Menghadapi Hari Ujian

Oleh : Asy Syaikh Abdurrozak Al-Badr حفظه الله تعالى

Sesungguhnya anak-anak kita pada hari-hari ini menghadapi ujian dalam rangka urusan duniawi, agar menyelesaikan tahun pelajaran yang mereka tempuh, mereka akan diuji atas apa yang selama ini mereka pelajari, diberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat wawasan, pengetahuan, yang mana ujian tersebut sangatlah berpengaaruh terhadap rasa takut bagi anak bahkan juga bagi para orang tua, maka alangkah indahnya jika para ayah & ibu menyambut para anak mereka dengan aneka nasehat & arahan untuk memberikan bimbingan belajar, & alangkah semangatnya para orang tua memberikan dukungan agar mereka berhasil & lulus, & seharusnya demikian pula perhatian & pendampingan orang tua kepada anak di dalam menghadapi ujian terbesar pada hari kiamat tatkala berdiri di hadapan Allah Ta’ala yang akan menanyakan terhadap apa saja yang telah mereka lakukan tatkala hidup di dunia ini.

Dan tidak ada celaan untuk mengharapkan keberhasilan nilai anak-anak mereka di dunia, karena ini merupakan kesempurnaan dukungan tarbiyah & pendidikan, akan tetapi yang menjadi celaan adalah jika ujian dunia ini dijadikan tujuan akhir semata tanpa menghiraukan apa yang akan mereka hadapi tatkala di hari kiamat di hadapan Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam doanya, “Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan dunia ini menjadi tujuan terbesar kami & puncak pengetahuan kami“.

Dalam doa ini tidak dicela jika seandainya kita perhatian terhadap urusan dunia kita, akan tetapi yang tercela & sangat dicela jika menjadikan dunia sebagai puncak tujuan terbesar & akhir dari pengetahuan kita.

Dan sebaiknya bertepatan dengan hari-hari ujian ini para pelajar diingatkan juga tentang persiapan ujian hari kiamat kelak, sepantasnya merasakan besok ia akan diuji, & hal itu membutuhkan persiapan…

http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Sudahkah Kita Ikhlas ?

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Furqon Ayat: 23,

‫‫

‪ ‬وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‬‬

 “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”Hal ini dikarenakan mereka tidak berbuat ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala, dan demikianlah seluruh amal manusia jika tidak berbuat ikhlas, maka apa yang ia dapat dari berbuat letih dan lelah dalam suatu amalan, jika hal itu berujung kepada fatamorgana tidak berbekas sedikitpun.

Maka dari itu wahai orang-orang yang beramal, hendaknya kalian memperhatikan keikhlasan dan keikhlasan…….Sebagai tanda seseorang telah melakukan ikhlas adalah:

Ia sangat memperhatikan keabsahan amal dan menjauhi akan pembatal dan perusak amalan serta segala yang mengurangi pahala, sehingga ia mendekatkan diri kepada Allah sesuai petunjuk Sunnah.

Ia tidak mengharap imbalan dari manusia dan tidak merasa telah berjasa kepada Allah atas amalnya, akan tetapi Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada dirinya dengan menunjukkan jalan keimanan.

Ia senantiasa melihat kepada dirinya dengan pandangan koreksi dan muhasabah, hingga ia tidak merasa bangga diri atas amalnya, akan tetapi ia istiqomah dalam beramal dan khawatir akan  tidak diterima disisi Allah.

Ia tidak gemar menampakkan amal dihadapan manusia, akan tetapi ia berusaha menyembunyikan hingga tidak terlihat para manusia. Dahulu Amru ibnu Qois -salah satu dari salaf yang gemar beribadah- jika ia menangis, maka ia memalingkan wajahnya ketembok dan mengatakan ia sedang kurang enak badan .

http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Jika Hari-Hari Kita Penuh Dosa, Siap-Siap Untuk Dilupakan Allah ….

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
(19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 18-19).

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan pada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa dan melarang dari punya kemiripan dengan orang yang melupakan Allah dengan meninggalkan sifat takwa. Akibatnya apa bagi orang yang enggan bertakwa?

Yaitu Allah akan melupakannya. Allah akan melupakan kemaslahatan dirinya. Juga Allah akan melupakan dirinya sehingga ia tidak selamat dari siksa. Di samping itu pula, Allah tidak akan membuat ia selamat di akhirat kelak yang merupakan kehidupan abadi seorang muslim. Ia pun tidak bisa meraih kelezatan, kesenangan dan kenikmatan kehidupan negeri akhirat nanti. Itulah akibat dari seseorang yang lupa akan keagungan Allah dan tidak punya rasa takut pada Allah. Itu pun balasan dari enggan taat pada Sang Kholiq karena hari-harinya diisi terus dengan perbuatan dosa.

Faedah dari Ibnul Qayyim dalam Ad Daa’ wad Dawaa’.

Oleh: Ustadz M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Wanita Shalihah

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Siapakah wanita shalihah?

Mereka adalah sosok wanita yg telah digambarkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

– – – – – •(*)•- – – – –

Pernahkah Anda Menyimak Pembicaraan Orang ?

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Bagaimana perasaan anda, jika pembicara menjadikan obyek pembicaraan adalah dirinya sendiri.

Awalnya sih mungkin kagum.. lama lama kok menjengkelkan ya?

Begitulah wahai sobat.. ketika seseorang yang sering mengucapakan kalimat saya, ana, aku, mungkin sering menghias bibir kita..

Ah betapa naifnya kalimat tersebut jika ingin mempublikasikan diri sebagai orang yang berjasa, berpengaruh.. bermakna didepan masyarakat.. dia berusaha untuk diakui eksistensinya..

Ia sering mengatakan kalimat
AKU dulu..
AKU adalah… dan
AKU yang pernah begini dan begitu.. dan
Kalau AKU sih begini begitu..

Ibnu Qoyyim mengatakan:
” hendaknya dijauhi sekuat tenaga kalimat keburukan dari kata “AkU” “punyaku” ” padaku”. Karena tiga kata tersebut merupakan kalimat yang menghancurkan iblis dan fir’aun..

Siapa yang diantara kita sering mengucapkan kata AKU.. ?

Coba dihitung dirinya kalo pas ngobrol..

Ternyata diri manusia ingin di beri jempoL..

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Wanita Muslimah Tekun Beribadah

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Tidak mengherankan jika wanita muslimah yang jujur dalam keimanannya, senantiasa beribadah kepada Rabbnya dengan penuh harap dan semangat tinggi. Karena dia mengetahui bahwa dia dibebankan untuk melaksanakan berbagai kewajiban syari’at yang Allah perintahkan kepada setiap muslim dan muslimah.

Oleh karena itu, dia selalu dan senantiasa menunaikan kewajibannya, menegakan rukun islam dengan sebaik-baiknya.

Dia tidak pernah mengurangi, meremehkan, dan tidak pula menyia-nyiakan apa yang Allah wajibkan atasnya.

– – – – – •(*)•- – – – –

Anakmu Adalah Surga Dan Nerakamu

Ust. Ahmad Zainuddin, حفظه الله تعالى

Anak adalah KENIKMATAN yang Allah berikan kepada kedua orang tua sekaligus UJIAN bagi keduanya. 

Anak sebagai KENIKMATAN, yang berarti harus DISYUKURI dan harus DIPERTANGGUNG JAWABKAN kepada Dzat yang Maha Memberi.

Jika orang tua bersyukur maka Allah akan tambah kenikmatan itu berupa bakti dan kebaikan-kebaikan anak untuknya. Akan tetapi jika orang tua kufur, maka adzab didunia berupa pembangkangan dan kedurhakannnya sebelum adzab diakherat yang menanti.

Anak adalah nikmat yang akan dipertanggungjawabkan. Karena segala kenikmatan Allah beri, akan Allah mintai pertanggungjawabannya kelak dihari kiamat nanti.

Anak sebagai UJIAN, yang bisa mempengaruhi dan menentukan status Anda disisi Allah taala. SURGA atau NERAKA.

Bagaimana sikap orang tua, supaya menjadi hamba yang BERSYUKUR dan BERTANGGUNG JAWAB atas nikmat anak ?

Apa yang harus diperhatikan orang tua supaya bisa menjadi hamba yang BERHASIL dalam menghadapi ujian berupa anak ?

Simak penjelasan Ust Ahmad Zainudin, Lc. Klik

http://salamdakwah.com/videos-detail/kekeliruan-dalam-mendidik-anak.html

Semoga bermanfaat

– – – – – •(*)•- – – – –

Menghadapi Fitnah

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Sudah menjadi fithrah manusia, jika mengalami atau tertimpa suatu musibah, maka dia akan berusaha menyelamatkan diri dengan segala cara yang mungkin dilakukannya. Namun, ada juga sebagian orang yang pasrah, berputus asa dan tidak mau mencari jalan keluar, akhirnya kebinasaan menjadi pungkasannya. Ada juga yang tidak menyadari dirinya sedang dalam musibah, sehingga tidak tergerak untuk mencari solusi, akhirnya penyesalan pun tak terelakkan.
 
Pada saat ini, banyak sekali bahaya yang mengintai kita sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم dalam banyak hadits tentang fitnah akhir zaman. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai rasul yang penuh kasih sayang kepada umatnya, tidak hanya memberitahukan tentang fitnah ini saja, tapi juga memberitahukan solusinya. Al-Qur’ân dan sunnah Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم merupakan solusi yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau tidak, kesengsaraan mesti akan menimpa. Allah befirman:
 
“Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?” Allâh berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. Thaha/ 20:123-126)
 
Kini, fitnah-fitnah itu sudah banyak sekali disekitar kita, siap menerkam siapa saja yang lalai. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada dan menjaga diri.

Diantara fitnah-fitnah itu adalah fitnah harta. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Iyadh , dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
 
Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibban dalam shahihnya)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
 
Demi Allâh ! Bukan kefakiran yang saya khawatirkan atas kalian, namun yang saya khawatirkan adalah kalian diberi kemakmuran dunia sebagaimana pernah diberikan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka. Sehingga akhirnya dunia menyebabkan kalian binasa sebagaimana mereka. (HR. Bukhâri dan Muslim)
 
Harta itu fitnah dari semua sisi. Dimulai saat mengumpulkan dan mengembangkannya, kesibukan ini sering melalaikan seseorang dari beribadah kepada Allah . Juga kegemaran menumpuk harta yang tidak pernah bisa mencapai titik klimaks, diperparah lagi dengan prilaku menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisinya. Harta juga menjadi fitnah atau musibah bagi yang empunya saat harta dibelanjakan di jalan yang tidak dibenarkan syari’at atau enggan mengeluarkan zakat yang menjadi kewajibannya. Akibatnya, berbagai keburukan pun bermunculan akibat harta.
 
Kini harta yang sering menjadi sumber fitnah itu melimpah ruah di mana-mana, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَفْشُوَ الْمَالُ وَيَكْثُرَ وَتَفْشُوَ التِّجَارَةُ
 
Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu tersebar dan melimpahnya harta serta melimpahnya perniagaan (HR. an-Nasa’i dan al-Hakim, beliau mengatakan, “Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)
 
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
 
Sungguh akan datang suatu masa, saat itu manusia tidak lagi peduli dengan cara apa dia menghasilkan harta, apakah dari sesuatu yang halal ataukah haram ! (HR. Bukhari)

http://klikuk.com/wp-content/uploads/2011/05/43-e1370001758894.jpg

– – – – – •(*)•- – – – –  
 

Cahaya Yang Sempurna Bagi Orang-orang Yang Berjalan Kaki Dalam Kegelapan Menuju Masjid

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Janganlah pernah mengeluh, ataupun menyerah untuk konsisten shalat berjama’ah di masjid, terlebih di waktu-waktu malam yang gelap gulita.

Kartena hal itu akan membuahkan hasil yang menggembirakan pada hari kiamat nanti, di mana dia akan mendapat cahaya yang sempurna.

Dijelaskan dalam hadits:

قال رسول الله: بَشِّرِ المشَّائينَ في الظُّلَمِ إلى المساجدِ بالنُّورِ التَّامِّ يومَ القيامةِ. صحيح الترغيب

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan kaki dalam kegelapan malam menuju masjid-masjid akan mendapat cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti. (Shahih at-TarghiB-).

Jangan pernah menyerah, teruslah konsisten…!!!

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah