MUTIARA SALAF : Bebas Dari Sifat Munafik

Ibnu Rojab rohimahullah memaparkan,

وقال كعب: من أكثر ذكر الله، برئ من النفاق.

ويشهد لهذا المعنى أن الله تعالى وصف المنافقين بأنهم لا يذكرون الله إلا قليلًا، فمن أكثر ذكرَ الله، فقد بايَنَهُم في أوصافهم، ولهذا ختمت سورة المنافقين بالأمر بذكر الله، وأن لا يُلهي المؤمنَ عن ذلك مالٌ ولا ولدٌ، وأن من ألهاه ذلك عن ذكر الله، فهو من الخاسرين.

Ka’ab al-Ahbar rohimahullah berkata,

“Siapa yang banyak mengingat Allah, niscaya terbebas dari kemunafikan..”

Ibnu Rojab rohimahullah menerangkan,

“Ucapan ini didukung oleh firman Allah yang menyebutkan tentang sifat kaum munafik bahwa mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit. Maka dari itu, siapa yang banyak mengingat Allah, dia telah berlepas diri dari sifat-sifat kaum munafik.

Itu sebabnya, surah al-Munafiqun diakhiri dengan perintah untuk berdzikir kepada Allah, dan peringatan agar jangan sampai seorang mukmin terlalaikan karena harta atau anak.

Juga barang siapa yang terlalaikan olehnya dari mengingat Allah, berarti ia tergolong orang-orang yang merugi..”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid 2, hlm. 516)

Memasak Sambil Mendengarkan Murottal

PERTANYAAN:

“Saya menghabiskan berjam-jam waktu di dapur guna menyiapkan (memasak dan sebagainya) hidangan untuk suami. Karena saya bersemangat mengisi waktu saya dengan sesuatu yang berfaedah, saya pun mengerjakan tugas saya sambil mendengarkan bacaan Al Qur’anul Karim, baik lewat siaran radio ataupun dari kaset. Apakah perbuatan saya ini bisa dibenarkan atau tidak sepantasnya saya lakukan mengingat firman Allah subhanaahu wa ta’ala,

“Apabila dibacakan Al Qura’n maka
DENGARKANLAH dan DIAMLAH, mudah-mudahan kalian dirahmati..” (Al A’rof: 204)

JAWABAN:
Fadhilatus Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah menjawab,

“Tidak mengapa mendengarkan Al Qura’n dari radio atau dari tape recorder sementara yang mendengarkan tengah sibuk dengan suatu pekerjaan.

Dan ini tidaklah bertentangan dengan firman Allah :

فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

“maka DENGARKANLAH dan INSHOT (DIAMLAH)..”

Karena INSHOT (DIAM) yang dituntut di dalam ayat adalah sesuai dengan kemampuan. Dan orang yang sedang mengerjakan suatu pekerjaan, ia INSHOT ketika Al Qura’n dibacakan sesuai dengan kemampuannya..”

wallaahu ta’ala a’lam.

(Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah – hal. 578)

Mereka Yang Dikagumi Oleh Allah

Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن ربك يعجبُ من عبده إذا قال : اغفر لي ذنوبي ، يعلم أنه لا يغفرُ الذنوب غيري .

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata, ‘ya Allah Ampuni dosa-dosaku..’ Karena ia yakin bahwa tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Aku..”
(HR Abu Dawud)

Dikagumi oleh Allah adalah keberuntungan yang besar..

Adapun dikagumi oleh manusia..
Tidak memberikan apa apa..
Bahkan seringkali menimbulkan penyakit hati..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Tujuan Pertemanan

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani rohimahullah berkata,

‏”الانسان إذا رأى صاحبه مهموماً اسْتُحِبَّ له أن يحدِّثه بما يُزيل همَّه ويُطَيِّب نفسه؛
‏لقول عمر بن الخطاب رضي الله عنه:
‏(لأقولنَّ شيئًا يضحك النبي ﷺ)”.

“Seorang insan apabila melihat temannya sedih maka disunnahkan untuk menghiburnya dengan ucapan (yang menyenangkan) dan menghilangkan kesedihannya.

Sebagaimana ucapan Umar bin Khothob rodhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, aku akan mengucapkan sesuatu yang membuat nabi shollallahu ‘alayhi wasallam tertawa..”

(Fathul Bari 9/363)

Karena tujuan pertemanan adalah..
Untuk saling menguatkan dan mengingatkan..
Agar tegar di atas jalan Allah Azza wajalla..
Bukan sebatas karena urusan dunia…
Atau kepentingan harta..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Membiasakan Anak-Anak Beribadah Sejak Kecil

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

الأطفال الصغار يُثابون على ما يفعلونه من الحسنات وإن كان القلمُ مرفوعاً عنهم في السيئات

“Anak kecil akan diberi pahala atas amal kebaikan yang mereka kerjakan meskipun pena diangkat dari mereka jika mereka mengamalkan keburukan (tidak dicatat sebagai dosa).

وكانوا يُصوِّمون الصغار يوم عاشوراء وغيرَه

Dahulu, para salaf membiasakan anak-anak untuk berpuasa hari Asyuro dan hari selainnya.

فالصبي يثاب على صلاته وصومه وحجه وغير ذلك من أعماله، ويُفضّل بذلك على من لم يعمل كعمله

Anak kecil akan diberi pahala atas sholat, puasa, haji, dan amal lainnya yang mereka lakukan. Dengan amalan-amalan itu, anak kecil tersebut lebih utama jika dibandingkan anak kecil lain yang tidak beramal seperti itu..”

(Majmu’ Fatawa : 4/278)

Menebar Cahaya Sunnah