang Pencipta..

Sukses itu mendapat hal terbaik di dunia lalu bermanfaat di akhirat..

Jika Allah sudah mencintai hambaNya, pasti akan memberikan yang terbaik baginya..

Berkata Muhammad Al-Qurodhi, “Bila Allah akan memberikan hal terbaik di dunia kepada hambaNya maka Allah membuatnya zuhud terhadap dunia, memahami agamanya dengan benar & selalu memperhatikan setiap kekurangan & ‘aib pada dirinya, jika seorang muslim telah memiliki 3 perangai ini berarti ia meraih kebaikan yang berlimpah dunia akhirat.”

Berkata Ibnu Taimiyyah,”apakah anda tahu apa itu zuhud? Zuhud itu kekuatan yang selalu melemah hasrat terhadap setiap hal yang tidak bermanfaat di akhirat.”

Ya Allah lindungilah kami dari fitnah dunia & jadikanlah kami termasuk orang-orang yang zuhud!

Bagi Yang Ingin Mengulangi Hubungan Intim

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Disunnahkan bagi yang ingin mengulangi hubungan intim dengan pasangannya untuk berwudhu di antara dua aktivitas tersebut. Dikatakan oleh Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal itu lebih menyemangati dalam hubungan intim berikutnya. Pengulangan ini akan mudah ditemukan pada pengantin muda atau yang lama kangen tak berjumpa dengan istri.

Ada hadits yang disebutkan dalam Shahih Muslim,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ ». زَادَ أَبُو بَكْرٍ فِى حَدِيثِهِ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا وَقَالَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُعَاوِدَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya lalu ia ingin mengulanginya, maka hendaklah ia berwudhu.” Abu Bakr dalam haditsnya menambahkan, “Hendaklah menambahkan wudhu di antara kedua hubungan intim tersebut.” Lalu ditambahkan, “Jika ia ingin mengulangi hubungan intim.” (HR. Muslim no. 308).

Imam Malik menambahkan lafazh,

فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ

Berwudhu itu lebih membuat semangat ketika ingin mengulangi hubungan intim.

Faedah dari hadits di atas:

1- Hadits di atas menunjukkan disunnahkannya berwudhu bagi yang ingin mengulangi hubungan intim dengan istrinya.

2- Menurut jumhur (mayoritas ulama), berwudhu saat itu dihukumi sunnah dan bukan wajib. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengelilingi rumah istri-istrinya dan menyetubuhi mereka hanya dengan sekali mandi dan tidak dinukil beliau berwudhu antara hubungan intim tersebut. Akan tetapi, di antara hubungan intim tersebut, beliau tetap membersihkan kemaluannya.

3- Sunnah untuk wudhu tersebut berlaku jika ingin berhubungan intim lagi dengan istri yang tadi berhubungan atau dengan istri lainnya.

4- Wudhu di antara dua jima’ (hubungan intim) mengandung maslahat diniyah dan duniawiyah. Maslahat diniyah adalah karena taat pada perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan maslahat duniawiyah yaitu badan semakin bertambah segar dan bersemangat.

5- Manusia hendaklah tidak menzhalimi dan membebani dirinya sendiri dengan suatu aktivitas. Hendaklah ia tempuh suatu cara yang membuatnya terus semangat dalam meraih urusan dunia dan akhiratnya.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Darul Wathon, cetakan pertama, tahun 1425 H, 1: 596-599.

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1431 H, 2: 41-43.

Dampak Keikhlasan Dalam Kehidupan – Sesi Tanya Jawab

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Dalam video ini, Ustadz Badru Salam menjawab berbagai macam pertanyaan seperti :

1) Kita berjalan dan sholat di masjid, tentu dilihat orang banyak. Bagaimana agar tetap ikhlas ?

2) Saat sholat malam bersama istri, bagaimana posisi berdirinya ?

3) Benarkah kita dilarang menyapu air wudhu ?

4) Jika kita telah berwudhu lantas terkena najis, apakah kita berwudhu lagi ?

5) Saya menyumbang 10 sak semen ke pesantren dengan niat supaya hasil panen tahun ini meningkat. Salahkah niat saya ?

6) Shohihkah hadits makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang ?
7) Bolehkah melafadzkan niat ?

8) Ketika pergi ke pengajian kita pengen bareng sama temen. Apakah ini termasuk riya ?

9) Saat beramal kita ikhlas. Lalu ada orang yang memuji amalan kita dan kita merasa senang. Apakah amalan itu tetap diterima ?

10) Bagaimana hadits yang mengatakan barangsiapa yang mencari ilmu tetapi dengan niat bukan karena Allah maka dia tidak mencium syurga ?

11) Tatkala kita belajar ilmu duniawi, apakah harus ikhlas juga ?

12) Pahala amalan yang sirna karena riya itu apakah bisa kembali jika kita bertaubat  ? 

13) Bolehkah kita berdoa untuk minta dunia ?

14) Benarkah dahalu para sahabat berebut bekas air wudhu nabi ?

15) Seorang istri rajin tahajud dengan niat supaya suami tidak poligami. Benarkah niat ini ?

Simak jawaban Ust Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى

Klik :
http://salamdakwah.com/videos-detail/dampak-keikhlasan-dalam-kehidupan.html

Allah Tidak Ridho Jika Anda Tidak Ikhlas

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Allah menjanjikan balasan amal kebaikan dengan SURGA dan kenikmatan AKHERAT. Balasan kemuliaan dan kebahagiaan yang luar biasa besarnya, tak dapat dinilai dengan apapun juga.

Sebaliknya, dimata Allah DUNIA sangatlah HINA. Lebih hina daripada bangkai keledai. Tak lebih berat dari sayap seekor nyamuk. Bahkan, perumpamaan dunia itu seperti kotoran yang keluar dari perut manusia.

Lantas, bagaimana mungkin seorang hamba rela MENUKAR balasan akherat yang Allah janjikan dengan dunia yang hina dina dari amalannya.

Seorang hamba yang sholat, seharusnya dia ikhlas, sehingga dia berhak mendapat balasan kemuliaan di akherat. Namun MENGAPA dia sholat, hanya karena tidak enak dilihat bos atau temen sekantornya ?

ANDAI saja dia sholat dengan ikhlas, tentunya Allah akan berikan pahalaNya. Adapun balasan dunia berupa kecintaan manusia dan sebagainya, pastilah MENGIKUTI meski kita TIDAK MENGHARAPKANNYA.

“…Allah yang telah mensyariatkan sholat zakat puasa haji dan berbagai macam amalan sholeh dan itu sangat mulia sampai-sampai balasannya adalah SURGA. Lalu kemudian seseorang beramal sholeh mengharapkan dunia, mengharapkan sesuatu yang HINA dimata Allah ?

ALLAH TIDAK RIDHO itu ya Akhol islam A’azzaniyallahu wa iyyakum..” Ust Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى menjelaskan.

Klik :
http://salamdakwah.com/videos-detail/dampak-keikhlasan-dalam-kehidupan.html

Akulah Budak Sang Raja

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc, حفظه الله تعالى

Islam mengajarkan kita untuk KAFAH, yaitu menjadi Hamba Allah yang seutuhnya. Tidak setengah-setengah dan tanpa ragu-ragu.

Namun bukan berarti, menjadi hamba Allah itu identik dengan kehidupan yang terkekang, ini tak boleh itu tak boleh. Tidak. SEMUA ADA ILMUNYA.

Anda masih bisa memakai kaos oblong. Anda tidak musti mengganti kemeja Anda dengan pakaian panjang ala pakistan atau Saudi, lantas mengenakan surban di kepala setiap Anda pergi kemana-mana.

Andapun tak harus mengganti nama yang baik nan indah pemberian orang tua Anda dengan ABU atau UMMU.  

Juga tak harus Anda berbahasa dengan istilah-istilah ANA  dan ANTUM untuk membuktikan bahwa Anda ingin menjadi hamba Allah yang seutuhnya.

Andapun masih bisa merasakan nikmatnya Es Krim dan sejuknya ruangan ber AC. Anda tak harus menjual vila dan apartement Anda lalu berpindah ke rumah gubug sempit nan pengap hanya untuk membuktikan bahwa Anda adalah Hamba Allah yang sebenarnya. Sekali lagi, TIDAK. Semua ada ilmunya.

Islam itu mudah. Dan tidaklah Allah memberikan beban syariat, kecuali sesuai dengan kemampuan hambaNya. Jadi, apa yang membuat Anda ragu ? Jadilah Hamba Allah yang seutuhnya.

Simak penjelasan Ust Ahmad Zainuddin, Lc, حفظه الله تعالى

Klik :
http://salamdakwah.com/videos-detail/akulah-budak-sang-raja.html

Tiga Ciri Orang Yang Suka Riya’

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

» Riya’ ialah seseorang melakukan suatu kebaikan atau meninggalkan suatu keburukan dengan niat dan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia.

» Riya’ merupakan Syirik Kecil yang paling ditakutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menimpa umatnya. Hal ini berdasarkan sabda beliau: “Sesungguhnya sesuatu (dosa) yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah Syirik Kecil.” Maka mereka (para sahabat) bertanya: “Apa yang dimaksud Syirik Kecil itu?” Beliau jawab: “(Syirik Kecil itu) adalah RIYA’. Allah berkata pada hari Kiamat apabila Dia telah memberikan balasan terhadap amal perbuatan manusia; “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dulu sewaktu di dunia kalian berbuat riya’ (pamer) kepada mereka. Lalu lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan (atas perbuatan kalian) di sisi mereka?”. (HR. Ahmad di dlm Al-Musnad V/428 no.429, dengan sanad Hasan).

» Riya’ merupakan ciri dan karakter orang munafik dalam setiap amal sholih yang mereka kerjakan. Hal ini berdasarkan firman Allah (yang artinya):
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan Shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’:142).

» Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Salah satu ciri orang munafik adalah menggandrungi pujian & membenci celaan/kritikan.” (Lihat Kitab Az-Zuhd karya Ibnu Abi Hatim, hal. 51).

» Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Orang yang suka riya’ (pamer dan tidak ikhlas dalam beramal) memiliki 3 ciri (yaitu):

1. Apabila sendirian, maka dia menjadi pemalas.

2. Apabila berada di tengah orang-orang, ia semakin bertambah semangat.

3. Dia akan meningkatkan amalnya jika dipuji dan akan mengurangi amalnya jika dicela orang (karena melakukannya).(Lihat Al-Kabaa’ir, karya imam Adz-Dzahabi hal.145).

Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.(Klaten, 8/9/14)

Menebar Cahaya Sunnah