All posts by BBG Al Ilmu

Bagaikan Lebah

Dari Abdullah bin Amru rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak..” (HR Ahmad dan dishohihkan oleh Ahmad Syakir)

Itulah mukmin bagaikan lebah, ia hanya memakan yang halal dan menjauhi makanan yang haram.

ia selalu mengeluarkan ucapan dan perbuatan yang baik dan bermanfaat sebagimana lebah yang mengeluarkan madu yang bermanfaat untuk manusia.

Dimanapun ia berada, tak pernah berbuat kerusakan. Bahkan ia menjadi pintu pintu pembuka kebaikan untuk manusia.

Ia selalu rajin berusaha dan tak pernah malas. Ulet dan tak pernah menyerah. Bahkan ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain.

Al Munawi rohimahullah berkata:

: “ووجه الشبه: حذق النحل، وفِطنته، وقلة أذاه، وحقارته، ومنفعته، وقنوعه، وسعيه في النهار، وتنزُّهه عن الأقذار، وطيب أكله، وأنه لا يأكل مِن كسب غيره، وطاعته لأميره، وأن للنحل آفاتٍ تقطعه عن عمله، منها: الظلمة، والغَيْم، والريح، والدخَان، والماء، والنار، وكذلك المؤمن له آفات تُفقِره عن عمله؛ ظلمة الغفلة، وغَيْم الشك، وريح الفتنة، ودخَان الحرام، ونار الهوى

“Sisi kesamaannya adalah bahwa lebah itu :
– cerdas,
– ia jarang menyakiti,
– rendah (tawadhu),
– bermanfaat,
– selalu merasa cukup (qona’ah),
– bekerja di waktu siang,
– menjauhi kotoran,
– makanannya halal nan baik,
– ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain,
– amat taat kepada pemimpinnya, dan
– lebah itu berhenti bekerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air dan api..

Demikian pula mukmin.. amalnya terkena penyakit bila terkena gelapnya kelalaian, mendungnya keraguan, angin fitnah, asap haram, dan api hawa nafsu..”

(Faidhul Qodiir 5/115)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 5

Telah tiba hukuman (baca PART # 4) bagi Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memerintahkan kepada seluruh muslim di kota Madinah untuk mendiamkan Ka’ab dan kedua mu’minin lainnya yang tidak ikut Perang Tabuk, yakni Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi sebagai wujud hukuman kepada Ka’ab untuk selama 50 hari.

Seketika itu kota Madinah berubah bagi mereka bertiga. Ka’ab serasa bukan tinggal di kota Madinah. Setiap orang yang akan jalan berpas-pasan dengan Ka’ab, seketika menjauh. Setiap orang tidak sengaja eye contact dengan Ka’ab, seketika berpaling.

Berbeda dengan Ka’ab yang lebih tahan banting dengan kondisi isolasi sosial tersebut karena paling muda di antara kedua sahabatnya; Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi menghabiskan waktu-waktu hukuman dengan di rumah, menangis. Menangisi kesalahan dan kekhilafan yang dilakukannya. Tiada waktu yang berlalu bagi mereka tanpa meratapi dengan penyesalan.

Sulit dipungkiri kita tidak dapat mengambil ibrah dari apa yang dilakukan Murarah & Hilal. Kedua orang ini adalah alumni Perang Badr. Sebagaimana apa yang telah kita ketahui apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan kepada muslimin yang telah mengikuti jalan juang pada Perang Badr;

“Sungguh Allah telah berfirman kepada orang-orang yang ikut Perang Badar, ‘Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian’.” (HR Bukhari no. 4066, Muslim No. 4550).

Murarah dan Hilal, sosok kedua sahabat yang telah diampuni Allah Subhanahu wa Ta’ala atas partisipasinya di perang Badr, masih meratapi kesalahan dan menangisi sesal perbuatan atas khilaf tidak ikut ke perang Tabuk.

Lalu bagaimana dengan diri kita? Apakah kita sudah ada jaminan ampunan dari Allah? Lalu kita belum pernah menangisi dosa-dosa di masa lalu? Murarah & Hilal hanya melalukan 1 kesalahan atas absensi di Perang Tabuk, itu pun ditebus dengan kejujuran kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Mereka depresi berat khawatir akan dosa-dosanya dengan mengunci diri di rumah karena takut dirinya masuk ke dalam golongan orang-orang munafik.

Dan bagaimana dengan kita? Berapa sholat yang pernah kita tinggalkan di masa lalu? Berapa hari puasa Ramadhan yang kita remehkan tidak kita tunaikan?

Ibnu Mas’ud Rahimahullah berkata:

إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه, وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مر على أنفه فقال به هكذا فذبه عنه

“Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut.” (Bukhari)

Tak ubahnya Ka’ab, bathin dirinya menderita karena dijauhkan para sahabat-sahabatnya. Ka’ab membawa dirinya berjalan ke pasar, namun tiada kenalan, teman bahkan para sahabat tiada yang mau membalas salam darinya. Tak putus asa, Ka’ab mencoba memutuskan untuk bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Karena dirinya yakin, kasih sayang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada umatnya melebihi cinta kepada dirinya sendiri.

Sesampainya di depan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang baru saja menyelesaikan sholat, Ka’ab menghampiri dan mengucapkan salam. Serta merta tiada balasan salam yang meluncur kepada Ka’ab. Sekalipun Ka’ab telah dengan teliti penuh harap menyimak gerak bibir Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, namun tiada sambut gerak salam atau ucap kepada Ka’ab.

Tak putus akal, Ka’ab berupaya kembali menarik perhatian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Ka’ab memutuskan untuk sholat persis di sebelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Tujuannya; Ka’ab ingin melirik curi pandang selagi sholat ke arah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan harapan besar ada pandangan balasan kedirinya. Namun didapatinya tiada pandang balas ke arah Ka’ab dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Belakangan setelah kisah ini berlalu, Ka’ab baru mengetahuinya; ternyata pada saat Ka’ab melanjutkan fokus pada sholatnya diwaktu samping Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, terdapat pandang balasan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan penuh kasih sayang kepada Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu.

Inilah bukti kasih sayang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Marah yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah marah dengan penuh kasih sayang. Demi pendidikan ke sahabatnya. Bukan meluncur di atas rasa sakit hati karena Ka’ab telah tidak mengikuti perintahnya mengikuti perang Tabuk, melainkan tergerak atas perintah Allah Jalla Jalaluhu.

Inilah teladan yang diberikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, bagaimana pendidikan kepada sahabat dengan kasih sayang. Indahnya jika dapat diaplikasikan nasehat dan pendidikan penuh kasih sayang kepada saudara-saudara seiman kita. Mengkritik dengan santun dan bahasa yang hikmah. Menasehati saudari seiman yang belum berhijab sesuai syariat dengan kasih sayang, tidak menjatuhkan.

Kembali pada kondisi Ka’ab, dirinya menjalani hari kian terasa sesak di dada. Pengucilan sosial dirinya semakin membuat sempit dadanya. Namun tak membuat sempit pikirannya, Ka’ab mengambil akal untuk mencari figur lainnya yang harapnya dapat membalas interaksi dengan dirinya. Yakni sepupunya yang disayang, Abu Qatadah RadhiAllahu’anhu.

Ka’ab menghampiri rumah Abu Qatadah. Diucapkan salam di depan pintu rumahnya, namun tiada balasan dari balik pintu rumah sepupunya. Tak mau menelan asumsi Abu Qatadah tidak di rumahnya, Ka’ab memanjat rumah Abu Qatadah dan mendapati sepupunya sedang di rumahnya mengacuhkan dirinya.

Ka’ab mengucapkan salam kepada Abu Qatadah. Demikiannya karena perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, Abu Qatadah memilih menaatinya dan mendiamkan Ka’ab. Mendapati sepupunya mengambil tindakan serupa dengan mu’minin lainnya seantero Madinah, Ka’ab melanjutkan salamnya dengan melempar pertanyaan kepada orang yang paling disayangnya setelah Rasulullah Shallallahu’alalihi wa Sallam:

“Hai Abu Qatadah, saya hendak bertanya padamu kerana Allah, apakah engkau mengetahui bahwa saya ini mencintai Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam?”

Masih tiada suara sambutan yang membalas pertanyaan Ka’ab, yang tak lain pertanyaan yang dilontarkan Ka’ab semata dengan harapan untuk diyakinkan bahwa dirinya bukanlah termasuk orang munafik. Diulanginya hingga 3 kali kepada Abu Qatadah, namun tiada respon yang didapatinya kecuali keheningan.

Namun sontak terkejut hati Ka’ab, Abu Qatadah menjawab pertanyaan Ka’ab dengan penuh hikmah:

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui tentang itu.”

Begitu mendapati sepupu kesayangannya yang sekaligus sahabatnya tidak memberikan kesaksian kepada dirinya, Ka’ab langsung mendapati dirinya dalam kegamangan status dirinya, tak ayal terbit pertanyaan di hatinya, “jangan-jangan saya munafik? Separah itukah saya?”
Kelebat pertanyaan demi pertanyaan menghampiri pikirannya hingga tanpa sadar air mata jatuh dari mata Ka’ab, dan meninggalkan sepupunya itu. Perjalanan pulang Ka’ab dalam kegalauan. Walau berat pula bagi Abu Qatadah memberikan perlakuan tersebut kepada Ka’ab, Abu Qatadah tetap setia kepada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sekalipun dirinya tahu persis kualitas ibadah Ka’ab, sekalipun dirinya tahu persis perangai kesetiaan Ka’ab pada Islam dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan berat hati Abu Qatadah memberikan tanggapan sedemikian dinginnya.

Cuplikan adegan di rumah Abu Qatadah dapatlah terbetik ibrah bagi kita, yakni bagaimana sikap Abu Qatadah kepada Ka’ab; Sahabat adalah segalanya. Apalagi sahabat yang berada di jalan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun masih terdapat prioritas di atas itu, yakni Allah dan Rasul-Nya.

Kesetiakawanan dan kasih sayang Abu Qatadah yang membuat berat berbuat demikian kepada Ka’ab, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ

Artinya:
”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama umat Islam …” (QS: Al Fath: 29).

Ka’ab bukanlah sembarang muslim di mata Abu Qatadah, dirinya adalah sahabatnya. Dan kasih sayangnya didasari dari gerak iman di hatinya. Namun di atas itu, ketika perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam datang, Abu Qatadah menuruti dan dengan berat hati memberikan perlakuan demikiannya kepada Ka’ab. Sekalipun tidak ada orang lain yang menyaksikan, Abu Qatadah dapat saja melunakkan hatinya dari perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan berinteraksi dengan leluasa kepada Ka’ab, karena terlindung tembok rumahnya. Namun Abu Qatadah memilih setia dan melaksanakan pada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Sepulangnya dari rumah Abu Qatadah, Ka’ab melewati pasar dan tak sengaja melihat sekelompok petani yang datang dari luar kota Madinah. Serta merta, sekelompok petani yang dilihatnya, ternyata sedang mencari dirinya. Ka’ab mengetahui dengan persis bagaimana petani-petani tersebut bertanya kepada para pedagang satu per satu lokasi dirinya. Namun begitu tahu yang ditanya adalah dirinya, para pedagang tidak ada yang membalas dengan ucapan, tapi hanya menunjuk ke posisi Ka’ab berada. Sulit dipungkiri bahwa hal yang dilihatnya pun menambah derita hati Ka’ab.

Setibanya para petani tersebut di depan Ka’ab, mereka menyerahkan sepucuk surat yang didapatinya dari Raja Ghassan, yang beragama nasrani. Yang isinya sebagai berikut:

“Telah sampai kepada kami, bahwa sahabat Anda mendiamkan Anda. Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kami akan menghiburmu!”

Pesan Raja Ghassan tepat ketika suasana kekalutan hati Ka’ab, dikucilkan satu Madinah. Tujuannya tak lain untuk memprovoksi Ka’ab untuk berpaling dan menetap di bawah fasilitas yang ditawarkan Raja Ghassan.

Apa tanggapan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ?

Bersambung di PART # 6
Baca kisah sebelumnya di
PART # 4
PART # 3
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1630510637252733/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 5

Menghadapi Hari Esok…

Bismillah
Akhi Ukhti…
MENGHADAPI HARI ESOK

Jangan bangga dengan jumlahmu yang banyak
Jumlah itu hanya bilangan tanah yang berjalan
Hanya angka yang bisa ditambah dan dikurangi

Ingatlah umat islam sempat kalah padahal ditengah mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dan jumlah mereka pada waktu itu Buanyaakkkkk

Bacalah dan camkan firman Allah, jangan hanya dibaca artinya

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ﴿٢٥﴾ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

Sesungguhnya Allâh telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain. Yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allâh menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allâh menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allâh menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. [at-Taubah/9:25-26].

INGAT… JANGAN CONGKAK

Yang bisa memenangkan kita itu bukan jumlah kita
Bukan kekayaan kita
Bukan kecerdasan kita
Bukan siasat kita, namun karena Allah jalla jalaluhu yang menolong dan memenangkan kita
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allâh menolong kamu, maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allâh membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allâh sesudah itu ? Karena itu hendaklah kepada Allâh saja orang-orang Mukmin bertawakkal. [Ali Imrân/3:160]

Maka untuk hari esok dan yang selanjutnya
Bila umat islam ingin menang, kita harus berubah, yakni dengan:
Kembalilah kepada agama Allah
Serahkan semuanya pada Allah
Bertaubat atas segala dosa
perbaiki perbuatan kita
terus beribadah
berdoa memohon dengan sangat, jangan hanya untuk diri sendiri namun kita umat islam semua dan negeri ini
banyak-banyak membaca:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Kalau umat islam masih mengandalkan jumlah dan kekuatannya
Maka sepertinya kekalahan itu akan kembali dirasakan…
sampai kapan???
sampai kembali kepada agamanya
tunjukkan bahwa engkau ada muslim sejati

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Untuk Warga Muslim JAKARTA dan Kota Lain Yang Keadaannya Sama dengannya…

Menggunakan hak suara dalam pemilukada untuk memilih pemimpin muslim adalah sebuah kewajiban dan keharusan dalam syariat.

Karena Islam mewajibkan kita mengangkat pemimpin muslim, dan melarang kita dengan ancaman yang KERAS memilih pemimpin kafir.

Allah telah berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang KAFIR sebagai PEMIMPIN meninggalkan orang-orang mukmin!

Apakah kalian ingin memberikan alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukum kalian)?!

“Sungguh, orang-orang MUNAFIK itu ditempatkan pada jurang paling bawah di Neraka. Dan engkau tidak tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka!” [Annisa’: 144-145].

Saudaraku seiman, rasakanlah getaran 3 ancaman Allah dalam ayat ini jika memilih pemimpin kafir:

1. Memilih pemimpin kafir, berarti membuka pintu hukuman dari Allah.

2. Allah menganggap mereka yang memilih pemimpin kafir sebagai munafik.

3. Bahwa orang munafik yang demikian tempatnya di jurang neraka yang paling dalam.

=====

Saudaraku seiman, bagi yang merasa golput adalah tindakan menghindarkan diri dari sistem demokrasi dan itulah pilihan yang selamat; penulis hanya bisa mengingatkan:

a. Golput adalah pilihan yang diberikan oleh sistem demokrasi sebagaimana pilihan memilih… sehingga dengan bergolput; sebenarnya kita juga tidak lepas dari sistem demokrasi… karena memilih atau tidak memilih masih dalam koridor demokrasi.

b. Dengan bergolput, berarti kita memberikan jalan kepada orang kafir untuk memimpin kaum muslimin… dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang KAFIR untuk mengalahkan orang-orang yang beriman” [Annisa: 141, lihat Ibnu Katsir 2/437].

Jika Allah tidak menginginkan orang yang beriman kalah, lalu bagaimana kita malah memuluskan jalan orang kafir untuk menguasai kaum mukminin.

c. Bolehnya menggunakan suara dalam pemilu, tidak harus sampai pada derajat darurat atau genting, karena para ulama ahlussunnah memasukkannya dalam kaidah “memilih pilihan yang paling ringan mudharatnya.”

Hal ini bisa disederhanakan dengan contoh kasus: apabila kita berada diantara dua pilihan, rugi kehilangan motor atau kehilangan mobil, karena sesuatu hal… Maka, yang akan kita lakukan adalah memilih untuk mengamankan mobil karena dia lebih berharga, walaupun motor harus menjadi korban… dan keadaan ini bukanlah keadaan darurat atau genting sehingga kalau tidak memilih kita akan mati… tapi kita memilih pilihan itu hanya karena menginginkan mafsadah yang lebih ringan.

Oleh karena itu, marilah kita semua sebagai sesama saudara, saling membantu saudara kita yang seiman, untuk mengalahkan yang kafir, dan ingatkan diri masing-masing pada sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:

“Sungguh seorang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya” [HR. Bukhori:481 dan Muslim:2585].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Bagi Yang Orang Tuanya Sudah Meninggal…

Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, belum habis kesempatan untuk berbakti.

Banyaklah memintakan AMPUN untuknya. Karena Nabi tercinta -shollalohu alaihi wasallam- pernah bersabda:
“Sungguh, ada seseorang DINAIKKAN DERAJATNYA di surga, sehingga dia bertanya: “Dari mana ini?”. Maka dikatakan padanya: “Itu karena PERMINTAAN AMPUN ANAKMU untukmu..” [HR. Ibnu Majah: 3660, dihasankan oleh Syeikh Albani].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Dua Perkara Penjaga Amal…

Ada dua amal yang berfungsi menjaga amal lainnya. Yaitu SHOLAT dan MENJAGA LISAN.

Adapun sholat Disebutkan dalam hadits Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi).

Dalam lafadz lain:

فإن قبلت منه قبل سائر عمله وإن ردت عليه عليه رد سائر عمله

Apabila sholatnya diterima maka akan diterima semua amalnya. Dan apabila ditolak, maka akan ditolak seluruh amalnya.”

Hasits ini menunjukkan bahwa orang yang benar benar menjaga sholatnya, rukun dan syaratnya serta kekhusyuannya akan menyebabkan terjaga amal lainnya.

Adapun menjaga lisan. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al Ahzab: 71-72)

Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa orang yang bertaqwa dengan menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik, akan dijaga amalnya dan diampuni dosanya.

Dan dalam hadits disebutkan:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه رَفَعَهُ قَالَ: إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ اْلأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ: اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَ إِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Dari Abu Sa’id al-Khudriy radliyallahu anhu secara marfu’, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia menjelang pagi, maka semua anggota-anggota badannya menyalahkan lisan. Mereka berkata, “(Wahai lisan) bertakwalah engkau kepada Allah, karena kami. Maka sesungguhnya keadaan kami tergantung kepadamu. Jika kamu istiqomah, kamipun istiqomah. Namun jika kamu menyimpang, maka kamipun menyimpang”. [HR at-Turmudziy: 2407 dan Ahmad: III/ 96. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan, lihat Shahih Sunan at-Turmudziy: 1962, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 351, Misykah al-Mashobih: 4838 dan al-Adab: 397].

Oleh karena itu, kita menyaksikan orang yang tidak menjaga lisannya dari ghibah, menyakiti orang, berdusta, mengumpat dan sebagainya, tidak dijaga amalnya oleh Allah Ta’ala.

Maka siapa yang ingin agar amalnya terjaga, maka jagalah dua perkara ini. Yaitu menjaga sholat dan menjaga lisan.

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL JABBAAR

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH