All posts by BBG Al Ilmu

Nasihat Imam Syafi’i Untuk Penuntut Ilmu…

اصبر على مرِّ الجفا من معلم
ٍفإنَّ رسوبَ العلمِ في نفراتهِ
ومنْ لم يذق مرَّ التعلمِ ساعة
تجرع ذلَّ الجهل طولَ حياته
ومن فاتهُ التَّعليمُ وقتَ شبابه ِفكبِّر عليه أربعاً لوفاته
وَذَاتُ الْفَتَى ـ واللَّهِ ـ بالْعِلْمِ وَالتُّقَى
إذا لم يكونا لا اعتبار لذاتهِ

Sabarlah engkau dalam pahitnya menghadapi guru yang kaku…
Karena kegagalan dalam menuntut ilmu disebabkan lari darinya…
Barangsiapa yang tidak pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat saja…
Maka dia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya…
Siapapun yang tidak belajar diwaktu mudanya…
Maka bertakbirlah empat kali sebagai tanda wafatnya…
Keberadaan seorang pemuda -demi Allah-dilihat dari ilmu dan ketakwaannya Kalau tidak ada keduanya maka tiada arti wujudnya…

Dinukil dari kitab :
Diiwaan Al Imam Asy Syafi’i hal 41

Abu Riyadl Nurcholis Madjid, حفظه الله تعالى

TIDAK Menjamin…

Terkadang kita merasa kagum dengan kehebatan seseorang membawakan al Qur’an dan hadits dan kekuatan hafalannya..
Saudaraku…

Yang wajib kita perhatikan bukanlah hanya hebatnya hafalan.. tetapi perhatikanlah pemahamannya juga.. apakah sesuai dengan pemahaman para shahabat, tabi’in dan para ulama setelahnya atau tidak..

Coba renungkan sebuah hadits ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kaum khowarij, beliau bersabda:

يقرؤون القران لا يجاوز تراقيهم يقولون من قول خير البرية يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

…mereka menghafal al Qur’an tetapi tidak sampai kerongkongan, mereka membawakan ucapan sebaik baik manusia, mereka melesat dari agama sebagaimana panah melesat dari buruannya.”
HR At Tirmidzi dan ia berkata, “hadits hasan shahih.”

Lihatlah, kaum khowarij disifati oleh nabi hafal al Qur’an dan hadits. tapi mereka tidak mau mengikuti pemahaman shahabat sehingga jatuh dalam penyimpangan..

Semoga bermanfaat…

Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

Sebab Terhindar Dari Adzab Kubur…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يقتله بطنه فلن يعذب في قبره

“Siapa yang dibunuh oleh perutnya (*), maka ia tidak akan diadzab dalam kuburnya.”

HR Ahmad dan An Nasai

Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

(*) dalam keterangan tambahan, Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى menjelaskan maksud “dibunuh oleh perutnya” yaitu “penyakit diperut”

Majelis Ilmu Bahasa Indonesia di Masjid NABAWI…

MADINAH 

Kajian Harian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi Madinah

Kabar gembira bagi para jamaah umrah yang akan berziarah ke Masjid Nabawi, untuk bisa mendengarkan kajian berbahasa Indonesia di masjid yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut jadwal kajian berbahasa indonesia di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawwarah:

• Pemateri : Ustadz Abdullah Roy, MA
(Mahasiswa Doktoral, jurusan Aqidah, Fakultas Da’wah Dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah)

• Materi : Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah
• Karya : Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahaawi

• Waktu : Setiap Hari, Setelah Sholat Magrib (akan dimulai insyaAllah hari Selasa, 7 Rajab 1438 H/4 April 2017 M)
• Tempat : Pintu 19 (Badr)

Semoga info kajian ini bisa disampaikan kepada para jamaah yang akan berangkat umrah tahun ini, sehingga bisa mengambil manfaat lebih banyak selama di Madinah dan meraih pahala menuntut ilmu di Masjid Nabawi.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

“Barangsiapa mendatangi masjidku ini, ia tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau diajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barangsiapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” [HR. Ibnu Majah no. 227, di shahihkan oleh al-Albani]

.:: PPMI MADINAH ::.

Apakah Anda Cantik Atau Tampan..?

Sobat, bila hari ini anda merasa tampan atau cantik jelita, sehingga anda merasa bangga atau minimal senang, maka itu sepenuhnya hak anda. Namun izinkan saya bertanya, apakah anda adalah orang pertama yang tampan atau cantik jelita, sedangkan semua orang sebelum anda tiada seorangpun yang memiliki ketampanan atau kecantikan seperti anda?

Sobat! Ke manakah orang-orang tampan dan cantik sebelum anda ? Mengapa semuanya berubah bahkan pergi ?
Dan bisa jadi kini anda mulai menyadari kepergian ketampanan dan kecantikan yang kemaren anda banggakan.

Coba amati pula keindahan bunga dan alam yang ada disekitar anda, betapa kemaren nampak begitu ndah, namun kini mulai pudar atau bahkan benar-benar telah sirna. Kenapa semua itu bisa terjadi?

Ya, itulah dunia, tiada yang kekal atau abadi, semua akan berganti dan selanjutnya hilang. Bila anda menyadari itu, mengapa anda terperdaya dengannya sehingga melalaikan kindahan, ketampanan dan kecantikan yang abadi ?

Tahukah anda dimana dan bagaimana agar bisa memiliki ketampanan, kecantikan dan keindahan yang abadi ?

Ketahuilah bahwa semua itu hanya ada di surga. Dan untuk bisa mendapatkannya, maka pintalah kepada yang memilikinya, yaitu Allah Azza wa Jalla. Dekatkan diri anda kepada-Nya dan jauhilah seluruh larangan-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِىَ الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ». مِصْدَاقُ ذَلِكَ فِى كِتَابِ اللَّهِ (فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)

Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku kenikmatan yang tiada pernah disaksikan oleh mata manusia, tidak pula pernah didengar oleh telinga manusia, dan tidak pula pernah dibayangkan oleh manusia.

Penjelasan ini semakna dengan firman Allah dalam Al Qur’an: “Tiada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As Sajdah 17 dan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Sobat! Masihkah ada alasan untuk menunda ibadah kepada Allah dan bermaksiat kepada-Nya ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Status KHUSUS Dewasa…

Status khusus dewasa.. semoga berkenan..

Tanyakan kepadanya tentang tauhid “Asma Wassifat”.. kita akan tahu; dia bermanhaj salaf atau tidak.
=====

Diantara perbedaan yang sangat mencolok antara manhaj salaf dengan yang lainnya, adalah pembahasan mengenai tauhid Asma’ Wassifat.. dan ini merupakan masalah ushul (pokok/inti) dalam manhaj salaf.

Ini diantara pembeda antara Ahlussunnah yang bermanhaj salaf, dengan kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’iroh, dan yang lainnya.

Seorang yang bermanhaj salaf harus menetapkan seluruh Nama dan Sifat Allah -subhanahu wata’ala- sebagaimana disebutkan oleh nash-nash syariat yang shahih dengan apa adanya; tanpa takwil, tasybih, ataupun ta’thil, dengan tetap menjaga kemuliaan Allah dan mensucikan-Nya dari kekurangan dan kecacatan.

Siapapun yang menyelisihi kaidah pokok ini, berarti dia tidak bermanhaj salaf, walaupun dia mengaku bermanhaj salaf… karena dia telah menyelisihi Ijma’ ulama salaf dalam bab ini.

Misalnya, kita bisa tanyakan kepadanya:

1. Apa makna “Allah ber-istiwa’ di atas Arsy-Nya”, sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat Al Qur’an, diantaranya di dalam surat Thaha:5.. benarkah itu menunjukkan bahwa Allah berada di atas Arsy ?

2. Mohon penjelasan tentang makna firman Allah ta’ala, di surat Shad, ayat 75, ketika Allah mengatakan kepada Iblis: “Wahai Iblis, apa yang menghalangimu untuk bersujud kepada makhluk yang aku ciptakan dengan kedua tanganku ?!”

3. Benarkah Allah turun ke langit dunia, di setiap sepertiga malam terakhir, sebagaimana ditegaskan dalam hadits yang shahih.. bagaimana penjelasan yang benar tentang hadits tersebut ?

4. Bagaimana penafsiran firman Allah dalam surat Annisa’:164, “Allah berbicara kepada Musa denan sebenar-benarnya”? Apakah yang didengar oleh Nabi Musa -alaihissalam- pada saat itu benar-benar suara Allah ?

5. Bagaimana penjelasan yang benar tentang firman Allah, dalam surat Arrahman, ayat 27, “Akan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.. benarkah pendapat yang menetapkan sifat wajah yang mulia bagi Allah berdasarkan ayat ini ?

Silahkan menambah sendiri pertanyaan dalam masalah ini, karena bab tauhid asma wassifat itu sangat luas sekali.

Tidak ada salahnya cara ini dicoba, dengan tetap menjaga adab dan tata krama dalam bersikap dan berkata.. karena tujuan kita adalah untuk mengetahui sumber ilmu agama kita.. bukan untuk merendahkannya.. semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Jangan Menunggu Hasil Dakwahmu

Jangan menunggu-nunggu hasil dakwahmu.. Tapi teruslah berdakwah; karena tanpa melihat hasil pun, harusnya kita sudah sangat bahagia dengan pahala yang Allah janjikan.

=====

Syeikh Salih Assindi -hafizhahulloh- mengatakan:

“Tidak selayaknya seorang da’i menanti-nanti untuk melihat hasil dakwah dan taklimnya.

Tapi harusnya perhatian dia tertuju pada usaha yang dia kerahkan untuk menyebarkan dan menyampaikan kebenaran.

Adapun buah dan hasilnya, maka itu urusan Allah azza wajall..”

[Syarah Aqidah Wasithiyyah, di Masjid Nabawi].

——

Dakwah adalah tugas kita semua, berdakwah tidak harus menunggu jadi ustadz, yang terpenting adalah kita tahu benar bahwa apa yang kita dakwahkan itu benar.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam-: “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” Tentunya orang yang tahu hanya satu ayat; bukan ustadz, bukan pula seorang yang alim.

Sehingga pesan di atas untuk semua dari kita yang mendakwahkan kebenaran.. teruslah mendakwahkannya, jangan tergesa-gesa dengan hasilnya.. bisa jadi hasil itu datang beberapa generasi setelah kita tiada.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Sakti Tapi Kok Mati..?

Sobat, di setiap masa dan negri, ada saja sosok-sosok yang dianggap sakti. Banyak deh cerita luar biasa tetang sosok tersebut. Ada yang diyakini bisa mendatangkan rejeki, ada pula yang dikisahkan mampu melindungi pengikutnya dari segala petaka. Ada pula yang katanya mampu mengetahui yang gaib, menghidupkan orang yang sudah mati, atau minimal bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah mati, dan masih banyak lagi.

Bagi yang mempercayainya, pasti saja banyak pembelaan, bisa dianggap wali, atau karomah, atau sakti atau lainnya.
Menurut anda, benarkah semua itu terjadi ?

Sobat, sebagai orang yang beriman, anda pasti percaya bahwa andai semua itu benar maka seharusnya orang yang paling sakti adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya para sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya.

Namun demikian, pada kenyataannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui yang gaib, kecuali bila mendapat wahyu. Beliau tidak mampu memberi atau melindungi pengikutnya dari petaka, bahkan beliau sendiri jatuh sakit, merasakan lapar, dan ketika berperang beliau terluka, dan akhirnya beliau juga meninggal dunia. Allah Taala berfirman:

قُل لَّا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Katakan wahai Muhammad: aku tidak pernah mengatakan kepada kalian bahwa aku memiliki perbendaharaan allah, aku juga tidak mengetahui yang gaib, dan aku juga tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah seorang malaikat. Tiada yang aku ikuti melainkan wahyu yang diturunkan kepadaku. Katakan apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat, mengapa kalian tidak berfikir ? ( Al An’am 50)

Coba anda amati orang orang yang dianggap sakti atau wali tersebut, bukankah meteka juga seperti anda, kemaren muda sekarang tua renta? Andai dia benar benar sakti, niscaya ia pelihara dirinya agar tidak menua.

Bukankah dia juga bisa sakit, dan ternyata ketika sakit juga berobat ke dokter? Andai dia benar benar sakti, niscaya dia obati sendiri penyakitnya ?

Bukankah orang yang dianggap sakti itu juga perlu untuk berteduh di dalam rumah, agar terlindung dari panas dan hujan ?
Dan lebih ironisnya, bukankah orang orang yang dianggap sakti itu meminta, dan kalaupun tidak meminta menerima sumbangan dari murid muridnya? Kenapa dia menerima, bukankah ia sakti yang katanya sebagian kesaktiannya, dia mampu melancarkan rejeki dan karir anda ?

Sobat! Sedari dulu kala, dongeng dan fakta memang berbeda, betapa banyak kisah yang luar biasa namun ternyata adanya hanya dalam dongeng, layakkah anda terperdaya oleh dongeng ?

Bila anda masih meyakini yang demikian itu, kemana iman anda bahwa Allah adalah Yang menciptakan, menguasai, dan mengatur dunia beserta isinya ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Dialog ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit…

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit berkata kepada ibnu Abbas,
“Telah sampai kepadaku bahwa kamu berfatwa bahwa wanita haidl boleh pulang sebelum thowaf wada’?”

ibnu Abbas menjawab, “iya betul.”

Zaid: “Jangan berfatwa begitu.”

Ibnu Abbas berkata, “Kenapa tidak boleh? Silahkan tanyakan fulanah dari anshor apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perintahkan kepadanya.”

Lalu Zaid pun pergi dan bertanya kepadanya. Setelah itu Zaid kembali sambil tersenyum seraya berkata, “Kamu benar.”

Itulah ketawadluan..
itulah ilmu dan ittiba’…

Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى