Intermezzo

Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى

Yuk tersenyum bersama Syeikh Abdullah Al-Mutlaq hafidzahullah (anggota majlis ulama saudi arabia),

Di salah satu acara tv, seseorang bertanya kepada beliau :

Penanya : wahai syeikh, saya masuk ke wc dan didalam ponsel saya tersimpan aplikasi Al-Qur`an, apakah itu dibolehkan?

Syeikh : boleh, tidak mengapa!

Penanya mengulang : tapi didalamnya ada Al-Qur`an syeikh?!!!

Syeikh : saudaraku, tidak mengapa, Al-Qur’an-nya tersimpan pada memory ponsel.

Penanya kembali mengulang (ngotot) : ya syeikh, ini Al-Qur`an, masa boleh masuk wc?!!

Syeikh berkata : anda hapal sebagian dari Al-Qur`an?

Penanya : ya, saya hapal banyak!!!

Syeikh : sudah, kalau begitu, jika anda ingin masuk wc, tinggalkan otak anda diluar dulu!!!

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Woow, Cantiknya Istri Anda !

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, sebagai seorang suami, bagaimana perasaan anda tatkala mendengar ucapan di atas ?

Anda merasa bangga dan bahkan segera memperkenalkan istri anda kepada teman anda tersebut atau sebaliknya, anda tersinggung dan marah ?

Sobat! Sadarkah anda bahwa ucapan kagum sahabat anda kepada istri anda tersebut bisa saja menjadi awal kehancuran rumah tangga anda.

Coba anda bayangkan: apa yang akan terjadi bila sahabat anda ternyata rajin memuji istri anda sedangkan anda setelah menikahinya jarang atau bahkan tidak lagi merasa perlu untuk memuji kecantikannya ?

Atau bayangkan: kalau ternyata sahabat anda itu sering menelpon atau berkirim SMS ke istri anda dan lagi-lagi mengutarakan kekagumannya kepada kecantikan istri anda?

Menurut hemat anda: Salahkah istri anda bila merasa tersanjung dengan pujian sahabat anda ?

Salahkah istri anda bila merasa mendapat perhatian dari sahabat anda yang nampaknya “dengan tulus” memuji kecantikan istri anda ?

Dan salahkah istri anda bila akhirnya semakin rajin berdandan dan bersolek agar semakin dikagumi dan dipuji oleh sahabat anda ?

Sobat! Bila anda kecewa, marah dan cemburu bila istri anda merasa tersanjung dan semakin rajin bersolek agar terus dipuji oleh sahabat anda, lalu mengapa anda tidak rajin memujinya agar dia tersanjung dan semakin rajin bersolek untuk anda ?

Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan: suatu hari di saat beberapa lelaki etiopia bermain anggar (perang-perangan) di dalam masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku dengan berkata:

يا حميراء أتحبين أن تنظري إليهم ؟ فقلت : نعم

“Wahai, gadis kecil yang berkulit putih merona (kemerahan), maukah engkau menonton permainan mereka ? Akupun menjawab: tentu saja.” (An Nasai dll)

 Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Kata Para Ulama Tentang Isra’ Mi’raj

Ust. M. Abduh Tuasikal

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
”Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan,
”Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, ”Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Selengkapnya di Rumaysho.Com:

http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/pertemuan-para-nabi-dalam-peristiwa-isra-mi-raj-3399

M. Abduh Tuasikal,
Rumaysho.Com

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Pelancar Dan Penghambat Rezeki

Ust. M. Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Bangkitlah dari kemalasan di pagi hari, yaa akhi.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan:

Ada empat hal pelancar rezeki:

1- shalat malam

2- memperbanyak istighfar di waktu sahur

3- membiasakan sedekah

4- berdzikir di pagi dan petang

Ada empat hal penghambat rezeki:

1- tidur pagi

2- sedikit shalat

3- malas-malasan

4- sifat khianat

Ini nasehat umum yang beliau sampaikan dalam Zaadul Ma’ad, 4: 378.

M. Abduh Tuasikal,
Pengasuh Rumaysho.Com

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Mudah Memaafkan

Ust. M. Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Satu pelajaran lagi yang bisa kita ambil dari hadits Jabir bin Sulaim adalah perintah untuk mudah memaafkan orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat pada Jabir bin Sulaim,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Sulit dan amat berat bagi hati jika ada yang berbuat salah pada kita, lantas tidak dibalas. Pasti kita punya keinginan untuk membalasnya.

*** Kalau kita dipermalukan, pasti ingin pula mempermalukannya.

*** Kalau kita dicela, pasti ingin pula membalas dengan celaan.

Hampir watak setiap orang yang disakiti dan dizalimi seperti itu.

Namun lihatlah betapa mulianya yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika kita dipermalukan dan dihina, maka kita tidak perlu balas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya. Biarlah akibat jelek dari mencela dan menjatuhkan itu, akan ditanggung di akhirat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang hadits di atas, “Hendaklah setiap orang memiliki sifat mudah memaafkan yang lain. Tidak semua isu yang sampai ke telinganya, ia terima mentah-mentah, lantas ia membenci orang yang menyuarakan isu yang tidak menyenangkan tersebut. Hendaklah setiap orang memiliki sifat pemaaf. Karena Allah sangat menyukai orang yang memiliki sifat mulia tersebut, yang mudah memaafkan yang lain. Lantaran itu, ia akan diberi ganjaran. Karena jika dibalas dengan saling mempermalukan dan menjatuhkan, pasti konflik yang terjadi tak kunjung usai. Permusuhan akan tetap terus ada. Jika malah dibalas dengan diam, maka rampunglah perselisihan yang sedang berkecamuk.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 297).

Syaikh juga menjelaskan bagaimanakah sifat ibadurrahman

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. ” (QS. Al Furqon: 63).

Syaikh Muhammad membicarakan ayat di atas, “Jika ada orang jahil mengejek, maka balaslah dengan mengucapkan doa kebaikan untuknya semisal mengucapkan ‘jazakallah khoiron‘ (artinya: semoga Allah membalas kebaikanmu). Lalu berpalinglah darinya. Tidak perlu berbicara dan melakukan hal lainnya.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 297-298).

Adab yang diajarkan dalam Al Qur’an pula adalah membalas setiap tingkah laku jelek dari orang lain dengan kebaikan. Siapa yang bisa melakukan hal ini, sungguh ia benar-benar memiliki sifat sabar. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Mujahid berkata bahwa yang dimaksud balaslah dengan yang lebih baik yaitu balaslah dengan berjabat tangan dengannya. (Lihat Hilyatul Auliya’, 3: 299, dinukil dari At Tadzhib li Hilyatil Auliya’, hal. 771).

Sahabat yang mulia, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 529-530)

Jika kita mudah memaafkan yang lain …

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk mudah memaafkan lainnya.

Disusun di pagi hari di Pesantren Darush Sholihin, 17 Rajab 1435 H

View

Mencari Dunia Semata

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Aku kok sudah mengeluarkan 50.000 untuk sedekah,

Namun tidak ada ganti yah jadi 500.000.

Kapan gantinya datang? Padahal Ustadz katakan kalau sedekah seperti itu akan dibalas berlipat-lipat.

Akhi…

Beramallah yang ikhlas, bukan untuk cari dunia semata.

Kalau yang diharap adalah balasan akhirat semata, harapan dunia akan turut di belakang tanpa kita cari-cari.

Qotadah mengatakan, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Akhi ingatlah hadits…

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Resep Panjang Umur

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat ! Pernahkah anda mendengar tentang resep atau kiat panjang umur ? Ada yang meyakini bahwa yoga dapat memanjangkan umur, ada pula pernapasan, ada lagi minuman mineral atau jamu atau lainnya.

Dan barang kali anda kini sedang menjalani serangkaian kiat untuk dapat memanjangkan umur anda.

Sobat, ketahuilah bahwa ajal anda adalah urusan takdir ilahi, tidak mungkin diajukan atau ditunda walau hanya sekejap.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Setiap ummat telah memiliki ajal, dan bila ajal mereka telah tiba maka mereka tidak dapat menundanya walau hanya sesaat dan tidak pula menyegerakannya.” (Al-Aaraf 34)

Bila demikian, apa gunanya semua kiat yang anda lakukan untuk memanjangkan umur ?

Bukankan lebih bijak bila anda memikirkan kiat agar dapat mengoptimalkan waktu yang ada dengan melipat gandakan amal dalam waktu atau umur yang ada? Demikianlah dahulu pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وحياتك قبل موتك

“Dan optimalkan hidupmu sebelum tiba ajalmu.” (Al Hakim dll).

Dan kalaupun umur anda benar dapat diperpanjang, apa yang akan anda lakukan ? Bukankah dengan umur yang sekarang benar-benar anda miliki, terlalu sedikit ibadah yang anda lakukan dan sebaliknya terlalu banyak dosa yang anda kerjakan ?

 Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1099. Bolehkah Membunuh Nyamuk Dan Serangga Dengan Alat Penyengat (Raket) Listrik..?

1099. BBG Al Ilmu

TANYA
Bagaimana sebenarnya menurut ulama, hukum membunuh serangga, nyamuk dll dengan raket listrik ?

JAWAB
Diperbolehkan memakai alat penyengat listrik untuk membunuh serangga (nyamuk dll).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam Liqo-at Al Bab Al Maftuh (no 59/pertanyaan no. 12) berkata:

“Tidak ada yang salah dengan (memakai alat penyengat listrik) dan bahwa ini tidak masuk dalam perkara “menyiksa dengan api/membakar”

Karena menurut apa yang kita tahu tentang hal itu, serangga mati sebagai akibat dari sengatan listrik dan buktinya adalah jika anda mengambil selembar kertas dan menempelkannya ke alat ini (kertas tersebut) tidak akan terbakar, yang menunjukkan bahwa hal ini tidak masuk dalam perkara “pembakaran” melainkan masuk dalam perkara “sengatan listrik”, sama seperti halnya jika seseorang menyentuh kabel listrik yang rusak/terbuka, ia akan meninggal tanpa terbakar…”

Syaikh Muhammad Al Munajjid hafizhahullah menambahkan:

“Adapun setrum, adalah berbeda dari api, karena membunuh dengan listrik mengacu pada penggunaan arus listrik untuk menghancurkan sel-sel dan memecahkan pembuluh darah secara cepat..

Jika arus listrik ditingkatkan maka panas yang dihasilkan akan tampak pada korban sebagai perubahan warna dan hangus, sehingga tampak seolah-olah ia telah dibakar dengan api, namun kenyataannya adalah listrik dan bukan api…”

والله أعلم بالصواب

Ref:
http://www.islam-qa.com/en/105190

https://bbg-alilmu.com/archives/3356

ARTIKEL TERKAIT
Hukum Membunuh Lalat Dengan Lem

Jenis-Jenis Syukur

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Macam-macam syukur ada tiga:

1. Bersyukur dengan lisan Orang yang bersyukur senantiasa akan memuji Tuhannya, mengucapkan hamdalah jika mendapat nikmat, beristighfar jika melakukan kesalahan, mengucapkan subhanallah jika melihat ciptaan-Nya, menasehati saudaranya yang salah. Sehingga bentuk syukur dengan lisan adalah dengan memuji sang pemberi Nikmat yaitu Allah .

2. Bersyukur dengan hati. maksudnya adalah mengingat dan menggambarkan kenikmatan itu semata karena anugerah Allah yang maha Kuasa. Ditambah dengan menampakkan kecintaan dan pengagungan kepada Allah yang maha pemberi nikmat dengan tanpa menyandarkan kenikmatan tersebut kepada kekuatan diri sendiri.

3. Bersyukur dengan amal perbuatan. Maksudnya membalas kenikmatan sesuai dengan haknya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan ketaatan dan menggunakan kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah dan tidak untuk memaksiati Allah. Diantara bentuknya adalah memberikan banyak kebaikan kepada orang lain. Bersyukur sangat dituntut dilakukan dalam keseharian. perilaku yang baik, santun, jujur, ramah tamah adalah bagian dari rasa syukur itu sendiri.

Hal ketiga inilah yang paling penting dalam kehidupan kita sekarang ini. Sehingga Allah memerintahkan keluarga nabi Dawud untuk beramal sebagai wujud syukurnya dalam firman Allah :

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS Saba’ : 13).

Para ulama tafsir menafsirkan firman Allah (Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah)) dengan pengertian kerjakanlah pekerjaan kalian sebagai wujud syukur kepada Allah. Dalam ayat ini Allah menjelaskan dengan kata bekerjalah (اعملوا) dan tidak menyatakan: (Syukurlah) untuk menjelaskna hubungan erat antara tiga macam syukur yaitu syukur dengan hati, syukur dengan lisan dan syukur dengan seluruh anggota tubuh.

Syukur kepada Allah dengan sempurna adalah perkara sulit, oleh karena itu Allah tidak memuji hamba-hambaNya dengan syukur dalam al-Qur’an kecuali dua orang saja yaitu Nabi Ibrohim –alaihissalam- dalam firman Allah: (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (an-nahl : 121)

Sedangkan orang kedua adalah nabi Nuh –alaihissalam- dalam firman Allah: (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Qs al-Isra’ : 3)

Walaupun syukur itu sukar dilakukan secara sempurna namun kita harus berusaha menyempurnakan rasa syukur kita kepada Allah, semoga berhasil.

http://m.klikuk.com/jenis-jenis-syukur/

– – – – – •(*)•- – – – –

View

 

Kewajiban “Mengaji” Hanya Kepada Ulama Ahli Sunnah

Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ، أَنَّهُ قَالَ : ” يَا ابْنَ عُمَرَ دِينُكَ دِينُكَ، إِنَّمَا هُوَ لَحْمُكَ وَدَمُكَ، فَانْظُرْ عَمَّنْ تَأْخُذُ، خُذْ عَنِ الَّذِينَ اسْتَقَامُوا، وَلا تَأْخُذْ عَنِ الَّذِينَ مَالُوا“

» Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ibnu ‘Umar, (jagalah)agamamu!, (jagalah) agamamu! Sesungguhnya agamamu adalah daging dan darahmu, maka perhatikanlah dari siapa kau mengambilnya. Ambillah (ilmu agamamu) dari orang-orang yang istiqomah (komitmen di atas sunnah, mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pent), dan janganlah kau mengambilnya dari orang-orang yang menyimpang (terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pent).”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi di dalam Al-Kifayaatu fii ‘Ilmi Ar-Riwaayah no. 306, dengan sanad yang Dho’if (lemah), namun makna (matan)nya Shohih).

» Hadits ini maknanya sesuai dengan atsar (perkataan ulama sunnah) yang diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin (seorang ulama tabi’in) dan imam Malik bin Anas rahimahumallah serta sejumlah ulama as-salafus sholih lainnya, mereka berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya agama (Islam) ini adalah ilmu, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil (ilmu) agama kalian.” (Lihat Fadhlul ‘Ilmi Wa Adaabu Tholabihi Wa Thuruqu Tahshiilihi Wa Jam’ihi, karya Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Ruslan, hal.128)

» Muhammad bin Siiriin rahimahullah juga pernah berkata:
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ ، فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ، فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

» Artinya: “Dahulu mereka (para ulama dari generasi sahabat Nabi dan tabi’in, pent) tidak pernah menanyakan tentang isnaad (jalur periwayatan hadits), tetapi ketika munculnya fitnah (pemahaman kelompok bid’ah), maka kami (Ahlus sunnah) berkata (kepada setiap penyampai hadits dan ilmu agama, pent), “Sebutkan nama-nama guru kalian,” Maka jika kami melihatnya dari Ahlus-Sunnah, kami akan mengambil haditsnya. Akan tetapi jika dari golongan Ahli bid’ah, maka kami tidak mengambil haditsnya.”. (Lihat Muqoddimah Shohiih Muslim, karya imam An-Nawawi rahimahullah, I/33)

» Abdullah bin ‘Aun rahimahullah berkata: “Tidak boleh diambil ilmu
(agama) ini melainkan daripada orang yang telah diakui pernah menuntut ilmu (agama) sebelum itu (yakni pernah menimba ilmu dari para ulama Sunnah, pent).” (Lihat Al-Jarhu Wa At-Ta’dil I/ 28).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Smg mudah dipahami dan diamalkan serta menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat. (Klaten, 15 Mei 2014)

» BBG Majlis Hadits, room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menebar Cahaya Sunnah