All posts by BBG Al Ilmu

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 3

Setelah terdiam sesaat mendengar penjelasan tentang tema sebelumnya, bapak tersebut kembali menyatakan: lalu bagaimana dengan orang orang yang belum mendapat akses tentang islam, semisal yang hidup di pedalaman ?

Menanggapi pertanyaan beliau saya berkata:
bapak adalah seorang yang terpelajar sehingga saya heran dengan pertanyaan ini. Kaum terpelajar biasa berpikir secara terstruktur. Dan dalam semua urusan biasanya kita berpikir tentang kondisi yang normal dan umum; bukan terbelenggu dengan kondisi spesial.

Mayoritas yang kafir sudah mendengar dan bahkan banyak dari mereka sudah mengetahui dengan baik agama islam, namun tetap kufur.

Adapun kondisi spesial yang biasanya terjadi pada sekelompok kecil alias minoritas bukan menjadi standar penilaian; walaupun mereka tetap saja akan mendapat perlakukan khusus.

Kalau dalam dunia industri moderen yang demikian canggih saja ada sebutan salah produksi atau sering disebut KW2, yang biasanya dijual dengan harga murah dan bahkan dibubuhi merek tersendiri, maka kondisi serupa juga terjadi pada ummat manusia.

Ada saja sekelompok orang yang luar biasa alias tidak wajar; bisa karena cacat fisik; atau komunitas yang kurang mendukung semisal yang di pedalaman; maka dalam Islam juga mendapat perlakuan khusus.

Kelak di hari qiyamat mereka akan diuji tersendiri atau kalau boleh disebut sebagai ujian susulan. Siapa saja yang lulus pada ujian susulan di akhirat; makanianakan dimasukkan ke surga. Disebutkan dalam sebagian riwayat imam Ahmad bin Hambal bahwa mereka dihadapkan kepada dua pilihan; masuk ke dalam api atau air. Siapa yang menuruti nafsunya dan masuk ke air maka ia tercebur dalam nerak. Dan siapa yang mentaati perintah dan melawan nafsunya sehingga ia masuk api, maka ia masuk surga.

Selanjutnya bapak tersebut berpindah tema diskusi ke masalah jilbab dan celana cingkrang.

Menurut beliau kedua hal tersebut adalah budaya arab yang tidak wajib diikuti oleh semua orang.

Menanggapi ucapan beliau saya berkata:
menurut bapak; menyimpan uang agar tidak dicuri orang misal dengan memasukkannya ke saku; atau dompet; atau mengunci rumah agar tidak dimasuki pencuri apakah ini budaya atau tuntunan syariat yang nota bene sejalan dengan nalar sehat?

Apakah paha istri bapak dan kecantikannya begitu hina sehingga tidak perlu di jaga dari mata mata kucing garong? Apakah uang Rp.5000,- lebih layak untuk ditutupi dibanding paha dan kecantikan istri dan putri bapak?

Kalaupun budaya kita membuka aurat dengan memakai kemben atau bikini ketika renang; maka ketahuilah bahwa syariat yang arti secara bahasanya ialah jalan hidup atau sumber mata air; diturunkan untuk mengendalikan budaya dan nafsu agar stabil dan tidak kelewat batas; bukan sebaliknya budaya dan nafsu yang malah dijadikan syariat.

Adapun celana lelaki yang cingkrang dipermasalahkan; maka saya heran ndak kepalang dengan bapak; kalau melihat celana lelaki naik sedikit di atas mata kaki bapak sewot; namun giliran melihat rok wanita yang naik hingga separoh paha; bapak enjoy. Mengapa hal ini bisa terjadi ? bukankah sama sama cingkrang bahkan kelewat cingkrang ?

Ya jawabannya sederhana: nafsu; standar penilaian bapak sarat dengan pengaruh hawa nafsu.

Mendengar jawaban saya; kembali bapak tersebut tersenyum senyum; dan nantikan diskusi sesi ke4, sesi terakhir: tentang sistem kenegaraan insyaAllah.

Baca Part 2

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 2

​Diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada saya ialah : Mayoritas penduduk bumi ini non islam, nyata-nyata mereka tidak bersyahadat, tidak sholat dan tidak mengakui Islam sebagai agamanya, lalu apakah Allah tega dan begitu kejamkah Allah sehingga kelak akan menyiksa mayoritas penduduk bumi ?

Mendengar pertanyaan ini saya tersenyum, lalu kembali meminta izin untuk mengomentarinya:

Bapak! coba bapak renungkan, andai bapak adalah seorang peternak, memelihara ribuan ekor sapi atau domba atau ayam, lalu dari hewan ternak yang bapak pelihara ada beberapa ekor hewan yang bandel, suka membuat onar, melanggar aturan yang bapak terapkan, bahkan menyeruduk bapak, kira-kira apa yang akan bapak lakukan ?

Bapak memukul mereka, atau menyembelih mereka atau minimal menjual mereka kepada orang lain yang juga pada saatnya akan menyembelihnya bukankah demikian ?

Dan kelak hewan hewan yang nurut sehingga badannya gemuk, bukankah ujung-ujungnya juga akan bapak sembelih atau minimal bapak menjualnya kepada orang lain yang akan menyembelihnya ?

Apakah layak bila kemudian ada orang yang menganggap bahwa bapak adalah lelaki bengis, kejam dan tidak berperasaan? karena hewan yang bengal disembelih dan yang nurut juga disembelih ?

Bagaimana halnya dengan Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan menyiapkan untuknya segala yang di bumi, namun kemudian ada dari mereka yang menentang dan melawan aturan Allah Ta’ala, bukankah mereka itu layak untuk di siksa ?

Sedangkan orang-orang yang tunduk dan patuh, maka pasti mendapatkan surga, bukan disembelih atau disiksa. Mana yang lebih layak disebut kejam, para peternak yang menyembelih semua hewan piaraannya, yang nurut atau yang melawan, ataukah Allah Ta’ala yang hanya menyiksa orang-orang yang membangkang kepada-Nya ?

Padahal Allah Ta’ala telah memberi kesempatan dan terus memberi kesempatan, mengutus para Rasul, menurunkan kitab, membuka pintu taubat sepanjang hayat masih dikandung badan. Masihkah ada alasan bagi siapapun untuk tidak patuh kepada Allah Ta’ala ?

Mendengar penjelasan dan ilustrasi di atas kembali bapak politikus tersebut terdiam mengangguk angguk.

…bersambung di Part 3

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Baca :  Part 1

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 1

Ketika saya duduk bersama seorang politikus senior di senayan, tiba tiba beliau menceritakan satu vidio yang pernah beliau saksikan di youtube. Menurut beliau, pada vidio tersebut seorang lelaki bahkan seorang pendeta tepatnya, bercerita bahwa dia pernah berdoa meminta tiga hal kepada tuhan Yesus, dan ternyata ketiga-tiganya dikabulkan, maka kejadian ini bukti nyata bahwa tuhan yesus adalah benar-benar tuhan.

Kisah di atas menjadi pertanyaan besar bagi sang politikus, dan sudah sekian lama belum menemukan jawabannya, yang dengan dasar itu pula beliau mengajak ummat islam agar tidak terlalu fanatik dengan islamnya, alias toleransi kepada agama lain.

Setelah sang politikus selesai bercerita saya minta izin untuk menanggapi:

1. Saya balik bertanya: bukankah bapak juga tahu berjuta juta manusia mendapat pemberian dan karunia tanpa berdoa, apa itu pertanda bahwa tuhan tidak ada ? Atau pertanda bahwa yesus bukan tuhan?
Mendengar pertanyaan saya, bapak.politikus tersebut terdiam.

2. Selanjutnya saya kembali bertanya: apa buktinya bahwa ketiga hal yang didapat oleh sang pendeta benar benar datang dari yesus ? Bisa jadi itu hanya faktor kebetulan saja, karena betqpa bayak pula orang yang berdoa kepadanya namun tidak dikabulkan.
Kembali bapak tersebut terdiam dan tidak dapat menjawab.

3. Adapun toleransi, maka toleransi yang benar adalah dengan saling membiarkan dan tidak saling mengganggu . Gambaran sederhana tentang toleransi bagaikan suami yang bangga dan meyakini bahwa istrinya adalah wanita tercantik dan bahkan bidadari, numun bukan berarti ia boleh menghina istri tetangga. Kalau toleransi diartikan sehari beribadah di gereja dan sehari di masjid, maka itu sama halnya dengan sehari bermalam dengan istri sendiri dan sehari kemudian bermalam bersama istri tetangga, apa bapak mau seperti itu?
Konsep toleransi dalam islam sudah jelas diajarkan dalam ayat berikut:

لكم دينكم ولي دين

“Bagi kalian agama kalian sedang bagiku agamaku.”

Sebagai orang beriman wajib untuk meyakini bahwa Islam adalah satu satunya agama terbenar dan yang lain tidak benar, namun bukan berarti anda berhak memaksa orang lain mengikuti pilihan dan keyakinan anda.

Sebagaimana orang lain juga pasti meyakini yang serupa, mereka bilang bahwa ummat islam adalah domba domba yang tersesat dan hanya mereka yang tidak tersesat.

Allah Ta’ala berfirman:

لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

“Tiada paksaan dalam urusan mengikuti agama, sungguh telah nyata perbedaan antara petunjuk dari kesesatan.”

…bersambung di Part 2

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Itulah Janji Allah…

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 55)

Perhatikanlah ayat ini.. Allah berjanji kepada siapa? Kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih.
Apa janjinya? Yaitu memberikan kekhilafahan di muka bumi, kekokohan agama, dan keamanan.
Namun apa syarat agar janji tersebut agar terwujud? Yaitu di saat mereka hanya beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.

Buat kamu yang menginginkan khilafah, camkanlah ayat ini. Sesungguhnya khilafah itu adalah janji Allah untuk orang orang yang beriman dan beramal shalih yang mentauhidkan Allah dan menjauhkan kesyirikan.
Sementara kita lihat kesyirikan merajalela..
Perdukunan dan ilmu ilmu mistik menjadi sesuatu yang biasa..
Kuburan-kuburan diagungkan dan diyakini dapat memberi manfaat dan mudlarat..
Keimanan pun dikoyak dengan syubhat pemikiran yang menyesatkan..
Amal shalih pun diwarnai kebid’ahan yang dianggap sebagai kebaikan..

Maka lihatlah kenyataan ini.. semua ini yang menghalangi kejayaan umat..
Oleh karena itu dakwahi manusia kepada tauhid sebagaimana para nabi terdahulu mendakwah kepada tauhid.
Para Nabi tidak memulai dakwah dengan politik atau memperbaiki perekonomian atau lainnya..
Tetapi mereka memulai dakwahnya dengan tauhid. Bahkan dakwah para nabi dari awal sampai akhir adalah tauhid. Menyeru manusia agar hanya menyembah Allah saja dan memperingatkan bahaya syirik dan macam macamnya..

Khilafah bukanlah tujuan dakwah.akan tetapi tujuan dakwah adalah agar manusia mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan. Agar manusia beriman dan beramal shalih. Bila mereka semua telah melakukan itu, pasti Allah akan memberikan kepada mereka khilafah.

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Jadilah Yang Terbaik…

Bismillah
Akhi ukhti… rahimakallah

Di mana letak tanganmu ketika ruku’?
Dan bagaimana posisi kepala dan punggungmu ketika itu?

Coba kau perhatikan, apakah ruku’mu sudah sesuai dengan buku panduan?
Atau kau berinisiatif sendiri mengikuti kenyamanan perasaanmu?
Hanya kau yang tahu hal itu.

Demi kesempurnaan shalat hamba, seyogyanya setiap muslim mengevaluasi posisi ruku’ dia, apakah sudah mendekati gerakan ruku’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam panutan kita?

Mungkin ada Sebagian yang berkata, yang penting kan shalatnya sah, tidak usah terlalu muluk-muluk!
Subhanallah, keenapa kita dalam urusan ibadah tidak mengejar yang sempurna dan paripurna, sebagian selalu mencari yang minimal…
minimalis…. he he he

Cobalah untuk tidak meraih yang di bawah bintang
Jadilah yang terbaik…

Dan yang bisa ana simpulkan tentang ruku’ dari hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut

1. KEDUA TANGAN DILETAKKAN TEPAT DI LUTUT ( bukan di bawah lutut)(lihat HR. Abu Daud no. 863 dan An Nasai no. 1037. (Admin : lihat video berikut : https://www.instagram.com/p/BP5Z5iJjuMo/

2. KONDISI JARI-JARI TANGAN MEREGANG SEAKAN MENGGENGGAM LUTUT (lihat HR. Abu Daud no. 731 dan No. 734)

3. POSISI TANGAN DAN SIKU TIDAK MENEMPEL DENGAN SAMPING TUBUH NAMUN DIJAUHKAN dengan catatan tidak mengganggu yang di sampingnya bila shalat berjamaah (lihat HR Tirmidzi no: 260) )

4. POSISI KEPALA SEJAJAR DENGAN PUNGGUNG TIDAK MENDONGAK( lihat HR. Abu Daud no. 734, Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Majah no. 863)

5. KONDISI PUNGGUNG RATA SEHINGGA JIKA AIR DITUANGKAN DI ATAS PUNGGUNGNYA, AIR ITU AKAN TETAP DIAM BUKAN SEPERTI BUKTI BILA DITUANGKAN AIR AKAN MENGALIR (lihat HR. Ibnu Majah no. 872)

6. THUMA’NINAH, TENANG SAMBIL MEMBACA BACAAN RUKU’ (lihatHR. al-Bukhâri,no. 757 dan Muslim,no. 397)

7. TIDAK MEMBACA AL QUR’AN (HR Muslim. no. hadits 1074)

8. MATA MAMANDANG KE TEMPAT SUJUD (ada yang berpendapat memandang pada kakinya ketika ruku’) (HR. Al Baihaqi 2/283)

Mungkin engkau ingin mempraktekkannya, semoga ALLAH memudahkannya untukmu…
(Admin : lihat video berikut : https://www.instagram.com/p/BP5Z5iJjuMo/

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Tiga Hal Yang Sangat Berharga Dalam Kehidupan

Tiga hal yang sangat berharga dalam kehidupan… Jangan sampai kita sia-siakan.

Muhammad bin Wasi’ -rohimahulloh- mengatakan:

Tidak ada yang tersisa dari kehidupan dunia ini kecuali tiga hal:

(Pertama): Sholat berjama’ah; engkau mendapatkan keutamaannya dan dimaafkan lupamu di dalamnya.

(Kedua): Kehidupan yang mandiri dan bersih; engkau tidak merasa berhutang budi di dalamnya pada orang lain, dan harta itu tidak mendatangkan dosa kepada Allah.

(Ketiga): Saudara yang baik denganmu, jika engkau salah; dia meluruskanmu..”

[Kitab: Roudhotul Uqola’, hal: 86].

——-

Di saat kita diganggu dengan kegaduhan berita oleh media-media.. kita perlu mengingat pesan-pesan sederhana seperti di atas ini.

Kita juga perlu menyadarkan diri, bahwa sebenarnya banyak berita yang hanya mengganggu pikiran kita.. kita hanya dibuat khawatir olehnya, tapi kita tidak bisa berusaha mengubahnya.

Jika kita hanya penonton, mengapa cari tontonan yang tidak mengenakkan pikiran.. sudah saatnya kita ganti dengan menonton kajian sunnah yang menyejukkan hati dan mendekatkan kepada ilahi.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Pembawa Polusi Agama Islam…

Sobat, Islam itu jernih dan terang benerang, namun sering kali dibuat keruh oleh ulah sebagian oknum dari ummatnya.

Tauhid, yaitu mengabdi dan menjadikan keridhaan Allah Ta’ala sebagai satu satunya tujuan hidup itu indah namun menjadi keruh karena ulah sebagian ummat islam. Sebagian ummat islam beribadah karena riya’, jabatan, status sosial dan lainnya, apalagi bila ada dari mereka yang sudah keracunan oleh kemunafikan atau kesyirikan, maka tauhid yang semula indah menjadi keruh.

As sunnah, yaitu beramal sesuai dengan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam itu indah, namun karena ulah sebagian ummat yang mencampurinya dengan budaya, selera, kemalasan dan rekayasa atau modifikasi maka as sunnah yang semula indah menjadi buram.

Akhlaq islam itu indah, namun karena ulah sebagian oknum muslim yang bersikap kaku, arogan, sombong, curang, khianat, dan noda lainnya, maka akhlaq islam terkesan menyebalkan.

Metode ulama’ salaf atau yang sering disebut dengan manhaj salaf itu begitu indah, namun karena ulah sebagian oknum yang menamakan dirinya salafy maka mahaj salaf yang semula indah nampak menakutkan.

Negri islam yang penuh dengan berkah amal sholeh dan ketaatan itu pasti indah, namun karena ulah sebagian oknum ummat islam maka negri islam yang semula indah menjadi gersang, seram nan menakutkan.

Karena itu sobat, mari berinstropeksi diri jangan-jangan anda adalah salah satu oknum yang telah menjadikan semua yang berhubungan dengan Islam yang semula indah kini menjadi nampak suram dan menakutkan.

Sekedar berteriak dan mengamalkan islam belum cukup, sampai anda sadar bahwa anda juga bertanggung jawab menjaga keindahan islam agar tetap indah nan jernih. Jangan sampai orang membuang islam yang begitu berkilau bak cermin hanya karena mereka melihat anda yang sedang bercermin.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وإن منكم لمنفرين

“Sungguh dari kalian ada orang orang yang menyebabkan masyarakat lari menjauh dari Islam.” (MUTTAFAQUN ALAIH)

Hadits di atas beliau sampaikan sebagai teguran keras kepada sebagian sahabat yaitu Mua’adz bin Jabal radhiallahu anhu, karena beliau memanjangkan sholatnya sampai ada dari jama’ah beliau yang memisahkan diri.

Kalau dari sahabat saja ada yang mendapat teguran karena sikapnya yang kurang tepat, maka mungkinkah saat ini semua ustadz dan para juru dakwah telah selamat dari sikap serupa, sehingga tidak layak diingatkan terlebih introspeksi diri dengan hadits di atas ?

Ya Allah, ampunilah dosa dosa hamba-Mu ini dan tambahkanlah ilmu kepadanya, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

3 Yang Bangkrut…

3 yang bangkrut :

1) Anjing pemburu, yang berburu susah payah namun buruannya diserahkan kepada tuannya

2) Orang yang pelit, ia berletih-letih mengumpulkan harta, namun ia sendiri tdk menikmatinya (krn pelit pada dirinya), harta tersebut pada akhirnya ia kumpulkan untuk orang lain (ahli warisnya)

3) Orang yang ghibah, ia bersusah payah beramal shalih namun toh amal shalih tersebut akan ia transfer ke orang yang ia ghibahi

(Faidah dari Dr Abdul Aziz as-Sadhan)

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 3

Menyambung dari pembahasan kajian kita pekan kemarin (baca PART # 2), tibalah saatnya Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu untuk menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam guna menyampaikan penjelasan sebabnya Ka’ab tidak ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu menceritakan dalam hadits yang telah disampaikan lalu, bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam setibanya di Madinah mendengarkan alasan tidak ikut berperangnya dari sedikitnya 80 orang dari kaum munafik setelah selesainya sholat dua rakaat di masjid selesai shafarnya dari Tabuk.

Kedustaan demi kedustaan dari alasan yang disampaikan oleh kaum munafik pun tidak ada yang dibantah, namun tidak ada juga yang dibenarkan. Setelah beliau memberikan himbauan untuk senantiasa taat pada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada kaum munafik, bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ber-istighfar kepada Allah Jalla wa’ala untuk mengampuni kesalahan mereka.

Sampai tiba giliran Ka’ab bin Malik menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan tiada hal yang keluar dari ekspresi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kecuali sebuah senyuman orang yang sedang marah, kemudian bersabda:

“Kemarilah!”

Ka’ab pun mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan duduk berhadap-hadapan dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan kemudian beliau membuka percakapan dengan santun kepada Ka’ab dengan sabda:

“Apakah yang menyebabkan engkau tertinggal bukankah engkau telah membeli unta untuk kendaraanmu?”

Lalu Ka’ab menjawab pertanyaan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam;

” Ya Rasulullah, sesungguhnya saya, demi Allah, andaikata saya duduk di sisi selain Rasulullah dari golongan ahli dunia, niscayalah saya rasa bahwa saya akan dapat keluar dari kemurkaannya dengan mengemukakan suatu alasan (palsu). Sebenarnya saya telah dikaruniai kepandaian dalam bercakap-cakap. Tetapi saya ini -demi Allah- yakin andai kata saya menyampaikan alasan palsu pada hari ini yang Rasulullah akan menerima dan ridha dengan alasanku itu, namun sesungguhnya Allah akan membuat Rasulullah marah terhadapku. Dan Sebaliknya jikalau saya menyampaikan alasan yang sebenarnya yang mungkin membuat Rasulullah marah terhadap diriku namun saya berharap akhir yang baik dari Allah ‘Azza wa jalla. Demi Allah, saya tidak punya alasan syar’i sedikitpun – sehingga tidak mengikuti peperangan itu. Demi Allah, sama sekali saya belum pernah merasa lebih kuat dan lebih ringan untuk mengikutinya itu, yakni di waktu saya tidak ikut perang tabuk.”

Demikiannya Ka’ab, lebih memilih jujur kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada berbohong. Padahal dirinya dikenal dengan kepiawaiannya dalam bahasa dan berbicara, serta merta tak membuatnya mau mengambil tindakan berdusta untuk alasan tidak berperang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan menggunakan kepandaian berbicaranya. Karena Ka’ab lebih takut kepada Allah Jalla jalaluhu jika membohongi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Tentu banyak pembelajaran dari penyikapan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ke dalam kehidupan kita. Banyak pembohong yang tidak sampai terpikir hal seperti yang dipikirkan Ka’ab. Secanggih-canggih pembohong hanya melihat hal di depan dirinya saja. Dirinya tidak melihat konsekuensi dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Ka’ab jelas memahami 100% konsekuensi berdusta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS: Ibrahim: 42)

Allah Maha Mengetahui. Semua yang apa-apa kita perbuat Allah mengetahui, hingga ke isi hati kita. Demikiannya elegan cara Allah bersikap kepada pendusta, segala hukuman ditangguhkan sampai pada waktunya. Dan inilah yang tidak terpikirkan oleh para pembohong. Dan Allah membenci para pendusta. Karena dusta adalah pokok kemunafikan.

Ulama Hasan Al Bashri berkata;

“Inti kemunafikan yang diatasnya dibangun kemunafikan adalah kebohongan” (dzammul kadzib wa ahlih hal 20)

Dari Abu Hurairah RadhiAllahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Bukhari).

Dan orang munafik tempatnya kelak adalah di neraka bawah. Karena kemunafikan adalah kekufuran.

Itulah yang dikhawatirkan Ka’ab bin Malik bin RadhiAllahu’anhu:

“Aku khawatir Allah membuat Anda (Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam) membenci kepada saya.”

Itulah konsekuensi dari berdusta. Sekalipun ada orang yang berdusta demi ridho orang yang didustakannya, kelak Allah akan membuat orang yang didustakannya menjadi benci pada si pendusta dengan sebab lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS: Ali Imran: 54)

Karena jika bermain tipu daya, Allah Jalla jalaluhu akan balas dengan tipu daya pula. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.

Ka’ab sadar betul, untuk menjadi orang bertaqwa adalah dengan sabar dan kejujuran. Karena Ka’ab memilih akhir yang baik. Ka’ab memilih jalan kejujuran untuk mengharap dapat senantiasa bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَاقِبَةُ للتقوى

Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (QS: At Thaha: 132).

Demikiannya, orang yang melakukan dusta itu hidupnya akan melelahkan. Karena dirinya akan terus berhadapan dengan dampak kebohongannya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

…عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ

”Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga…” (HR: Ahmad)

Kita kembali ke kisah Ka’ab, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda setelah mendengar tutur jujur Ka’ab:

“adapun ka’ab ia telah berkata jujur. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Mendengar hal tersebut, pulanglah Ka’ab ke rumahnya. Serta merta diperjalanannya Ka’ab ditemui oleh beberapa orang dari sekampungnya, dari Bani Salimah. Mereka melakukan provokasi terus-terusan kepada Ka’ab. Mereka berkata:

“Demi Allah, kita tidak menganggap bahwa engkau telah pernah bersalah dengan melakukan sesuatu dosapun sebelum saat ini. Engkau agaknya tidak kuasa, mengapa engkau tidak mengemukakan alasan palsu saja kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kepalsuan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tertinggal yang lain-lain. Sebenarnya bukankah telah mencukupi untuk menghilangkan dosamu itu jikalau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam suka memohonkan mengampunan kepada Allah untukmu.”

Demikiannya Ka’ab menjadi terpengaruh. Sampai-sampai dirinya ingin kembali lagi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan bermaksud ‘merevisi’ pernyataan sebelumnya.

Inilah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kita makhluk lemah. Kita sangat terpengaruh dengan apa yang kita dengar. Kita sangat tepengaruh dengan apa yang kita lihat. Kita sangat terpengaruh dengan lingkungan kita. Sejenak kita refleksi kepada Kaab bin Malik RadhiAllahu’anhu, orang yang telah duapuluhan kali berperang di jalan Allah, orang yang ikut bai’at Aqobah, dan dalam sekejap akibat perkataan-perkataan yang buruk, dirinya menjadi terpengaruh. Lalu bagaimana dengan kita?

Bagaimana kita bisa istiqomah, jika kita masih berada di lingkungan yang jauh dari yang mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Bagaimana kita bisa istiqomah, jika kita masih berada di lingkungan yang jauh dari yang mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam?

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengulang mengenai pentingnya peran pendengaran dan penglihatan sedikitnya hingga 22 kali. Berikut beberapa firman-Nya:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya:
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. al-Baqarah: 7)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra’:36)

Karena mata dan telinga adalah informan terbaik bagi hati kita. Dan jika kedua indera tersebut senantiasa dipaparkan dengan informasi kesyirikan, maka hati akan hancur. Demikiannya orang sekaliber Ka’ab sekalipun, dapat lemah atas paparan pendengaran yang buruk.

Sementara bagi sebagian kita; optimis dapat isitqomah sementara jarang mendengar ayat-ayat Allah? Mustahil.

Oleh karena itu senantiasa jagalah penglihatan dan pendengaran kita, sebagai langkah menjaga hati tetap istiqomah di jalan Allah…

Bersambung di PART # 4
Baca kisah sebelumnya di
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1625812731055857/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 3

Wahai Ahlussunnah, Bersabarlah…

Wahai Ahlussunnah, bersabarlah…

Dan teruslah mendakwahkan tauhid dan sunnah Nabi, semampu kalian dan sesuai batasan syariat… walaupun badai cobaan terus menerpa kalian… ujian itu pasti akan berlalu dan semoga kita bisa melaluinya dengan baik, amin.
Ambillah pelajaran dari kisah Nabi Musa alaihissalam dengan Firaun:

a. Fir’aun adalah raja yang jelas-jelas kafir… disifati oleh Allah sebagai musuh-Nya dan musuh Nabi Musa (QS.Thaha: 39)… bahkan dia mengaku tuhan (QS. Annazi’at: 24)… dia kejam dan biadab, sampai-sampai tega memberi perintah membunuh semua bayi laki-laki Bani Isroil di negerinya, entah berapa ribu jumlahnya (QS. Al-A’rof: 141)… dan masih banyak kejahatan, kebejatan, dan kebiadaban dia yang lainnya.

b. Fir’aun keadaannya demikian sudah sejak sebelum lahirnya Nabi Musa alaihissalam, hingga Nabi Musa diutus, dan biasanya seorang nabi diutus di usia ke 40 tahun.. setelah Nabi Musa diutus pun, dia masih seperti itu.. bahkan setelah melihat 9 mukjizat Nabi Musa pun masih seperti itu juga (QS. Al-Isro’: 101).

Bisa kita bayangkan berapa tahun Allah membiarkannya dalam kesesatan dan kejahatannya. Ibnu Jarir Ath-Thobari -rohimahulloh- mengatakan: “Dari lahirnya Nabi Musa sampainya keluarnya Bani Isroil dari negeri mesir 80 tahun”. [Tarikh Thobari 1/386]. Dan ini belum termasuk masa berkuasanya Fir’aun sebelum Nabi Musa lahir.
Meski demikian, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa -alaihissalam- untuk bersabar dalam mendakwahi Fir’aun, dengan mengatakan perkataan yang halus kepadanya, dan Allah memberikan harapan kepada Nabi-Nya mungkin saja dia sadar (QS. Thaha: 44).

c. Allah tidak memerintahkannya untuk memberontak dan menggulingkan Fir’aun… Bahkan akhirnya Allah memerintahkannya untuk membawa keturunan Bani Isroil yang beriman kepadanya untuk lari dan menyelamatkan diri dan umatnya yang beriman (QS. Asy-Syu’aro’: 52) .

Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi Musa alaihissalam, beliau terus mengikuti perintah Allah dengan apa adanya, hingga akhirnya Allah menyelamatkannya dari Fir’aun dan bala tentaranya.
Lihatlah bagaimana Allah menolong para pejuang agama-Nya, di saat mereka di puncak kelemahan, dan di saat musuh mereka di puncak kekuatan!

Ingatlah selalu bahwa Allah hanya memerintahkan untuk membela Islam sesuai kemampuan kita dan sesuai jalan yang Allah gariskan untuk kita… Di sisi lain, Allah juga telah memberikan jaminan akan menjaga agama-Nya… Oleh karenanya, jangan sampai kita melampui batasan-Nya, sehingga kita menjadi binasa sendiri.

d. Ingatlah pemerintah kita, masih jauh lebih baik dari Fir’aun… dan diri kita jauh lebih rendah kedudukannya di sisi Allah dari Nabi Musa -alaihissalam-… Jika Nabi Musa saja memilih jalan sabar dengan tetap mendakwahkan yang baik dengan halus dan beradab, maka harusnya kita juga demikian, wallohu a’lam.

e. Kalaupun kita mati dalam memperjuangkan agama-Nya satu demi satu, hingga kita semua mati dalam rentang waktu lebih lama, itu lebih baik bahkan jauh lebih baik daripada kita semuanya mati dalam waktu singkat… tentu ini hanya seandainya saja, dan semoga hal itu tidak terjadi pada para pejuang dakwah sunnah di negeri yang kita cintai semua, Indonesiaku… wallohul musta’an, wa ilaihil musytaka.

[Faedah ini, penulis rangkum dari tausiah Syeikh Tarhib Addausary -hafizhahullah-, guru besar ilmu ushul fikih Univ Islam Madinah, di rumah beliau pada tanggal 22 Januari 2017 M].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى