All posts by BBG Al Ilmu

Ringkasan 12 Adab Bagi Penuntut Ilmu

Cahaya Sunnah, [30.01.17 17:21]
◾️ Ringkasan 12 Adab Bagi Penuntut Ilmu ◾️

(01). Hendaknya kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu itu ikhlas hanya karena Allah, tanpa riya’ dan keinginan dipuji orang lain.

(02). Hendaknya berdo’a kepada Allah Ta’ala sebelum dimulainya majelis ilmu agar ilmunya berkah, yaitu ditambahkan ilmunya, diberi pemahaman dan dimudahkan Allah dalam mengamalkannya.

(03). Bersegera datang ke majelis ilmu dan tidak terlambat, seyogyanya seorang penuntut ilmu datang terlebih dahulu sebelum ustadznya.

(04). Jika majelis ilmu ada di masjid, maka sebelum duduk hendaknya shalat sunnah tahiyatul masjid.

(05). Ucapkanlah salam saat memasuki suatu majelis.

(06). Jika bercampur antara jamaah wanita dan pria di suatu majelis ilmu, maka hendaknya diberi pembatas atau hijab di antara mereka untuk menghindari fitnah. Atau bisa juga dengan cara mengadakan majelis ilmu di tempat tertentu khusus untuk para wanita saja.

(07). Tidak menyuruh orang lain berdiri, pindah atau menggeser tempat duduknya.

(08). Tidak meletakkan tangan kiri ke belakang.

(09). Mendekat ke ustadz saat ia memberi nasehat.

(10). Mencatat ilmu agar tidak mudah hilang.

(11). Tenang, tidak berbicara, tidak bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia, tidak sibuk sendiri dengan banyak bergerak, menolah-noleh ke belakang atau ke kiri dan kanan, hendaknya mata tertuju kepada ustadz dalam majelis ilmu.

من لا يكرمُ العلمَ لا يكرمه العلمُ
“Barangsiapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan menjadikannya mulia”

Jika seorang murid berakhlak buruk kepada ustadznya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, seperti hilangnya berkah dari ilmu yang di dapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خيركم اسلاما احاسنكم اخلاقا اذا فقهوا
“Sebaik-baik kalian Islamnya adalah yang paling baik akhlaknya jika mereka menuntut ilmu” (HR. Ahmad no.10329, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.3312, hadits dari Abu Hurairah).

Usamah bin Syariik radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan ada burung di atas kepala kami, tidak ada seorang pun dari kami yang berbicara…” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban, lihat Shahiihut Targhib wat Tarhiib no. 2652)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

“Aku membalik lembaran halaman di hadapan Malik dengan pelan, karena segan kepadanya agar ia tidak mendengar suaranya”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata :
مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”

Janganlah datang ke majelis ilmu hanya sekedar mendengarkan sambil bersantai-santai, tidak serius dan banyak menguap. Ada yang sambil bermain HP, duduk bersandar, tidur, memotret, menjulurkan kaki, memberikan komentar saat ustadz sedang menjelaskan, ada juga yang sambil makan, minum, mengecap permen dan bahkan ada yang niatnya sekedar ngumpul-ngumpul, kopdar, ingin ketemu ustadznya atau tujuannya hanya berdagang saja

Janganlah mengangkat suara saat firman Allah Ta’ala dan hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dibacakan, sehingga berakibat terhapusnya amalan (lihat QS. 7 : 204 dan QS. 49 : 2)

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata :

“Tidak ada yang berbicara di majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada pensil yang diraut, tidak ada seorangpun yang tersenyum, dan tidak ada seorangpun yang berdiri, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung atau seolah-olah mereka sedang shalat. Jika ia melihat salah seorang di antara mereka tersenyum atau bercakap-cakap, maka dia memakai sandalnya lalu keluar” (Siyar A’laamin Nubalaa’ IX/201-202)

(12). Membaca do’a penutup majelis.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

✍️ Ust Najmi Umar Bakkar

join↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [08.02.17 20:48]
◾️ Oh…Alangkah Besarnya Penyesalan… ◾️

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang masìh memungkinkan untuk berbuat durhaka atau taat kepada Allah selama hayat masih di kandung badan…

Keleluasaan yang ia minta, sebaliknya akan menjadi keterkungkungan yang ia terima…

Lalu di manakah letak nikmatnya kedurhakaan seseorang dan dimana jerih payah ketaatannya…?

Seseorang yang telah tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan begitu cepat menghampirinya dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak sudah penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?

Berapa besar kehinaan yang harus ia tanggung setelah kematiannya…?

Dan siksa yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya dihadapan Allah…

Dan itu semua disebabkan oleh kenikmatan yang sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu melupakannya…

Juga bagi orang yang telah melihat dengan mata kepala sendiri bahaya yang akan tersimpan di balik suatu persoalan, akan tetapi kemudian menutup mata darinya…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah…

Derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Manfaatkanlah waktu dan ketahuilah perbuatan apa saja yang mengiringi malam dan siangmu yang telah berlalu…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umurmu dalam tiga waktu : waktu untuk ilmu, waktu untuk beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajibanmu…

Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dan pikirkanlah tempat kembalinya dua kelompok di hadapan Allah. Satu kelompok di dalam Surga dengan ridha-Nya dan satu kelompok berada di Neraka dengan murka-Nya…

Kesenangannya Iblis bukan menjerumuskanmu dalam berbagai kemaksiatan, akan tetapi cita-citanya agar engkau masuk bersamanya ke tempat yang dia akan memasukinya, yaitu Neraka Jahannam…

Hindarilah maksiat hati yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…
“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…
“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [22.03.17 19:52]
◾️ Curahan Hati Untuk Istriku… ◾️

Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…

Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…

Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…

Tapi…

Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…

Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…

Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…

Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…

Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…

Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…

Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…

Aamiin…

(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [25.03.17 20:41]
[ Photo ]

KTT DO’A : Hakikat Do’a

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of SafdahTV

Aku AKAN Merayakan Maulid Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam… Bahkan Aku AKAN Menjadi Yang Terdepan Dalam Memeriahkannya…

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan satu hadits saja yang didalamnya ada anjuran dari beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk mengkhususkan hari ke -12 Robi’ul Awwal dengan sesuatu yang istimewa melebihi hari lainnya.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan satu saja anjuran dari beliau -shollallohu alaihi wasallam- untuk merayakannya, atau satu saja kabar gembira bagi orang yang merayakannya meski hanya dalam bentuk isyarat.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku tidak meyakini bahwa beliau telah menyampaikan syariat drngan penyampaian yang gamblang, dan jika aku meyakini bahwa mungkin ada kebaikan yang belum ada anjurannya dari beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan atsar dari Sahabat Abu Bakar -rodhiallohu ‘anhu- bahwa dia dahulu mengadakan walimah (jamuan makan) pada malam maulid.

Atau bahwa Sahabat Umar -rodhillohu ‘anhu- dahulu menjadikan hari itu sebagai hari libur atau hari permainan.

Atau bahwa Sahabat Utsman -rodhiallohu ‘anhu- dahulu menganjurkan sedekah atau puasa di hari itu.

Atau bahwa Sahabat Ali -rodhiallohu ‘anhu- dahulu membuat perkumpulan untuk mengkaji sirah (Nabi).

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku tahu bahwa Sahabat Bilal atau Sahabat Ibnu Abbas atau siapapun dari Sahabat Nabi -rodhiallohu ‘anhum- dahulu mengkhususkan hari maulid dengan sesuatu apapun, baik yang bernuansa agama maupun dunia.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku TIDAK meyakini bahwa para sahabat Nabi adalah orang yang melebihi aku dalam memuliakan dan mencintai beliau -alaihis sholatu wassalam-, dan (jika aku TIDAK meyakini) bahwa mereka lebih tahu daripada aku tentang kedudukan beliau yang begitu mulia.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan atsar dari salah satu Tabi’in, baik dari kalangan ahlul bait maupun dari orang lain, yang isinya anjuran untuk membaca pujian-pujian kepada Nabi saat hari maulid itu.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku temukan satu kalimat saja dari salah satu Imam Empat tentang anjuran untuk merayakan hari maulid.. atau (aku temukan) satu kabar saja dari salah seorang dari mereka bahwa dia pernah berkumpul bersama orang-orang di malam maulid, kemudian mereka melantunkan nasyid dan menggoyangkan badannya.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku meyakini bahwa para imam itu dan orang-orang sebelum mereka adalah orang-orang yang antipati dan tidak perhatian (kepada beliau), bahwa mereka tidak tahu kedudukan, kehormatan, dan kemuliaan Nabi mereka -shollallohu alaihi wasallam-.

Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku meyakini bahwa umat Islam dulunya TIDAK tahu bagaimana cara menyuarakan rasa cintanya kepada Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, bahkan hingga lebih dari 300 tahun dari keberadaan mereka, karena selama itu mereka tidak pernah sekalipun mengadakan maulid!

Dan yang terakhir… Aku akan menjadi yang terdepan dalam merayakan maulid Nabi, jika aku meyakini bahwa jalan yang paling lurus adalah bid’ah-bid’ahnya orang-orang yang datang belakangan, bukan ittiba’-ittiba’nya para salafus shalih.

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, dan semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada hamba, rasul, dan kekasih-Nya; Nabi kita Muhammad.. dan juga kepada keluarga beliau dan semua sahabat beliau.

[Oleh: Syeikh DR. Shalih Sindi -hafizhohulloh-… Alih bahasa: Musyaffa’ Addariny]

Silahkan dishare… semoga bermanfaat bagi semuanya, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

da101216-0636

Yuk Infak….

http://rodja.id/1kb

WAKAF PEMBEBASAN TANAH UNTUK PERLUASAN MASJID AL-BARKAH CILEUNGSI 1439 H

Tautan: http://rodja.id/1kb

Keutamaan Berinfak di Jalan Allah

Kesempatan bagi Anda untuk mendapatkan pahala jariyah. Mari ikut serta dalam program Pembebasan Tanah untuk perluasan area Masjid Al-Barkah Cileungsi yang berlokasi di Jl. Pahlawan, Kp. Tengah RT 03/03, Kompleks Radio Rodja dan Rodja TV, Cileungsi, Bogor.

Luas tanah keseluruhan:
2.533 meter persegi

Harga tanah per meter:
Rp8.000.000

Dengan total keseluruhan:
Rp20.264.000.000

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang shalih.” (HR Muslim no. 1631)

Di dalam hadits yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Wakaf bisa Anda salurkan melalui rekening:

Bank Syariah Mandiri
756 3131 009
Cabang Cibubur
a.n. Pembangunan Masjid Al-Barkah Yayasan Cahaya Sunnah
(Kode bank untuk transfer melalui ATM Bersama dan Prima: 451)

Atau bisa langsung ke Sekretariat Panitia Pembebasan Tanah Masjid Al-Barkah: Jl. Pahlawan, Kp. Tengah RT 03/03, Kompleks Radio Rodja dan Rodja TV, Cileungsi, Bogor.

Kontak Informasi di:
0821-12345-756

Konfirmasikan transfer Anda melalui SMS/WA ke nomor:
0821-12345-756

Cantumkan nama, asal kota, tanggal transfer, dan jumlah transfer Anda.
Contoh: Abdullah-Bogor-10112017-2.000.000

KEUTAMAAN BERINFAK DI JALAN ALLAH

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 261)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung atau lebih kecil, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR Ibnu Majah no. 738, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6128)

Atas partisipasi Anda dalam investasi akhirat ini, kami ucapkan terima kasih,jazakumullahu khairan.

Informasi ini juga dimuat di Rodja TV.

Saudaraku, Bersabarlah Di Atas Sunnah…

Pada akhir zaman akan semakin sedikit kebaikan, banyak yang menentang, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan condongnya manusia kepada dunia…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Akan datang suatu masa, dimana orang yang bersabar (berpegang teguh) pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api” (HR. At-Tirmidzi no. 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 8002)

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ

Sesungguhnya setelah kalian akan ada hari-hari kesabaran, dimana bersabar pada hari-hari itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala sama dengan 50 orang yang beramal seperti amalannya” (HR. At-Tirmidzi no. 3058 dan Ibnu Majah no. 4014, hadits dari Abu Tsa’labah al-Khusyani). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan tambahan :

قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ منكم

Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, sama dengan pahala 50 orang dari mereka atau kami ?“. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “50 orang dari kalian” (lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3172)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia, dan karena dia berpegang teguh dengan “SUNNAH” di antara kegelapan hawa dan akal pikiran” (Madarijus Salikin III/199)

Maka Syaikh al-Albani rahimahullah berkata :

اعرف السنة تعرف البدعة، أما إذا عرفت البدعة فلا يمكنك أن تعرف السنة.

Pelajarilah as-Sunnah, otomatis engkau akan mengetahui bid’ah, adapun jika engkau hanya mengetahui bid’ah, maka tidak mungkin bagimu untuk mengenal as-Sunnah” (Silsilah al-Huda wan Nur no. 715)

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

Sesungguhnya Ahlussunnah adalah “Yang Paling Sedikit” dari manusia pada zaman yang telah lewat dan mereka paling sedikit dari manusia pada “Zaman Yang Tersisa”. Mereka adalah orang-orang yang tidak ikut-ikutan dengan orang-orang yang bermewah-mewahan, dan tidak juga dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar di dalam menjalankan “SUNNAH” hingga bertemu Rabb mereka” (Sunan ad-Darimi 1/83 dan Ta’dzimu Qodzrus Shalat Lil Marwazih II/678).

Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata :

لأن يكونوا خصمائي أهل البدع يوم القيامة خير من أن يكون خصمي رسول الله بتركي الذب عن سُنته.

Sungguh lebih baik ahli bid’ah yang akan menjadi musuh-musuhku pada hari Kiamat nanti, daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan menjadi musuhku, karena aku tidak mau membela sunnah beliau” (Al-’Alamusy Syamikh hal 388)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata :

ولزوم السنة ماهو بالأمر السهل ، فيه ابتلاء وامتحان، هناك ناس يعيرونك ويؤذونك ويتنقصونك، ويقولون : هذا متشدد متنطع إلى آخره ، أو ربما أنهم لا يكتفون بالكلام، ربما أنهم يقتلونك أو يضربونك، أو يسجنونك ولكن اصبر إذا كنت تريد النجاة وأن تشرب من هذا الحوض، اصبر على التمسك بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أن تلقاه على الحوض

Komitmen dengan sunnah itu bukanlah perkara yang mudah. Di dalamnya penuh dengan berbagai ujian dan cobaan. Akan selalu ada orang-orang yang mencelamu, menyakitimu dan merendahkanmu. Mereka mengatakan : “ini radikal ekstrem” dll. Bahkan kadang kala tidak cukup hanya ucapan saja, mereka pun bisa membunuhmu, memukulmu atau memenjarakanmu. Tetapi tetaplah bersabar, jika engkau ingin keberhasilan dan bisa menenggak air dari telaga Rasulullah ﷺ. Bersabarlah dalam berpegang dengan sunnah Rasulullahsampai engkau bertemu dengan beliau di telaganya kelak” (Syarah ad-Durroh al-Madhiyyah fî Aqdi Ahlil Firoqil Mardhiyyah hal 190)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Waspadalah..!

** Jika seseorang mendatangimu lalu menggibah dan menjatuhkan saudaramu di hadapanmu maka waspadalah…bisa jadi engkau adalah korban berikutnya…

** Jika engkau mendapati seseorang memujimu dengan pujian yang berlebihan yang tidak pantas dengan hakekat dirimu maka waspadalah… suatu hari jika ia membencimu maka ia akan merendahkanmu juga dengan perendahan yang berlebihan.

Maka janganlah terpedaya dengan pujiannya…!

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da050514-1353

Demikianlah Orang Besar…

Sebagian orang mengira bahwa untuk menjadi orang besar itu harus selalu menang, dan terdepan.

Namun tahukah anda bahwa sejatinya pola pikir di atas adalah cermin kerdilnya seseorang ?

Orang besar itu merendah ketika menang, berbesar hati ketika kalah, dan merangkul ketika behasil, memaafkan ketika disakiti, dan melupakan kesalahan orang.

Andai anda hanya mau bersatu dengan saudara anda bila seluruh hak anda telah diberikan, dan pelaku kesalahan mengakui kesalahannya, niscaya persatuan hanya akan ada dalam impian anda, alias anda tidak akan pernah bisa bersatu dengan siapapun kecuali dengan diri anda sendiri. Karena ternyata anda sendiri juga berlumuran dengan banyak kesalahan sebagaimana orang lain, sampaipun istri anda juga belepotan dengan kekurangan.

Coba anda camkan; mengapa Al Hasan cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki sebagai pemimpin ummat, padahal ia pada akhir hayatnya justru kehilangan status sebagai Khalifah ? Karena dia lebih memilih untuk mengalah, dan menyerahkan khilafah kepada sahabat Mu’awiyah demi tercapainya persatuan ummat.

Ternyata ummat Islam bisa bersatu dengan kebesaran jiwa pemilik hak yang rela melepaskan haknya dan memaafkan saudaranya, walaupun terbukti salah.

Namun ingat, bahwa yang beliau maafkan dan relakan adalah hak dan kehormatan pribadinya bukan syari’at agamanya.

Adapun kebenaran yang berkaitan dengan halal, haram, dan hukum hukum Allah, maka tidak sedikitpun beliau korbankan.

Jadi, bagaimana ? mau jadi orang besar atau orang kerdil ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى