Raihlah Cahaya Dengan Membuka Al-Qur’an

Ust. DR. Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi/ Ukhti…
Moga Allah menjagamu selalu

Tak terasa sudah berlalu beberapa jam dari kehidupan kita di hari ini…

Sebagian sudah tenggelam dalam aktivitasnya
Ada yang sibuk dengan dunianya
Ada yang sibuk dengan urusan rumah
Dan yang sebagainya…

Tapi sudahkah kita membuka Kitabullah ?
Tuk sedikit membaca kalamullah
Walaupun hanya satu ayat…

Al Qur’an adalah petunjuk
Petunjuk yang membimbingmu untuk berjalan secara benar dalam semua aktivitasmu

Al Qur’an adalah Cahaya
Cahaya yang menerangi jalan dan hatimu
Al Qur’an adalah Penyembuh…
Penyembuh dari segala penyakit yang hampir semua dari kita memilikinya

Al Qur’an adalah kasih sayang Allah
Apa kiranya kita tidak butuh dengan kasih sayang-Nya ?

Kalau kau belum membuka Kitabullah, sampai saat kau membaca BC Ini…
Maka saatnya kau menutup BB-mu sejenak…

1 atau 2 menit…

Untuk meraih hidayah, nur, syifa’ dan Rahmat Ilahi

Lewat Kalam-Nya

Moga Allah menerima amalan kita
Mengampuni dosa kita
Mempertemukan kita di surga
Bersama Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam

 Ust. Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى

View

Doa Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berdoa ;
اللهمَّ كما صُنتَ وجهي عَنِ السُّجود لغيرك فصُنْه عن المسألة لغيرك

“Allahumma kamaa shunta waj-hiy ‘anis-sujuudi Lighoyrika, Fa-shunhu ‘anil-mas-alati Lighoyrika”

“Ya Allah sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku untuk tidak sujud kepada selain Engkau, maka jagalah juga wajahku agar tidak meminta kepada selain Engkau” (Jaami’ al-‘Uluum wa al-Hikam 2/572).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1060. Bolehkah Memakai Payung Yang Ada Logo Bank ?

1060. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Di rumah saya ada payung dengan logo dan nama bank X yang didapatkan dari bude ? Bagaimana hukumnya mengenai hal ini ? Apakah boleh / tidak dipakai?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Memakai payung ber-label bank dibolehkan selagi bukan dalam rangka syiar/berbangga dengan-nya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1059. Manakah Yang Lebih Wajib, Doa Atau Shalawat ?

1059. BBG Al Ilmu – 459

Tanya:
Lebih wajib mana, doa atau sholawat ?

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Sholawat adalah bagian dari Doa. Sehingga Doa itu lebih umum daripada sholawat.

Adapun berkaitan dengan lebih Wajib mana antara sholawat dengan doa ? Maka, dalam masalah ini sifat dan hukumnya relatif, yakni adakalanya wajib dan adakalanya sunnah, tergantung waktu dan kondisinya. Maksudnya, jika waktu dan kondisinya mewajibkan sholawat, maka sholawat lebih wajib dan lebih utama daripada doa, seperti ketika kita membaca atau mendengar nama Nabi disebutkan kepada kita, maka pada saat itu kita Wajib bersholawat.

Sedangkan dalam kondisi wajib berdoa, maka kita wajib berdoa, seperti ketika membaca Al-Fatihah di dalam sholat fardhu maupun sunnah, di dalamnya terkandung doa.

Dan dalam waktu disunnahkannya bersholawat, maka kita bersholawat itu lebih afdhol daripada doa. Dan sebaliknya, pada saat disunnahkannya berdoa, maka kita berdoa itu lebih utama daripada bersholawat.

Namun meskipun demikian, bahwa memuji Allah dan bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum berdoa adalah termasuk salah satu adab dan sebab dikabulkannya doa.

Jadi, kesimpulannya; ojo lali (jangan lupa) untuk memperbanyak sholawat dan doa, karena keduanya merupakan ibadah agung yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat di dunia dan akhirat.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1058. Meruqyah Diri Sendiri

1058. BBG Al Ilmu – 431

Tanya:
Apakah benar salah satu cara meruqiyah dri sendiri dengan cara membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas yang ditiupkan ke telapak tangan kemudian diusapkan ke seluruh badan. Atau dengan cara ditiupkan ke air putih kemudian diminum ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Iya benar, keduanya ada contoh dari para salaf.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1057. Bernasab Ke Paman

1057. BBG Al Ilmu – 357

Tanya:
Ayah meninggal ketika ana berusia 17 bulan kemudian ana di besarkan oleh paman/adik dari ayah (satu ibu lain ayah). Beliau membesarkan, menyekolahkan sampai ana lulus perguruan tinggi dan sampai ana menikah. Paman ana memberlakukan ana seperti anaknya sendiri sehingga ana tidak merasa kehilangan sosok ayah. Ana menganggap paman sebagai ayah kandung, dari ijazah, akta lahir dan surat nikah disitu di tulis ana adalah anak kandung dari paman dan istri paman.

Setelah ana mengikuti kajian salaf anak takut akan hadist rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Seseorang yang menisbatkan orang lain sebagai ayah kandungnya maka semua amalannya baik yang wajib atau yang sunat tidak akan diterima Allah سبحانه وتعالى. Dan syurga haram baginya.”

Apakah ana terkena ancaman maksud ini ? meskipun demikian dalam hati ana tetap menganggap paman ana itu bukan sebagai ayah kandung ana.

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Anda terkena ancaman keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas jika anda berniat dan bersengaja menasabkan diri kepada selain ayah kandung. Akan tetapi, jika anda tidak berniat dan tidak bersengaja melakukan hal tersebut, dan setelah tahu hukumnya anda mengingkari dan menyesali tindakan itu dan ada upaya meluruskan kesalahan nasab dalam akte kelahiran, KTP dan selainnya, maka anda tidak berdosa.

Oleh karena itu, hendaknya anda berupaya memproses dalam menghilangkan penasaban nama anda kepada paman dan menggantinya dengan nasab anda kepada nama ayah kandung anda yang sebenarnya jika hal itu mudah dan memungkinkan. Kalau prosesnya sulit dan tidak mungkin, ya cukup dengan mengingkari penasaban yang keliru tersebut.

Allah ta’ala berfirman:
(Fattaqullaha Mastatho’tum)
Artinya: “Bertakwalah engkau kepada Allah sesuai batas kemampuanmu.”

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1056. Pembagian Harta Waris Bila Tidak Punya Anak

1056. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bagaimana pembagian harta warisan bila seorang suami meninggal, meninggalkan istri namun tidak memiliki anak. Suami istri sama-sama bekerja. Si suami telah mendapatkan pensiun 14 tahun yang lalu dan si istri mendapatkan pensiun 5 tahun yang lalu. Si suami memiliki 2 orang kakak kandung laki-laki dan 1 orang saudara kandung perempuan.

Bagaimana pembagian harta warisannya ?

Jawab:
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Harta milik suami dibagi waris sebagai berikut:
* Istri dapat 1/4
* Sisanya untuk saudara kandung suami dengan pembagian saudara laki-laki mendapat dua kali lipat saudara perempuan. Jadi masing-masing saudara laki mendapat 2/5 dan satu saudara perempuan mendapat 1/5.

Tambahan:
Contoh: Misalkan harta waris suami 100 juta.
* Istri: 1/4 x 100 juta = 25 juta
* Sisa harta waris adalah 100 juta – 25 juta = 75 juta, dibagi ke saudara kandung dengan rincian sebagai berikut:
* Saudara laki pertama:
2/5 x 75 juta = 30 juta

* Saudara laki kedua:
2/5 x 75 juta = 30 juta

* Saudara perempuan:
1/5 x 75 juta = 15 juta

Semoga dapat dimengerti.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Tak Perlu Sedih Dengan Status Ibu Rumah Tangga

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Tak perlu sedih wahai saudariku dengan status Ibu Rumah Tangga. Tak perlu sedih jika Anda tidak bisa bekerja di kantoran. Bahkan pekerjaan termulia bagi wanita adalah di rumahnya.

Setiap pagi, 3 anak diurus oleh wanita ini. Dia hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) yang memutuskan mengabdi di rumah untuk suami dan anak-anak. Padahal dia memiliki ijazah dan bisa memanfaatkannya untuk bekerja. Dia tidak merasa malu dengan teman-teman yang sebaya dengannya yang tiap hari berada di pabrik atau di kantoran. Dia pernah berujar, “Seandainya saya memutuskan bekerja di kantoran, tentu anak-anak tidak terurus. Apalagi 3 anak seperti saat ini.” Dia pernah  berujar pula bahwa wanita yang bekerja di kantoran terus menelantarkan anaknya dan diserahkan pada orang tua wanita ini atau pada tempat penitipan anak.

Di desa yang sama, ada seorang wanita karir. Yang pekerjaan suami dengannya jauh berbeda.  Suami hanya menjual kue di pasar. Sedangkan si istri bekerja di kantoran. Bila kedua gajinya dibandingkan amat jauh. Karena kesibukan si istri, suami akhirnya yang mengurus rumah tangga, yaitu memasak dan mencuci, bahkan sibuk pula mengurus anak-anak.

Di tempat lain juga dapat ditemukan kasus seperti di atas, di mana suami sampai-sampai direndahkan oleh istri karena gaji suami yang lebih rendah.

Ukhti …  Perlu dipahami bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah di rumah. Wanita karir tentu tidak punya prinsip demikian. Mereka menganggap bahwa tempat mereka adalah di kantoran, berangkat pagi, pulang sore atau bahkan malam. Tak tahu masihkah ada waktu untuk melayani suami, atau memperhatikan anak-anak. Padahal wanita yang betah di rumah dipuji oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas bahwa janganlah wanita keluar rumah kecuali ada hajat seperti ingin menunaikan shalat di masjid selama memenuhi syarat-syaratnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 182).

Alasan wanita lebih baik di rumah, menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga) karena wanita itu aurat.

Disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Wanita yang betah di rumah inilah yang lebih menjaga diri. Wanita karir begitu bebas bergaul dengan lawan jenis di kantor, tanpa kenal batas. Padahal Allah Ta’ala memuji wanita yang menjaga dirinya,

“Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34).

Ath Thobari berkata dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.”

Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang taat pada suami, menunaikan kewajiban sebagai istri dan menyenangkan suami. Adapun wanita karir tidak bisa sepenuhnya memenuhi tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak. Padahal telah dipuji wanita yang punya sifat baik seperti yang kami sebutkan. Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Ukhti … Wanita yang terbaik adalah yang bertanggungjawab untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Sedangkan wanita karir terlalu sibuk pada pekerjaan dan karir, sehingga pendidikan terhadap anak dilalaikan. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinan pada rakyatnya. Kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya tersebut. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari no. 2409)

Yang penulis pernah baca, ada seorang wanita karir yang sampai memutuskan berhenti bekerja dengan memberikan alasan:

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.

Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya dan lebih serius mengurus anak-anak.

Jangan bersedih jika Anda memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Karena Andalah wanita pilihan, mulia dan terbaik.

Read more:

http://muslim.or.id/muslimah/tak-perlu-sedih-dengan-status-ibu-rumah-tangga.html

Terakhir, alhamdulillah.

M. Abduh Tuasikal

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Ketika Wanita Menggoda

Ustadz Abu Harun Aminuddin, حفظه الله تعالى

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah mewanti-wanti kepada kita sekalian lewat sabda beliau, “Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim).

Kini, di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan begitu gampang masuk ke rumah-rumah kita. Cukup dengan membuka surat kabar dan majalah, atau dengan mengklik tombol remote control, godaan pun hadir di tengah-tengah kita tanpa permisi, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok memamerkan aurat yang semestinya dijaga.

Lalu, sebagian muslimah ikut-ikutan terbawa oleh propaganda gaya hidup seperti ini. Pakaian kehormatan dilepas, diganti dengan pakaian-pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh, tanpa merasa risih. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas menjadi hal biasa.

Maka, kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri: “Kelezatan-kelezatan yang didapati seseorang dari yang haram, toh akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan, segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelezatan yang berakhir dengan siksaan dalam neraka.”

Seorang ulama yang masyhur, Ibnul Qayyim pun memberikan nasihat yang sangat berharga: “Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat…”

Wallahul Musta’an.

www.KlikUk.Com
Titian Ilmu Penyejuk Qalbu

“Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat …

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Lebih Memilih Gadis Yang Bukan Mantan Pacar Siapa-Siapa…

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Sifat seorang gadis, asalnya itu pemalu. Ketika ada pria yang menghampirinya, ia akan bersembunyi, tersipu malu. Jilbabnya yang menutupi dirinya akan segera menyelimuti wajahnya tatkala ada yang berusaha memandanginya.
Berbeda dengan wanita yang sudah mengenal pergaulan dengan lainnya, tentu tidak ditemukan demikian.

Ketika ada yang mau meminang pun, ia akan sulit berkata “iya”. Yang bisa gadis ini lakukan adalah menganggukkan kepala, itu sebagai tanda senang, tanda setuju atau mau menerima lamaran. Hal ini berbeda dengan gadis saat ini, yang begitu berani mengatakan “iya” ketika ada yang ingin menjalin kasih dengannya dalam jalinan cinta kasih anak muda ‘pacaran’. Padahal hubungan tersebut tidaklah diridhai oleh Allah. Sungguh berbeda gadis yang jauh dari pergaulan bebas dengan gadis yang mau dibawa oleh sembarang lelaki.

“Hendaklah kalian menikahi gadis (perawan) karena bibirnya masihlah manis, bisa menghasilkan banyak keturunan dan tetap ridha dengan pemberian yang sedikit.” (HR. Ibnu Majah no. 1861, hasan).

Gadis yang dimaksud di sini tentu adalah gadis yang masih perawan yang bukan mantan pacar siapa-siapa. Itulah gadis yang terbaik. Namun sulit sekali wanita yang disebutkan dalam hadits tersebut dicari di zaman yang penuh kerusakan di masa kini.

Artikel www.remajaislam.com, sore hari 2 Rajab 1435 H.

Penulis: M. Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menebar Cahaya Sunnah