All posts by BBG Al Ilmu

Karena Apa Air Matamu Menangis..?

Cahaya Sunnah, [22.01.17 12:10]
◾️ KARENA APA AIR MATAMU MENANGIS ? ◾️

Menangis merupakan bukti yang menunjukkan ketakwaan hati, ketinggian jiwa, kesucian sanubari dan kelembutan perasaan…

Menangis karena Allah terjadi manakala seorang hamba melihat kelalaian pada dirinya atau merasa takut akan kesudahannya yang buruk…

Menangis manakala hamba yang bersangkutan ingat kepada Rabbnya dan takut akan dosa-dosa yang telah dilakukannya…

Abu Sa’id berkata : “Pada suatu hari, aku melihat Manshur bin Zadzan berwudhu. Usai berwudhu, kedua matanya mengucurkan air mata. Ia menangis terus hingga suaranya semakin keras. Aku berkata kepadanya : “Ada apa denganmu, semoga Allah merahmatimu”. Manshur bin Zadzan berkata : “Adakah sesuatu yang lebih besar dari urusanku ? Aku ingin berdiri di depan Dzat yang tidak tidur dan mengantuk. Tapi aku khawatir Dia memalingkan muka dariku”. Demi Allah, aku menangis karena perkataannya itu” (Shifatus Shafwah II/12).

Muhammad bin Naahiah berkata : “Aku shalat shubuh bermakmum di belakang al-Fudhail, dia membaca surat al-Haqqah. Ketika tiba pada bacaan : “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya” (QS. Al-Haqqah [69]: 30). Al-Fudhail tidak bisa membendung tangisannya” (Siyar A’laam an-Nubalaa’ VIII/444).

Dari Ali bin Zaid, dia berkata : “Suatu malam al-Hasan ada di rumah kami. Pada tengah malam dia menangis. “Wahai Abu Sa’id, semalam engkau telah membuat keluargaku menangis semua”, kataku. Dia berkata : “Wahai Ali, sesungguhnya aku berkata kepada diriku sendiri : “Wahai Hasan, boleh jadi Allah melihatmu karena sebagian musibah yang menimpamu, lalu Dia berfirman : “Berbuatlah sesukamu, karena Aku tidak menerima sedikit pun dari amalmu” (Az-Zuhd no.1608 oleh Imam Ahmad).

Wahai Saudaraku, air mata apakah yang selalu menetes dari mata ini…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut dan harap kepada Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut orang tua nantinya diazab Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut akan su’ul khatimah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan alam kubur…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan nasib di akhirat kelak…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan Surga dan Neraka Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya hilang pahala akhirat…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diketahui…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diamalkan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya harta dikeluarkan untuk sedekah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya hadir di majelis taklim…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat tahajjud di malam hari…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat dua raka’at sebelum shubuh…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat berjamaah di masjid…?

Pernahkah air mata ini menetes karena melihat penderitaan kaum muslimin di tempat lain…?

Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata : “Menangislah kalian…karena sesungguhnya para penghuni Neraka itu menangis padahal tidak ada yang merasa kasihan dengan tangisan mereka, maka menangislah sekarang…karena tangisan kalian saat ini masih dikasihani” (Az-Zuhd no.1101 oleh Imam Ahmad).

Wahai Saudaraku…
Menangislah sebelum menyesal, sebab perjalanan sangatlah jauh dan bekal hanya sedikit…
datangilah majelis tangis…
majelis yang mengingatkan akan negeri akhirat…
majelis yang dapat menyuburkan iman dan taqwa…
majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah… majelis yang dibacakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…yang semua itu menyebabkan air matamu berlinang dan hati ini tunduk, bergetar serta takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

✍️ Ust Najmi Umar Bakkar

join↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [30.01.17 17:21]
◾️ Ringkasan 12 Adab Bagi Penuntut Ilmu ◾️

(01). Hendaknya kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu itu ikhlas hanya karena Allah, tanpa riya’ dan keinginan dipuji orang lain.

(02). Hendaknya berdo’a kepada Allah Ta’ala sebelum dimulainya majelis ilmu agar ilmunya berkah, yaitu ditambahkan ilmunya, diberi pemahaman dan dimudahkan Allah dalam mengamalkannya.

(03). Bersegera datang ke majelis ilmu dan tidak terlambat, seyogyanya seorang penuntut ilmu datang terlebih dahulu sebelum ustadznya.

(04). Jika majelis ilmu ada di masjid, maka sebelum duduk hendaknya shalat sunnah tahiyatul masjid.

(05). Ucapkanlah salam saat memasuki suatu majelis.

(06). Jika bercampur antara jamaah wanita dan pria di suatu majelis ilmu, maka hendaknya diberi pembatas atau hijab di antara mereka untuk menghindari fitnah. Atau bisa juga dengan cara mengadakan majelis ilmu di tempat tertentu khusus untuk para wanita saja.

(07). Tidak menyuruh orang lain berdiri, pindah atau menggeser tempat duduknya.

(08). Tidak meletakkan tangan kiri ke belakang.

(09). Mendekat ke ustadz saat ia memberi nasehat.

(10). Mencatat ilmu agar tidak mudah hilang.

(11). Tenang, tidak berbicara, tidak bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia, tidak sibuk sendiri dengan banyak bergerak, menolah-noleh ke belakang atau ke kiri dan kanan, hendaknya mata tertuju kepada ustadz dalam majelis ilmu.

من لا يكرمُ العلمَ لا يكرمه العلمُ
“Barangsiapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan menjadikannya mulia”

Jika seorang murid berakhlak buruk kepada ustadznya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, seperti hilangnya berkah dari ilmu yang di dapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خيركم اسلاما احاسنكم اخلاقا اذا فقهوا
“Sebaik-baik kalian Islamnya adalah yang paling baik akhlaknya jika mereka menuntut ilmu” (HR. Ahmad no.10329, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.3312, hadits dari Abu Hurairah).

Usamah bin Syariik radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan ada burung di atas kepala kami, tidak ada seorang pun dari kami yang berbicara…” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban, lihat Shahiihut Targhib wat Tarhiib no. 2652)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

“Aku membalik lembaran halaman di hadapan Malik dengan pelan, karena segan kepadanya agar ia tidak mendengar suaranya”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata :
مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”

Janganlah datang ke majelis ilmu hanya sekedar mendengarkan sambil bersantai-santai, tidak serius dan banyak menguap. Ada yang sambil bermain HP, duduk bersandar, tidur, memotret, menjulurkan kaki, memberikan komentar saat ustadz sedang menjelaskan, ada juga yang sambil makan, minum, mengecap permen dan bahkan ada yang niatnya sekedar ngumpul-ngumpul, kopdar, ingin ketemu ustadznya atau tujuannya hanya berdagang saja

Janganlah mengangkat suara saat firman Allah Ta’ala dan hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dibacakan, sehingga berakibat terhapusnya amalan (lihat QS. 7 : 204 dan QS. 49 : 2)

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata :

“Tidak ada yang berbicara di majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada pensil yang diraut, tidak ada seorangpun yang tersenyum, dan tidak ada seorangpun yang berdiri, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung atau seolah-olah mereka sedang shalat. Jika ia melihat salah seorang di antara mereka tersenyum atau bercakap-cakap, maka dia memakai sandalnya lalu keluar” (Siyar A’laamin Nubalaa’ IX/201-202)

(12). Membaca do’a penutup majelis.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

✍️ Ust Najmi Umar Bakkar

join↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [08.02.17 20:48]
◾️ Oh…Alangkah Besarnya Penyesalan… ◾️

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang masìh memungkinkan untuk berbuat durhaka atau taat kepada Allah selama hayat masih di kandung badan…

Keleluasaan yang ia minta, sebaliknya akan menjadi keterkungkungan yang ia terima…

Lalu di manakah letak nikmatnya kedurhakaan seseorang dan dimana jerih payah ketaatannya…?

Seseorang yang telah tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan begitu cepat menghampirinya dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak sudah penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?

Berapa besar kehinaan yang harus ia tanggung setelah kematiannya…?

Dan siksa yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya dihadapan Allah…

Dan itu semua disebabkan oleh kenikmatan yang sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu melupakannya…

Juga bagi orang yang telah melihat dengan mata kepala sendiri bahaya yang akan tersimpan di balik suatu persoalan, akan tetapi kemudian menutup mata darinya…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah…

Derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Manfaatkanlah waktu dan ketahuilah perbuatan apa saja yang mengiringi malam dan siangmu yang telah berlalu…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umurmu dalam tiga waktu : waktu untuk ilmu, waktu untuk beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajibanmu…

Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dan pikirkanlah tempat kembalinya dua kelompok di hadapan Allah. Satu kelompok di dalam Surga dengan ridha-Nya dan satu kelompok berada di Neraka dengan murka-Nya…

Kesenangannya Iblis bukan menjerumuskanmu dalam berbagai kemaksiatan, akan tetapi cita-citanya agar engkau masuk bersamanya ke tempat yang dia akan memasukinya, yaitu Neraka Jahannam…

Hindarilah maksiat hati yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…
“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…
“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [22.03.17 19:52]
◾️ Curahan Hati Untuk Istriku… ◾️

Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…

Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…

Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…

Tapi…

Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…

Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…

Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…

Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…

Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…

Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…

Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…

Aamiin…

(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [25.03.17 20:41]
[ Photo ]

KTT DO’A : Adab # 10 – Awali Do’a Dengan Memuji Allah dan Ber-Sholawat Baik Di Luar Maupun Dalam Sholat

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A

Courtesy of Safdah TV

Bersikap Bijaklah Kepada Ulama…

Para ulama tidaklah maksum, yakni bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Mereka yang mempunyai andil besar dalam mendakwahkan al-Qur’an dan as-Sunnah di atas manhaj salaf tidak bisa digugurkan keutamaannya, jika seandainya diantara pendapatnya ada yang salah atau kurang kuat, dan juga tidak boleh untuk menghina dan merendahkan mereka.

Syaikh DR. Muhammad bin Umar Bazmul berkata :

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

Tidak termasuk dalam manhaj salaf, yaitu menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat dan kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Kalau seandainya seorang alim (ulama) yang banyak memberikan fatwa salah dalam100 masalah, maka itu bukan suatu aib. Karena siapa saja selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia bisa benar dan bisa saja salah” (Majmu Fataawa 28/301)

Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata :

Orang alim (ulama) tidak lepas dari kesalahan. Siapa yang SEDIKIT kesalahannya dan BANYAK benarnya maka dialah orang alim. Dan siapa yang sedikit benarnya dan banyak kesalahannya maka dialah orang jahil” (Jami’ Bayaan al-Ilmi II/106)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وبالجملة فقد كان رحمه الله من كبار العلماء وممن يخطئ ويصيب ، ولكن خطأه بالنسبة إلى صوابه كنقطة في بحر لجي ، وخطؤه مغفور له

Secara umum, beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah termasuk ulama besar, dan juga termasuk orang yang berbuat benar dan berbuat keliru. Akan tetapi kesalahan beliau jika dibandingkan dengan kebenaran beliau, maka seperti satu titik dalam lautan dalam. Dan kesalahan beliau adalah diampuni” (Al-Bidayah wan Nihayah 14/160).

Dan apa yang dialami oleh al-Qadhi Jamaluddin Abu Abdillah ar-Raimi az-Zubaidi asy-Syafi’i (wafat tahun 791 H) merupakan kematian yang tragis karena seringnya ia mencela Imam an-Nawawi rahimahullah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

أخبرني الجمال المصري محمد بن أبي بكر بزبيد أنه شاهده عند وفاته وقد اندلع لسانه وأسود فكانوا يرون أن ذلك بسبب كثرة وقيعته في الشيخ محيي الدين النووي رحمه الله تعالى.

Aku diberitahu oleh al-Jamal al-Mishri Muhammad bin Abu Bakar di kota Zubaid Yaman, bahwa beliau menyaksikan ar-Raimi saat wafatnya dalam keadaan lidahnya terjulur dan menghitam. Para ulama berpendapat bahwa keadaan tersebut karena ar-Raimi suka mencela Imam an-Nawawi rahimahullah” (Ad-Durarul Kaminah fil A’yanil Mi’atits Tsaminah II/9).

Berhati-hatilah, karena tanda dari ilmu yang tidak bermanfaat adalah : “Menumbuhkan kesombongan, ambisi kepada dunia, mengalihkan perhatian orang kepada dirinya, berburuk sangka dan menganggap bodoh Ulama, serta merasa lebih apa yang dimilikinya” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali).

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

KTT DO’A : Adab # 9 – Tidak Tergesa-Gesa Ingin Do’a Segera Di Kabulkan

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Keluarga Besar…

Nikahilah wanita yang engkau cintai, walau biasa-biasa saja, dan jangan pernah menikahi wanita yang engkau benci, walau cantik jelita.

Sobat, untuk urusan yang satu ini, saya yakin anda sepakat bahwa perasaan hati tidak bisa dibeli atau dipaksa. Memang cinta bisa disemai, dan bisa dirajut, Namun tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, perlu perjuangan, keuletan dan pasti pengorbanan.

Tuan, cinta itu adalah pengorbanan.

Dan kalau cinta telah terajut dan hati telah bertemu, maka urusan nikah dan memadu kasih akan menjadi solusi yang paling indah.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لم ير للمتحابين مثل النكاح

“Tidak ada ikatan yang lebih baik bagi kedua orang yang telah saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah dll)

Dan saya juga yakin bahwa anda juga pasti enggan untuk menikahi orang yang tidak anda cintai apalagi anda benci.

Dan kalaupun sudah terlanjur menikah, kebencian dan perselisihan bisa menjadikan mahligai penikahan anda hancur berkeping keping. Bukankah demikian ?

Namun tahukah anda bahwa cinta itu urusan hati ?

Bila kondisi ini terjadi pada komunitas masyarakat dan ikatan masyarakat terkecil, bagaimana halnya dengan tatanan masyarakat yang majemuk, terdiri dari berjuta-juta anggota masyarakat. Sudah barang tentu merajut dan menabur benih-benih cinta itulah cara paling tepat untuk menyatukan mereka. Dan sekali lagi cinta itu urusan hati, bukan urusan fisik atau harta atau AD/ART atau lainnya.

Karena itu mari kita bangun ummat kita dengan menabur benih-benih cinta yang diwujudkan dengan menyamakan urusan hati, kepentingan, keyakinan, persepsi dan cara pandang, atau yang disebut dengan idiologi, agar kita bisa membangun keluarga besar ummat Islam yang harmonis, kokoh dan damai sentosa.

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف.

Ruh-ruh bagaikan kelompok tentara yang tersusun dan beraneka ragam. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling membenci maka akan berselisih“. [HR. Bukhori-Muslim]

Jadi, menyatukan ummat tuh bagaikan menyatukan dua insan dalam satu keluarga, idealnya di awali dari hatinya, sebagaimana hatinya juga perlu dipupuk dengan kesamaan lahir, sehingga terbentuklah keluarga besar ummat Islam yang harmonis, bukan keluarga yang dipenuhi dengan pertentangan kepentingan, perbedaan keinginan, dan perebutan arah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bendera Dan Panji Perang Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam…

1. Sahabat Ibnu ‘Abbas -radhiallahu anhuma- mengatakan: “Dahulu raayah Rasulullah -shallallahu ‘alahi wasallam– (warnanya) hitam, sedang liwaa’ beliau (warnanya) putih“. [HR. Attirmidzi: 1681, dan yang lainnya, dinilai hasan oleh Syeikh Albani].

2. Para ulama berbeda pendapat tentang maksud dari kata “Arraayah” dan “Alliwaa‘”, dalam hadits tersebut, kesimpulannya:

a. ada yang mengatakan keduanya adalah dua kata yang bermakna sama = bendera… tidak ada perbedaan sama sekali antara keduanya.

b. ada yang mengatakan bahwa keduanya bermakna bendera, namun Arraayah ukurannya lebih besar, sedang Alliwaa’ ukurannya lebih kecil.

c. ada yang mengatakan sebaliknya, Alliwaa’ lebih besar daripada Arraayah… Alliwa’ = bendera besar yang menunjukkan tempat amir… sedang arraayah = bendera yang dibawa oleh pembawa bendera di medan perang.

d. ada yang mengatakan Arraayah bermakna bendera yang kainnya berkibar… sedangkan Alliwaa’ adalah kain yang ujung satunya dililitkan di pucuk atas tombak dan ujung yang lain dililitkan di bawahnya, sehingga tidak berkibar seperti berkibarnya bendera… inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Arabi -rahimahullah-.

[Silahkan merujuk ke kitab Fathul Bari (6/126), Umdatul Qaari (14/232), Tuhfatul Ahwadzi (5/266), dan yg lainnya]

3. Dari banyaknya pendapat di atas dan penjelasan lainnya, penulis lebih condong kepada pendapat yang mengatakan, bahwa kata “Arraayah” dan “Alliwaa‘” bisa bermakna sama, bila keduanya disebutkan secara terpisah.

Apabila dua kata itu disandingkan dalam satu redaksi sebagaimana dalam hadits di atas, maka makna Arraayah dan Alliwaa’ adalah sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Arobi -rahimahullah- di atas.

Karena pendapat inilah yang lebih dekat kepada asul-usul kata arrooyah (yang terlihat) dan kata alliwaa’ (yang dililitkan) dalam bahasa arab… ini juga yang lebih dekat kepada julukan orang arab untuk keduanya, arrooyah dijuluki sebagai “ummur harb” (puncak perang), sedang alliwaa’ dijuluki sebagai “ummur rumh” (puncak tombak).

Dari kesimpulan ini, mungkin terjemahan yang paling mendekati hakekat keduanya adalah, bahwa Arrooyah itu bendera, sedang Alliwaa’ itu panji. wallahu a’lam.

4. Tidak ada hadits yang shahih atau hasan tentang tulisan yang tertera dalam bendera perang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini. Ada hadits yang menjelaskan khusus tentang itu, namun lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Attabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath 1/77, hadits no: 219. Hadits itu hanya datang dari Hayyan bin Ubaidillah, padahal beliau dinilai ‘mudhtharib’ (goncang) dalam meriwayatkan hadits ini.

Yang perlu ditekankan di sini, bahwa lemahnya hadits ini bukan berarti kita tidak boleh menulis kalimat tauhid atau syahadatain dalam bendera… itu boleh saja dilakukan, atau bahkan dianjurkan karena mulianya kata itu… hanya saja kita tidak bisa memastikan bahwa dahulu bendera perang Nabi bertulisakan seperti itu, wallahu a’lam.

Sebaliknya, kita juga boleh menuliskan kalimat lain di bendera, asalkan tidak bertentangan dengan Islam, karena tidak adanya batasan dalam hal ini, sesuai hukum asalnya, wallahu a’lam.

5. Tidak benar, bahwa Arrayah adalah bendera perang, sedang Alliwa’ itu tulisan yang ada dalam bendera itu… sehingga tidak benar orang yang menyimpulkan dari hadits pertama di atas dengan kesimpulan bahwa bendera Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- itu berwarna dasar hitam, dan tulisannya berwarna putih.

Masalah bendera ini bukan masalah ibadah, sehingga pada asalnya dibolehkan, selama tidak ada dalil yang melarangnya.. oleh karenanya, sepanjang sejarah pun, kaum muslimin punya bendera yang berbeda-beda, begitu pula tulisan yang tertera dalam bendera tersebut, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

KTT DO’A : Adab # 8 – Isi Doa Tidak Berlebih-Lebihan

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Oh.. Alangkah Besarnya Penyesalan…

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang yang tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan cepat menghampirinya, dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?
Berapa besar kehinaan yang ditanggung setelah kematiannya…?

Ingatlah hari yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan semua perbuatan dihadapan Allah, dan itu disebabkan oleh kenikmatan sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu ia pun melupakannya. Sungguh, sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah bahwa derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Dan belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umur dalam tiga waktu : untuk ilmu, beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajiban…

Hindarilah maksiat hati, yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…

“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…

“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga Dia menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

Aamiin…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Dakwaan DUSTA..!!!

Hadits baru ada (dibukukan) 200 tahun setelah wafatnya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ?!

=====

Inilah adalah dakwaan dusta, dan tak berdasar sama sekali.
Karena sejak Nabi -shallallahu alaihi wasallam- masih hidup, beliau telah memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadits.

Hal ini sebagaimana perkataan Sahabat Abu Hurairah -radhiallahu anhu-:

Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi -shallallahu alahi wasallam- yang haditsnya lebih banyak daripada aku, kecuali Abdullah bin ‘Amr, karena dia dulu MENCATAT sedang aku tidak“. [HR. Bukhari: 113].

Dan masih banyak sahabat yang memiliki catatan hadits-hadts sebagaimana telah disebutkan oleh pakar hadits Al-Khatib dalam kitabnya “Taqyidul Ilmi” (membukukan ilmu).

Sahabat Anas bin Malik juga pernah takjub kepada sebuah hadits yang dia dengar, kemudian mengatakan kepada anaknya: “CATATLAH“, dan anaknya pun mencatatnya. [HR. Muslim: 54].

Seorang dari kalangan tabi’in Basyir bin Nahik -rahimahullah- pernah mengatakan: “Aku telah menulis dari Abu Hurairah sebuah KITAB, lalu ketika aku ingin berpisah dengannya aku mengatakan kepadanya: ‘wahai Abu Hurairah, sungguh aku telah menulis kitab darimu, bolehkah aku meriwayatkannya darimu?‘, maka dia mengatakan: ‘iya, riwayatkanlah itu dariku‘.”. [Atsar shahih riwayat Alkhatib dalam Taqyidul Ilmi: 203, dan yang lainnya].

Bahkan Imam Bukhari -rahimahullah- mengatakan dalam shahihnya:

Umar bin Abdul Aziz (w 101 H) telah mengirimkan surat perintah kepada Abu Bakar bin Hazm (yang isinya): lihatlah hadits-hadits Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan bukukanlah, karena aku khawatir dengan hilangnya ilmu dan perginya para ulama“. [Shahih Bukhari 1/31].

Dan masih banyak nukilan-nukilan kabar tentang pembukuan hadits Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, dan itu telah dimulai sejak beliau masih hidup, bukan 200 tahun setelah beliau wafat.

Ingatlah hadits-hadits Nabi telah Allah jaga kemurniannya, sebagaimana kemurnian Al Qur’an.. karena Allah memang ingin menjaga kemurnian agamanya hingga hari akhir.. dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan menjaga kemurnian keduanya yang merupakan sumber utama agama ini.

Oleh karenanya, jangan dengarkan ocehan orang-orang yang meragukan keduanya atau salah satunya… jika ada hadits-hadits yang lemah dan palsu, bukan berarti semuanya juga demikian… karena para ulama sudah menjelaskan dengan sangat detail, mana hadits yang shahih dan mana hadits yang lemah.

Justru itulah bukti penjagaan Allah terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tetap murni, meski banyak yang ingin menyusupkan hadits lemah dan palsu, ternyata Allah bukakan tabirnya, melalui para pakar hadits di sepanjang zaman, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى