All posts by BBG Al Ilmu

Beginilah Sikap TAWADHU’ (Rendah Hati) Yang Benar Kepada Sesama Muslim

Bismillah.

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata:

» Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah (di dalam dirimu): “Dia telah mendahuluiku dalam memeluk agama Islam dan melakukan amal sholih. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Aku telah mendahuluinya dengan perbuatan dosa dan maksiat. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Mereka telah melakukan suatu nikmat.”

» Dan Jika engkau melihat kekurangan atau kelalaian dari mereka terhadap dirimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Hal ini disebabkan dosa yang aku lakukan.”
(Lihat ‘Uyuunu Al-Akbaar, karya Ibnu Qutaibah, I/267).

Inilah wasiat mulia dari seorang ulama sunnah kepada kita semua, yaitu agar kita senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak merasa lebih mulia, sombong dan bangga diri di hadapan orang lain dengan kekayaan, kedudukan dan jabatan yang tinggi, popularitas, kecantikan atau ketampanan, banyaknya ilmu dan amal, atau banyaknya pengikut kita. Karena semakin seorang hamba bersikap tawadhu’, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

» Di dalam hadits yang shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no.2588)

Al-Qodhi Iyadh rahimahullah berkata: “Di dalam hadits tersebut terkandung dua makna, yaitu:

(Pertama) : Bahwa Allah Ta’ala memberikan kepadanya kedudukan yang tinggi di dunia sebagai balasan atas sikap tawadhu’nya karena Allah.

(Kedua) : Peninggian derajat merupakan pahala baginya di akhirat sebagai balasan atas sikap tawadhu’nya itu.”
(Lihat Syarah Shohih Muslim karya Al-Qodhi Iyadh VIII/599).

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. (Kualalumpur, 25 Januari 2017)

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Faedah Ilmu Hari 1 Dauroh Syar’iyyah ke-3 | Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily, حفظه الله تعالى…

Faedah Ilmu Hari 1 Dauroh Syar’iyyah ke-3 | Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily | Surakarta, 25-27 Rabi’ul Akhir 1438 H
(Diketik semampunya di meja peserta oleh Muflih Safitra)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

1. Sebagian kalangan memegang perkataan beberapa individu dari kalangan salafush shalih, tentang sikap tegas kepada ahlul bid’ah, lantas menerapkan sikap keras tersebut kepada seluruh manusia yang mereka anggap ahlul bid’ah. Padahal sebagian ahlul bid’ah justru dapat diajak kembali kepada sunnah ketika mereka didakwahi dengan kelembutan dan sopan santun. Syaikh menceritakan kisah orang yang memiliki pemikiran takfiri, yang akhirnya bertaubat dan kembali kepada manhaj ahlussunnah karena di dalam penjara diberikan makanan yang enak, pakaian yang baik dan perlakuan yang lembut.

2. Hendaknya orang yang memiliki kemampuan menuliskan, menyebarkan ilmunya dengan tulisan atau karangan buku, karena itu bagian dari dakwah dan amal jariyyah.

3. Demonstrasi bukan jalan orang yang memegang manhaj salafush shalih, meskipun dinamakan “demo damai” bahkan “demo yang salafi”. Demonstrasi dilarang di dalam Islam dengan berbagai dalil syar’iyyah, meskipun pemerintah memerintahkannya atau sekedar mengizinkannya.

Kami banyak menasehati orang-orang yang mengajak manusia untuk berdemonstrasi, namun sayangnya banyak dari mereka yang tidak mempedulikan nasehat itu. Mereka pun akhirnya tersadar dan menyesal setelah negeri mereka luluh lantah, rata dengan tanah seperti padang sahara.

4. Penulis menulis pertanyaan: Sebagian orang berkata, ‘Demonstrasi itu adalah masalah duniawiyyah (adat istiadat), bukan ibadah. Sementara ada kaidah yang kita kenal bahwa hukum asal masalah dunia adalah mubah (boleh).’ Bagaimana pandangan Syaikh tentang perkataan tersebut ?

Beliau menjawab:
Pertama, katakanlah demonstrasi adalah masalah dunia. Coba kalian lanjutkan kaidahnya:  Hukum asal masalah dunia adalah mubah (boleh). Baik. Lanjutan kaidahnya?“…Selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”  Maka kita katakan, telah kita baca tadi dalil-dalil yang jelas mengharamkannya. Pun demonstrasi pada realitanya banyak memudharatkan manusia. Demo banyak dibarengi dengan khuruj dari waliyyul amr, diwarnai tumpah darah kaum muslimin, mencela pemerintah, menutup dan memacetkan jalan. Memperlambat jalan dan menghambat kepentingan manusia lainnya.

Kedua, mereka katakan ini masalah dunia. Tapi pada prakteknya mereka juga melakukannya atas nama membela agama. Akhirnya kembali juga kepada kaidah masalah agama yang  hukum asalnya adalah terlarang sampai datang dalil yang mensyari’atkannya.

4. Ada yang menulis pertanyaan: Sebagian orang berkata, ‘Demonstrasi itu maksudnya baik’

Beliau menjawab:
Kalian tahu bahwa tujuan baik tidaklah lantas membenarkan cara. Ingat kisah pengingkaran Ibnu Mas’ud kepada halaqah dzikir dengan batu di masjid, kisah 3 sahabat yang datang kepada istri Nabi.
Anggaplah tujuannya baik. Tapi kalau masyarakat yang merasa jalannya dihambat, terlambat bahkan gagal beraktifitas karena sebab kegiatan demo di jalan, apakah mereka katakan, jazakallah khairan?
_____________________
Muflih Safitra, حفظه الله تعالى

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 2

Pada pekan kemarin (baca PART # 1) kita telah membahas bagaimana profil Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, beliau ialah salah satu sosok sahabat Nabi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang pernah mengikuti bai’at Aqobah, janji setia kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun khilaf luput mengikuti ajakan perang Tabuk oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Dialah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, sosok pahlawan di perang Tabuk, walaupun dirinya tidak mengikuti perang Tabuk tersebut. Dialah sosok inspirator. Khususnya inspirasi bagi orang-orang yang telah melakukan kesalahan di masa lalunya, inspirasi bagi orang yang memilih bangkit dari kesalahannya, inspirasi bagi orang yang ingin memperbaiki ‘raport merahnya’.

Sebagaimana telah kita bahas pada pekan yang lalu, kekhilafan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, tidak mengikuti perang Tabuk karena dua kesalahan fatal yang dilakukannya;
(1) Dirinya terlalu mengandalkan kemampuan dan prestasi diri dan
(2) Dirinya menunda-nunda pekerjaannya sehingga tiba waktunya dirinya ketinggalan rombongan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ke Tabuk.

Ka’ab menceritakan kisahnya pada hadits yang panjang diriwayatkan oleh Imam Bukhari; – yang telah kami publikasikan pekan lalu (Red) (baca PART # 1) -, bahwa begitu banyaknya sahabat dan partisipan kaum muslimin yang berangkat ke perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam belum tersadar kalau Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu tidak ikut, hingga Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba di Tabuk.

Karena begitu tiba di Tabuk, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menanyakan kabar keadaan Ka’ab. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memang dikenal sebagai pribadi yang hangat dan penuh perhatian kepada sahabat-sahabatnya.

“Apa yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?”

Sejurus kemudian sontak seorang dari golongan Bani Salimah menjawab:

“Ya Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian indahnya dan oleh keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya.”

Disinilah momen terbangun bagaimana Ka’ab lengah dengan dunia. Dirinya dianggap lebih mencintai dunia, daripada berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ka’ab lengah sehingga sibuk dengan dunianya, sibuk dengan panen kurma yang melimpah, sibuk dengan bersantai, dan sibuk menikmati nikmat dunia di Madinah, daripada berjalan ratusan kilometer dalam cuaca panas yang ekstrim.

Mendengar jawaban yang menyudutkan Ka’ab tersebut, Mu’az bin Jabal RadhiAllahu’anhu langsung berkata:

“Buruk sekali yang kau katakan itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita tidak pernah melihat keadaan Ka’ab itu kecuali yang baik-baik saja.”

Inilah pelajaran bagi kita, lihat bagaimana karakter kesetiakawanan para sahabat. Mereka tetap membela saudaranya ketika mendengar sesuatu yang buruk mengenai saudaranya. Anak muda yang ngaku beriman harus bersuara membela ketika saudaranya dighibahi, sebagaimana Mu’az bin Jabal RadhiAllahu’anhu bersuara membela Ka’ab.

Tindakan membela saudaranya ini tak lain karena mereka mengamalkan salah satu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam;

“Barang siapa membela daging (kehormatan) saudaranya dari gunjingan orang lain, maka Allah pasti akan membebaskannya dari Neraka.” [HR. Ahmad]

Itulah karakter muslim sejati. Jika ada saudara, teman, kerabatnya sedang dijelekin, jangan kita pilih diam. Apalagi janganlah kita menikmati. Atau lebih parah; jangan sampai malah kita ikut menghabisi daging saudara kita sendiri dengan ikut-ikutan menggibahinya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Barang siapa yang tidak membela saudaranya sesama muslim pada saat kehormatan dan harga dirinya dilecehkan, maka Allah pasti tidak akan membelanya pada saat pertolongan Allah sangat diharapkan.” [HR. Abu Dawud & Imam Ahmad].

Kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, mendengar dua versi ucapan orang-orang sekelilingnya, Nabi terdiam. Nabi tidak membenarkan ucapan Mu’az bin Jabal RadhiAllahu’anhu, namun tidak membela pula _statement_ sebelumnya.

Sejurus kemudian dalam terdiamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, muncul sesosok yang memakai jubah putih menembus oase pada saat itu. Melihat sosok tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampingkan sejenak perihal Kaab, lalu menaruh atensi penuh kepada orang yang sedang mendekat ke dirinya.

Dialah Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu. Tentunya ada hal yang luar biasa dari sosok Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu, hingga-hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sejenak tak menghiraukan perihal Ka’ab dan menaruh perhatian ke Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

“Engkaukah Abu Khaitsamah?”

Dialah memang Abu Khaitsamah al Anshari, orang yang pernah bersedekah dengan sesha’ kurma untuk mendukung perang Tabuk, sekalipun dicibir orang-orang munafik. Sekalipun dicaci orang, sekalipun dicela orang, Abu Khaitsamah tetap menegakkan amalan sedekah sesuai dengan kemampuannya dan dengan hati yang ikhlas.

Ya, itulah ciri orang munafik. Hanya bisa comment namun miskin amal. Demikiannya kita hidup di era yang mudah melempar komentar. Namun sedikit berbuat. Demikiannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat At Taubah ayat 79:

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya:
(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (QS: At Taubah:79)

Selain itu, tindakan Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu membuahkan penegakkan prinsip di atas agama. Dirinya tidak terpengaruh apapun kata orang sekelilingnya. Pantas adanya jika kita mengambil keteladanan sikap ini; janganlah kita mudah terpengaruh omongan orang lain. Tidak perlui kita sampai diperbudak opini yang tidak jelas. Karena pada prinsipnya kita sudah memiliki trendsetter yang jelas, yakni teladan kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Tak sampai disitu, Abu Khaitsamah sempat tergoda untuk kembali ke Madinah karena panas dan beratnya medan yang akan dilalui dalam perjalanan ke Tabuk. Namun serta merta benaknya berteriak meluruskan kembali niatnya, sehingga mantap kembali menyusul ke Tabuk sampai mendapatkan senyum dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di oase pada daerah Tabuk.

Itulah karakter mukmin sejati. Orang yang bijak adalah orang bisa bangkit dari keterpurukan khilaf dosa. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)

Artinya:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS: Ali Imran: 133-135).

Itulah Abu Khaitsamah, teladan untuk orang-orang yang apabila yang mengerjakan dosa yang besar, atau dia mendzalimi dirinya sendiri. Langsung kembali ke Allah Jalla Jalaluhu. Tidak mau terpuruk dosa lama-lama. Memilih bangkit dan move-on dari dosa dengan taubat sebaik-baik taubat.

Sejenak dari sekilas kisah Abu Khaitsamah RadhiAllahu’anhu, kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu.

”Setelah ada berita yang sampai di telingaku bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah menuju kembali dengan kafilahnya dari Tabuk, maka datanglah kesedihanku..”

Ka’ab mengalami kesedihan. Demikian singkatnya perang Tabuk, sehingga dirinya gagal menyusul dan mendapat kabar rombongan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah kembali ke Madinah.

Singkatnya durasi perang Tabuk, karena di medan perang tidak ada adu pedang. Karena di Tabuk tidak ada adu tombak dan senjata. Karena di Tabuk, ternyata tidak didapat kemunculan tentara Romawi. Membuat kondisi pasukan kaum muslimin pada saat itu menang ‘WO’.

Ketiadaan pasukan Romawi di Tabuk, semata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji keyakinan kita kepada-Nya. Demikiannya tak ubahnya dengan kondisi kita saat ini. Kerap kenyataan tidak semenakutkan mimpi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin melihat sejauh mana effort kita kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji keikhlasan kita kepada-Nya.

Itulah ujian yang ada. Karena jika ujian berhasil dilalui dengan baik, ending yang baik hanya untuk orang-orang yang bertaqwa. Karena balasan tersebut adalah surga, sementara surga bukanlah barang murah.

Ternyata tidak ada peperangan di tabuk. Tentu ujian yang disangka berat oleh kaum munafik yang memilih mangkir ajakan perang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ternyata tidak seberat yang dipikirkan. Itulah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan syaithon memanfaatkan kondisi tersebut. Hasutan syaithon telah menggulirkan rasa ragu dan was-was di hati manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

.. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) …

Artinya:
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (QS: An Nas:4-5).

Kembali ke kisah Ka’ab; tentu mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah mengarah pulang ke Madinnah menerbitkan kesedihan Ka’ab. Kalut, was-was, cemas, ragu turut menyertai perasaan Ka’ab.

Pasalnya, di hati Ka’ab sempat muncul untuk berdusta guna mencari-cari alasan ketidak-sertaanya dalam berperang ke Tabuk, agar tidak mendapatkan hukuman Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Karena dirinya mengakui, dirinya telah terpedaya dengan nikmat dunia yang terdapat di Madinnah. Karena memang dunia yang telah menipunya. Tak sedikit dosa-dosa termuncul dipicu oleh cinta dunia yang berlebihan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Artinya:
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS: At Taubah: 55)

Namun di sinilah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu mengambil sikap yang bijak. Sebelum dipilih tindakan tersebut, dirinya meminta bantuan dan nasehat dari keluarganya dan saudaranya yang sholeh-sholeh. Hingga mantap hatinya untuk meninggalkan langkah berdusta mencari alasan dan lebih baik jujur secara ksatria kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

”Saya pun meminta bantuan untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini dengan setiap orang yang banyak mempunyai pendapat dari golongan keluargaku. Setelah diberitahukan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah tiba maka lenyaplah kebathilan dari jiwaku – yakni keinginan akan berdusta itu – sehingga saya mengetahui bahwa saya tidak dapat menyelamatkan diriku dari kemurkaannya itu dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu saya menyatukan pendapat hendak mengatakan secara sebenarnya.”

Ka’ab memilih jalan musyawarah dengan orang-orang sholeh ketika muncul di hatinya pikiran-pikiran kotor. Ka’ab semakin yakin dan mantap, bahwa berbohong adalah langkah bunuh diri. Maka dirinya bertekad untuk jujur apa adanya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba di Madinnah pada waktu dhuha. Dan kegiatan pertama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam setibanya di Madinnah adalah menegakkan sholat 2 rakaat di masjid. Inilah sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang kian dilupakan, sunnah yang kian langka di amalkan. Hendaknya sepulang shafar, dirikanlah 2 rakaat sholat sunnah di masjid sebelum melanjutkan kegiatan rutinitas.

Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sholat 2 rakaat di masjid, beliau keluar kemudian datanglah 80-an orang dari golongan munafik untuk menyampaikan alasan-alasan dustanya tidak mengindahkan anjuran berperang di jalan Allah ke Tabuk.

Tapi ini pelajarannya: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam serta merta hanya tersenyum. Beliau menerima alasan-alasan mereka, beliau tidak membantah ucapan orang-orang munafik. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memilih untuk mengembalikan hakikat mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah salah satu akhlaq Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang teladan.

Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berisitghfar untuk mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan ampun kepada orang-orang munafik tersebut.

Dan setelah menerima kaum munafik, tibalah giliran Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu untuk menyampaikan alasannya kenapa tidak ikut berperang ke Tabuk…

Bersambung di PART # 3
Baca kisah sebelumnya di PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1623594514611012/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 2

Apakah Engkau Termasuk Orang Yang Selalu Terobsesi Untuk…

Bismillah

Akhi Ukhti..

Apakah engkau termasuk orang yang selalu terobsesi untuk mengganti barang yang kau miliki..?

ingin ganti mobil yang lebih mewah dan baru

ingin ganti gadjet keluaran terbaru

ingin ganti tas dengan merk dan model yang lebih wah

ingin ganti motor yang lebih keren dan menawan

Atau apa saja..

Kalau yang mendorong dirimu itu karena faktor kebutuhan mungkin sesuatu yang oke-oke saja

Namun terkadang, engkau melakukan bukan karena kebutuhan
Tapi karena sesuatu yang ada di hatimu

Karena fulanah ganti mobil, engkau juga ingin..

Karena fulanah pakai tas yang lebih mahal dari milikmu..

Karena fulan memiliki gadjet teranyar..

Karena fulan membeli motor baru sedang motormu adalah bekas..

Kalau yang menjadi pembimbing dalam belanja adalah nafsumu maka hidupmu akan susah..

– Engkau akan dibikin lelah olehnya, karena nafsu tidak pernah puas
– Engkau selalu akan melihat yang lebih dari dirimu
– Engkau akan terus memeras keringatmu dan menghabiskan waktumu bekerja keras hanya untuk menuruti nafsumu

Ada satu cara yang membuat hidupmu nyaman, bahkan engkau akan merasa lebih kaya dari semua orang, apa itu..?

Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu pernah berpesan pada anaknya

“يا بني، إذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة؛ فإنها مال لا ينفد”

“Wahai ananda.. kalau engkau mencari kekayaan, maka carilah dengan Qona’ah, sesungguhnya ia adalah harta yang tidak ada habisnya..” (Uyunul Akhbar 3/207)

Qona’ah ada hati yang senantiasa menerima dan ridho atas pemberian Allah.

Bila engkau memiliki hati yang Qona’ah sesungguhnya engkau dengan raja terkaya di muka bumi ini adalah sama

Ditulis oleh,
Ustadz Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

Lisan Tidak Bertulang, Namun…

Bismillah

AKHI ukhti

Pernah melihat parang besar yang digunakan untuk memotong tulang belulang

Atau pisau operasi yang kecil namun tajam

Tentunya orang akan berhati-hati membawa dan menggunakan
nya, jangan sampai salah dan membahayakan diri sendiri atau orang lain

Tahukah engkau?! Bahwa dirimu selama ini ketika pulang pergi, berdiri dan duduk
Selalu Membawa senjata yang lebih tajam dari belati operasi dan
Lebih gahar dari parang besar pemotong tulang?

Yaitu lisanmu sendiri

Betapa sering lisan ini mengeluarkan kata-kata yang tidak diridhoi Allah dan kita meremehkannya , padahal kata-kata itu menceburkan ke dalam api

● Betapa sering lisan ini menusuk dan merobek hati orang lain, tanpa ada darah yang keluar sehingga membuat luka dalam yang menakutkan

● Tidak sedikit peperangan yang berkobar karena lisan
Tidak jarang tawuran yang terjadi karena lisan

● Persahabatan juga retak gara- gara lisan

● Suami menghancurkan rumah tangga yang dibangun bertahun- tahun dengan lisannya

● Istri merusak bahtera yang ditumpanginya karena salah ngomong

● Anak durhaka kepada orang tuanya hanya karena ucapan “Ahh” dari lisannya

● Abu Thalib akhirnya mati kafir karena lisannya tidak mau mengucapkan laa ilaha illallah

● Ada seorang wanita yang ahli ibadah, shalat malam, puasa sunnah, sedekah namun gara- gara lisannya suka menyakiti tetangga maka ia pun masuk neraka

Lisanmu adalah belatimu

Lisan tidak bertulang namun dapat menembus apa yang tak ditembus oleh jarum

Akhi Ukhti…
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperingatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka itu masuk neraka karena hasil kerja lisannya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.

« أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ « كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ». فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ».

“Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?”

Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.”

Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”.

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut karena apa yang kami katakan?”

Maka beliau bersabda: “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang tersungkur mukanya atau batang hidungnya di dalam neraka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Maka, Berpikirlah sebelum berkata atau menuliskan sesuatu, baik itu komentar dsb

Medsos sering memancingmu untuk:

Say something or write something

Renungkan apa yang hendak kau ucapkan atau kau tulis

Tidak semua yang ketahui itu kau ungkapkan
Pertimbangkan beberapa hal
Apa memang perlu diucapkan ?
Apa waktunya tepat ?
Apa engkau orang yang pantas mengutarakan ?

Setelah itu silakan kau memutuskan !

بارك الله فيكم

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Mintalah Hajatmu Hanya Kepada ALLAH, Pasti DIA Akan Kabulkan Untukmu…

Muslim bin Qutaibah rahimahullah berkata:
“Janganlah engkau meminta hajatmu kepada salah satu dari tiga golongan (yaitu):

1. Janganlah engkau minta hajatmu kepda seorang pendusta, karena sesungguhnya ia akan (berpura-pura) mendekatkan hajatmu, padahal ia masih jauh (maksudnya, ia menampakkan seolah-olah akan memberi hajatmu dalam waktu dekat, padahal yang sebenarnya masih lama, atau bahkan tidak akan memberi hajatmu, pent).

2. Janganlah engkau minta hajatmu kepada orang dungu (tolol), karena sesungguhnya ia ingin memberimu manfaat, tapi justru ia akan memberimu mudhorot (sesuatu yang berbahaya).

3. Janganlah engkau minta hajatmu kepada seseorang yang kebutuhan makannya bergantung kepada kaumnya, karena sesungguhnya ia akan menjadikan hajatmu sebagai sarana untuk memenuhi hajatnya. (Lihat Al-Amaali karya Abu Ali Al-Qoli, II/190).

Atho’ rahimahullah berkata:
“Thowus rahimahullah (seorang ulama tabi’in) datang menemuiku, lalu ia berkata kepadaku: “Wahai ‘Atho, janganlah engkau mengajukan hajat-hajatmu kepada orang yang menutup dan menghalangi pintu (rumah)nya dari hadapanmu. Akan tetapi, hendaklah engkau meminta segala hajatmu hanya kepada Allah, yang mana pintu (pengabulan permohonan)-Nya senantiasa terbuka untukmu sampai hari Kiamat. Dia memintamu agar engkau selalu berdoa (meminta) kepada-Nya, dan Dia juga berjanji akan selalu mengabulkan permintaanmu.” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani, IV/11).

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ادْعُونِي أسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Berdo’alah kamu sekalian hanya kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do’a kalian.” (QS. Al-Mu’min/ Ghoofir: 60).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma dengan sabdanya:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Artinya: “Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Demikian Faedah Ilmiah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita agar senantiasa istiqomah dalam beribadah dan berdo’a hanya kepada-Nya hingga akhir hayat. (Jakarta, 23 Januari 2017).

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Lupa Bersyukur…

Bismillah
Akhi Ukhti…

Memiliki tubuh yang sehat wal afiat adalah dambaan setiap insan
Dan kita semua sudah maklum bahwa biaya perawatan di rumah sakit sangatlah mahal…
Pernahkah engkau melihat seorang yang dirawat di ruang ICU dengan berbagai alat yang dipasang di tubuhnya?
Berapa kira-kira yang harus dibayar olehnya bila dia berada di dalam ruangan tersebut selama 360 hari?

Kita yang sehat terkadang lupa bersyukur atas nikmat sehat kecuali ketika sakit datang menimpa

Dan ternyata kita memiliki kewajiban membayar tarif penggunaan tubuh setiap harinya, setiap hari?
iya setiap hari? Sebagaimana kalau kau di ruang ICU harus membayar setiap hari

dan kiranya kalau itu harus dibayar dengan uang niscaya gajimu akan habis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya,
kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah
kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah
kalimat yang baik adalah sedekah
pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari Muslim)

Dan telah disebutkan bahwa di dalam tubuh kita ada 360 persendian, wallahu A’lam
Berarti sedekah yang harus kau tunaikan adalah sebanyak jumlah persendian tersebut, sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat sehat dan kehidupan.
Sedekah ini bukan sedekah harta saja tetapi bervariasi, sebagaimana di sebutkan dalam hadits di atas.

Dan ternyata ada satu amalan yang mencukupi untuk membayar sedekah semua persendian tersebut, yang terkadang kita mengabaikannya:

Yaitu: shalat dhuha dua raka’at

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Dan cukup untuk semua persendian tersebut) dua rakaat Dhuha yang dikerjakannya.” (HR.Muslim)

Sudahkan kau membayar biaya untuk menggunakan tubuhmu pada hari ini ?

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى