All posts by BBG Al Ilmu

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL MU’MIN

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

 

Cara Beribadah Dengan Sifat Allah – AL MALIK

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Mengajak Memberontak Pemerintah dalam Pandangan Islam… Pelajaran Berharga dari Kisah Imam Ahmad bin Hambal

Imam Ahmad hidup dalam rentang tiga periode kekhalifahan Bani Abbasiyah yang dipimpin Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq dalam kurun 16 tahun. Para khalifah tersebut terpengaruh pemikiran sesat Mu’tazilah, sehingga mewajibkan para ulama ketika itu untuk mengatakan dan mendakwahkan sebuah kalimat kufur, bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Siapa yang enggan melakukannya, maka diancam bunuh atau minimal dipenjara dan disiksa. Padahal, ucapan tersebut termasuk ucapan kufur karena jika Al-Qur’an adalah makhluk, itu berarti Al-Qur’an bisa bertambah dan berkurang seiring zaman.

Imam Ahmad adalah panutan umat. Apapun sikap beliau terhadap paksaan khalifah maka akan diikuti umat. Sampai ada orang yang berkata kepada beliau, jika beliau mengikuti tuntutan khalifah untuk mengucapkan Al-Qur’an adalah makhluk, maka umat akan mengikuti beliau sehingga beliau akan menanggung dosa-dosa mereka pada hari kiamat. Namun jika beliau bersabar atas siksaan, maka baginya surga.

Termotivasi dengan itu, beliau semakin berpegang teguh dengan keyakinannya dan tidak menuruti khalifah. Akibatnya beliau dipenjara selama 28-30 bulan dan dicambuk di dalamnya dengan cambukan yang bisa merubuhkan anak unta saking kerasnya. Padahal utusan-utusan khalifah yang bertugas untuk mendebat beliau dalam masalah itu tidak ada yang mampu mengalahkan dalil-dalil yang beliau bawakan.

Kisah lebih lengkap dapat dibaca dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dan kitab lain, yang ujungnya adalah kabar gembira bagi kaum muslimin.

Pelajaran berharga dari seorang Imam Ahmad adalah bersabar dengan kezhaliman penguasa dan tidak memberontak kepadanya. Padahal mungkin saja itu beliau lakukan bersama murid-muridnya dan seluruh kaum muslimin, dengan alasan kesalahan pemerintah bahkan telah sampai tingkat kekafiran.

Sikap Sebagian Orang

Ketika pemerintah Indonesia dianggap melakukan berbagai kesalahan dalam menjalankan roda kekuasaan, sebagian orang dengan gegabahnya mengajak rakyat untuk memberontak. Mereka berteriak revolusi dan berusaha menggulingkannya. Padahal, para ulama umat Islam menyebutkan ada 7 syarat yang harus terpenuhi sebelum kaum muslimin memberontak.

Syarat pertama:
Kesalahannya adalah benar-benar suatu kekafiran menurut dalil dari Al-Qur’an, sunnah dan ijma’ ulama.
Kadang orang mengajak masyarakat memberontak dan melengserkan pemimpin karena kesalahan pemerintah yang tingkatannya adalah maksiat seperti menarik pajak dalam keadaan tidak terdesak, memenjarakan orang tidak bersalah, korupsi dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan ucapan kekafiran yang dituntut oleh para khalifah yang berkuasa di zaman Imam Ahmad, maka itu belum seberapa. Belum lagi, kesalahan yang dilakukan pemerintah sangat potensial dilakukan oleh siapapun yang memegang tampuk kekuasaan.

Syarat kedua:
Kekafiran yang dilakukan adalah nyata dilakukannya secara meluas, bukan sekedar dugaan ataupun hasil memata-matai.

Misalnya mereka menghina Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, malaikat-Nya dan mendustakan hari kiamat secara terang-terangan di media massa.

Masalahnya, banyak oknum di negeri ini yang bisa menjadi pembawa keburukan akibat mengajak manusia memberontak dan angkat senjata karena landasan berita-berita yang sifatnya tidak bisa dipastikan kebenarannya. Dengan kata lain, mereka hanya menelan mentah-mentah isu yang dihembuskan situs gosipanu.com, beritaanu.com yang hanya sekedar katanya dan katanya.

Syarat ketiga:
Kekafiran yang dilakukan adalah jelas kekafiran dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Tidak bisa pula ditafsirkan dengan yang lain selain kekafiran.

Misalnya menginjak Al-Qur’an, membuangnya ke dalam toilet, mencaci maki Nabi, dan lainnya.

Adapun jika masalahnya adalah meninggalkan shalat dalam keadaan masih meyakini wajibnya shalat, atau shalat bolong-bolong, maka ini tidak memenuhi syarat, karena memang ada silang pendapat di kalangan ulama apakah yang melakukannya kafir atau tidak.

Syarat keempat:
Para ulama yang berkompeten telah membantah kekeliruan mereka dengan dalil sehingga terluruskan apa yang salah para pemerintah.

Karena itulah Imam Ahmad berdebat dengan para penganut Mu’tazilah yang ada di sekeliling khalifah agar khalifah menyadari kekeliruannya.

Syarat kelima:
Kaum muslimin memiliki kemampuan menggulingkannya. Jika tidak mampu, maka tidak mereka melakukannya.

Lihatlah apa yang terjadi di Suriah, dimana masyarakat memberontak pemerintah mereka yang menganut agama Syiah Nushairiyyah yang nyata kafir karena menyembah selain Allah. Hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan pada asalnya. Setelah berlalu 7 tahun sejak pecah pemberontakan, pemerintah tak juga tergulingkan sedangkan nyawa kaum muslimin sudah ratusan ribu hingga jutaan melayang.

Syarat keenam:
Diyakinkan penggulingan tersebut tidak akan menimbulkan kemadharatan yang lebih besar.

Sungguh yang terjadi di Suriah menjadi contoh nyata. Masjid hancur. Sekolah dan fasilitas umum lebur. Jasad anak dan wanita bergelimpangan jatuh akibat perang. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terpaksa makan kucing karena tidak ada lagi makanan.

Mungkin tidak ada kemadharatan yang lebih besar dari seorang muslim dari kalangan pemerintah dan yang mendukungnya saling bunuh dengan saudaranya dari kalangan kaum muslimin yang termakan fitnah yang dikobarkan pendukung pemberontakan.

Syarat ketujuh:
Penggulingan tersebut diputuskan melalui musyawarah para ahli ilmu agama yang mengambil keputusan dengan pertimbangan yang ilmu yang kuat, yaitu “ahlul halli wal aqdi”, bukan orang awam yang tidak berilmu.

Ketujuh syarat tersebut disebutkan dalam kitab Al-Ahkam fi Sabri Ahwal Al-Hukkam wama Yusyra’u Li Ar-Ra’iyyah fiha minal Ahkam karya Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, seorang syaikh pengajar di Masjid Nabawi.

Jika salah satu saja dari ketujuh syarat di atas hilang, maka pemberontakan tidak dibenarkan di dalam Islam, meskipun itu atas nama revolusi damai atau semacamnya.

Bagaimana jika Pemerintah Zhalim ?

Ringkasnya ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Mengingkari kemungkaran dan kezhaliman yang pemerintah lakukan, dengan hatinya.
2. Bersabar atas kezhalimannya, sekalipun dipukul, dipenjara ataupun hartanya diambil, sebagaimana dalam kisah Imam Ahmad.
3. Menyampaikan aspirasi dan nasehat dengan cara bijaksana, lembut, tulus, melalui orang-orang yang berkompeten, bukan dengan caci maki dan hinaan di hadapan massa dan mimbar Jumat.
4. Mendoakannya agar mereka mendapatkan hidayah agar kembali kepada kebenaran.
5. Tidak memberontak kecuali terpenuhi syarat tadi.

Nabi bersabda, “Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, maka jangan melakukanya terang-terangan. Hendaklah ia berlemah lembut meraih tangannya dan berduaan dengannya. Sekiranya penguasa menerima nasehat maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka ia telah melaksanakan kewajibannya untuk menasehatinya” (HR. Al-Hakim).

Harian Tribun Kaltim terbit hari ini, Senin, 6 Februari 2017.

Muflih Safitra, حفظه الله تعالى

Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara… 

Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara (Masjid, pondok tahfizh, dll), hingga tanggal 5 Jumadil Ula 1438 H / 2 Feb 2017 M.

=======

Alhamdulillah, donasi yang masuk dari awal pembukaan hingga hari ini sebesar = Rp. 132.577.676,-
(perincian di akhir pesan ini).

Kekurangan biaya pembebasan tanah wakaf utk pembangunan masjid dan pusat kajian sunnah ini masih cukup banyak, yakni: Rp. 267.422.324,- sehingga uluran donasi dari segenap kaum muslimin masih sangat diharapkan.

Semoga Allah melipatgandakan pahala infak para donatur, menjadikannya amal jariyah yg terus mengalir pahalanya, serta memberkahi dan melapangkan rezeki dan harta mereka, amin.

Silahkan menyalurkan donasi Anda ke rekening-rekening berikut ini:

1. Bank BNI Syariah, cabang Kudus
No rek: 04 858 47 919
a/n. Sasmono

2. Bank CIMB Niaga Syariah, cabang Jepara
No rek: 7608 6904 7200
a/n. Sasmono

3. Bank BCA, cabang Jepara
No rek: 24 717 044 09
a/n. Sasmono

Konfirmasi ke:
+966 508 774 890 (WA, Musyaffa’ Addariny)
+6281 325 711 311 (sms dan WA, Sasmono)

Format konfirmasi:
Nama#Alamat#BankTujuan#Tanggal#Nominal

Ttd: Yayasan Dakwah Ahlussunnah “Madinatul Islam”.

———-

* Jika Anda tidak mampu membantu dana, Anda bisa membantu menyebarkan pesan ini, mungkin dari usaha Anda ini ‘dakwah sunnah’ akan semakin menyebar, dan pahala anda akan terus mengalir.

* Tanah wakaf ini akan dikelola oleh Yayasan Dakwah Ahlussunnah Jepara “Madinatul Islam”, dan saya Musyaffa’ Addariny sebagai salah satu dewan pembinanya.

——–

Perincian donasi yang kami terima:

hamba Allah# 762,849 #BNI# kebunjeruk
hamba Allah #140,500 #BNI#kudus
Hamba Allah#500,000# BNI
ian #350,000 #BNI #jakarta
ana #500,000# BNI# ogan ilir sumsel
hamba Allah #1,500,000 #BNI
joko firmanto# 150,000 #BNI #gresik
sandi rosadi #281,000 #BNI
junaidah #140,500 #BNI# batam
hamba Allah #50,000# BNI
hamba Allah #200,000 #BNI
fahmi amrullah #1,000,000# BNI# jayapura
hamba Allah #500,000 #BNI
arif #150,000 #BNI #jakarta
dinaragung# 140,500 #BNI #semarang
anjung #100,000 BNI# cilegon
hamba Allah # 140,500 #BNI
hamba Allah #500,000 # BNI
hamba Allah # 300,000 #BNI
hamba Allah #140,500 BNI
muhammad zaki #150,001 #BNI #tegalmulyobanguntapan bantul
hamba Allah #300,000 #bca
hamba Allah #250,000# bca
hamba Allah #150,000 #bca #jakarta
hamba Allah #300,000 # bca
abdullah# 1,500,000 #bca #kudus
risbanbi/rosidah# 1,500,000# bca #kudus
bambang war #1,500,000 #bca# kudus
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #140,500# bca
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #100,000 #bca
hamba Allah #500,000# bca
imam# 281,000 # bca #karawang
hamba Allah # 300,000# bca #jkt
hamba Allah #500,000# bca
zaki hayaza #200,000 #bca# mataram
fwd #500,000 # bca
nur fajar# 500,000 #bca #bandung
hamba Allah #500,000# bca
tusriyono# 500,000 #bca
hamba Allah #165,165 #bca
hamba Allah # 250,000# bca# riau
ade kusnandar #140,500# bca #cipondoh
agung pradono #140,500 #bca #bogor
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul #200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca# jaktim
hamba Allah # 300,000 #bca
teguh #140,500 #bca #bekasi
abdullah# 300,000 # bca #lampung
akhwat #140,500 #bca #pekanbaru
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca#gorontalo
robby #500,000 #bca# jakarta
hamba Allah # 281,000# bca
hamba Allah # 1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #Niaga
hamba Allah #140,500 # niaga
tusriyono# 500,000 # bca
hamba Allah #165,165# bca
hamba allah #250,000# bca
ade kusnandar# 140,500 # bca
agung pradono #140,500 #bca
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul# 200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca
hamba allah # 300,000# bca
teguh# 140,500 # bca
abdullah# 300,000 # bca
akhwat #140,500 # bca
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca
robby# 500,000 #bca
hamba Allah #281,000 # bca
hamba Allah #1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #niaga
hamba Allah #140,500 #niaga

Inilah Rasa Malu Yang Sebenarnya…

Bismillah
Akhi ukhti rahimakallah

Menurutmu sifat malu itu terpuji apa tidak?
Ana rasa kita sepakat nich, namun yang terkadang masih abstrak adalah memaknai sifat malu yang terpuji…

Rasa malu adalah bagian dari keimanan
Orang yang berakal sehat niscaya memiliki sifat pemalu, karena ia adalah akar kesehatan akal seseorang dan sumber kebaikan, yang tidak malu hanyalah orang bodoh dan biasanya akan berlaku jahat dan buruk, tindakannya membuat orang lain terperanjat, seraya berucap,
“Koq bisa dia melakukan itu?”
“Tidak menyangka kalau fulan tega berbuat itu”
Ungkapan kekecewaan yang mendalam

Ketika rasa malu hilang…
Tatkala pokok malu telah layu, manusia akan berdusta, menipu, mencuri, merampok, membunuh, memutilasi, memperkosa,korupsi, ingkar janji, jorok ucapannya, mengumbar auratnya….
Dia bertindak seenak perutnya
Bahkan ada yang seperti binatang

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda

((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)).

“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari perkataan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [HR. al-Bukhori no. 6120]

Tatkala rasa malu hilang, maka kebaikan telah sirna dan pergi dan ketentraman ini akan segera berakhir

Perasaan malu itu dua macam, malu kepada Allah dan malu kepada manusia, keduanya terpuji,

hanya yang awal wajib dan yang kedua sunnah

Malu kepada Allah mendorong pemiliknya untuk menghindari hal-hal yang dibenci Allah

Malu kepada manusia membuat orang itu menghindari perbuatan dan perkataan yang tidak disukai masyarakat

Perhatikan petuah nabi shallallahu alaihi wasallam di bawah ini, Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allâh!”
Para sahabat berkata:
“Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah) dan alhamdulilah ”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allâh adalah:

Engkau menjaga kepala dan isinya

Menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya;

Dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan.

Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia.

Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allâh Jalla jalaluhu (HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662)

Akhi ukhti…
Itulah rasa malu yang sebenarnya
Moga engkau sudah merasakannya
Barakallahu fik

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى

Sebesar Apakah Pengorbananmu..?

Bismillah
Akhi Ukhti Rahimakallah…

Sebesar apakah pengorbananmu dalam menuntut ilmu?

Apalagi untuk ilmu yang akan mengantarkanmu kepada Allah
Menunjukimu jalan ke surga
Menerangi untukmu yang halal dan yang haram
Mengangkat derajatmu di dunia dan di akhirat
Ilmu yang hingga semut dan ikan berdoa untukmu

Salah seorang ulama terkenal dari abad kelima Hijriah Muhammad bin Thahir, yang telah melakukan perjalanan panjang dalam ilmu, mengelilingi Syam, Hijaz, Mesir, Irak, Khurrasan

Abul Hasan al Karji pernah ditanya tentang Kredibilitas Ibn Thahir, dia berkata, “Tidak ada yang menandinginya pada masa itu”.

Tahukah engkau bagaimana perjuangan beliau dalam menuntut ilmu, beliau berkata:

“Aku pernah kencing darah dua kali
Sekali di Baghdad dan sekali di Mekah
Penyebabnya aku berjalan kaki tanpa alas di cuaca yang panas
Aku tidak pernah naik kendaraan selama mengumpulkan hadits
Aku membawa buku-bukuku di punggungku
Aku tidak tidak pernah minta-minta selama masa menuntut ilmu
Aku mencukupkan diri dengan apa yang datang
(Siyar A’lam an Nubala 19/363)

MaSya ALLAH…

Kiranya seperti apakah kondisimu dalam masa menuntut ilmu… apalagi ilmu akhirat?

Kalau hanya makan dengan tahu dan tempe
Atau nasi dengan lauk garam
Atau tidur beralaskan tikar…
Sepertinya itu belum seberapa di banding dengan Ibnu Thahir, yang sampai kencing darah…

Apa yang kau berikan kepada ilmu, ilmu hanya akan memberimu sebagiannya…

Coba kau duduk merenung…
Semua yang di dunia ini akan sirna kecuali yang di sisi Allah

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى 

Jadilah Hakim, Jangan Jadi Pengacara…

Bagi Anda yang dapat memahami dalil dan metode berdalil dengan baik, maka posisikanlah diri sebagai HAKIM saat melihat perbedaan pendapat para ulama, bukan sebagai PENGACARA.

Syeikh Al-Mu’allimi -rohimahulloh- mengatakan:

“Intinya, bahwa seorang pencari kebenaran, jika melihat perbedaan pendapat para ulama, harusnya dia memposisikan dirinya sebagai hakim; maka dia mendengar perkataan dan hujjah setiap dari mereka yang berselisih, kemudian memberi keputusan dengan adil.

Sebagaimana seorang hakim, jika melihat perselisihan antara orang yang saleh dengan orang yang bejat, atau antara orang yang mukmin dengan orang yang kafir;
⚫ dia TIDAK BOLEH memutuskan untuk kebaikan orang yang saleh atau orang yang mukmin tanpa hujjah,
⚫ dia TIDAK BOLEH mendengar dari orang yang saleh tapi menolak keterangan dari orang yang bejat, dan
⚫ dia TIDAK BOLEH enggan dalam memberikan pembelaan kepada orang yang bejat atau kafir jika dia berhak mendapatkannya.

Maka demikian pula seorang pencari kebenaran dalam masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.

Ketahuilah, bahwa kebanyakan ulama yang berafiliasi kepada madzhab tertentu; mereka tidak memposisikan dirinya sebagai hakim, tapi mereka memposisikan dirinya sebagai pengacara, setiap dari mereka menjadi pengacara bagi madzhabnya.

Maka sebagai seorang pencari kebenaran; harusnya mendudukkan mereka pada posisinya, jangan menganggap mereka sebagai hakim, sehingga semua perkataannya harus diterima dalam menguatkan (atau membela) madzhabnya, lalu menyalahkan perkataan selain mereka.

Harusnya dia tahu bahwa mereka adalah para pengacara bagi madzhab mereka; maka janganlah mendengar dari mereka kecuali sebagaimana seorang hakim mendengar dari seorang pengacara.

Dalam hal ini telah masyhur perkataan Amirul Mukminin Ali -rodhiallohu nahu-: ‘Janganlah engkau melihat siapa yg berbicara, tapi lihatlah kepada apa yang dia bicarakan’.”

[Kitab: Atsarul Mu’allimi 2/215].

——

Status ini khusus untuk orang yang sudah bisa mencerna dan memahami dalil dengan baik, dan bisa menempatkan dalil pada tempatnya… bukan untuk orang yang masih awam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى