All posts by BBG Al Ilmu

Puncak Keinginan

Keinginan meraih dunia seringkali menjadi yang terbesar dalam hati kita. Karena manusia lebih mengejar sesuatu yang kasat mata.

Keinginan meraih dunia seringkali mendatangkan kekecewaan dan kegalauan di saat tak dapat meraihnya. Ketika berhasil meraihnya, seringkali membuat lupa dan menimbulkan kecongkakan dan keserakahan. Bahkan tak pernah puas untuk mengumpulkannya. Menjadikan hati miskin dan rakus.

Sedangkan keinginan meraih akherat seringkali dikesampingkan. Padahal ketika hati hanya berharap akherat, ia akan menjadi hati yang kokoh. Ia akan selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya dari kehidupan dunia. Karena ia sadar bahwa kenikmatan dunia hanya sementara dan kelak akan dihisab oleh pemiliknya yaitu Allah ‘Azza Wajalla.

Hati yang menginginkan akherat tak mudah galau dan bersedih hati ketika terluput dari dunia. Ia hanya menggantungkan pengharapannya kepada sang pencipta. Ia memandang dunia sebagai sesuatu yang hina. Sehingga ketika dunia mendatanginya, ia tak tertipu bahkan ia khawatir akan beratnya hisab pada hari kiamat. Sungguh indah hati seperti ini.

Inilah rahasia sabda Nabi shollallahu :alaihi wasallam,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ

“Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, maka Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan hatinya kaya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia yang berhasil diraih hanyalah apa yang telah ditetapkan baginya..”

(Hadits Shahih HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/183), mam ad-Darimi (I/75), Imam Ibnu Hibban (no. 72 dan 73–Mawariduzh Zham’an), Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/175-176, no. 184).

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon kepada Allah agar tidak menjadikan dunia sebagai puncak keinginan dan puncak keilmuannya. Beliau berdoa:

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Dan jangan engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak keinginan kami dan puncak pengetahuan kami. Dan jangan Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami sebagai penguasa kami..” (HR At Tirmidzi)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Waspadai Pujian…

Pujian itu banyak disenangi orang. Bahkan demi pujian banyak orang yang melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Namun bila kita renungkan, sebetulnya pujian itu membahayakan keikhlasan dan keistiqomahan. Pujian membuka pintu riya sehingga dapat membatalkan amalan. Pujian juga membuka pintu ujub sehingga merasa memiliki kelebihan. Pujian membuat seseorang puas dengan pujian tersebut walaupun mungkin sebetulnya ia tak berhak mendapat pujian, sehingga ia merasa puas dengan apa yang tidak ia miliki, dan itu bagaikan memakai dua pakaian kedustaan kata Nabi.

Bahkan keseringan dipuji menjadikan kita lupa untuk intopeksi diri dan mengingat dosa dan kesalahan. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menamai pujian sebagai sembelihan.

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ’Saya kira si fulan demikian kondisinya.’ -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]

Lihatlah, Nabi menganggap pujian itu sama dengan memotong leher orang yang dipuji. Al Munawi rahumahullah berkata, “Disebut memotong leher karena itu dapat mematikan hati.. membuatnya tertipu dengan keadaannya bahkan membuatnya ujub dan sombong.. dan itu membinasakan. Oleh karena itu Nabi menamainya sebagai sembelihan.” (Faidlu Qadiir 3/129)

Bila kita dipuji maka jangan lupa memuji Allah dan ingatlah bahwa itu adalah pintu setan untuk merusak keikhlasannya.
Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah).

Abu Bakr Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah)

Badru Salam, حفظه الله تعالى

1397. Siapa ULIL AMRI..?

Pertanyaan:

Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?

Jawab:
Badru Salam , حفظه الله

Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia) ?”

Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

مكنم رملأا يلوأو

“Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]

Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati.

(Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289)

Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.

Justeru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati.

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء

“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan.”
(Fathul Baari 13/7).

Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.

Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي

“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah.” (HR At Tirmidzi)

Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya.
Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس
قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847).

Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.

Hadits ini juga membantah orang yang mengkafir setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka.

Wallahu a’lam

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

da220816

Merekomendasi Diri Sendiri…

Allah Ta’ala berfirman:

: {فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [32: النجم]

“Janganlah kamu merekomendasi diri sendiri, Dia yang lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”
(An Najm: 32)

Ayat ini melarang kita untuk merekomendasi diri sendiri dengan merasa bahwa kita telah baik, telah kokoh keimanan, telah bersih dari kotoran dosa dan sebagainya.
Karena kita tidak tahu dengan apa kita akan ditutup.

Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mendapati tiga puluh shahabat, tidak ada seorangpun diantara mereka yang merasa bahwa imannya sudah seperti iman jibril. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafiqan menimpa mereka”. Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata tentng penyakit munafiq, “Tidak ada yang merasa aman darinya kecuali orang munafiq. Dan tidak ada yang merasa takut darinya kecuali seorang mukmin.”

Seorang mukmin selalu merasa takut akan dosa dosanya. Ia tak pernah merasa dirinya telah baik keimanannya. Ia khawatir amalnya tak diterima. Sehingga ia terus bersungguh sungguh untuk memperbaiki diri.

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Sebab Tersesatnya Semua Golongan Sesat, Dari Zaman Dulu Hingga Sekarang…

Syeikh Albani -rohimahulloh-:

“Pokok-pokok dakwah salaf berdiri di atas tiga pilar:

(1) Al Qur’anul Karim,
(2) Hadits yang sahih,
(3) Memahami keduanya sesuai dengan cara generasi salafus shalih dari para sahabat, para tabiin, dan para tabiut tabiin.

Dan sebab tersesatnya seluruh kelompok sesat, baik di zaman dulu maupun di zaman sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan PILAR YANG KE-TIGA.”

[Majalah Al-Asholah, edisi 27].

——

Maka tak heran bila ada orang yang berdalil dengan Al Qur’an atau Hadits yang shahih untuk membela orang kafir dan menyudutkan orang Islam… Karena dia menafsirkan dalil itu dengan cara dia, dalam bahasa orang jawa “sak pena’e udele dewe”, bukan dengan cara generasi salafus shalih.

Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk kesesatan dan penyesatan, amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Cadar Bukan Budaya Bangsa Arab…

Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa cadar adalah budaya arab, bukan bagian dari syariat Islam.. Dengan begitu, dia bisa menyudutkannya, karena budaya arab pasnya di negara arab saja.

Kita katakan, bahwa orang yang demikian sangat pas dengan sebutan “kurang piknik”, walaupun sebagian dari mereka bergelar doktor, bahkan profesor –Allohu yahdihim wa yahdina jami’an-.

Hal ini karena ternyata sebagian ulama dari madzhab syafi’i justru menegaskan bahwa cadar itu bukan budaya arab, tapi itu adalah syariat Islam yang mulia, yang dibawa oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menggantikan budaya arab sebelumnya.

Lihatlah penegasan imam Ibnul Mulaqqin -rohimahulloh- (w 804 H) berikut ini:

“Dahulu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- meninggalkan pakaian hijab (untuk para isteri beliau) karena berjalan sesuai budaya arab ketika itu, sampai akhirnya beliau diperintahkan dengan syariat hijab (cadar).

Perintah berhijab tersebut diturunkan (untuk para isteri beliau) karena kemuliaan mereka, tingginya kedudukan mereka, dan agungnya martabat mereka. Dan karena yang pantas untuk mereka adalah dengan mengenakan hijab di depan orang lain.”

[Kitab: At-Taudhih Li Syarhil Jaami’ish Shohih, 5/412].

——

Lihatlah bagaimana beliau mengatakan dengan tegas, bahwa di budaya arab dahulu justru para wanita tidak berhijab (bercadar), kemudian Allah menurunkan syariat tersebut menggantikan budaya yang ada ketika itu.

Dari sini kita juga bisa memahami bahwa jilbab (tanpa penutup wajah) merupakan budaya kaum muslimin yang telah mendapatkan ikrar (persetujuan) dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sehingga itu juga termasuk bagian dari syariat Islam yang mulia.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin di zaman akhir ini, kita harus cerdas melihat tipuan musuh Islam dalam menjauhkan kaum muslimin dari syariatnya… Seringkali mereka menjadikan bagian dari syariat Islam sebagai budaya arab, agar mereka bisa dengan bebas menyudutkan syariat tersebut.

Oleh karenanya, jangan heran jika kita mendengar: jilbab itu budaya arab… merapatkan shaf dalam shalat hanya budaya arab… ucapan assalamu’alaikum itu budaya arab… jenggot juga budaya arab… celana atau sarung cingkrang hanyalah budaya arab… dst.

Dan lihatlah setelah itu, mereka akan mengolok-olok apa yang dia katakan sebagai budaya arab… padahal sebenarnya itu merupakan syariat Islam yang dulu diperjuangkan oleh Nabi tercinta Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 4

Minggu lalu (PART # 3) kita sudah mengikuti penuturan kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu dan penyikapannya untuk memilih jalan kejujuran dalam menyampaikan ketiadaan uzur yang dimilikinya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam karena tidak mengikuti perang Tabuk. Dirinya lebih memilih dimarahi oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu kejujuran Ka’ab dipuji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan sabdanya;
”Tentang orang ini, maka pembicaraannya memang benar – tidak berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Tak kurang ujian yang dihadapi Ka’ab, sepulangnya ke rumah Ka’ab diprovokasi oleh segolongan dari Bani Salimah, demikian ucapan-ucapan mereka telah menghasut hati dan pikiran Ka’ab sampai-sampai dirinya hampir ingin kembali ke Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan ‘merevisi’ pernyataan jujurnya dengan alasan kedustaan. Terkait cuplikan pengalaman Ka’ab ini, ibrah (pembelajaran) yang dapat kita petik ialah terdapat urgensi bagi kita untuk senantiasa menjaga ketiga organ tubuh kita; pendengaran, penglihatan dan hati guna dijauhkan dari paparan informasi yang jauh dari ajaran Islam & destruktif kepada keimanan kita.

Terdapat faedah yang sayang kita untuk kita lewatkan; yakni manusia memiliki kecenderungan labil yang besar. Dan dari faedah ini, kita dapat mengambil dua pelajaran; yang pertama mengenai istiqomah, janganlah terlarut dalam euforia hijrah. Pembenahan hati tidak berhenti ketika sudah berhijab sesuai syariat. Penegakkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tidak berhenti ketika memiliki jenggot. Bisa jadi seseorang terlena dengan keadaan dan terjebak dalam kelalaian ibadah lainnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah subhanahhu wa ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim)

Bayangkan, jika manusia sekaliber Ka’ab, sosok sahabat yang pernah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam di perang Badr, yang notabene adalah salah satu dari 70 orang yang tergabung dalam Bai’at Aqobah, dalam hitungan menit dapat terpengaruh dalam hitungan menit. Apalagi diri kita, tak pelak lebih berpeluang untuk dapat mengalami kelabilan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS: Al Ankabut:2)

Itulah sebab kenapa kita harus istiqomah, karena Allah akan menguji kita. Dan ketika kesempatan ujian itu tiba, jangan sampai kita missed. Jangan mengira ketika kita sudah _ngaji_, kita sudah di comfort zone. Karena pada prinsipnya tidak ada comfort zone di dunia ini bagi orang beriman, karena tujuang akhir orang beriman adalah kampung akhirat.

PELAJARAN KEDUA dari faedah kelabilan manusia setelah istiqomah, yakni hal yang berkaitan dengan muammalah; selama kita berhadapan dengan manusia, maka masihlah terdapat peluang berjuang. Karena manusia mudah berubah, maka usahakan yang terbaik untuk mereka dalam upaya menyampaikan kebaikan.

Kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Dalam kegoncangannya atas pengaruh provokasi golongan Bani Salimah, Ka’ab menanyakan sesuatu kepada mereka:

“Apakah ada orang lain yang menemui peristiwa sebagaimana hal yang saya temui itu?”

Orang-orang itu menjawab:
“Ya, ada dua orang yang menemui keadaan seperti itu. Keduanya berkata sebagaimana yang engkau katakan lalu terhadap keduanya itupun diucapkan – oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kata-kata yang diucapkan padamu.”

Ka’ab berkata:
“Siapakah kedua orang itu?”

Orang-orang menjawab:
“Mereka itu ialah Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.”

Ka’ab berkata:
“Orang-orang itu menyebut-nyebutkan di mukaku bahwa kedua orang itu adalah orang-orang sholeh dan juga benar-benar ikut menyaksikan peperangan Badar dan keduanya dapat dijadikan sebagai contoh – dalam keberanian dan lain-lain.”_

Dari momen tersebut kita dapat kembali mengambil ibrah, obat untuk mengobati kegalauan yang kita alami adalah teman sepenanggungan. Keberadaan teman, apalagi jika lebih senior dari kita, yang pernah satu profesi dari kita, dapat menghilangkan penyakit kegalauan di dalam hati kita. Karena tak pelak lagi, ketika kita sedang menapaki jalan hidayah kita membutuhkan figur; tak luput Rasullullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun selain beliau, pada tingkatan pergaulan yang sebaya dengan diri kita, kita membutuhkan teman sepenanggungan.

Inilah resep istiqomah untuk survive hidup di kota yang penuh fitnah. Di mana dunia sudah terbuka semua, kita butuh teman. Kita butuh figur. Kita butuh senior. Janganlah kita jadi eksklusif.

Kita kembali ke kisah Ka’ab in Malik RadhiAllahu’anhu. Maka Ka’ab pulang ke rumahnya. Setibanya dirinya di kediamannya, telah tiba kabar hukuman untuk dirinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam melarang seluruh kaum Muslimin untuk berinteraksi dengan Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi serta Ka’ab bin Malik.

Semenjak hari itu, semuanya berubah. Satu kota Madinah mendadak berubah suasana bagi Ka’ab dua teman lainnya. Sampai Ka’ab merasa asing di kota Madinah. Semua orang berubah, pertanyaan dari Ka’ab tidak ada yang menjawab. Dan hal ini diberlangsungkan selama 50 hari khusus bagi mereka.

Hal ini tentu berbeda dengan apa yang sudah kita ketahui mengenai haramnya sesama muslim untuk mendiamkan selama lebih dari 3 hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ

Artinya:
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka.” (HR. Abu Daud dishahihkan Al-Albani).

Inilah mulianya agama Islam. Islam adalah agama yang sangat humanis. Karena yang menurunkan adalah Yang Menciptakan manusia. Allah Jalla jalaluhu yang paling memahami kapasitas emosi setiap manusia yang berbeda-beda, telah diatur bagaimana kita bersikap batas mendiamkan sesama muslim tak lebih dari 3 hari.

Adalah pengecualian pada treatment Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang memberlakukan hukuman mendiamkan kepada Ka’ab dan dua temannya selama 50 hari. Perlakuan khusus ini dijelaskan oleh Imam al Khattabi di dalam kitab Ma’alimul Sunan, karena terdapat kekhawatiran Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pada diri tiga sahabatnya yang tidak ikut ke perang Tabuk tumbuh virus kemunafikan. Karena hanya orang munafik yang tidak memiliki uzur untuk tidak ikut dalam perang Tabuk. Pun hukuman yang diberlakukan adalah sarana uji ketahanan kapasitas Ka’ab dan kedua temannya, karena orang munafik tidak akan tahan didiamkan selama 50 hari.

Sejenak mari kita berkaca pada momen tersebut;
Hilal bin Umayyah yang pernah menghancurkan berhala dengan dua tangannya di khawatirkan menjadi munafik.
Ka’ab bin Malik, salah satu figur sahabat alumni perang Badr, perang Uhud, dan Fathul Mekkah telah dikhawatirkan menjadi munafik.

Mereka dikhawatirkan menjadi munafik karena sebuah kesalahan. Lalu pertanyaannya; “bagaimana dengan kita?” Kitalah yang paling pantas dikhawatirkan.

Apa yang sudah kita lakukan dengan masa lalu yang bergelimang dosa? Barulah kita bertaubat kemarin hari. Barulah kita menghadiri kajian dalam hitungan jari. Atau pun janganlah kita merasa senantiasa besar hati telah mengamalkan beberapa anjuran Sunnah.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan; “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”

Pemboikotan yang dialami Ka’ab dan kedua temannya hendaknya menginsipirasikan diri kita. Audit diri kita sebelum di audit Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat.

Bersambung di PART # 5
Baca kisah sebelumnya di 
PART # 3
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1628101810826949/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 4

Kafir Adil Atau Muslim Koruptor…

Akhir akhir ini, sering kita mendengar pernyataan: “Kafir Adil Lebih Baik Dibanding Muslim Korup”.

Pernyataan di atas sekilas terdengar cerdas, namun sejatinya bila dipikirkan lebih mendalam, niscaya anda mendapatkan pernyataan di atas jauh menyimpang dari.kebenaran, dan sekaligus bentuk dari pembodohan, kemunduran dan kemalasan berpikir.

Di saat yang sama, perbandingan di atas bukti telah hilangnya nilai nilai keadilan dari diri pelakunya.

Mendengung dengungkan keadilan, namun ternyata keadilan adalah hal pertama yang mereka dustakan.

Seharusnya membuat perbandingan tuh yang adil dan obyektif sebagaimana berikut ini:
Milih Muslim adil atau kafir adil ?
Milih muslim korupsi atau kafir korupsi ?
Milih muslim adil atau kafir korupsi ?
Milih muslim korupsi atau kafir adil ?

Sebagai orang yang beriman tentu anda tidak mungkin salah pilih. Karena anda memilih berdasarkan ilmu dan iman bukan berdasarkan NAFSU dan kebodohan.

Bagi yang mengedepankan nafsu apalagi ditambah dengan kebodohan maka bisa jadi mereka salah pilih.

Namun bagi anda orang yang beriman dan cinta kepada agamanya, pasti anda memilih muslim dalam segala kondisi, sampaipun dalam kondisi yang terburuk, yaitu bila pilihannya muslim koruptor melawan kafir adil, karena selamatnya agama dirinya dan juga agama masyarakatnya lebih penting dibanding segala urusan, sampaipun ia harus kehilangan dunia beserta seluruh isinya.

Sekali lagi kata kunci memilihnya ialah memilih atas dasar ilmu dan iman dan bukan karena NAFSU dan KEBODOHAN.

Sebagaimana dalam segala urusan, orang yang beriman selalu mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dalam aspek agamanya ?

Orang islam bertindak berucap selalu mempertimbangkan manfaat di dunia juga di akhirat, madhorot di dunia dan juga di akhirat.
Dan bila keduanya tidak bisa digabungkan, maka pertimbangan akhirat pasti lebih didahulukan.

Ya, memang dalam segala urusan termasuk dalam urusan politik, aspek market atau pasar sangat penting.

Bagi yang marketnya adalah kalangan terpelajar maka ia berkepentingan memperbesar jumlah marketnya, memperbanyak sekolah, perguruan tinggi agar basis marketnya bertambah besar bukan malah mengerucut.

Sedangkan orang yang basis dukungannya wong cilik dan rakyat kecil, maka disadari atau tidak ia berkepentingan menjaga basis marketnya agar tetap eksis dan kalau bisa bertambah besar dan semakin banyak.

Meningkatnya tarap kehidupan dan pendidikan masyarakat berarti menipisnya market mereka, dan menipisnya market berarti ancaman bagi eksistensi mereka.

Sobat! Cerdas dalam berpikir, adil dalam bersikap dan kritis dalam menilai adalah karakter setiap muslim, jangan pernah lagi anda dibohongi dengan kata kata : “kafir adil lebih baik dari muslim korupsi”, karena “Muslim adil tentu lebih bagus dibanding kafir korupsi”.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Terbukti…

Kaum Muslimin, semoga Allah memuliakan kita semua..

Kita telah melihat bersama, bahwa:

Sudah tidak relevan lagi slogan “kafir yang adil lebih baik daripada muslim yang zhalim” bagi masyarakat Jakarta.

Karena sudah nyata yang kafir telah menzalimi banyak sekali wong cilik, bahkan telah nyata menzalimi seorang kyai yang banyak berjasa bagi kaum muslimin.. Justru yang muslim, dari track recordnya terlihat lebih adil dan berhati nurani.

Tidak laku lagi slogan “kafir bersih lebih baik daripada muslim yang koruptor”.

Karena sudah nyata yang kafir telah terendus banyak korupsi, hanya saja karena kesaktiannya atau kekuatan bekingannya, dia kebal dan hukum sangat tumpul terhadapnya… Justru yang muslim, terlihat lebih bersih dan tulus.

Tidak pas lagi slogan “mulut kasar yang memihak rakyat lebih baik daripada mulut santun tapi main di belakang”

Karena ternyata sudah terbukti, ternyata dia disamping mulutnya kasar juga seringkali tidak memihak rakyat kecil, bahkan tidak memihak kaum muslimin dan para ulamanya… Justru yang muslim, terlihat: cerdas, santun, dan lebih sejuk dipandang.

Wahai kaum muslimin Jakarta, sayangilah diri kalian dengan memilih pemimpin yang muslim, bersih, santun, dan berhati nurani.. !!

Dan niatkanlah ibadah dalam memilih pemimpin yg muslim, yaitu dalam rangka menaati perintah Allah dalam Almaidah:51 dan banyak ayat lainnya yg senada.

Dan takutlah digolongkan Allah sebagai orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya (yg artinya):

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang MUNAFIK, bahwa bagi mereka adzab yang pedih. (yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang KAFIR sebagai pemimpin meninggalkan kaum mukminin. Apakah mereka menginginkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu?! Maka, sungguh semua kemuliaan itu milik Allah”. [Annisa: 138-139].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 4 (tamat)

Setelah ketiga tema di atas berhasil saya jawab, padahal menurut beliau selama ini beliau belum pernah menemukan jawaban yang memuaskan beliau, kini beliau berpindah ke tema yang lebih krusial karena ini adalah dunia beliau, yaitu masalah politik.

Beliau berkata: ummat Islam harus menguasai tiga hal agar dapat memimpin, ketiga hal itu ialah:
1. Politik.
2. Ekonomi.
3. Pendidikan dan Tekhnologi
Tanpa ketiganya maka ummat Islam akan terus termarjinalkan, karena itu jangan heran bila tokoh-tokoh Islam yang terjun ke dunia politik atau menjadi pejabat publik, banyak yang korupsi, terperangkap dalam iming-iming harta, salah satu sebab utamanya ialah karena mereka miskin.

Pernyataan beliau yang sekilas nampak santun dan beralasan ini, namun sejatinya bagi saya ini adalah sindiran tajam kepada diri saya. Seakan beliau berkata kepada saya: kamu ngomong boleh saja hebat, tapi kamu minus ketiga hal di atas, maka semuanya sia-sia.

Menanggapi pernyataan beliau di atas, saya meminta izin untuk menanggapi pernyataan beliau. Saya memulai tanggapan dengan berkata:
Nampaknya bapak belum mengenal sejarah Islam, bapak hanya melihat fakta ummat Islam hari ini. Islam telah berjaya belasan abad, memimpin dunia, dari belahan timur hingga barat. Kemajuan eropa berdiri di atas pondasi ilmu pengetahuan yang mereka rampas dari tangan ummat Islam. Sampai saat ini bukti sejarah kepemimpinan Islam atas dunia masih berdiri kokoh di berbagai belahan dunia termasuk di eropa.

Jadi jangan hanya melihat fenomena ummat Islam pada hari ini, namun kajilah sejarah Islam secara komprehensif, dari awal datangnya Islam hingga saat ini.

Islam pada awal kehadirannya mampu menundukkan dunia, termasuk dua negara adi daya kala itu Persia dan Romawi bukan karena kemajuan tekhnologi, kekuatan ekonomi atau politik. Namun mereka mengukir semua itu karena kekuatan iman dan ketakwaan mereka kepada Allah Ta’ala.

Sejarah kembali membuktikan dirinya pada perang salib, ummat Islam telah terkalahkan oleh pasukan salib hingga Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan salib. Tidak tersisa dari negri Islam kecuali negri Mesir, namun dengan pasukan yang tersisa tersebut, dan keimanan mereka kepada Allah, keikhlasan untuk berkorban lillah Azza wa Jalla kembali berkobar, maka mereka berhasil memukul mundur pasukan Salib hingga kembali ke kandangnya.

Demikian pula halnya ketika pasukan Tar-tar, berhasil melumpuhkan berbagai negri Islam, hingga meruntuhkan dinasti Abbasiyah, maka kembali sisa-sisa pasukan Islam yang kala itu berada di negri Mesir kembali mampu bangkit dan mengobarkan iman dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala, maka mereka mampu memukul mundur pasukan Tar-tar hingga kembali ke negri asal mereka.

Perlu bapak ketahui bahwa sejarah Islam telah membuktikan bahwa siklus 100 tahunan sejarah Islam terus bergulir, termasuk yang sedang kita alami saat ini. Ummat Islam sedang mengalami keterpurukan karena siklus sejarah sedang menuju ke bawah, namun percayalah bahwa penurunan ini tidak akan berkepanjangan. Allah Ta’ala pasti mengembalikan kejayaan ummat Islam bukan melalui jalur politik, atau ekonomi, atau tekhnologi, namun dari pintu iman dan ketakwaan.

Seiring dengan berkobarnya semangat ummat Islam untuk kembali kepada jalan Allah Ta’ala, menjalankan perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya maka kejayaan akan kembali. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus orang/figur/tokoh yang mengembalikan kemurnian (kejayaan) ummat ini, pada setiap penghujung seratus tahun.” (Riwayat Abu Dawud)

Para sahabat yang berhasil meruntuhkan persia dan romawi, atau pasukan Sholahuddin yang berhasil memukul mundur pasukan salib, demikian pula pasukan ummat Islam yang berhasil memukul mundur pasukan Tar-tar, bekal mereka bukan kekuatan politik, atau ekonomi atau tekhnologi, namun bekal mereka adalah kekuatan Iman dan ketaatan. Allah berfirman:

إنْ تَنْصُرُوْا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jikalau kalian menegakkan gama Allah niscaya Allah menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (Muhammad 7)

Saat ini ummat Islam bukan kekurangan orang kaya, atau orang pandai, atau tekhnologi. Namun yang kurang adalah orang kaya yang mengabdikan kekayaannya untuk Islam.

Yang kurang adalah para politikus yang loyal kepada Islam, kebanyakan politikus muslim lebih memilih mengabdikan perjuangannya demi materi dan kelompoknya atau partainya.

Yang kurang adalah ilmuwan yang mengabdikan ilmunya untuk Islam, banyak ilmuwan Muslim yang lebih memilih menjual ilmunya kepada orang kafir dibanding mengabdikan ilmunya kepada ummat Islam, semua karena pertimbangan materi.

Setelah mendengar jawaban saya ini, beliau merasa bergembira dan terbuka wawasannya tentang Islam.

Sebagai respon positifnya, beliau berminat untuk mempelajari Islam lebih jauh

Perlu disampaikan bahwa putra beliau dan juga menantunya mulai rajin mengikuti kajian di majlis Rabbanian di Masjid Al Azhar Jakarta. Sebagaimana istri beliau yang pernah menjabat jabatan strategis di suatu partai politik besar, mengutarakan niatnya untuk mengenakan kerudung, semoga Allah meneguhkan iman beliau sekeluarga dan terus membimbing mereka dan juga anda sekalian ke jalan yang dapat mengantarkan anda semua ke surga, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Baca Part 3
Baca Part 2
Baca Part 1